Stockholm, 29 Februari 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

ACEH DITELAN PRESIDEN SOEKARNO BUKAN KARENA ALASAN AGAMA
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS, ACEH DITELAN PRESIDEN SOEKARNO BUKAN KARENA ALASAN AGAMA

"Itulah kebiasaan sikap penjajah NKRI di Acheh, kalau sudah kalah pura-pura menghilang, biar mukanya tidak tercoreng, selamat tinggal penjajah NKRI. Tapi tak ada masalah, biarlah mereka pergi dan membawa penyakit penjajahnya sejauh-jauhnya. Kita ucapkan selamat kepada bang Ahmad Sudirman, mudah-mudahan semua penyakit NKRI di Acheh akan terhapus segera dan kita akan kembali kesana untuk menata bangsa Acheh menuju negara yang baldatun thaiyibatun warabbun ghafur. (Muhammad Dahlan , tang_ce@yahoo.com , Sun, 29 Feb 2004 00:55:53 -0800 (PST))

"Dan selanjutnya setelah Aceh merdeka dan menjadi negara Islam. Apakah dengan rencana ini tidak ada sedikitpun perasaan ukhuwah dengan saudara-saudari bapak yang muslim di wilayah RI selain aceh. Saudara-saudari bapak yang kerjanya sehari-hari bertani dan bercocok tanam tanpa sedikitpun mereka mengabaikan ajaran agama. Dengan Negara Islam Aceh yang merdeka. Sudahkah bapak pikirkan bagaimana saudara/i seagama kita yang ada di Ambon, KAL-TENG dan daerah lainnya. Bukan tidak mungkin wilayah-wilayah itu juga akan menuntut kemerdekaan atas nama Agama. Bagi saya, kemerosotan RI selama ini bukan karena persoalan Agama itu sendiri. Tapi adalah "kesepakatan bersama" yang selalu dikhianati untuk kepentingan individu dan kelompok. Supremasi hukum yang dikebiri." (Am4n, http://aman.kinana.or.id/ , 29 Feb 2004 5:04 am)

Terimakasih untuk saudara Muhammad Dahlan di Australia dan saudara Am4n di Indonesia.

Baiklah.

Sebelum saya teruskan dengan memberikan komentar disini, terlebih dahulu perlu diberitahukan bahwa saya telah membawa saudara Am4n dari gelanggang ahmad.swaramuslim.net ke mimbar bebas ini agar saudara Am4n bisa sedikit ikut terlibat dengan para peserta diskusi mimbar bebas ini. Disamping perlu juga pemikiran saudara Am4n kalau mungkin di bicarakan di mimbar bebas ini, agar usaha untuk mencapai referendum di Negeri Aceh bagi seluruh rakyat Aceh segera bisa dilaksanakan.

Nah untuk kali ini, saya akan menjumpai saudara Muhammad Dahlan di Australia yang telah menyampaikan pikirannya di mimbar bebas ini: "Itulah kebiasaan sikap penjajah NKRI di Acheh, kalau sudah kalah pura-pura menghilang, biar mukanya tidak tercoreng, selamat tinggal penjajah NKRI. Tapi tak ada masalah, biarlah mereka pergi dan membawa penyakit penjajahnya sejauh-jauhnya. Kita ucapkan selamat kepada bang Ahmad Sudirman, mudah-mudahan semua penyakit NKRI di Acheh akan terhapus segera dan kita akan kembali kesana untuk menata bangsa Acheh menuju negara yang baldatun thaiyibatun warabbun ghafur"

Memang, jelas, sebenarnya bukan hanya pihak Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya saja, melainkan juga Presiden Megawati, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, Menlu Noer Hassan Wirajuda, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, Ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong.

Dimana mereka ini memang kalau sudah tidak ada jalan lain yang bisa ditempuh, langsung saja mengambil jalan potong. Coba saja perhatikan, ketika pihak Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, dan Menlu Noer Hassan Wirajuda sudah kelabakan dan tidak berkutik menghadapi ASNLF atau GAM di meja Perundingan Geneva 9 Desember 2002 di Geneva dan Perundingan di Tokyo, Jepang, 17-18 Mei 2003 langsung saja melancarkan serangan pakai senjata, dengan berlandaskan dasar hukum Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang dikeluarkan pada tanggal 18 Mei 2003 dan diberlakukan pada tanggal 19 Mei 2003.

Jadi memang tidak aneh lagi kalau pihak Pemerintah RI atau RI-Jawa-Yogya dibawah pimpinan Presiden Megawati dari PDI-P putrinya Soekarno pencaplok Negeri Aceh pada tanggal 14 Agustus 1950 ketika Soekarno memegang jabatan Presiden RIS, selalu melakukan penipuan dengan menggunakan cara licik.

Tetapi, tentu saja Presiden Megawati, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, dan Menlu Noer Hassan Wirajuda, Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya tidak akan selamanya bisa menutupi, membohongi dan menipu rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI.

Mungkin rakyat Aceh yang memang dibawa oleh Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya dari kampungnya masing-masing dengan telah dijejali dengan berbagai dongeng pancasila, perang-perangan Soekarno, masuk keluarnya Soekarno penjara, tongkat dan kacamata hitamnya Soekarno, main tipu dengan peraturan pemerintah dan undang undangnya, meluncurkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959-nya, dan segala macam cerita Soekarno yang tidak masuk akal dan penuh tipu muslihat, masih bisa ditipu dan dibodohi.

Kemudian saya sekarang akan jumpai saudara Am4n di Indonesia.

Dimana saudara Am4n ini menulis: "selanjutnya setelah Aceh merdeka dan menjadi negara Islam. Apakah dengan rencana ini tidak ada sedikitpun perasaan ukhuwah dengan saudara-saudari bapak yang muslim di wilayah RI selain aceh. Saudara-saudari bapak yang kerjanya sehari-hari bertani dan bercocok tanam tanpa sedikitpun mereka mengabaikan ajaran agama. Dengan Negara Islam Aceh yang merdeka. Sudahkah bapak pikirkan bagaimana saudara/i seagama kita yang ada di Ambon, KAL-TENG dan daerah lainnya. Bukan tidak mungkin wilayah-wilayah itu juga akan menuntut kemerdekaan atas nama Agama. Bagi saya, kemerosotan RI selama ini bukan karena persoalan Agama itu sendiri. Tapi adalah "kesepakatan bersama" yang selalu dikhianati untuk kepentingan individu dan kelompok. Supremasi hukum yang dikebiri.".

Begini saudara Am4n.

Yang menjadi agenda utama dan menjadi prioritas nomor satu ini adalah memasyarakatkan referendum dengan berdasarkan kepada fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah tentang Negeri Aceh yang telah ditelan dan dicaplok Presiden RIS Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1950 melalui mulut Propinsi Sumatera Utara dengan jalan menetapkan Peraturan Pemerintah RIS No. 21 Tahun 1950 Tentang Pembentukan Daerah Propinsi dan PERPU No.5 tahun 1950 tentang pembentukan Propinsi Sumatera-Utara, tanpa mendapat persetujuan, kerelaan dan keikhlasan dari seluruh rakyat Aceh dan pemimpin rakyat Aceh, satu hari sebelum RIS dilebur menjadi NKRI pada tangal 15 Agustus 1950.

Nah, dasar inilah yang dijadikan landasan oleh rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI.

Jadi rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI bukan berniat menuntut kemerdekaan atas nama Agama (Islam), melainkan menuntut penentuan nasib sendiri untuk berdiri dan mengatur pemerintahan sendiri diatas tanah Negeri Aceh yang telah ditelan oleh Presiden RIS Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1950, secara tidak sah, ilegal dan tanpa mendapat persetujuan, kerelaan dan keikhlasan dari seluruh rakyat Aceh dan pemimpin rakyat Aceh.

Karena waktu Presiden RIS Soekarno menelan Negeri Aceh tidak menjadikan Agama (Islam) sebagai dasar alasan yang dituangkan dalam dasar hukum Peraturan Pemerintah RIS No. 21 Tahun 1950 Tentang Pembentukan Daerah Propinsi dan PERPU No.5 tahun 1950 tentang pembentukan Propinsi Sumatera-Utara.

Jadi, kalau sekarang rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI itu terlepas dari alasan Agama ( Islam).

Karena itu, apa bila Negeri Aceh bebas melalui referendum, disebabkan sebagian besar rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI telah menyatakan sikap dan memberikan suaranya YA bebas dari NKRI, maka ketika akan membangun Negara Aceh yang baru itu keputusannya diserahkan kepada seluruh rakyat Aceh, apakah mau dijadikan sebagai Negara Republik, Kerajaan, Negara Federasi, Negara Agama Islam, Negara Kesatuan itu terserah kepada seluruh rakyat Aceh. Rakyat Aceh yang seratus persen Muslim itu bukanlah rakyat yang masih bisa ditarik hidungnya. Rakyat Aceh adalah rakyat yang sudah bisa menentukan mana jalan yang sesuai dengan ajaran Islam dan mana jalan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Jadi, kita serahkan semuanya kepada rakyat Aceh untuk menentukan sikap dan keputusannya mengenai bentuk Negara Aceh dimasa depan.

Yang penting saat sekarang adalah berusaha sekuat tenaga memasyarakatkan referendum berdasarkan kepada fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah tentang Negeri Aceh yang telah ditelan dan dicaplok Presiden RIS Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1950 melalui mulut Propinsi Sumatera Utara dengan jalan menetapkan Peraturan Pemerintah RIS No. 21 Tahun 1950 Tentang Pembentukan Daerah Propinsi dan PERPU No.5 tahun 1950 tentang pembentukan Propinsi Sumatera-Utara, tanpa mendapat persetujuan, kerelaan dan keikhlasan dari seluruh rakyat Aceh dan pemimpin rakyat Aceh, satu hari sebelum RIS dilebur menjadi NKRI pada tangal 15 Agustus 1950.

Selanjutnya, saudara Am4n menyinggung: "setelah Aceh merdeka dan menjadi negara Islam. Apakah dengan rencana ini tidak ada sedikitpun perasaan ukhuwah dengan saudara-saudari bapak yang muslim di wilayah RI selain aceh. Saudara-saudari bapak yang kerjanya sehari-hari bertani dan bercocok tanam tanpa sedikitpun mereka mengabaikan ajaran agama."

Jelas saudara Am4n, kaum muslimin yang masih tetap berada di wilayah kekuasaan NKRI itu tidak putus hubungan tali ke-Islamannya dengan kaum muslimin yang ada di Negara Aceh. Karena, masalah dimana tinggal dan hidup bagi ummat Muslim itu semuanya berada di bumi Allah SWT.

Jadi, dengan berdirinya Negara Aceh merdeka tidak mengurangi dan menjadi pemutus tali ukhuwah Islamiyah diantara kaum muslimin yang ada di Nusantara ini. Karena diantara kaum muslimin di Nusantara ini tidak timbul permusuhan satu sama lain, yang ada hanyalah karena pihak Presiden RIS Soekarno menelan Negeri Aceh pada tanggal 14 Agustus 1950 melalui mulut Propinsi Sumatera Utara dengan jalan menetapkan Peraturan Pemerintah RIS No. 21 Tahun 1950 Tentang Pembentukan Daerah Propinsi dan PERPU No.5 tahun 1950 tentang pembentukan Propinsi Sumatera-Utara, tanpa mendapat persetujuan, kerelaan dan keikhlasan dari seluruh rakyat Aceh dan pemimpin rakyat Aceh, satu hari sebelum RIS dilebur menjadi NKRI pada tangal 15 Agustus 1950.

Jadi dasar hukum PP RIS No. 21 Tahun 1950 dan PERPU No.5 Tahun 1950 tidak ada sangkut pautnya dengan tali pemutus hubungan ukhuwah Islamiyah diantara kaum muslimin di Nusantara ini.

Karena itu, saudara Am4n, jangan khawatir, ummat Islam di Nusantara ini tidak akan putus hubungan ukhuwah Islamiyahnya karena Negara Aceh berdiri bebas merdeka dari NKRI atau Negara RI atau Negara RI-Jawa-Yogya.

Selanjutnya, saudara Am4n menulis: "Sudahkah bapak pikirkan bagaimana saudara/i seagama kita yang ada di Ambon, Kalimantan Tengah dan daerah lainnya. Bukan tidak mungkin wilayah-wilayah itu juga akan menuntut kemerdekaan atas nama Agama."

Nah disini, saudara Am4n yang harus diketahui dasar dan alasan mengapa harus menentukan nasib sendiri?.

Kalau saudara Am4n mengatakan: "di Ambon, Kalimantan Tengah dan daerah lainnya. Bukan tidak mungkin wilayah-wilayah itu juga akan menuntut kemerdekaan atas nama Agama".

Jelas, jawabannya, adalah rakyat di Ambon, Kalimantan Tengah harus punya fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah yang benar, jelas dan terang bahwa memang benar Soekarno telah mencaplok Ambon dan Kalimantan Tengah ?

Nah, coba cari dulu adakah alasan yang saya kemukakan diatas ?. Sebelum mengambil sikap bahwa "akan menuntut kemerdekaan atas nama Agama".

Jadi, tidaklah gampang dan semudah membalikkan telapak tangan untuk menuntut kemerdekaan itu, kalau saudara Am4n tidak mempunyai dasar fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah yang jelas, benar, terang dan diakui validitasnya.

Kemudian terakhir, saudara Am4n mengatakan: "Bagi saya, kemerosotan RI selama ini bukan karena persoalan Agama itu sendiri. Tapi adalah "kesepakatan bersama" yang selalu dikhianati untuk kepentingan individu dan kelompok. Supremasi hukum yang dikebiri."".

Memang benar demikian saudara Am4n. Soekarno dan para penerusnya itu selalu mengkhianati perjanjian, kesepakatan, kerjasama, karena untuk kepentingan individu dan kelompoknya.

Lihat saja jangan jauh-jauh, itu Soekarno ketika mencaplok Negeri Aceh. Itukan telah mengkhianati rakyat Aceh dan pimpinan rakyat Aceh. Tidak ada perjanjian tertulis, tidak ada kerelaan dan tidak ada keikhlasan dari seluruh rakyat Aceh dan pemimpin rakyat Aceh, eh, tahu-tahu, itu Negeri Aceh telah masuk kedalam perut RIS dan diteruskan masuk kedalam perut besar NKRI, dan sekarang tetap berada dalam perut Negara RI atau Negara RI-Jawa-Yogya.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Sun, 29 Feb 2004 00:55:53 -0800 (PST)
From: muhammad dahlan tang_ce@yahoo.com
Subject: Re: PEMBERITAHUAN TENTANG KOLONEL LAUT DITYA DAN MAYJEN TNI ENDANG SUWARYA YANG MENGHILANG
To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se

Itulah kebiasaan sikap penjajah NKRI di Acheh, kalau sudah kalah pura-pura menghilang, biar mukanya tidak tercoreng, selamat tinggal penjajah NKRI. Tapi tak ada masalah, biarlah mereka pergi dan membawa penyakit penjajahnya sejauh-jauhnya.

Kita ucapkan selamat kepada bang Ahmad Sudirman, mudah-mudahan semua penyakit NKRI di Acheh akan terhapus segera dan kita akan kembali kesana untuk menata bangsa Acheh menuju negara yang baldatun thaiyibatun warabbun ghafur.

Wassalam,

Muhammad Dahlan

tang_ce@yahoo.com
Australia
----------

Commented by: Am4n on 29 Feb 2004 5:04 am
ahmad.swaramuslim.net
http://aman.kinana.or.id/

Dan selanjutnya setelah Aceh merdeka dan menjadi negara Islam. Apakah dengan rencana ini tidak ada sedikitpun perasaan ukhuwah dengan saudara-saudari bapak yang muslim di wilayah RI selain aceh. Saudara-saudari bapak yang kerjanya sehari-hari bertani dan bercocok tanam tanpa sedikitpun mereka mengabaikan ajaran agama.

Dengan Negara Islam Aceh yang merdeka. Sudahkah bapak pikirkan bagaimana saudara/i seagama kita yang ada di Ambon, KAL-TENG dan daerah lainnya. Bukan tidak mungkin wilayah-wilayah itu juga akan menuntut kemerdekaan atas nama Agama.

Bagi saya, kemerosotan RI selama ini bukan karena persoalan Agama itu sendiri. Tapi adalah "kesepakatan bersama" yang selalu dikhianati untuk kepentingan individu dan kelompok. Supremasi hukum yang dikebiri.

Terima Kasih

Am4n

Indonesia
----------