Stockholm, 4 Maret 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

PENERUS SOEKARNO TAKUT RIS & NKRI DIBONGKAR, DITYA & ENDANG TENGGELAM, FLOPS JELAS ENDANG MEMONITOR
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS PENERUS SOEKARNO TAKUT RIS & NKRI DIBONGKAR, DITYA & ENDANG TENGGELAM, FLOPS JELAS ENDANG MEMONITOR

"Pertama saya adalah pembaca mimbar bebas yang Kang Ahmad Sudirman adakan. Terima kasih atas apa yang Kang Ahmad sampaikan selama ini di mimbar bebas ini, saya sangat senang membaca dan memperhatikan apa yang Kang Ahmad tulis di mimbar ini. Ya sebagai seorang mukmin yang membela kebenaran sudah selayaknya kita mencontoh cara berpikir Kang Ahmad ini. Terus terang baru kali ini saya mendapatkan sejarah panjang mengenai Indonesia, dan dengan segala penjelasan yang bisa dipertangung jawabkan sangat luar biasa, Kang. Sebenarnya saya ingin ikut berdiskusi sini hanya ada rasa ragu apakah nanti saya akan termonitor dgn orang yang tdk suka pada kebenaran ini semua ? Itu saja dulu perkenalan saya dan mohon maaf kalau ada kata2 yang kurang berkenan di hati Akang , sekali lagi terima kasih banyak atas segalah tulisan2 Kang Ahmad Sudirman." (Flops Cpnc, ospflops@centrin.net.id , Thu, 4 Mar 2004 08:48:09 +0700)

"Halo bung A.Sudirman!. Jawaban macam itu udah aku duga sebelumnya, walau anda menolak dikatakan berkelit, toh memang hanya kata-kata seperti itu yang anda gunakan / hapal untuk membalas setiap serangan dari lawan diskusi anda? yani caplok-caplokan, duduk-dudukan, jajah-jahahan terhadap Aceh, RIS, Indonesia Jogya-Jawa, yang anda cuplik dari potongan-potongan surat perjanjian jaman penjajahan yang udah kadalu arsa dan basi. Kalau itu yang anda sebut sebagai penghadangan, itu sama halnya penghadangan yang anda lakukan selama ini merupakan penghadangan yang salah jalan, hingga sampai kapanpun tidak bakalan kesampaian/ketemu. namanya juga salah jalan alias nyasar!. Kalau anda anggap sebagai senjata, itu merupakan senjata yang udah ketinggalan jaman alias kadalu arsa alias basi, hingga tidak ada yang beminat untuk mengadopsinya."(Matius Dharminta , mr_dharminta@yahoo.com , Wed, 3 Mar 2004 22:48:39 -0800 (PST))

"Kalau dilihat GAM dan TNA-itu kan punya juga senjata, malah terbilang cukup modern untuk ukuran kekuatan sebuah gerombolan, Pertanyaan saya "dari mana sumber dana yang diperoleh untuk beli senjata begituan.? Apakah memang murni dari simpatisan GAM atau dari pajak nagroe yg mungkin dipungut setengah paksa atau dari hasil jualan Ganja. Demikian mas Ahmad mohon dijelaskan atas keterbatasan pengetahuan saya." (Dobing , dobing@telkom.net , Thu, 4 Mar 2004 10:53:46 +0700)

"Ini pendapat pribadi tentang 'hilangnya' Bpk Kol. Laut Ditya. Mungkin beliau terlalu sibuk di NAD. Saya pikir memang selama ini mail Pak Sudirman itu hanya sekedar mengulang-ulang kisah 'tempo 'doeloe'. Hanya ngomong doang. Tak ada tindakan nyata. Hanya bikin penuh inbox. Apapun yang ingin kita capai harus dengan usaha. Usaha itu bukan cuma ngomong doang. Harus dengan tindakan nyata!. Sementara pak Sudirman cs, terus ngomong sampai berbusa-busa, ber-jilid2, pengulangan , meng copy paste ribuan kali, mana hasilnya di bumi NAD sana? Malahan banyak simpatisan Bapak yang minggat ke luar negeri, beraninya cuma bekoar-koar di luar negeri. Saya meskipun tidak suka gerombolan GAM yg tukang menyandera, minta tebusan, kriminal, tapi sangat salut 'perjuangan ' mereka. Bersakit-sakit di hutan, penuh penderitaan. Tapi goblognya mereka, seumpama (nanti dekat kiamat 'kali) perjuangan mereka berhasil, yg jadi raja adalah yg cuma enak-enak-an ngimel doang." (L.Meilany , wpamungk@centrin.net.id , Thu, 4 Mar 2004 07:54:02 +0700)

Terimakasih saudara Flops di Indonesia, saudara wartawan Jawa Pos Matius Dharminta di Surabaya, Indonesia, saudara Dobing di Jakarta, Indonesia dan saudari L.Meilany di Tangerang, Banten, Indonesia.

Sebelum saya mengupas masalah yang dipertanyakan oleh para peserta diskusi mimbar bebas ini. Perlu diberitahukan kepada sidang diskusi ini, bahwa hari ini, Kamis, 4 Maret 2004 telah datang dan masuk saudara Flops dari Indonesia, karena tertarik dengan materi isi diskusi di mimbar bebas ini. Hanya saudara Flops masih ragu apakah dengan masuknya kedalam mimbar bebas diskusi ini nantinya akan termonitor, misalnya oleh Kolonel Laut Ditya Soedarsono, atau Mayjen TNI Endang Suwarya atau oleh Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs atau oleh Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto atau oleh KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu atau oleh Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar atau oleh Kepala Badan Intelijen Negara AM Hendropriyono.

Jelas, saudara Flops, mereka itu semua memonitor, tetapi mereka tidak berani untuk sementara ini bertindak melakukan sesuatu yang melanggar HAM. Karena mereka mengetahui pasti kalau bertindak melanggar HAM, jelas akan sampai juga terekam, dan kemungkinan sampai ke Gedung Putih. Jadi jangan khawatir saudara Flops bahwa mereka akan melakukan tindakan gegabah dengan melanggar HAM, gara-gara ikut berdiskusi di mimbar bebas yang diasuh oleh Ahmad Sudirman.

Kalau seandainya itu Kolonel Laut Ditya Soedarsono, atau Mayjen TNI Endang Suwarya atau Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs atau Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto atau KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu atau Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar atau Kepala Badan Intelijen Negara AM Hendropriyono melakukan pelanggaran HAM terhadap saudara Flops, boleh saja saudara Flops langsung mengirimkan beritanya kepada mimbar bebas ini, dan Insya Allah saya akan berusaha untuk mencegahnya agar mereka tidak lagi melakukan tindakan pelanggaran HAM terhadap diri saudara Flops.

Nah inilah sedikit kata pembukaan selamat datang kepada saudara Flops di mimbar bebas ini.

Selanjutnya, seperti biasa saya akan jumpai saudara wartawan Jawa Pos Matius Dharminta di Surabaya, Indonesia.

Eh, saudara Matius, saudara bisa saja mengatakan RIS, NKRI, RI-Jawa-Yogya adalah " udah kadalu arsa dan basi."

Tetapi, saudara Matius tidak mengetahui itu Presiden Megawati, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, Penguasa Darurat Militer Daerah Aceh Mayjen TNI Endang Suwarya di Negeri Aceh, dan Komandan Satuan Tugas Penerangan (Dansatgaspen) PDMD Kolonel Laut Ditya Soedarsono sudah sedemikian gemetaran dengan apa yang telah saya jelaskan dan terangkan dimimbar bebas ini.

Bagaimana tidak saudara Matius, yang sebelumnya di NKRI tidak ada seorangpun yang berani mengungkapkan fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah mengenai RIS tempat menelan dan mencaplok Soekarno dengan Negara RI-nya terhadap Negara-Negara dan Daerah-Daerah Negara Bagian RIS, dan juga dengan RIS itulah Presiden RIS Soekarno menelan Negeri Aceh pada tanggal 14 Agustus 1950.

Jelas, saudara Matius itu semuanya suatu hal yang baru didengar oleh seluruh rakyat NKRI. Mengapa ?

Karena sebelumnya yang didengar oleh rakyat di NKRI adalah bahwa berdirinya Negara-Negara dan Dearah-Daerah diluar RI adalah bonekanya Belanda.

Jelas, itu anggapan boneka Belanda adalah salah besar saudara Matius. Mengapa ?
Karena kalau terbongkar apa yang ada dibalik kata boneka Belanda, jelas itu akan terbongkar segala kebusukan, penipuan, kelakukan licik, penelanan, pencaplokan yang dilakukan oleh Soekarno cs dengan Negara RI atau Negara RI-Jawa-Yogya-nya.

Coba saja perhatikan, apa yang dikatakan oleh saudara Matius disini: "caplok-caplokan, duduk-dudukan, jajah-jajahan terhadap Aceh, RIS, Indonesia Jogya-Jawa, yang anda cuplik dari potongan-potongan surat perjanjian jaman penjajahan yang udah kadalu arsa dan basi"

Jelas, itulah yang menjadi tujuan dalam strategi Soekarno dengan Negara RI atau Negara RI-Jawa-Yogya-nya saudara Matius, kalau saudara belum mengerti.

Coba pikirkan dalam-dalam oleh saudara Matius, apakah mungkin bisa menelan dengan mudah Soekarno dengan Negara RI atau Negara RI-Jawa-Yogyanya apabila tidak masuk menjadi anggota Negara Bagian RIS pada tanggal 14 Desember 1949 ?

Jelas, saudara Matius, sampai dunia kiamatpun, tidak akan mungkin bisa ditelan dan dicaplok itu Negara-Negara dan Daerah-Daerah serta Negeri-Negeri yang berdiri diluar wilayah kekuasaan de-facto Negara RI atau Negara RI-Jawa-Yogya dibawah pimpinan Presiden Soekarno.

Saudara Matius, justru sangat gampang dan mudah sekali bagi Soekarno yang pandai menipu ini kalau mengorbankan Negara RI atau Negara RI-Jawa-Yogya untuk sementara masuk menjadi anggota Negara Bagian RIS pada 14 Desember 1949 untuk selanjutnya menggerogoti dan menelan dari dalam semua Negara-Negara dan Daerah-daerah Bagian RIS, ketimbang membuang kekuatan militer yang besar menghadapi mereka dari luar RIS.

Coba, pikirkan, sekali lagi saudara Matius, jangan hanya mengekor dan membututi bayang-bayang Soekarno dan buntut Presiden Megawati saja.

Mana bisa, saudara Matius, Soekarno dengan Negara RI atau Negara RI-Jawa-Yogya bisa dalam waktu yang singkat menelan 15 Negara dan Daerah bagian RIS dalam tempoh dari tanggal 14 Desember 1949 sampai 14 Agustus 1950.

Coba pikirkan, saudara Matius dalam tempoh delapan bulan itu Negara RI atau Negara RI-Jawa-Yogya berhasil dengan cara menggerogoti, menelan, dan mencaplok semua Negara dan daerah Bagian RIS masuk kedalam perut Negara RI atau Negara RI-Jawa-Yogya, termasuk Negeri Aceh yang berada diluar daerah wilayah kekuasaan de-facto RIS.

Nah, saudara Matius Dharminta, hal-hal demikianlah yang tidak mau didengar oleh para penerus Soekarno sampai detik sekarang ini.

Sehingga saking takutnya melihat fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah penelanan, pencaplokan Negara-Negara dan Daerah-daerah Bagian RIS, dan Negeri yang berada diluar RIS, seperti Negeri Aceh, maka hanya berani mengatakan dan menyanggah bahwa cerita itu adalah cerita "udah kadalu arsa dan basi" seperti yang ditulis oleh saudara Matius.

Jelas, saudara Matius, karena saudara adalah tidak secerdik saudara Tato Suwarto dari Jakarta, saudara Sagir Alva dari Selangor, Malaysia, saudara Rahmatullah dari Jeddah, Saudi Arabia, Teuku Mirza dari Universitas Indonesia, Jakarta, dimana mereka berani secara jelas dan lantang mengemukakan fakta dan bukti untuk membantah argumentasi yang saya kemukakan, walaupun semua argumentasi mereka sirna punah ditelan ombak badai yang dihembuskan oleh Ahmad Sudirman.

Dimana menurut saya, saudara Matius ini hanya sekedar untuk ikutan diskusi saja, sambil duduk diluar garis, sekali-kali melemparkan batu pertanyaan atau tanggapan, seperti yang dituliskannya diatas. Tetapi, isi arah dan tujuan dari pertanyaan dan tanggapannya itu yang saya perhatikan ternyata hanya merupakan nol besar.

Tetapi, tidak apalah, silahkan saja saudara Matius Dharminta , ikutan saja, walaupun duduk diluar garis. Saya hargai pendapat dan tanggapa saudara walaupun tidak banyak membantu kepada pihak Presiden Megawati, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, Penguasa Darurat Militer Daerah Aceh Mayjen TNI Endang Suwarya di Negeri Aceh, dan Komandan Satuan Tugas Penerangan (Dansatgaspen) PDMD Kolonel Laut Ditya Soedarsono.

Nah sekarang, saya tinggalkan saudara Matius Dharminta, saya jumpai saudari Meilany di Tangerang, Banten.

Saudari Meilany. Itu Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya mereka memang sibuk, tetapi, perlu saudari Meilany ketahui bahwa Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya tidak mau lagi membuka mulut mereka untuk menghadapi Ahmad Sudirman di mimbar bebas ini. Mengapa ? karena itu pihak Presiden Megawati, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais telah memonitor apa yang dibuat dan dijawabkan dan disanggahkan kepada Ahmad Sudirman di mimbar bebas ini.

Dimana mereka itu sekarang mengambil sikap kalau kasarnya mengatakan "cuekin aja", maksudnya biarkan saja Ahmad Sudirman jalan-jalan di mimbar bebas itu.

Nah, kira-kira begitulah taktik dan strategi dari pihak Presiden Megawati, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, Penguasa Darurat Militer Daerah Aceh Mayjen TNI Endang Suwarya di Negeri Aceh, dan Komandan Satuan Tugas Penerangan (Dansatgaspen) PDMD Kolonel Laut Ditya Soedarsono dalam menanggapai semua argumentasi yang saya telah lontarkan di mimbar bebas ini.

Saudari Meilany, sebenarya, saya mengetahui melalui server yang saya pakai bahwa Kolonel laut Ditya itu selalu memonitor dan mengosongkan isi box emailnya yang menggunakan yahoo.com itu. Dimana saya mengetahui kapan itu box emailnya penuh, dan kapan itu box emailnya dikosongkan kembali.

Kalau Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya memang mau terus tampil mempertahakan Negeri Aceh, maka Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya dengan mudah akan menulis satu kalimat yang kira-kira berisikan seperti ini: "Kang Dirman, saya dan Kang Endang masih hidup tidak menghilang". Kemudian dikirimkan kepada mimbar bebas ini melalui ahmad@dataphone.se atau kepada ahmad_sudirman@hotmail.com

Tetapi, hal itu tidak terjadi. Karena memang Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya sudah sepakat melakukan taktik membungkam diri. Karena dianggap tidak ada artinya menyerang kedepan benteng Ahmad Sudirman. Toh akhirnya akan terpental juga.

Nah, itu soal Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya.

Sekarang menyangkut soal apa yang ditulis oleh saudari Meilany: "Harus dengan tindakan nyata!. Sementara pak Sudirman cs, terus ngomong sampai berbusa-busa, ber-jilid2, pengulangan , meng copy paste ribuan kali, mana hasilnya di bumi NAD sana? Malahan banyak simpatisan Bapak yang minggat ke luar negeri, beraninya cuma bekoar-koar di luar negeri. Saya meskipun tidak suka gerombolan GAM yg tukang menyandera, minta tebusan, kriminal, tapi sangat salut 'perjuangan ' mereka. Bersakit-sakit di hutan, penuh penderitaan. Tapi goblognya mereka, seumpama (nanti dekat kiamat 'kali) perjuangan mereka berhasil, yg jadi raja adalah yg cuma enak-enak-an ngimel doang."

Saudari Meilany yang namanya perjuangan yang mempunyai stretagi yang jelas, arah, dan misi yang jelas yaitu menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI.

Itu tidak mudah untuk ditipu dan dibodohi oleh pihak Presiden Megawati, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, Penguasa Darurat Militer Daerah Aceh Mayjen TNI Endang Suwarya di Negeri Aceh, dan Komandan Satuan Tugas Penerangan (Dansatgaspen) PDMD Kolonel Laut Ditya Soedarsono.

Strategi pihak TNA sudah ada jelas dan terarah di Negri Aceh. Strategi pihak ASNLF atau GAM sudah jelas dan terarah. Masing-masing memiliki dan mempunyai tugas masing-masing sesuai dengan apa yang telah digariskan dalam bentuk arah, misi untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI.

Jadi kalau saudari Meilany melihat dan memperhatikan apa yang saya kemukakan dan jelaskan disini sebagai suatu yang "cuma bekoar-koar di luar negeri" ya itu hak saudari Meilany untuk mengatakan hal itu. Tetapi yang jelas dan pasti itu pihak Presiden Megawati, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, Penguasa Darurat Militer Daerah Aceh Mayjen TNI Endang Suwarya di Negeri Aceh, dan Komandan Satuan Tugas Penerangan (Dansatgaspen) PDMD Kolonel Laut Ditya Soedarsono telah terpukul telak.

Mereka mengetahui bahwa inilah yang dinamakan perang mordern, perang dimana pihak NKRI atau Negara RI atau Negara RI-Jawa-Yogya sudah hampir pontang panting. Coba perhatikan mana itu pihak TNI tampil yang dipelopori oleh pihak Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar ? Tidak ada wakil dari mereka kecuali Kolonel Laut Ditya Soedarsono, itupun sudah dibungkamnya.

Jadi, saudari Meilany, kalau saudari mau terlibat terus dalam mimbar diskusi ini, silahkan terus kemukakan pandangan dan tanggapan saudari, jangan ikut-ikutan mereka ang belum apa-apa sudah mundur dan tidak mampu berdiri kembali menghadapi Ahmad Sudirman.

Sekarang saya tinggalkan saudari Meilany, kemudian saya jumpai saudara Dobing di jakarta.

Dimana saudara Dobing mempertanyakan: "Kalau dilihat GAM dan TNA-itu kan punya juga senjata, malah terbilang cukup modern untuk ukuran kekuatan sebuah gerombolan, Pertanyaan saya "dari mana sumber dana yang diperoleh untuk beli senjata begituan.? Apakah memang murni dari simpatisan GAM atau dari pajak nagroe yg mungkin dipungut setengah paksa atau dari hasil jualan Ganja. Demikian mas Ahmad mohon dijelaskan atas keterbatasan pengetahuan saya."

Nah disini, masalah senjata tidak dibicarakan karena tidak termasuk kedalam masalah inti persoalan diskusi yaitu masalah referendum dan penjajahan di Negeri Aceh oleh NKRI.

Hal ini juga pernah saya kemukakan dan jelaskan kepada Kolonel Laut Ditya Soedarsono, ketika Kolonel mempertanyakan masalah penyelundupan senjata yang melibatkan pemerintah Thailand.

Nah, kalau saudara Dobing perlu informasi mengenai hal ini bisa langsung menghubungi info@asnlf.net fax +46 853 191275 , Tel +46 853 183833
Jadi sekali lagi dimimbar ini tidak bibicarakan masalah senjata dan sejenisnya.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

From: "FLOPS CpNc" ospflops@centrin.net.id
To: ahmad@dataphone.se
Subject: berdiskusilah dengan bahasa yang bijak dan santun
Date: Thu, 4 Mar 2004 08:48:09 +0700

Assalamualaikum wr.wb

Pertama saya adalah pembaca mimbar bebas yang Kang Ahmad sudirman adakan. Terima kasih atas apa yang Kang Ahmad sampaikan selama ini di mimbar bebas ini, saya sangat senang membaca dan memperhatikan apa yang Kang Ahmad tulis di mimbar ini.

Ya sebagai seorang mukmin yang membela kebenaran sudah selayaknya kita mencontoh cara berpikir Kang Ahmad ini.

Terus terang baru kali ini saya mendapatkan sejarah panjang mengenai Indonesia, dan dengan segala penjelasan yang bisa dipertangung jawabkan sangat luar biasa, Kang.

Sebenarnya saya ingin ikut berdiskusi sini hanya ada rasa ragu apakah nanti saya akan termonitor dgn orang yang tdk suka pada kebenaran ini semua ?

Itu saja dulu perkenalan saya dan mohon maaf kalau ada kata2 yang kurang berkenan di hati Akang , sekali lagi terima kasih banyak atas segalah tulisan2 Kang ahmad sudirman.

Wassalam

Flops

ospflops@centrin.net.id
Indonesia
----------

Date: Wed, 3 Mar 2004 22:48:39 -0800 (PST)
From: matius dharminta mr_dharminta@yahoo.com
Subject: Re: MATIUS ITU BUKAN MENGUSIR PENJAJAH TETAPI MENELAN NEGARA & DAERAH BAGIAN RIS DAN MENCAPLOK ACEH DILUAR RIS
To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se
Cc: PPDI@yahoogroups.com

Halo bung A.Sudirman!

Jawaban macam itu udah aku duga sebelumnya, walau anda menolak dikatakan berkelit, toh memang hanya kata-kata seperti itu yang anda gunakan / hapal untuk membalas setiap serangan dari lawan diskusi anda? yani caplok-caplokan, duduk-dudukan, jajah-jahahan terhadap Aceh, RIS, Indonesia Jogya-Jawa, yang anda cuplik dari potongan-potongan surat perjanjian jaman penjajahan yang udah kadalu arsa dan basi.

Kalau itu yang anda sebut sebagai penghadangan, itu sama halnya penghadangan yang anda lakukan selama ini merupakan penghadangan yang salah jalan, hingga sampai kapanpun tidak bakalan kesampaian/ketemu. namanya juga salah jalan alias nyasar!

Kalau anda anggap sebagai senjata, itu merupakan senjata yang udah ketinggalan jaman alias kadalu arsa alias basi, hingga tidak ada yang beminat untuk mengadopsinya.

Matius Dharminta

mr_dharminta@yahoo.com
Surabaya, Indonesia
----------

From: "dobing" dobing@telkom.net
To: "Ahmad Sudirman" ahmad@dataphone.se
Subject: Re: SHAHEN FASYA HARUS TAHU ITU SYARIAT ISLAM BIKINAN AKBAR TANDJUNG & MEGAWATI YANG DIGODOK DI DPR
Date: Thu, 4 Mar 2004 10:53:46 +0700

Dalam kesempatan ini saya cuma mohon penjelasan.

Kalau dilihat GAM dan TNA-itu kan punya juga senjata, malah terbilang cukup modern untuk ukuran kekuatan sebuah gerombolan, Pertanyaan saya "dari mana sumber dana yang diperoleh untuk beli senjata begituan.? Apakah memang murni dari simpatisan GAM atau dari pajak nagroe yg mungkin dipungut setengah paksa atau dari hasil jualan Ganja"

Demikian mas Ahmad mohon dijelaskan atas keterbatasan pengetahuan saya.

Terima kasih.

Dobing

dobing@telkom.net
Jakarta, Indonesia
----------

From: "L.Meilany" wpamungk@centrin.net.id
To: "Ahmad Sudirman" <ahmad@dataphone.se>, "Ditya Soedarsono" <dityaaceh_2003@yahoo.com>, "Yuhendra" <yuhe1st@yahoo.com>, "Matius Dharminta" mr_dharminta@yahoo.com
Subject: Re: Komentar :TEUKU MIRZA KEMANA ITU KOLONEL LAUT DITYA & MAYJEN TNI ENDANG SUWARYA TERUS SEMBUNYI ?
Date: Thu, 4 Mar 2004 07:54:02 +0700

Assalamu'alaikum Wr Wb.

Saya hanya ingin sedikit nimbrung.
Ini pendapat pribadi tentang 'hilangnya' Bpk Kol. Laut Ditya. Mungkin beliau terlalu sibuk di NAD.

Saya pikir memang selama ini mail Pak Sudirman itu hanya sekedar mengulang-ulang kisah 'tempo 'doeloe'. Hanya ngomong doang. Tak ada tindakan nyata. Hanya bikin penuh inbox. Apapun yang ingin kita capai harus dengan usaha. Usaha itu bukan cuma ngomong doang. HARUS DENGAN TINDAKAN NYATA!

Sementara pak Sudirman cs, terus ngomong sampai berbusa-busa, ber-jilid2, pengulangan , meng copy paste ribuan kali, mana hasilnya di bumi NAD sana?

Malahan banyak simpatisan Bapak yang minggat ke luar negeri, beraninya cuma bekoar-koar di luar negeri.

Saya meskipun tidak suka gerombolan GAM yg tukang menyandera, minta tebusan, kriminal, tapi sangat salut 'perjuangan ' mereka. Bersakit-sakit di hutan, penuh penderitaan. Tapi goblognya mereka, seumpama ( nanti dekat kiamat 'kali) perjuangan mereka berhasil, yg jadi raja adalah yg cuma enak-enak-an ngimel doang.

Sementara ini di NAD, saya baca di koran, liat di TV. Kehidupan semakin membaik. petani2 sdh berani berladang, nelayan sdh berani melaut.

Orang luar tahu bahwa ada makanan 'bolu manis' yg khas produksi Lampisang sebagai buah tangan dari NAD. Pak Sudirman pasti gak tau.

Insya Allah saya juga mau nggak peduli dengan segala macam tulisan provokasi Pak Sudirman cs. Nggak ada manfaat, mendengarkan bualan bisa ikutan jadi pengkhayal. Lantas pula buang2 enerji. Lebih baik enerji itu di manfaatkan untuk melakukan tindakan nyata. Mensejahterakan rakyat NAD

Mungkin seperti inilah pikiran Pak Ditya.
Maaf pak Ditya, saya jadi ikut-ikutan sok tau dan berkhayal, wabah Sudirmancs rasanya ada pengaruh ke saya.
CMIIW.

Wassalamu'alaikum wr wb,

L. Meilany

wpamungk@centrin.net.id
Tangerang, Banten, Indonesia
----------