Stockholm, 2 Maret 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

MATIUS ITU BUKAN MENGUSIR PENJAJAH TETAPI MENELAN NEGARA & DAERAH BAGIAN RIS DAN MENCAPLOK ACEH DILUAR RIS
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS MATIUS DHARMINTA ITU BUKAN MENGUSIR PENJAJAH TETAPI MENELAN NEGARA & DAERAH BAGIAN RIS DAN MENCAPLOK ACEH DILUAR RIS

"Ini aku udah hapal betul, apapun opini yang anda (bung A.Sudirman) munculkan, dan mendapatkan tanggapan dengan dalih dan solusi, kalau ada tanggapan dari yang sama-sama culun dalam arti pro dalam opini yang anda yang tidak masuk di akal sehat, udah tentu anda senang karena dapat dukungan. Tapi kalau ada opini tanggapan yang kontra dan anda merasa tersudut, anda langsung berkelit di balik hapalan anda, yakni Aceh di caplok Soekarno, Negara RIS, Indonesia Jogya-Jawa, dan cuplikan-cuplikan surat perjanjian pada masa penjajahan yang udah basi dan kadalu arsa. Karena surat-surat itu dibuat oleh penjajah dan paksakan untuk disetujui oleh bangsa Indonesia, itu semua dilakukan dalam usahanya untuk memecah belah. Walau demikian toh bangsa Indonesia tetap bergeming pada pendirianya, itu terbukti semua pejuang tetap semangat bertempur untuk mengusir penjajaha dari bumi Nusantara ini." (Matius Dharminta , mr_dharminta@yahoo.com ,Mon, 1 Mar 2004 21:10:27 -0800(PST))

"Teman saya, bapak Amien Rais, pernah ditanya, kalau Amien Rais, jadi Presiden, apakah ada keinginan untuk merubah wacana politik munafik Indonesia ke dalam wacana politik Islam? Amien menjawab: "tidak, sebab pancasila itu adalah dibuat oleh bapak-bapak kita yang muslim dulu!" Akhirnya dia mendirikan PAN, jelas dia omong kosong dengan menegakan keadilan di Indonesia. sebab perangkatnya sudah tidak adil dan tidak jujur, mana mungkin hasilnya akan adil dan jujur. Maka pak Amien semakin hilang dalam peredaran masa, sebab Allah mengutukinya, karena dia tidak berani menampakan ke-Islaman-nya, dalam kehidupan berpolitik pada hal dia seorang tokoh Islam. Mungkinkah kita menegakan Islam dengan ke-Islaman orang-orang Indonesia, seperti NU, yang mayoritas dianut oleh orang Jawa, karena lahirnya di Jawa. Sudah menjadi President malah memberikan kesempatan kepada orang kommunis, dan aliran sesat lainnya untuk berkembang di Indonesia, dia adalah KH Abdurrahman Wahid." (Puji Anto, puji50@hotmail.com , Tue, 02 Mar 2004 06:05:53 +0000)

Baiklah saudara wartawan Jawa Pos Matius Dharminta di Surabaya, Indonesia dan saudara Puji Anto di Sydney, Australia.

Didalam rangka terus maju menuju arah tujuan usaha referendum bagi seluruh rakyat Aceh di Negeri Aceh untuk menentukan sikap apakah ingin YA bebas dari Negara Pancasila/NKRI atau TIDAK bebas dari pengaruh Negara Pancasila/NKRI.

Tentu saja, disepanjang jalan ke arah tujuan referendum ini, banyak sekali rintangan dan gangguannya. Seperti yang ditampilkan oleh saudara Matius Dharminta yang tetap saja memasang batu-batu kerikilnya dijalan-jalan yang sedang dilalui oleh rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan negara Pancasila atau NKRI.

Dimana disini saudara Matius mengatakan: "kalau ada opini tanggapan yang kontra dan anda merasa tersudut, anda langsung berkelit di balik hapalan anda, yakni Aceh di caplok Soekarno, Negara RIS, Indonesia Jogya-Jawa, dan cuplikan-cuplikan surat perjanjian pada masa penjajahan yang udah basi dan kadalu arsa. Karena surat-surat itu dibuat oleh penjajah dan paksakan untuk disetujui oleh bangsa Indonesia, itu semua dilakukan dalam usahanya untuk memecah belah."

Eh, saudara Matius Dharminta, kalau saya membicarakan "Aceh di caplok Soekarno, Negara RIS, Indonesia Jogya-Jawa, dan cuplikan-cuplikan surat perjanjian pada masa penjajahan yang udah basi dan kadaluarsa", itu namanya bukan berkelit. Melainkan siap menghadang para penerus Soekarno yang mana Soekarno sebagai Presiden RIS telah menelan dan mencaplok Negeri Aceh memakai tangan Presiden RIS Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1950 melalui mulut Propinsi Sumatera Utara dengan jalan menetapkan Peraturan Pemerintah RIS No. 21 Tahun 1950 Tentang Pembentukan Daerah Propinsi dan PERPU No.5 tahun 1950 tentang pembentukan Propinsi Sumatera-Utara, tanpa mendapat persetujuan, kerelaan dan keikhlasan dari seluruh rakyat Aceh dan pemimpin rakyat Aceh, satu hari sebelum RIS dilebur menjadi NKRI pada tangal 15 Agustus 1950.

Jadi, sekali lagi, itu namanya bukan berkelit. Tetapi siap dengan senjata untuk menghadang serangan yang dilancarkan oleh saudara Matius Dharminta Cs.

Hanya sayang, serangan yang dilancarkan oleh saudara Matius ini, hanya berupa lemparan telur yang tidak mempunyai dasar kekuatan dilihat dari fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah.

Akhirnya, bukan saya yang terpental, tetapi saudara Matius Dharminta Cs yang jungkir balik.

Lihat itu, Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya sudah tersungkur, mana beliau berdua sanggup berdiri kembali. Kemudian saudara Tato Suwarto yang pandainya hanya mengekor dibelakang saya saja. Selanjutnya lihat saudara Apha Maop bersama Teuku Mirza yang juga sudah kalang kabut, bahkan sekarang melemparkan masalah bekas Istri Teungku Hasan Muhammad di Tiro untuk dijadikan isue, padahal istri Teuku Mirza sendiri kalang kabut masih mengikuti Presiden Megawati yang telah melanggar Perintah Allah SWT dalam Al Quran surat Al Ahzab ayat 59. Coba siapa lagi, saudara Matius sendiri, sudah kalangkabut, walaupun mengatakan: "Tapi kalau ada opini tanggapan yang kontra dan anda merasa tersudut".

Eh, mana itu tanggapan saudara Matius atau yang lainnya yang kontra dan bisa menjatuhkan saya"?
Coba tuliskan kembali di mimbar bebas ini. Biar saya baca kembali dengan teliti dan mendalam.

Itu tanggapan-tanggapan yang diajukan oleh saudara Tato Suwarto dari Jakarta, saudara Sagir Alva dari Universitas Kebangsaan Malaysia, Selangor, Malaysia, saudara Rahmatullah dari Jeddah, Saudi Arabia, saudara Agus Hermawan dari Kuwait, Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya, itu semuanya alasan dan tanggapan yang tidak bisa menjatuhkan alasan yang saya pakai. Buktinya, sampai detik ini mereka itu semua pada jungkir balik, belum ada lagi yang bangun.

Ya, kalau saudara Matius sendiri, saya melihat belum ada satupun tanggapan yang saya anggap mampu menjungkir balikkan alasan saya. Paling saudara Matius menyanggah dengan menulis: "Aceh di caplok Soekarno, Negara RIS, Indonesia Jogya-Jawa, dan cuplikan-cuplikan surat perjanjian pada masa penjajahan yang udah basi dan kadalu arsa."

Coba kalau saudara Matius Dharminta jawab dan sanggah itu alasan saya dengan dasar fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah bahwa misalnya, Soekarno tidak mencaplok Aceh alasannya begini. Kemudian RIS itu dibentuk karena alasannya begitu. Indonesia Jogya-Jawa itu adalah Negara begini.

Inikan, jawabannya dari saudara Matius tidak menyinggung itu, paling hanya sampai mengatakan: "cuplikan-cuplikan surat perjanjian pada masa penjajahan yang udah basi dan kadalu arsa".

Mana bisa lulus ujian mata pelajaran jurnalistik kalau begitu cara menjawabnya. Saya heran mengapa saudara Matius bisa lulus dan menjadi wartawan Jawa Pos ?.

Itu dalam ilmu jurnalistik tidak ada "berita dan cerita yang dianggap basi dan kadaluarsa". Semua berita dan cerita itu bisa disimpan ratusan dan ribuan tahun untuk kemudian bisa dibongkar kembali untuk dijadikan fakta dan bukti. Tidak ada itu dalam ilmu jurnalistik istilah berita sudah basi.

Eh, saudara Matius Dharminta siapa itu yang menjadi dosen mata pelajaran jurnalistik ?
Biar saya bisa bicara dengannya, mengapa bisa diluluskan mata pelajaran jurnalistik yang diujikan kepada saudara Matius Dharminta ini ?.

Kemudian, darimana saudara Matius mengetahui bahwa "Karena surat-surat itu dibuat oleh penjajah dan paksakan untuk disetujui oleh bangsa Indonesia, itu semua dilakukan dalam usahanya untuk memecah belah."

Eh, saudara Matius, itu istilah memecah belah adalah istilah Soekarno cs dari Negara RI-Jawa-Yogya. Mengapa ?

Karena kalau dibongkar apa itu yang ada dibalik istilah "memecah belah", akan hancur itu Soekarno, buktinya sekarang , ketika saya membongkar apa itu yang ada dibalik istilah "memecah belah" semua orang di NKRI sudah kalang kabut.

Coba bertanya kepada pihak-pihak dan wakil-wakil dari Negara-Negara dan Daerah-daerah Bagian Republik Indonesia Serikat yang didirikan pada 14 Desember 1949?

Apakah rakyat di Jawa Barat di daerah Pasundan, tangal 4 Mei 1947 di Alun-alun Bandung, Ketua Partai Rakyat Pasundan Soeria Kartalegawa memproklamirkan Negara Pasundan dan pada tanggal 16 Februari 1948 Negara Pasundan dinyatakan resmi berdiri dengan R.A.A. Wiranatakusumah dipilih menjadi Wali Negara dan dilantik pada tanggal 26 April 1948. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara RI, 1986, hal. 140, 171)mempunyai pikiran, niat, maksud dan tujuan dalam mendirikan dan membangun Negara Pasundan ini setelah dua tahun berdiri akan digabungkan dengan Negara RI atau Negara RI Soekarno atau Negara RI 17 Agustus 1945 atau Negara RI-Jawa-Yogya?

Apakah rakyat di Sumatera Timur yang pada 24 Maret 1948 mendirikan Negara Sumatra Timur yang ber Ibu Kota Medan dengan Dr. Teungku Mansyur diangkat sebagai Wali Negara (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara RI, 1986, hal. 176) mempunyai pikiran, niat, maksud dan tujuan dalam mendirikan dan membangun Negara Sumatra Timur ini setelah dua tahun berdiri akan digabungkan dengan Negara RI atau Negara RI Soekarno atau Negara RI 17 Agustus 1945 atau Negara RI-Jawa-Yogya?

Apakah rakyat di Sumatera Selatan yang telah mendirikan Negara Sumatera Selatan dengan Walinegara Abdul Malik pada tanggal 30 Agustus 1948 mempunyai pikiran, niat, maksud dan tujuan dalam mendirikan dan membangun Negara Sumatera Selatan ini setelah dua tahun berdiri akan digabungkan dengan Negara RI atau Negara RI Soekarno atau Negara RI 17 Agustus 1945 atau Negara RI-Jawa-Yogya?

Apakah rakyat di Bali yang telah mendirikan Negara Timur Besar yang pada 24 Desember 1946 dan diganti nama menjadi Negara Indonesia Timur pada 27 Desember 1946 dengan kepala Negaranya Tjokorde Gde Rake Sukawati mempunyai pikiran, niat, maksud dan tujuan dalam mendirikan dan membangun Negara Indonesia Timur ini setelah dua tahun berdiri akan digabungkan dengan Negara RI atau Negara RI Soekarno atau Negara RI 17 Agustus 1945 atau Negara RI-Jawa-Yogya?

Apakah rakyat di Madura Di Madura yang pada 23 Januari 1948 telah mendirikan Negara Madura dengan R.A.A. Tjakraningrat diangkat sebagai Wali Negara dan diresmikan pada tanggal 20 Februari 1948. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara RI, 1986, hal. 164) mempunyai pikiran, niat, maksud dan tujuan dalam mendirikan dan membangun Negara Madura ini setelah dua tahun berdiri akan digabungkan dengan Negara RI atau Negara RI Soekarno atau Negara RI 17 Agustus 1945 atau Negara RI-Jawa-Yogya?

Apakah rakyat di Jawa Timur yang telah mendirikan Negara Jawa Timur pada 26 November 1948 dengan Wali Negara R.T. Achmad Kusumonegoro mempunyai pikiran, niat, maksud dan tujuan dalam mendirikan dan membangun Negara Jawa Timur ini setelah dua tahun berdiri akan digabungkan dengan Negara RI atau Negara RI Soekarno atau Negara RI 17 Agustus 1945 atau Negara RI-Jawa-Yogya?

Apakah rakyat di Tasikmalaya, Jawa Barat, dimana Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo pada tanggal 7 Agustus 1949 telah memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia dengan S.M. Kartosuwirjo diangkat sebagai Imam Negara Islam Indonesia mempunyai pikiran, niat, maksud dan tujuan dalam mendirikan dan membangun Negara Islam Indonesia ini setelah dua tahun berdiri akan berhadapan dengan Pemerintah NKRI dibawah pimpinan Perdana Menteri M.Natsir dan Presiden NKRI Soekarno ?

Nah sekarang, saudara Matius Dharminta, saya yakin seratus persen dari contoh yang saya kemukakan diatas bahwa, adalah mustahil atau tidak mungkin rakyat dan para pimpinan yang telah mendirikan Negara-Negara tersebut diatas mempunyai pikiran, niat, maksud dan tujuan dalam mendirikan dan membangun Negara tersebut setelah dua tahun berdiri akan digabungkan dengan Negara RI atau Negara RI Soekarno atau Negara RI 17 Agustus 1945 atau Negara RI-Jawa-Yogya berwajah baru.

Nah ini baru sebagian kecil dari apa yang terkandung dalam istilah "memecah belah", saudara Matius Dharminta, kalau saudara Matius masih belum mengerti dan belum paham.

Kemudian apa sebenarnya, yang disebut "bangsa Indonesia " oleh saudara Matius itu dan bangsa Indonesia yang mana ?

Apakah bangsa Indonesia yang berada dalam daerah wilayah kekuasaan Negara RI atau Negara RI-jawa-Yogya dibawah pimpinan Soekarno?

Atau apakah bangsa Indonesia yang berada dalam wilayah kekuasaan Negara-Negara yang berada diluar wilayah kekuasaan Negara RI atau Negara RI-Jawa-Yogya ?.

Saudara Matius, saudara ini harus belajar, membaca, dalami, bukan sok tahu. Buktinya, tidak mampu menjawab dan menjungkir balikkan alasan saya.

Kalau saudara Matius mampu menyanggah alasan-alasan saya dengan berdasarkan fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah harus terus tampil dan tegar jangan ada keluar istilah cerita sudah basi dan kadaluarsa, karena yang namanya berita, fakta dan bukti dasar hukum dan sejarah tidak akan menjadi basi dan kadaluarsa.

Eh, saudara Matius Dharminta, lain kali kalau mau lagi menjawab tulisan saya harus betul-betul dipikirkan, dibaca, direnungi dan dihayati. Atau bertanya dahulu kepada akhli-akhli sejarah dan tatanegara di NKRI sebelum menjawab tulisan-tulisan saya itu.

Selanjutnya saya tinggalkan saudara Matius dan saya akan menemui saudara Puji Anto yang asal Bali ini.

Memang benar seperti yang dikatakan oleh saudara Puji Anto: " Teman saya, bapak Amien Rais, pernah ditanya, kalau Amien Rais, jadi Presiden, apakah ada keinginan untuk merubah wacana politik munafik Indonesia ke dalam wacana politik Islam? Amien menjawab: "tidak, sebab pancasila itu adalah dibuat oleh bapak-bapak kita yang muslim dulu!" Akhirnya dia mendirikan PAN, jelas dia omong kosong dengan menegakan keadilan di Indonesia. sebab perangkatnya sudah tidak adil dan tidak jujur, mana mungkin hasilnya akan adil dan jujur. Maka pak Amien semakin hilang dalam peredaran masa, sebab Allah mengutukinya, karena dia tidak berani menampakan ke-Islaman-nya, dalam kehidupan berpolitik pada hal dia seorang tokoh Islam."

Itu yang namanya Amien Rais asal keturunan Arab yang tidak mengetahui sejarah Negeri Aceh yang ditelan dan dicaplok Presiden RIS Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1950 melalui mulut Propinsi Sumatera Utara dengan jalan menetapkan Peraturan Pemerintah RIS No. 21 Tahun 1950 Tentang Pembentukan Daerah Propinsi dan PERPU No.5 tahun 1950 tentang pembentukan Propinsi Sumatera-Utara, tanpa mendapat persetujuan, kerelaan dan keikhlasan dari seluruh rakyat Aceh dan pemimpin rakyat Aceh, satu hari sebelum RIS dilebur menjadi NKRI pada tangal 15 Agustus 1950.

Jelas, sampai kapanpun itu Amien Rais tidak akan berani mengatakan: "akan merobah Negara Pancasila menjadi Negara yang berdasarkan kepada Islam, sebab pancasila itu adalah dibuat oleh bapak-bapak kita yang muslim dulu!".

Itu yang dimaksud Amien Rais dengan "bapak-bapak kita yang muslim dulu" itu adalah Soekarno cs penipu ulung nomor satu di NKRI.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Mon, 1 Mar 2004 21:10:27 -0800 (PST)
From: matius dharminta mr_dharminta@yahoo.com
Subject: Re: YUDHOYONO, SUTARTO, RYACUDU MELANGGAR PERJANJIAN DAN MENGOBARKAN PERANG DI ACEH
To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se
Cc: PPDI@yahoogroups.com

Ini aku udah hapal betul, apapun opini yang anda (bung A.Sudirman) munculkan, dan mendapatkan tanggapan dengan dalih dan solusi, kalau ada tanggapan dari yang sama-sama culun dalam arti pro dalam opini yang anda yang tidak masuk di akal sehat, udah tentu anda senang karena dapat dukungan.

Tapi kalau ada opini tanggapan yang kontra dan anda merasa tersudut, anda langsung berkelit di balik hapalan anda, yakni Aceh di caplok Soekarno, Negara RIS, Indonesia Jogya-Jawa, dan cuplikan-cuplikan surat perjanjian pada masa penjajahan yang udah basi dan kadalu arsa.

Karena surat-surat itu dibuat oleh penjajah dan paksakan untuk disetujui oleh bangsa Indonesia, itu semua dilakukan dalam usahanya untuk memecah belah. Walau demikian toh bangsa Indonesia tetap bergeming pada pendirianya, itu terbukti semua pejuang tetap semangat bertempur untuk mengusir penjajaha dari bumi Nusantara ini.

Matius Dharminta

mr_dharminta@yahoo.com
Surabaya, Indonesia
----------

From: "puji anto" puji50@hotmail.com
To: dobing@telkom.net
Subject: Re: MEGAWATI CABUT KEPPRES NO.28/2003 & KEPPRES NO.43/2003, TNI DITARIKDARIACEH, DITYA & ENDANG KELUAR DARI ACEH
Date: Tue, 02 Mar 2004 06:05:53 +0000

Asalamualaikum wr wb

Semua kita berkeinginan adanya pemerintah yang adil dan jujur. Tapi peringkat untuk menuju kesana perlu ada dan ditegakkan juga. Kalau mau membicarakan tentang kehidupan Khalifah dalam Islam, ada juga khalifah yang dhalim, tapi kedhaliman mereka masih dalam kerangka hukum Islam, makanya Khalifah yang datang setelahnya akan mudah memperbaiki kesalahan-kesalahan.

Tapi kedhaliman di atas negara kita, adalah kedhaliman dalam kekafiran atau
kerangka hukum-hukum kafir, meskipun oleh Soekarno menamakan pancasila. Jadi kalau anda mau berjuang lewat berpolitik, maka pertanyaannya adalah politik
apa yang anda maksudkan? apakah masih dalam kerangka politik sesat ini?

Teman saya, bapak Amien Rais, pernah ditanya, kalau Amien Rais, jadi Presiden, apakah ada keinginan untuk merubah wacana politik munafik Indonesia ke dalam wacana politik Islam? Amien menjawab: "tidak, sebab pancasila itu adalah dibuat oleh bapak-bapak kita yang muslim dulu!"

Akhirnya dia mendirikan PAN, jelas dia omong kosong dengan menegakan keadilan
di Indonesia. sebab perangkatnya sudah tidak adil dan tidak jujur, mana mungkin hasilnya akan adil dan jujur. Maka pak Amien semakin hilang dalam peredaran masa, sebab Allah mengutukinya, karena dia tidak berani menampakan ke-Islaman-nya, dalam kehidupan berpolitik pada hal dia seorang tokoh Islam.

Mungkinkah kita menegakan Islam dengan ke-Islaman orang-orang Indonesia, seperti NU, yang mayoritas dianut oleh orang Jawa, karena lahirnya di Jawa. Sudah menjadi President malah memberikan kesempatan kepada orang kommunis, dan aliran sesat lainnya untuk berkembang di Indonesia, dia adalah KH Abdurrahman Wahid.

Sebelumnya adalah president KH Ahmad Suharto, dan sebelumnya presiden KH PYM
Ir Soekarno, darimana semua mereka datang? Dan sekarang presiden RI adalah
Hajjah Megawati soekarno. Adakah untung untuk ummat Islam? Adakah keadilan?

Jadi kalau banyak orang menyalahkan Jawa ya wajar saja, karena mereka yang
banyak berperan.

Kalau mereka yang salah kenapa orang lain yang harus dituduh kalau memang orang Sunda yang berbuat salah ya harus berani menerima kesalahannya.

Wassalam,

Puji Anto

puji50@hotmail.com
Sydney, Australia
----------