Stockholm, 3 Maret 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

TEUKU MIRZA PAKAI SENJATA KOMUNIS TERPENTAL MENGHADAPI BENTENG AHMAD SUDIRMAN
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS ITU TEUKU MIRZA PAKAI SENJATA KOMUNIS TERPENTAL MENGHADAPI BENTENG AHMAD SUDIRMAN

"Kacian deh lo. Anda merasa menang ? kasian sekali. Padahal anggota GAM di Aceh mati satu per satu dikejar-kejar Raider. Hasan Tiro dan CS-nya makan tidur di Swedia atas jaminan sosial pemerintah Swedia sambil jerit-jeritan Pemerintah NKRI melanggar HAM. Waktu Bush salah ngomong HAM kemarin Keliatannya Anda seneng benar, padahal Bush cuma maling yang teriak maling. Kalo dia mempersoalkan HAM sangatlah tidak pantas mengingat apa yang dilakukanya tas rakyat Irak dan Afganistan. Soal Istri Hasan Tiro ? Makanya saya bilang. Ngurus rumah tangganya aja Hasan Tiro nggak becus, malah mau ngurusin negara. Gara-gara kunyuk ini berapa banyak anak-anak Aceh mati konyol. Bukunya Hasan Tiro ini nggak lebih dari buku picisan, nggak usah dibaca sudah dapat ditebak isinya. (Teuku Mirza, teuku_mirza2000@yahoo.com , Wed, 3 Mar 2004 02:35:24 -0800 (PST))

Baiklah Teuku Mirza di Universitas Indonesia, Jakarta, Indonesia.
Begini.

Coba perhatikan oleh seluruh para peserta diskusi di mimbar bebas tentang referendum dan penjajahan di Negeri Aceh oleh NKRI dan seluruh rakyat di NKRI dan di Negeri Aceh.

Apa yang dijawab oleh Teuku Mirza yang pernah belajar di Universitas Indonesia, Jakarta di NKRI ini terhadap tulisan saya sebelum ini yang berjudul "Teuku Mirza ideologi GAM bukan Komunis melainkan ideologi yang disirami nilai Islam yang lebih baik dari Pancasila"

Nah, coba sekarang perhatikan secara seksama, apa yang dijawab atau disanggah oleh Teuku Mirza ini: "Kacian deh lo. Anda merasa menang ? kasian sekali. Padahal anggota GAM di Aceh mati satu per satu dikejar-kejar Raider."

Coba perhatikan dengan seksama.

Ketika Teuku Mirza menyerang dengan memakai senjata ideologi komunis untuk menyerang ASNLF atau GAM dan TNA, ternyata setelah saya jawab dalam tulisan saya tersebut, langsung berkelit dan merasa bahwa menggebuk dan menembak dengan ideologi komunis itu tidak mempan.

Eh, rupanya, Teuku Mirza berkelit sambil mengambil senjata lain yang berbentuk HAM Aceh sambil menyerang: "Hasan Tiro dan CS-nya makan tidur di Swedia atas jaminan sosial pemerintah Swedia sambil jerit-jeritan Pemerintah NKRI melanggar HAM. Waktu Bush salah ngomong HAM kemarin Keliatannya Anda seneng benar, padahal Bush cuma maling yang teriak maling. Kalo dia mempersoalkan HAM sangatlah tidak pantas mengingat apa yang dilakukanya tas rakyat Irak dan Afganistan."

Coba para peserta diskusi mimbar bebas dan seluruh rakyat di NKRI dan di Negeri Aceh perhatikan secara teliti.

Serangan dari Teuku Mirza itu tidak jauh berbeda dengan apa yang dilontarkan oleh pihak Juru Bicara Departemen Luar Negeri Marty Natalegawa: "Bukankah Indonesia dan bahkan rakyat Indonesia merasa tak pernah memberikan wewenang kepada pemerintah Amerika untuk memberikan penilaian kepada kita. Mungkin, yang menulis laporan ini (sudah) menginvestigasi dulu atau belum, saya tidak tahu. Awalnya, saya kira positif karena ada tulisan, 'adanya pelanggaran yang dilakukan teroris -maksudnya GAM- tapi mengapa diembel-embeli penjelasan bahwa pemerintah Indonesia tidak mampu atau bahkan tidak bersedia untuk menghentikan pelanggaran HAM oleh GAM'. Ini apa maksudnya. Ini bukan rasa tidak bersahabat dengan Amerika. Hubungan Indonesia-Amerika sangat penting, tapi masalahnya muncul saat Amerika memilih memunculkan satu aspek dalam hubungan itu" papar Jubir Deplu Marty Natalegawa dalam jumpa pers di gedung Deplu, Pejambon, Jakarta Pusat, kemarin, 27 Februari 2004"(naz/agt , RI Marah Disebut Melanggar HAM Deplu Anggap Amerika Ngawur, Jawa Post, Sabtu, 28 Feb 2004)

Nah, senjata ideologi komunis tidak mempan menghantam benteng Ahmad Sudirman, tahu-tahu Teuku Mirza salah ambil pula, dengan memegang senjata HAM Aceh yang telah dibongkar ketumpulan dan penuh karat oleh pihak the Bureau of Democracy, Human Rights, and Labor , February 25, 2004" yang dimuat di http://www.state.gov/g/drl/rls/hrrpt/2003/27771.htm .

Ternyata, Teuku Mirza seperti juga Jubir Deplu Marty Natalegawa berkelit sambil menyerang balik. Tetapi, serangan balik mereka berdua itu adalah serangan yang tumpul ? Mengapa ?

Karena, masyarakat dunia telah mengetahui bagaimana pihak TNI/POLRI terutama dari Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu yang disokong oleh Menlu Noer Hassan Wirajuda, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, Ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong, dan Presiden Megawati dengan cara menggagalkan perundingan Joint Council Meeting (JCM) atau Pertemuan Dewan Bersama di Tokyo pada tanggal 17-18 Mei 2003 yang diganti dengan dasar hukum Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang dikeluarkan pada tanggal 18 Mei 2003 dan diberlakukan pada tanggal 19 Mei 2003 yang telah ditetapkan beberapa hari sebelum perundingan Joint Council Meeting (JCM) atau Pertemuan Dewan Bersama di Tokyo pada tanggal 17-18 Mei 2003 dijalankan.

Disamping itu menerapkan dasar hukum Keputusan Presiden Republik Indonesia selaku Penguasa Darurat Militer Pusat Nomor 43 Tahun 2003 Tentang Pengaturan kegiatan Warga Negara Asing, Lembaga Swadaya Masyarakat dan Jurnalis di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang ditetapkan dan diundangkan di Jakarta pada tanggal 16 Juni 2003.

Ternyata memang benar akibatnya tergambar dari hasil laporan hak hak asasi manusia yang telah dipublikasikan oleh Bureau of Democracy, Human Rights, and Labor , February 25, 2004" yang dimuat di http://www.state.gov/g/drl/rls/hrrpt/2003/27771.htm

Kemudian lucunya itu Juru Bicara Departemen Luar Negeri Marty Natalegawa dalam jumpa pers di gedung Deplu, Pejambon, Jakarta Pusat, kemarin, 27 Februari 2004 mengatakan: "Awalnya, saya kira positif karena ada tulisan, adanya pelanggaran yang dilakukan teroris -maksudnya GAM- tapi mengapa diembel-embeli penjelasan bahwa pemerintah Indonesia tidak mampu atau bahkan tidak bersedia untuk menghentikan pelanggaran HAM oleh GAM'. Ini apa maksudnya. Ini bukan rasa tidak bersahabat dengan Amerika" papar Jubir Deplu Marty Natalegawa dalam jumpa pers di gedung Deplu, Pejambon, Jakarta Pusat, kemarin, 27 Februari 2004" (naz/agt , RI Marah Disebut Melanggar HAM Deplu Anggap Amerika Ngawur, Jawa Post, Sabtu, 28 Feb 2004)

Bagaimana tidak lucu itu Juru bicara Menlu Noer Hassan Wirajuda, Marty Natalegawa memberikan komentar terhadap hasil laporan hak hak asasi manusia yang diterbitkan dalam situs U.S. Department of State dengan balik menyerang kepada Pemerintah George W.Bush : "Bukankah Indonesia dan bahkan rakyat Indonesia merasa tak pernah memberikan wewenang kepada pemerintah Amerika untuk memberikan penilaian kepada kita".

Ketidak-lucuan dari pihak Departemen Luar Negeri NKRI atau Negara RI-Jawa-Yogya ini adalah karena tidak menyangka bahwa apa yang telah dilakukan didalam Negeri Aceh akhirnya tercium dan terbongkar oleh George W. Bush di Gedung Putih.

Karena memang pihak Presiden Megawati, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, Menlu Noer Hassan Wirajuda, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, dan Ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong suka menipu sambil berpura-pura baik didepan masyarakat Internasional, dengan mengatakan akan melakukan operasi terpadu yang terdiri dari Pemulihan Keamanan, Operasi Kemanusiaan, Pemantapan Pemerintah Daerah, dan Penegakkan Hukum.

Padahal sebenarnya sebagai alat kamuflase dari pelaksanaan dan penerapan dasar hukum Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang dikeluarkan pada tanggal 18 Mei 2003 dan diberlakukan pada tanggal 19 Mei 2003, yang didalamnya mengandung racun-racun Soekarno yang terselubung dalam bagian "2.Undang-undang Nomor 23 Prp Tahun 1959 tentang Keadaan Bahaya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1959 Nomor 139, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1908) sebagaimana telah diubah dua kali, terakhir dengan Undang-undang nomor 52 Prp Tahun 1960 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 170, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2113)". Dimana Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 1959 Tentang pencabutan Undang Undang No.74 Tahun 1957 (Lembaran Negara No. 160 Tahun 1957) dan Menetapkan Keadaan Bahaya, yang ditetapkan di Jakarta pada tanggal 16 Desember 1959 oleh Presiden RI Soekarno dan diundangkan di Jakarta pada tanggal 16 Desember 1959 oleh Menteri Muda Kehakiman Sahardjo.

Jadi kelakuan yang ditunjukkan oleh pihak Presiden Megawati, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, Menlu Noer Hassan Wirajuda, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, dan Ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong pura-pura baik didepan masyarakat Internasional, dengan mengatakan akan melakukan operasi terpadu yang terdiri dari Pemulihan Keamanan, Operasi Kemanusiaan, Pemantapan Pemerintah Daerah, dan Penegakkan Hukum. Padahal merupakan alat sebagai alat kamuflase pelanggaran HAM dari pelaksanaan dan penerapan dasar hukum Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang dikeluarkan pada tanggal 18 Mei 2003 dan diberlakukan pada tanggal 19 Mei 2003, yang ternyata akhirnya tercium dan terbongkar juga oleh George W. Bush.

Sudah barang tentu itu Presiden Megawati, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, Menlu Noer Hassan Wirajuda, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, dan Ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong kena jewer telinganya oleh George W. Bush.

Memang dunia mengetahui bahwa George W. Bush itu tukang pukul, terutama ketika memukul Saddam Hussein, tetapi , Bush telah mendeklarkan sebelumnya bahwa akan memukul mati Saddam Hussein.

Tetapi perbedaannya dengan Presiden Megawati, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, Menlu Noer Hassan Wirajuda, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, dan Ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong adalah kalau George W. Bush sebelum menghatam mati Saddam Hussein, ia deklarkan keseluruh dunia secara terbuka mau menghantam Saddam.

Tetapi kalau pihak Presiden Megawati, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, Menlu Noer Hassan Wirajuda, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, dan Ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong menggunakan cara licik yaitu melalui penggagalan perundingan Joint Council Meeting (JCM) atau Pertemuan Dewan Bersama di Tokyo pada tanggal 17-18 Mei 2003 yang diganti dengan dasar hukum Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang dikeluarkan pada tanggal 18 Mei 2003 dan diberlakukan pada tanggal 19 Mei 2003 yang telah ditetapkan beberapa hari sebelum perundingan Joint Council Meeting (JCM) atau Pertemuan Dewan Bersama di Tokyo pada tanggal 17-18 Mei 2003 dijalankan.

Kemudian diumumkan kepada masyarakat bahwa penerapan Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 itu adalah merupakan operasi terpadu yang terdiri dari Pemulihan Keamanan, Operasi Kemanusiaan, Pemantapan Pemerintah Daerah, dan Penegakkan Hukum. Padahal sebenarnya sebagai alat kamuflase dari pelaksanaan dan penerapan dasar hukum Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang dikeluarkan pada tanggal 18 Mei 2003 dan diberlakukan pada tanggal 19 Mei 2003, yang didalamnya mengandung racun-racun Soekarno yang terselubung.

Jadi, Presiden Megawati, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, Menlu Noer Hassan Wirajuda, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, dan Ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong adalah para penipu licik dan kerdil karena tidak mampu menghadapai di meja perundingan mengahadapi ASNLF atau GAM.

Kemudian, yang paling parah Teuku Mirza masih juga mempersoalkan: "Soal Istri Hasan Tiro ? Makanya saya bilang. Ngurus rumah tangganya aja Hasan Tiro nggak becus, malah mau ngurusin negara."

Padahal istri Teuku Mirza itu sendiri sudah melangar perintah dan larangan Allah SWT seperti yang tercantum dalam Surat Al Ahzab ayat 59 yang berbunyi: "Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (Q 33 Al Ahzab, 59).

Dimana Teuku Mirza ini mengikuti jejak Abdurrahman Wahid yang berteman dekat dengan Simon Peres dan kemungkinan berteman juga dengan Ariel Sharon. Plus Teuku Mirza ini melihat kelakuan Presiden Megawati yang juga melanggar larangan Allah SWT dalam surat Al Ahzab ayat 59 itu.

Nah, Teuku Mirza ini untuk berkelit ia hanya berlindung dibalik persoalan: "Soal Istri Hasan Tiro ? Makanya saya bilang. Ngurus rumah tangganya aja Hasan Tiro nggak becus, malah mau ngurusin negara." Padahal saya telah menjawabnya yaitu:

"bahwa soal memproklamasikan, mendirikan, membangun negara, tidak ada hubungannya dengan kemampuan meng-Islam-kan istri yang dihubungkan dengan Teungku Hasan Muhammad di Tiro. Karena ketika Teungku Hasan Muhammad di Tiro menikah dengan seorang perempuan Yahudi yang bukan muslimah, kemudian setelah menikah tidak mampu meng-Islam-kan istrinya yang Yahudi itu, jelas, bukan kesalahan mutlak Teungku Hasan Muhammad di Tiro, Teuku Mirza. Karena yang memberikan hikmah, karunia dan hidayah masuk Islam itu bukan Teungku Hasan Muhammad di Tiro, melainkan Allah SWT."

Kemudian lagi beliau berdua itu sudah bercerai lama. Yang satu tetap dengan ke-Yahudian-nya, sedangkan Teungku Hasan Muhammad di Tiro tetap dengan ke-Islaman-nya.

Jadi, apalagi yang mau dibicarakan sekarang.

Yang sudah berlalu anggap sebagai pelajaran besar, yang akan datang kita songsong dengan usaha untuk mencapai cita-cita dan ridha Allah SWT dengan menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI yang telah menelan dan mencaplok Negeri Aceh memakai tangan Presiden RIS Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1950 melalui mulut Propinsi Sumatera Utara dengan jalan menetapkan Peraturan Pemerintah RIS No. 21 Tahun 1950 Tentang Pembentukan Daerah Propinsi dan PERPU No.5 tahun 1950 tentang pembentukan Propinsi Sumatera-Utara, tanpa mendapat persetujuan, kerelaan dan keikhlasan dari seluruh rakyat Aceh dan pemimpin rakyat Aceh, satu hari sebelum RIS dilebur menjadi NKRI pada tangal 15 Agustus 1950.

Nah sekarang, soal bertudung itu wajib, Teuku Mirza, Presiden Megawati dan Abdurrahman Wahid. Jangan mengada-ada. Karena sudah jelas itu Presiden Megawati jelas-jelas sudah melanggar apa yang diperintahkan Allah SWT dalam Al Quran surat Al Ahzab ayat 59 yang saya tuliskan diatas.

Nah, apakah Isteri Teuku Mirza juga sudah terang-terangan mengikuti jejak Presiden Megawati yang telah jelas-jelas sudah melanggar apa yang diperintahkan Allah SWT dalam Al Quran surat Al Ahzab ayat 59, kenapa tidak ditegur oleh Teuku Mirza ?

Selanjutnya Teuku Mirza mempersoalkan: "Gara-gara kunyuk ini berapa banyak anak-anak Aceh mati konyol."

Eh, Teuku Mirza, sekarang saya mau bertanya, mengapa itu Presiden RIS Soekarno menelan dan mencaplok Negeri Aceh pada tanggal 14 Agustus 1950, kemudian menghancurkan dan membunuh rakyat Aceh, diteruskan oleh Jenderal Soeharto, juga oleh BJ Habibie, masih juga diteruskan oleh Abdurahman Wahid dan sekarang masih juga dilanjutkan oleh Presiden Megawati dengan TNI/POLRI/Raider membunuh rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan negara Pancasila atau NKRI atau Negara RI-jawa-Yogya ?

Teuku Mirza yang paling jahat dan biadab kelakuannya di Negeri Aceh adalah pihak Presiden Megawati, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, Menlu Noer Hassan Wirajuda, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, dan Ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong yang menggunakan cara licik melalui penggagalan perundingan Joint Council Meeting (JCM) atau Pertemuan Dewan Bersama di Tokyo pada tanggal 17-18 Mei 2003 yang diganti dengan dasar hukum Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang dikeluarkan pada tanggal 18 Mei 2003 dan diberlakukan pada tanggal 19 Mei 2003 yang telah ditetapkan beberapa hari sebelum perundingan Joint Council Meeting (JCM) atau Pertemuan Dewan Bersama di Tokyo pada tanggal 17-18 Mei 2003 dijalankan.

Selanjutnya Teuku Mirza menyinggung soal: "Bukunya Hasan Tiro ini nggak lebih dari buku picisan, nggak usah dibaca sudah dapat ditebak isinya."

Eh, Teuku Mirza, kalau Teuku Mirza mau mengetahui dan menghantam Teungku Hasan Muhammad di Tiro harus tahu dulu jalan pikiran beliau yang tertuang dalam bukunya itu. Ini belum dibaca baru mendengar bukunya saja sudah mengatakan: "nggak usah dibaca sudah dapat ditebak isinya"

Nah disini terbukti, bahwa memang Teuku Mirza ini salah seorang pengekor Soekarno dan juga penerus Jenderal Soeharto. Tetapi kalau menghadapi Ahmad Sudirman sampai kapanpun Teuku Mirza ini tidak akan mampu menjatuhkan Ahmad Sudirman.

Coba kita terus buktikan selanjutnya dan coba terus perhatikan oleh seluruh peserta diskusi di mimbar bebas ini dan oleh seluruh rakyat di NKRI dan di Negeri Aceh.

Siapa yang terjungkir apakah Teuku Mirza yang mempertahankan pendudukan, penjajahan Negeri Aceh oleh NKRI atau Ahmad Sudirman yang mendukung, menyokong, membela rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI ?

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Wed, 3 Mar 2004 02:35:24 -0800 (PST)
From: teuku mirza <teuku_mirza2000@yahoo.com>
Subject: Re: TEUKU MIRZA IDEOLOGI GAM BUKAN KOMUNIS MELAINKAN IDEOLOGI YANG DISIRAMI NILAI ISLAM YANG LEBIH BAIK DARI PANCASILA
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>

Kacian deh lo.

Anda merasa menang ? kasian sekali. Padahal anggota GAM di Aceh mati satu per satu dikejar-kejar Raider. Hasan Tiro dan CS-nya makan tidur di Swedia atas jaminan sosial pemerintah Swedia sambil jerit-jeritan Pemerintah NKRI melanggar HAM.

Waktu Bush salah ngomong HAM kemarin Keliatannya Anda seneng benar, padahal Bush cuma maling yang teriak maling. Kalo dia mempersoalkan HAM sangatlah tidak pantas mengingat apa yang dilakukanya tas rakyat Irak dan Afganistan.

Soal Istri Hasan Tiro ?

Makanya saya bilang. Ngurus rumah tangganya aja Hasan Tiro nggak becus, malah mau ngurusin negara. Gara-gara kunyuk ini berapa banyak anak-anak Aceh mati konyol.

Bukunya Hasan Tiro ini nggak lebih dari buku picisan, nggak usah dibaca sudah dapat ditebak isinya.

Teuku Mirza

teuku_mirza2000@yahoo.com
teuku_mirza@hotmail.com
Universitas Indonesia
Jakarta, Indonesia
----------