Stockholm, 3 Maret 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

TEUKU MIRZA IDEOLOGI GAM BUKAN KOMUNIS MELAINKAN IDEOLOGI YANG DISIRAMI NILAI ISLAM YANG LEBIH BAIK DARI PANCASILA
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS TEUKU MIRZA IDEOLOGI GAM BUKAN KOMUNIS MELAINKAN IDEOLOGI YANG DISIRAMI NILAI ISLAM YANG LEBIH BAIK DARI PANCASILA

"Loh ideologi GAM bukan Komunis ? kok bawa-bawa Islam ?" (Teuku Mirza , teuku_mirza@hotmail.com , Wed, 03 Mar 2004 09:51:28 +0700)

"Bagaimana ini, adalagi yang sudah tidak mampu melawan argument yang diberikan pak Ahmad, terpaksa-lah harus mundurkan atas paksaan perasan pendukung terhadap kebohongan NKRI. Kita ucapkan selamat jalan kepada peserta yang sudah kalah dalam pertarungan, Insya Allah Acheh akan tinggal sendiri dan bersama orang-orang yang telah mendapatkan kesadaran, mengenal dirinya sendiri dan mau menegakan kebenaran.Terimakasih." (Muhammad Dahlan , tang_ce@yahoo.com , Tue, 2 Mar 2004 17:48:41 -0800 (PST))

Terimakasih saudara Muhammad Dahlan di NSW, Australia dan Teuku Mirza di Universitas Indonesia, Jakarta, Indonesia.

Baiklah.
Begini, saya jumpai dulu Teuku Mirza.

Bagaimana Teuku Mirza ini, apakah ada fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah yang menyatakan bahwa ideologi GAM adalah komunis ?

Eh, Teuku Mirza, walaupun saya bukan orang asli Aceh, tetapi orang asli Sunda, tetapi saya sudah membaca itu buku yang ditulis oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro yang berjudul "The Price of Freedom: the unfinished diary of Tengku Hasan di Tiro" yang tebalnya 225 halaman, ditambah 3 halaman yang berisikan judul dan Kata Pengantar dari Dr. Husaini Hassan dan Kata Pengantar dari Teungku Hasan di Tiro, juga ditambah 5 lembar halam gambar di bagian akhir.

Itu buku, Teuku Mirza, dari cerita catatan harian yang dimulai 4 September 1976 sampai 29 Maret 1979 sudah saya lalap habis. Saya ingin tahu apa yang ada dalam pikiran Teungku Hasan Muhammad di Tiro, sehingga beliau memproklamasikan Negara Aceh Sumatera Merdeka bebas dari pengaruh kekuasaan Asing Negara Pancasila atau NKRI.

Eh, Teuku Mirza, tidak ada itu yang namanya ideologi komunis disinggung dalam buku "The Price of Freedom: the unfinished diary of Tengku Hasan di Tiro" yang tebalnya 225 halaman itu. Saya sudah jungkir balikkan, dibaca beberapa kali, ada atau tidak itu Teungku Hasan Muhamamd di tiro menceritakan dalam catatan hariannya membicarakan ideologi komunis. Tidak ketemu, Teuku Mirza.

Kemudian saya bertanya, darimana itu Teuku Mirza baca atau memperoleh informasi bahwa ideologi GAM adalah komunis ?

Wah, bisa jadi informasi ini diperoleh dari para penerus Soekarno. Mengapa ? Karena itu Soekarno cinta sekali kepada komunis sehingga lahirlah apa yang dinamakan Nasakom yaitu singkatan dari Nasionalis Agama Komunis yang merupakan ajaran Soekarno yang mengharuskan danya persatuan nasional progresif revolusioner dengan ketiga golongan politik tersebut sebagai porosnya. Dimana ajaran Nasakom ini oleh Partai Komunis Indonesia diusahakan untuk diterapkan secara struktural, yaitu bahwa dalam setiap badan dan kegiatan negara, termasuk ABRI, golongan komunis harus diikutsertakan. (Sekretariat NRI, 30 tahun Indonesia Merdeka, 1965-1973, hal. 33, 1986)

Atau bisa juga informasi yang diperoleh dari penerus Jenderal Soeharto. Mengapa ?. Karena Jenderal Soeharto-lah sebagai musuh utama dan musuh nomor satu orang-orang komunis di NKRI.

Dimana ketika Mayjen Basuki Rachmat (Menteri Veteran), Brigjen M Jusuf (Menteri Perindustrian Dasar) dan Brigjen Amirmachmud (Pangdam V/Jaya) dengan izin dan membawa pesan dari Menteri Panglima Angkatan Darat Letjen Soeharto untuk langsung menghadap Soekarno di istana Bogor pada tanggal 11 Maret 1966. Setelah diadakan diskusi dan pembahasan tentang keadaan situasi politik, ekonomi, sosial dan keamanan, maka Soekarno memutuskan untuk memberikan surat perintah kepada Letjen Soeharto. Dimana untuk membuat surat perintah tersebut Soekarno meminta kepada Dr Soebandrio, Dr Chairul Saleh dan Dr Leimena serta ketiga jendral utusan Letjen Soeharto itu untuk merumuskan isi surat perintah tersebut. Petang hari itu juga setelah surat perintah tersebut selesai dirumuskan dan ditandatangani oleh Soekarno, ketiga Jenderal utusan Letjen Soeharto pulang kembali ke Jakarta untuk menyampaikan surat perintah dari Soekarno untuk Menteri Panglima Angkatan Darat Letjen Soeharto. Dimana surat perintah tersebut dikenal dengan nama Surat Perintah Sebelas Maret.

Kemudian Letjen Soeharto sebagai Menteri Panglima Angkatan Darat mendapat Surat Perintah 11 Maret 1966 dari Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi/Mandatrais MPRS Soekarno, yang sebagian isi keputusan surat perintah tersebut memerintahkan kepada Letjen Soeharto untuk "Mengambil segala tindakan jang dianggap perlu, untuk terdjadinja keamanan dan ketenangan serta kestabilan djalannja Pemerintahan dan djalannja Revolusi, serta mendjamin keselamatan pribadi dan kewibawaan Pimpinan Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi/Mandataris M.P.R.S. demi untuk keutuhan Bangsa dan Negara Republik Indonesia, dan mellaksanakan dengan pasti segala adjaran Pemimpin Besar Revolusi" (Sekretariat NRI, 30 tahun Indonesia Merdeka, 1965-1973, hal. 91, 1986).

Satu hari berikutnya, tanggal 12 Maret 1966, 3 bulan sebelum SU IV MPRS (20 Juni-5 Juli 1966) menetapkan Ketetapan MPRS No. XXV/MPRS/1966 tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI), Pernyataan Organisasi Terlarang Seluruh Wilayah Negara Republik Indonesia, Letjen Soeharto atas nama Presiden Soekarno menetapkan pembubaran dan pelarangan Partai Komunis Indonesia (PKI) termasuk semua bagian-bagian organisasinya dari tingkat Pusat sampai ke daerah beserta semua organisasi yang seasas/berlindung/bernaung dibawahnya. Keputusan tersebut dituangkan dalam Keputusan Presiden/Panglima Tetinggi ABRI/Mandataris

MPRS/Pemimpin Besar Revolusi No. 1/3/1966 tanggal 12 Maret 1966 dan merupakan tindakan Letjen Soeharto sebagai pengemban SP 11 Maret 1966. (Sekretariat NRI, 30 tahun Indonesia Merdeka, 1965-1973, hal. 93, 1986).

Jadi kalau ditelusuri secara jujur, sebenarnya bukan MPRS yang membubarkan lebih dahulu PKI dengan ideologi komunisnya diseluruh wilayah Negara Pancasila atau NKRI, melainkan Letjen Soeharto dengan ABRI-nya.

Karena itu sebenarnya musuh utama dan yang telah membunuh ratusan ribu orang-orang komunis yang tergabung kedalam PKI dan seluruh Ormas-ormasnya dan puluhan ribu yang dijebloskan ke Pulau Buru dan Nusa Kambangan adalah Letjen Soeharto dengan ABRI-nya dan seluruh kaki tangan Penguasa Orde Baru selama 32 tahun.

Kemudian muncul aksi-aksi pada tanggal 25 Oktober 1965 seperti KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia), KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia), KAPI (Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia), KABI (Kesatuan Aksi Buruh Indonesia), KASI (Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia, KAWI (Kesatuan Aksi Wanta Indonesia, KAGI (Kesatuan Aksi Guru Indonesia) merupakan suatu usaha untuk menuntut penyelesaian politis terhadap mereka yang terlibat dalam Gerakan 30 September 1965. (Sekretariat NRI, 30 tahun Indonesia Merdeka, 1965-1973, hal. 73, 1986)

Dimana aksi-aksi tersebut telah dimanfaatkan oleh Letjen Soeharto dengan ABRI-nya untuk membentuk front pancasila dengan menyapu bersih semua unsur-unsur yang berbau komunis.

Jadi disini sekali lagi Letjen Soeharto telah melakukan manipulasi politik untuk mencapai kekuasaannya dengan cara membangkitkan dan membantu usaha para Guru, Sarjana, Mahasiswa, Oelajar, Buruh, Wanita yang tergabung dalam Kesatuan Aksi untuk menghancur leburkan kekuatan Komunis yang ada di wilayah negara pancasila.

Tidak sampai disitu saja, komunis telah disamakan dengan suatu yang menjijikkan dan membahayakan kelangsungan hidup dan kestabilan politik dan keamanan negara pancasila yang sekular.

Sehingga propaganda Soeharto ini telah menjadi suatu racun yang tidak mudah dibuang dari setiap pikiran rakyat Negara Pancasila atau NKRI

Jadi, bisa jadi, itu Teuku Mirza, ingin memojokkan ASNLF atau GAM dan TNA melalui jalur ideologi komunis.

Eh, Teuku Mirza, tidak lulus itu ujian mengenai mata pelajaran ASNLF atau GAM dan TNA ini.
Bagaimana bisa lulus, membaca buku harian Teungku Hasan Muhammad di tiro saja belum pernah, kemudian belum bertemu dengan para tokoh ASNLF atau GAM dan TNA, sudah berani mengatakan dan mempertanyakan: "Loh ideologi GAM bukan Komunis ? kok bawa-bawa Islam ?"

Teuku Mirza, kalau mau diskusi dan berdebat dengan saya, harus hati-hati, pelajari dahulu materi yang dikemukakan oleh saya, setelah itu baca berulang-ulang apa yang menjadi dasar utama penguat materi yang dilontarkan oleh saya. Baru setelah kuat, boleh angkat bicara di mimbar bebas ini.

Karena kalau tidak, Teuku Mirza akan menemukan kesulitan.

Coba saja lihat dan perhatikan, ketika Teuku Mirza berusaha memojokkan ASNLF atau GAM dengan isu Yahudi, eh, tahu-tahu setelah Ahmad Sudirman menjelaskan tentang pernikahan Teungku Hasan Muhammad di Tiro dengan bekas istrinya orang Yahudi, ternyata Teuku Mirza mundur, tidak mampu bertahan lagi, apalagi ketika Ahmad Sudirman menanyakan tentang Istri Teuku Mirza yang melanggar larangan Allah SWT dalam Quran Surat Al Ahzab ayat 59. Betul-betul Teuku Mirza terjerembab.

Rupanya, Teuku Mirza masih punya senjata lainnya untuk memukul ASNLF atau GAM dan TNA yaitu senjata ideologi komunis.

Tetapi sayang, Teuku Mirza salah duga, bahwa Ahmad Sudirman telah mampu menghadang serangan ideologi komunis yang ditembakkan ke benteng Ahmad Sudirman.

Eh, Teuku Mirza, coba cari lagi alasan lain untuk menjatuhkan ASNLF atau GAM dan TNA yang didukung oleh rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI atau Negara RI-Jawa-Yogya.

Begini saja Teuku Mirza, ideologi ASNLF atau GAM dan TNA setelah saya baca dari buku catatan harian Teungku Hasan Muhammad di Tiro "The Price of Freedom: the unfinished diary of Tengku Hasan di Tiro" yang tebalnya 225 halaman itu, ternyata itu ideologi ASNLF atau GAM dan TNA adalah seperti yang saya telah analisa dari isi deklarasi Proklamasi Negara Aceh Merdeka ini.

Dimana setelah ditelaah dan dipelajari sampai kedalam apa yang dinyatakan dalam deklarasi kemerdekaan Negara Aceh Sumatra tanggal 4 Desember 1976 itu yang berbunyi :"We, the people of Acheh, Sumatra, exercising our right of self- determination, and protecting our historic right of eminent domain to our fatherland, do hereby declare ourselves free and independent from all political control of the foreign regime of Jakarta and the alien people of the island of Java....In the name of sovereign people of Acheh, Sumatra. Tengku Hasan Muhammad di Tiro. Chairman, National Liberation Front of Acheh Sumatra and Head of State Acheh, Sumatra, December 4, 1976". ("Kami, rakyat Aceh, Sumatra melaksanakan hak menentukan nasib sendiri, dan melindungi hak sejarah istimewa nenek moyang negara kami, dengan ini mendeklarasikan bebas dan berdiri sendiri dari semua kontrol politik pemerintah asing Jakarta dan dari orang asing Jawa....Atas nama rakyat Aceh, Sumatra yang berdaulat. Tengku Hasan Muhammad di Tiro. Ketua National Liberation Front of Acheh Sumatra dan Presiden Aceh Sumatra, 4 Desember 1976") (The Price of Freedom: the unfinished diary of Tengku Hasan di Tiro, National Liberation Front of Acheh Sumatra,1984, hal : 15, 17).

Sekarang coba perhatikan "and protecting our historic right of eminent domain to our fatherland (dan melindungi hak sejarah istimewa nenek moyang negara kami)". Dimana dalam kalimat tersebut telah mencakup keseluruhan sejarah dasar perjuangan Gerakan Pembebasan Rakyat dan Negeri Aceh adalah dijiwai oleh nilai-nilai, norma-norma, dan semangat berjuang yang telah digariskan oleh para pejuang Aceh dari sejak abad ke 15 dibawah pimpinan Sultan Ali Mukayat Syah (1514-1528), diteruskan oleh Sultan Salahuddin (1528-1537), dilanjutkan oleh Sultan Alauddin Riayat Syahal Kahar (1537-1568), tetap diperjuangkan oleh Sultan Ali Riyat Syah (1568-1573), juga masih tetap dipertahakan oleh Sultan Seri Alam (1576), makin gencar diteruskan oleh Sultan Muda (1604-1607), dan dikobarkan oleh Sultan Iskandar Muda, gelar marhum mahkota alam (1607-1636) dalam menghadapi agresi Portugis.

Begitu juga Gerakan Pembebasan Rakyat dan Negeri Aceh yang telah dijiwai oleh nilai-nilai, norma-norma, dan semangat berjuang yang telah digariskan oleh para pejuang Aceh dari sejak abad ke 15 mampu menerobos dan menghadapi agresi Belanda dari sejak tanggal 26 Maret 1873 ketika Belanda menyatakan perang kepada Aceh.

Dan pecah perang pertama yang dipimpin oleh Panglima Polem dan Sultan Machmud Syah melawan Belanda yang dipimpin Kohler dengan 3000 serdadunya dapat dipatahkan, dimana Kohler sendiri tewas pada tanggal 10 April 1873. Dilanjutkan dengan perang kedua melawan Belanda dibawah pimpinan Jenderal Van Swieten yang berhasil menduduki Keraton Sultan dan dijadikan sebagai pusat pertahanan Belanda. Tentu saja, nilai-nilai, norma-norma, dan semangat berjuang yang telah ditanamkan oleh Sultan Machmud Syah yang wafat 26 Januari 1874 tidak terputus dan tercecer begitu saja, melainkan diteruskan oleh Tuanku Muhammad Dawot yang dinobatkan sebagai Sultan di masjid Indragiri.

Dan memang nilai-nilai, norma-norma, dan semangat berjuang yang telah digariskan oleh para pejuang Aceh dari sejak abad ke 15 tersebut membangkitkan semangat perang gerilya yang dipimpin oleh Teuku Umar bersama Panglima Polem dan Sultan terus tanpa pantang mundur menghadapi serangan dan gempuran Belanda.

Walaupun Teuku Umar gugur pada tahun 1899 ketika menghadapi pasukan Van Der Dussen di Meulaboh, tetapi Tetapi Cut Nya' Dien istri Teuku Ummar siap tampil menjadi komandan perang gerilya menghadapi Belanda. Perang gerilya melawan Belanda ini berlangsung sampai tahun 1904.

Nah nilai-nilai, norma-norma, dan semangat berjuang yang telah digariskan oleh para pejuang Aceh dari sejak abad ke 15 sampai detik inilah yang sebenarnya lahir dari ruh Islam yang telah menyirami rakyat, pemimpin dan negeri Aceh sejak abad ke 15 itu, dan dinyatakan dalam deklarasi kemerdekaan Aceh Sumatra tanggal 4 Desember 1976 oleh Teungku Muhammad Hasan di Tiro dalam ungkapan "and protecting our historic right of eminent domain to our fatherland (dan melindungi hak sejarah istimewa nenek moyang negara kami)".

Nah, Teuku Mirza, ideologi GAM bukan komunis melainkan "nilai-nilai, norma-norma, dan semangat berjuang yang telah digariskan oleh para pejuang Aceh dari sejak abad ke 15 sampai detik inilah yang sebenarnya lahir dari ruh Islam yang telah menyirami rakyat, pemimpin dan negeri Aceh sejak abad ke 15 itu, dan dinyatakan dalam deklarasi kemerdekaan Aceh Sumatra tanggal 4 Desember 1976 oleh Teungku Muhammad Hasan di Tiro dalam ungkapan "and protecting our historic right of eminent domain to our fatherland (dan melindungi hak sejarah istimewa nenek moyang negara kami)".

Jadi terakhir, sekali lagi saya sarankan kepada Teuku Mirza untuk berpikir seribu kali sebelum angkat bicara dihadapan saya dimimbar bebas ini.

Kemudian saya akan menjumpai saudara Muhammad Dahlan di Australia.

Saudara Muhammad Dahlan mengatakan: "Bagaimana ini, adalagi yang sudah tidak mampu melawan argument yang diberikan pak Ahmad, terpaksa-lah harus mundurkan atas paksaan perasan pendukung terhadap kebohongan NKRI. Kita ucapkan selamat jalan kepada peserta yang sudah kalah dalam pertarungan, Insya Allah Acheh akan tinggal sendiri dan bersama orang-orang yang telah mendapatkan kesadaran, mengenal dirinya sendiri dan mau menegakan kebenaran"

Memang saudara Muhammad Dahlan, kalau orang di NKRI tidak sanggup lagi mempertahankan alasan penjajahan di Negeri Aceh yang dimulai oleh Presiden RIS Soekarno sejak 14 Agustus 1950 kemudian diteruskan oelh Jenderal Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid dan sekarang Presiden Megawati, maka jalan satu-satu yang aman adalah mundur dari gelanggang tanpa mengakui apa yang telah dilakukan oleh Soekarno dan para penerusnya itu adalah suatu pelanggaran hukum dan sekaligus pelanggaran apa yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang menyatakan: "Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan."

Nah sekarang, kita akan terus maju mengikuti jalur kearah tujuan referendum bagi seluruh rakyat Aceh di Negeri Aceh untuk menentukan sikap apakah YA bebas dari Negara Pancasila/NKRI atau TIDAK bebas dari Negara Pancasila/NKRI.

Kita terus maju, tidak perlu mundur, karena orang-orang penerus Soekarno satu demi satu meminggir. Makin mereka meminggir makin kita bebas untuk menyuarakan hak-hak rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

From: "Teuku Mirza" teuku_mirza@hotmail.com
To: ACSA@yahoogroups.com, ahmad@dataphone.se
Subject: RE: <AcsA> Re: MANA BERANI ULAMA NKRI MEMBUAT FATWA MENYATAKAN TNI/POLRI/RAIDER YANG MATI DI ACEH MATINYA MATI SAHID
Date: Wed, 03 Mar 2004 09:51:28 +0700

Loh ideologi GAM bukan Komunis ? kok bawa-bawa Islam ?

Teuku Mirza

teuku_mirza@hotmail.com
teuku_mirza2000@yahoo.com
Universitas Indonesia
Jakarta, Indonesia
----------

Date: Tue, 2 Mar 2004 17:48:41 -0800 (PST)
From: muhammad dahlan tang_ce@yahoo.com
Subject: Re: TIM EMHA AINUN NADJIB: MAAFKAN KAMI PAK AHMAD SUDIRMAN
To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se

Bagaimana ini, adalagi yang sudah tidak mampu melawan argument yang diberikan pak Ahmad, terpaksa-lah harus mundurkan atas paksaan perasan pendukung terhadap kebohongan NKRI.

Kita ucapkan selamat jalan kepada peserta yang sudah kalah dalam pertarungan, Insya Allah Acheh akan tinggal sendiri dan bersama orang-orang yang telah mendapatkan kesadaran, mengenal dirinya sendiri dan mau menegakan kebenaran.
Terimakasih.

Muhammad Dahlan

tang_ce@yahoo.com
NSW, Australia
----------