Stockholm, 26 Februari 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

DITYA & ENDANG MENGAPA MUHAMMAD NAZAR, KETUA PRESIDIUM SIRA DISIKSA DI MAPOLDA ACEH ?
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

DITYA SOEDARSONO & ENDANG SUWARYA MENGAPA MUHAMMAD NAZAR, KETUA PRESIDIUM SIRA DISIKSA DI MAPOLDA ACEH ?

"Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) dengan ini memberitahukan kepada seluruh teman-teman pro demokrasi, perdamaian dan penegakan hak asasi manusia di Acheh. Bahwa selama bulan Februari 2004, aparat kepolisian daerah Aceh melakukan tindakan sewenang-wenang terhadap Muhammad Nazar, Ketua Presidium SIRA yang masih ditahan dalam sel MAPOLDA Aceh." (Hamzah , SIRA Presidium , Rabu, 25 Februari 2004)

Baiklah Komandan Satuan Tugas Penerangan (Dansatgaspen) PDMD Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Penguasa Darurat Militer Daerah Aceh Mayjen TNI Endang Suwarya di Negeri Aceh.

Hari ini saya menerima surat terbuka dari saudara Faisal Ridha, Dewan Presidium, tertanggal 25 Februari 2004.
Nomor : 13/DP-SIRA/EKS/II/2004
Lampiran : 1 (satu) eks
Perihal : Mohon Dukungan Advokasi dan Proteksi Terhadap Penyiksaan Muhammad Nazar dan Penangkapan Sejumlah Aktivis dan Mahasiswa Acheh
Sifat : Terbuka

SENTRAL INFORMASI REFERENDUM ACEH (SIRA) ACHEH REFERENDUM INFORMATION CENTER
Alamat : Jln. PT. Panglima Polem No. 13 A Komplek Bp 4 Lama Kp. Laksana, Banda Aceh Telp/Fax : +62-651-24043 Tentang MUHAMMAD NAZAR, KETUA PRESIDIUM DISIKSA DI MAPOLDA ACEH Dewi Mutia (Isteri Nazar) Dipanggil Polisi.

Lampiran:
Dimana isi lengkap surat lampiran ini bisa dibaca dibawah.

Nah sekarang saya ingin mempertanyakan kepada Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya, mengapa "Muhammad Nazar, Ketua Presidium SIRA bersama 9 tahanan lainnya di Mapolda Aceh digiring keluar sel dengan tangan dirantai. Korban kemudian di naikkan ke dalam reo yang diparkir di depan sel tahanan Mapolda Acheh. Kemudian diturunkan kembali dengan tangan masih dirantai dan selanjutnya kembali dimasukan ke dalam sel. Ada indikasi tindakan tersebut sebagai gladi resik pemberangkatan para tahanan ke rumah tahanan di pulau Jawa.?"

Bagaimana itu Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya, apakah benar di Negeri Aceh dihargai itu hak hak asasi manusia ?

Coba Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya buktikan apakah memang benar itu Muhammad Nazar, Ketua Presidium SIRA,
pagi Jum'at, 20 February 2004, selama delapan jam di Introgasi oleh INTELKAM POLDA di ruangan no.111 Dit. INTELKAM POLDA Ahceh, karena kedapatan menggunakan hand phone, dan selama Introgasi mendapat pukulan (ditinju) dimukanya dan tendangan didadanya oleh aparat kepolisian. Selain itu para INTELKAM POLDA juga melakukan penggeledahan terhadap sel tahanan Muhammad Nazar.

Eh, apakah benar cerita ini, Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya?

Kalau benar, apakah ini tidak membuktikan bahwa para penerus Soekarno dengan didukung oleh TNI dibawah komando Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, termasuk Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya telah melakukan tindakan penjajahan di Negeri Aceh dan menyiksa rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI ?.

Coba Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya berikan di mimbar ini alasan sebenarnya mengapa saudara Muhammad Nazar sampai disiksa begitu ?

Saya menunggu jawaban dari Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

SENTRAL INFORMASI REFERENDUM ACEH (SIRA)
ACHEH REFERENDUM INFORMATION CENTER
Alamat : Jln. PT. Panglima Polem No. 13 A Komplek Bp 4 Lama Kp. Laksana, Banda Aceh Telp/Fax : +62-651-24043

Lampiran :

MUHAMMAD NAZAR, KETUA PRESIDIUM DISIKSA DI MAPOLDA ACEH
Dewi Mutia (Isteri Nazar) Dipanggil Polisi

Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) dengan ini memberitahukan kepada seluruh teman-teman pro demokrasi, perdamaian dan penegakan hak asasi manusia di Acheh. Bahwa selama bulan Februari 2004, aparat kepolisian daerah Aceh melakukan tindakan sewenang-wenang terhadap Muhammad Nazar, Ketua Presidium SIRA yang masih ditahan dalam sel MAPOLDA Aceh.

Berikut kronologisnya :

Pada tanggal 10 Februari 2004, sekitar pukul 15.30 ,Muhammad Nazar, Ketua Presidium SIRA bersama 9 tahanan lainnya di Mapolda Aceh digiring keluar sel dengan tangan dirantai. Korban kemudian di naikkan ke dalam reo yang diparkir di depan sel tahanan Mapolda Acheh. Kemudian diturunkan kembali dengan tangan masih dirantai dan selanjutnya kembali dimasukan ke dalam sel. Ada indikasi tindakan tersebut sebagai gladi resik pemberangkatan para tahanan ke rumah tahanan di pulau Jawa.

Selanjutnya, pada hari Kamis, 19 Februari 2004 sekitar pukul 17.45 Muhammad Nazar menghubungi isterinya yang sedang melakukan perjalanan ke Sigli, Kabupaten Pidie dalam rangka kunjungan keluarga. Ketika Dewi sedang berbicara dengan suaminya yang ditahan di Mapolda Acheh tiba-tiba putus. Dewi mencoba untuk menghubungi kembali tapi hand phone Nazar sudah diluar jangkauan (tidak aktiv). Ke-esokan harinya diketahui bahwa Nazar sejak pukul 18.00 sampai dengan 02.00 dini hari , pagi Jum'at, 20 February 2004. Selama delapan jam saudara Muhammad Nazar di Introgasi oleh INTELKAM POLDA di ruangan no.111 Dit. INTELKAM POLDA Ahceh.

Dia di Introgasi karena kedapatan menggunakan hand phone. Selama Introgasi saudara Muhammad Nazar ada mendapat pukulan (ditinju) dimukanya dan tendangan didadanya oleh aparat kepolisian. Selain itu para INTELKAM POLDA juga melakukan penggeledahan terhadap sel tahanan Muhammad Nazar. Dalam penggeledahan tersebut aparat mengambil multi vitamin, obat demam dan air madu. Setelah aksi pemukulan itu dilakukan oleh sejumlah anggota INTELKAM POLDA (belum diketahui berapa jumlah pelaku), Nazar dikembalikan ke selnya dalam keadaan lemas.

Perkembangan situasi terakhir pada

Senin, 23 Februari 2004 sekitar pukul 11.30, Dewi Mutia (istri Muhammad Nazar) dan Imam Syafii Saragih (Pengacara) mengunjungi Mapolda Aceh untuk menjenguk kondisi Muhammad Nazar. Namun pihak pihak kepolisiaan tidak membolehkan pengacara dan keluarga menemui Muhammad Nazar di Mapolda tanpa alasan yang jelas.

Selasa, 24 Februari 2004 Dewi Mutia (Isteri Muhammad Nazar) menerima surat paggilan dari POLDA Acheh dengan Nomor : B/354/2/2004. Dalam surat tersebut Dewi Mutia disuruh menghadap Direktur Intelkam di Ruangan Nomor 111 Dit Intelkam POLDA NAD pada tanggal 25 Februari 2004, pukul 09.00 WIB. Dewi dipanggil untuk diminta keterangan berkaitan dengan adanya kepemilikan hand phone saudara Muhammad nazar di dalam Rutan Polda NAD.

Rabu, 25 Februari 2004 Dewi Mutia diperiksa oleh Intelkam Polda Acheh mulai di MAPOLDA Acheh mulai pukul : 10.30 s/d 16.30 dengan mengajukan 47 pertanyaan. Selama berlangsungnya pemeriksaan Dewi tidak didampingi oleh pengacara, karena pihak kepolisian tidak membolehkannya. benarkan oleh pihak

Demikianlah, gambaran kondisi terakhir Muhammad Nazar, Ketua Dewan Presidium SIRA yang ditahan di MAPOLDA Acheh dan Isterinya. Kami sangat mengharapkan dukungan solidaritas dan advokasi kasus ini. Atas perhatian dan kerjasama yang baik kami ucapkan terima kasih .

Salam Hormat Kami,

Hamzah
Presidium
----------

( Surat terbuka )

Nomor : 13/DP-SIRA/EKS/II/2004
Lampiran : 1 (satu) eks
Perihal : Mohon Dukungan Advokasi dan Proteksi Terhadap Penyiksaan Muhammad Nazar dan Penangkapan Sejumlah Aktivis dan Mahasiswa Acheh
Sifat : Terbuka

Kepada Yth;

1. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York
2. Kedubes Negara-Negara Asing di Jakarta
3. Ketua KOMNAS HAM di Jakarta
4. Lembaga-Lembaga Non Pemerintahan yang memperjuangkan HAM, Demokrasi dan Perdamaian di seluruh dunia

Salam Perdamaian :

Dalam sejarah peradaban dunia, kasus penyiksaan sudah berlangsung dalam waktu yang sangat panjang. Penyiksaan erat kaitannya dengan kekuasaan sepihak, kemudian memaksakan kehendaknya kepada pihak lain. Seringkali cara ini digunakan kepada para tahanan/sandera. Pada abad ke 18 - 19, misalnya, cara - cara dengan metode penyiksaan dianggap efektif dan sah dilakukan, digunakan sehingga dapat dibenarkan dan diterima secara hukum untuk tujuan, yaitu : memperoleh bukti dari tersangka yang dianggap sebagai pelaku kejahatan.

Pada kurun selanjutnya praktek penyiksaan digunakan oleh aparat negara untuk kepentingan yang lebih luas, yaitu menangani orang-orang yang kritis dan tidak patuh kepada kekuasaan. Di sini aparat negara menggunakan cara ini sebagai metode untuk menekan musuh penguasa agar dapat memperoleh informasi, memaksakan suatu pengakuan, balas dendam, menghancurkan kepribadian seseorang, menebar teror dalam masyarakat tertentu dan melenyapkan semangat perlawanan oposisi pada kekuatan politik tertentu. Namun apapun tujuan dan alasannya, tindakan penyiksaan merupakan tampilan sangat kejam dari sebuah pemerintah yang otoriter serta anti demokrasi.

Seperti juga yang dialami oleh Muhammad Nazar, Ketua Dewan Presidium SIRA, Penyiksaan yang dilakukan bukannya tanpa tujuan dan pastilah telah direncanakan. Kasus pemukulan terhadap saudara Muhammad Nazar saat diintrogasi oleh Intelkam Polda di ruang Dit Intelkam Polda masuk ke dalam katagori penyiksaan (Lihat Lampiran) sebagaimana tertulis dalam Konvensi anti penyiksaan dimana pemerintah RI telah meratifikasi Konvensi Geneva Anti Penyiksaan pada 28 September 1998 lalu.

Setelah aksi pemukulan tersebut oleh pihak kepolisian hingga saat ini belum memberi izin kepada pengacara, keluarga apalagi karib kerabatnya untuk membezuk Nazar. Kebijakan isolasi Nazar dari keluarga dan pengacara merupakan rangkaian sistematis dari penguasa untuk melakukan teror mental terhadap Nazar sehingga ianya merasa jera dengan tindakan tersebut.

Sebelumnya, dia ditangkap pada 12 Februari 2003 sekitar pukul : 02.00 dini hari, malam itu adalah malam hari raya Idul Adha Nazar besama keluarganya sedang tidur nyenyak tiba-tiba puluhan anggota reserse Polresta Banda Acheh mendatangi rumah Nazar yang beralamat di Jl. Plamboyan Nomor 4 Desa Lampolo Kecamatan Kuta Alam Banda Acheh. Para serdadu yang dilengkapi dengan senjata laras panjang mengepung rumah Nazar, sebahagian diantara mereka berjaga-jaga diluar pagar, ada yang masuk ke pekarangan rumah dan ada diantara mereka yang teriak sambil menendang pintu depan dan belakang rumah Nazar. Akhir dari peristiwa malam itu Nazar digiring ke Mobil dan kemudian dibawa paksa ke Mapolresta Banda Acheh.

Sebagai catatan, baik dalam masa Darurat Militer sekarang ini maupun sebelumnya, kejadian serupa kerap menimpa rakyat Acheh dimana penegakan hukum menurut aparat negara adalah sebuah shock terapy yang sitematis dan meluas untuk membungkam suara sipil yang menuntut haknya serta menyerukan perdamaian.

Kejadian yang menimpa Muhammad Nazar dalam statusnya sebagai tahanan politik tersebut kiranya dapat membuktikan adanya upaya menebar teror dan ketakutan terhadap para aktivis dan masyarakat lainnya yang pro perjuangan penegakan HAM, demokrasi dan perdamaian di Acheh sebagai sebuah kebrutalan aparat negara dalam menangani berbagai persoalan serta dapat mewakili semua bentuk kekerasan yang dialami masyarakat Acheh.

Selain peristiwa penyiksaan terhadap Ketua Presidium SIRA, masih pada bulan yang sama atau tepatnya Minggu, 22 Februari 2004 pihak kepolisian menangkap Iwan Irama Putra (27th) Mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry. Lalu ke esokan harinya Senin, 23 Februari 2004 sekitar pukul 04.00 - 05.30 aparat keamanan kembali melakukan aksi penangkapan terhadap tiga orang mahasiswi, mereka adalah Harlina (22th), Nova Rahayu (23th) dan Nursida (22th). Ketiganya aktivis di Organisasi Perempuan Acheh Demokratik.

Selasa, 24 Februari 2004 Dewi Mutia (Isteri Muhammad Nazar) menerima surat paggilan dari POLDA Acheh dengan Nomor : B/354/2/2004. Dalam surat tersebut Dewi Mutia disuruh menghadap Direktur Intelkam di Ruangan Nomor 111 Dit Intelkam POLDA NAD pada tanggal 25 Februari 2004, pukul 09.00 WIB. Dewi dipanggil untuk diminta keterangan berkaitan dengan adanya kepemilikan hand phone saudara Muhammad Nazar di dalam Rutan Polda NAD.

Selanjutnja pada 24 Februari 2004, sekitar pukul : 00.00 WIB anggota brimob Lingke juga melakukan penangkapan terhadap lima orang Mahasiswa IAIN Ar-Raniry. Mereka yang ditangkap masing-masing bernama : Abdillah (25th) Mahasiswa Fakultas Dakwah, Fahrul Rizal (25th) Fakultas Syari'ah, Fahrurrazi Anggota Palang Merah Indonesia, Zainal Abidin anggota Palang Merah Indonesia, Askari (21th) Fakultas Adab, Akmal (26th) Imam Juwaini (24th) Fakultas Tarbiyah, T. Riza Fahmi (26th) alumni Fakultas Adab. T. Riza Fahmi dan Imam Juaini ditangkap di rumah. Sementara yang lain-nya di tangkap di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) IAIN Ar-Raniry. Mereka ditahan dan di Introgasi di markas brimob Lingke Banda Acheh. Kemudian dibebaskan pada tanggal : 25 Februari 2004 pukul : 21.00 WIB.

Dilihat dari rentetan peristiwa, semua aksi penangkapan dilakukan ditengah malam hari. Aksi penangkapan yang mirip dengan tindakan penculikan dilakukan oleh Penguasa Darurat Militer di Acheh terhadap sejumlah mahasiswa semakin memperkuat alasan bahwa apa yang dilakukannya adalah sebuah tindakan brutal yang bertujuan menebar teror terhadap aktivis dan kaum pelajar Acheh guna melenyabkan ide-ide kritis dari mereka yang mengusung perdamaian, penegakan HAM dan demokrasi di Acheh.

Oleh karenanya kami dari Dewan Presidium Pusat Sentral Informasi Referendum Acheh (SIRA) meminta kepada semua pihak untuk :

1.Melakukan advokasi dan proteksi terhadap semua Tapol / Napol serta tawanan perang yang saat ini ditahan diseluruh rutan, pos-pos militer di Acheh dan juga Napol yang telah dipindahkan ke sejumlah tahanan di pulau jawa.

2.Melayangkan surat protes kepada penguasa darurat Militer di Tingkat Pusat dalam hal ini adalah Megawati sebagai Presiden Indonesia yang bertanggung jawab penuh terhadap pelaksanaan darurat Militer di Acheh, sekaligus meminta agar tindakan penyiksaan terhadap Muhammad Nazar dan penangkapan sewenang-wenang terhadap sejumlah Mahasiswa dan aktivis Acheh harus segera dihentikan. Karena tindakan tersebut mengangkangi kebebasan sipil, demokrasi dan hak asasi manusia.

3.Mendesak Indonesia untuk segera menghentikan perang di Acheh, karena selama Acheh ditetapkan sebagai wilayah perang telah banyak terjadi penyiksaan terhadap rakyat sipil, aktivis politik dan pekerja kemanusian.

4.Mendesak Indonesia untuk memberi kebebasan kepada lembaga-lembaga pekerja kemanusian baik nasional maupun international untuk melakukan investigasi terhadap peristiwa pelanggaran HAM di Acheh.

5.Mendesak Perserikatan Bangsa - Bangsa untuk mengirim special reporter ke Acheh, untuk melakukan monitoring dan investigasi terhadap semua kasus pelanggaran HAM di Acheh.

Demikianlah surat ini kami sampaikan untuk mendapat partisipasi dan keterlibatan semua pihak dalam membatu perjuangan penegakan HAM, demokrasi dan perdamaian bagi Acheh.

Banda Acheh, 25 Februari 2004

Faisal Ridha
Dewan Presidium
--------