Stockholm, 6 Maret 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

BAHTIAR HARUS TAHU ITU NKRI ATAU RI-JAWA-YOGYA DIKONTROL TNI-NYA SUTARTO, RYACUDU & YUDHOYONO
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

BAHTIAR RIFAI HARUS TAHU ITU NKRI ATAU RI-JAWA-YOGYA DIKONTROL TNI-NYA SUTARTO, RYACUDU & YUDHOYONO

"Sejak masa SMA, pernah terbesit pertanyaan di pikiran saya tentang distribusi tentara / militer di Indonesia yang sangat merata sekali dari tingkat propinsi (KODAM) hingga ke kabupaten-kabupaten (KODIM) bahkan sampai dengan di kecamatan-kecamatan (KORAMIL), kalau saya salah menyebut istilahnya mohon dikoreksi. Begitu meratanya distribusi tentara, sehingga kalau ada "riak-riak" di NKRI ini tidak pernah lepas dari campur tangan tentara, ini dapat dilihat sejak peristiwa Malari 1975, Geger Anti China di Solo-Semarang 1982, Peristiwa Tanjung Priok 1984, Geger Talang Sari Lampung, Pembebasan Tanah Waduk Nipah Madura, Kasus 27 Juli PDI-Megawati, Penembakan Mahasiswa Tri Sakti, Kerusuhan Medio Mei 1998, Kerusuhan Ambon Maluku, hingga Pergolakan di Negara Acheh dan Papua dan lain sebagainya: semua melibatkan militer dan mengesampingkan tugas Polisi Sipil. Pertanyaan saya pada Bapak : apakah di negara-negara Eropa juga sedemikian model distribusi tentaranya hingga ke tingkat distrik (kecamatan) seperti di Indonesia?" (Bahtiar Rifai , bahtiar_rifai@yahoo.com , Fri, 5 Mar 2004 03:14:19 -0800 (PST))

Terimakasih saudara Bahtiar Rifai di Yogyakarta, Indonesia. Dan sekaligus saya mengucapkan selamat datang di mimbar bebas ini.

Baiklah saudara Bahtiar Rifai.

Dalam isi pandangan saudara Bahtiar yang berisikan masalah peranan dan organisasi TNI di NKRI yang begitu besar dari pusat sampai ke Desa-Desa dan mempertanyakan apakah peranan dan organisasi Angkatan Bersenjata di Negara Eropa, seperti Swedia juga sama seperti di NKRI.

Sebelum saya memberikan penjelasan mengenai peranan dan organisasi Angkatan Bersenjata di Negara Eropa, misalnya di Negara Swedia, maka disini saya akan sedikit kupas mengenai peranan dan organisasi TNI di NKRI ini.

Dimana saya melihat tubuh struktur organisasi Mabes TNI ini adalah merupakan hasil penerapan konsepsi Wawasan Nusantara ciptaan Soeharto selama 32 tahun yang sudah digulingkan 6 tahun yang lalu.

Memang kalau sepintas dilihat tubuh struktur organisasi Mabes TNI ini bagai barisan tentara yang rapi dan siap bergerak untuk menyerbu lawan atau siap menghadang gempuran lawan, tetapi kalau diteliti secara mendalam maka akan terbukalah bahwa sebenarnya tubuh struktur organisasi Mabes TNI ini benar-benar keropos dan penuh dengan benturan meja birokrasi.

Coba saja telusuri dimulai dari jalur pintu masuk Panglima TNI kemudian masuk kepintu Tingkat Mabes TNI yang berisikan 30 kamar dari mulai kamar Inspektorat Jenderal & Perbendaharaan TNI sampai kepada kamar Pusat Pembinaan Mental TNI. Setelah itu baru masuk kepintu Tingkat Angkatan yang berisikan 3 kamar yang masing masing kamarnya dihuni oleh TNI AD, TNI AL dan TNI AU. Selanjutnya turun kebawah kepintu Tingkat Komando Utama Operasi.

Nah, baru saja keliling ruangan yang berisikan tiga puluh kamar sudah tersesat bagaikan masuk kedalam perangkap labirin. Apalagi kalau terus masuk kepintu kamar Tingkat Angkatan dimulai dari kamar TNI AD, terus ke kamar TNI AL dan diakhiri ke kamar TNI AU, maka sudah dijamin tidak akan bisa keluar lagi. Kamar TNI AD saja sudah bagaikan hutan lebat yang tidak pernah dijamah manusia.

Coba kita telusuri kamar pohon beringin TNI AD ini yang memiliki 42 kamar. Dimulai dengan Tingkat Mabes AD yang memiliki 4 tingkatan eselon, eselon pimpinan yang diduduki oleh KASAD dan Wakilnya. Eselon pembantu pimpinan yang mengisi 11 kamar. Eselon pelayanan yang memenuhi 3 kamar. Eselon pelaksana pusat yang berdesak-desak di 26 kamar. Kemudian diteruskan ketingkat bawah yaitu tingkat Komando Utama yang dipenuhi oleh 3 kamar yang diisi oleh KOSTRAD, KOPASSUS dan KODAM.

Nah ini baru sampai ke tingkat KODAM saja, belum lagi turun ke KOREM, KODIM, KORAMIL, BABINSA yang ada diseluruh NKRI atau Negara RI-Jawa-Yogya, maka belum selesai terjelajahi sudah keburu tua. Apalagi kalau sudah masuk ke pintu gerbang KOSTRAD dan diteruskan ke pintu KOPASSUS, memang betul-betul akan tersesat.

Selanjutnya kalau kita masuki itu pintu kamar ikan duyung TNI AL, maka akan ditemukan 39 kamar. Diawali dengan tingkat Mabes AL yang memiliki 4 tingkat eselon. Eselon pimpinan diduduki oleh KASAL dan Wakilnya. Eselon Badan Pimpinan yang berdesak-desak di 9 kamar. Eselon Pelaksana Staf yang memenuhi 3 kamar. Eselon Pelaksana Pusat yang berjubel di 23 kamar. Kemudian diteruskan ke Tingkat Komando Utama yang memilki 3 tangga tingkatan. Tingkat tangga Komando Utama Fungsional yang diduduki Komando Pendidikan TNI AL. Kemudian tingkat tangga Komando Utama Pembinaan yang dijejali Korps Marinir, dan tingkat tangga Komando Utama Pembinaan dan Operasi yang memilki 3 kamar yang dihuni oleh Komando Armada Wawasan Barat, Komando Armada Wawasan Timur dan Komando Lintas Laut Militer.

Coba bayangkan, bagaimana Soeharto menerapkan dan menjalankan konsepsi Wawasan Nusantaranya. Memang benar-benar TNI ini dijadikan sebagai kacung-kacung bukan saja bergerak di bidang pertahanan melainkan juga bergerak disegala bidang sampai berjubel memenuhi puluhan kamar yang setiap kamarnya disekat dengan dinding birokrasi dengan meja-meja tempat membicarakan proyek, bisnis dan becking.

Seterusnya kita jelajahi itu udara TNI AU yang tidak kalah oleh pohon beringin TNI AD dan ikan duyung TNI AL. TNI AU inipun tidak kalah birokrasinya. Dimulai dengan Tingkat Mabes AU yang memiliki 4 tingkatan eselon. Eselon pimpinan dibawah KASAU dan Wakilnya. Eselon Badan Pimpinan Staf yang berjejal di 9 kamar. Eselon Pelaksana Staf yang berdesak di 3 kamar. Eselon Pellaksana Pusat yang berdesakan di 22 kamar. Seterusnya Tingkat Komando Utama yang memiliki 3 tingkat tangga. Tingkat tangga Komando Utama yang memiliki 2 staf yaitu Komando Pendidikan TNI AU dan Komando Pemeliharaan Material TNI AU. Kemudian tingkat tangga Komando Utama Pembinaan yang memnuhi kamar Korps Pasukan Khas TNI AU. Seterusnya tingkat tangga Komando Utama Pembinaan dan Operasi yang diduduki oleh Komando Operasi TNI AU I dan Komando Operasi TNI II.

Nah sekarang, dalam rangka meningkatkan efisiensi kerja, pengurangan tenaga dan penghematan dana, maka saya melihat perlu adanya usaha pembedahan dalam tubuh struktur organisasi TNI ini.

Contoh pembedahan tubuh struktur organisasi TNI AD ini adalah dengan secara bertahap membubarkan Bintara Pembina Desa, kemudian mengubur Komando Rayon Militer, seterusnya secara pelan-pelan mengikis Komando Distrik Militer, kemudian secara perlahan mengupas Komando Resort Militer dan tentu saja secara setahap demi setahap menghilangkan Komando Daerah Militer.

Karena kalau masih tetap dipelihara BABINSA, KORAMIL, KODIM, KOREM itu hanya menghabiskan sumber dana yang ada dan tidak menjadikan TNI efisien dan hemat. Menurut saya BABINSA, KORAMIL, KODIM, KOREM itu semuanya hanyalah tempat sampah dan penampungan anggota TNI saja yang hanya menghabiskan uang pajak sumber pemasukan APBN.

Kemudian unsur lain lagi yang perlu dibenahi dalam tubuh struktur organisasi TNI AD ini adalah penggalakan dalam bidang militer harus dikurangi. Misalnya tidak perlu secara menggebu-gebu mendidik calon bintara, tamtama, perwira, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan. Karena mereka yang habis menempuh pendidikan harus diberikan tempat kerja, dan tentu saja tempat kerja itu dalam tubuh TNI. Kalau BABINSA, KORAMIL, KODIM, KOREM itu secara perlahan dikikis, tidak ada gunanya lagi mendidik bintara, tamtama, perwira secara besar-besaran.

Kemudian sekarang bandingkan dengan organisasi Markas Besar Angkatan Bersenjata Swedia. Ternyata jauh berbeda. Angkatan Bersenjata yang berada dibawah Pemerintah ini, membawahi 3 Angkatan, Angkatan darat, Anngkatan Laut dan Angkatan Udara. Dilengkapi dengan Akademi Militer dan Komando Sentral.

Selanjutnya setiap Angkatan ditempat di 4 Militer Distrik. Distrik Militer Utara dibagi kedalam 7 militer Grup yang masing-masing grup ditempatkan ditingkat Distrik. Distrik Militer Tengah dibagi kedalam 10 militer Grup yang masing-masing grup ditempatkan ditingkat Distrik (setingkat Kotamadia). Distrik Militer Selatan dibagi kedalam 10 militer Grup yang masing-masing grup ditempatkan ditingkat Distrik.

Dimana tugas dan fungsi Markas Besar Angkatan Bersenjata Swedia adalah bekerja dengan masalah kegiatan dan aktifitas Angkatan Bersenjata Swedia, berbagai masalah yang menyangkut strategi militer, perkembangan dalam tubuh Angkatan Bersenjata, dan sebagai tali penghubung dengan Pemerintah.

Sedangkan tugas dan fungsi Militer Distrik Grup adalah mempertahankan wilayah masing-masing, memimpin grup-grup pertahanan sipil yang ada diwilayah masing-masing, bisa menyiapkan segera kekuatan pasukan menurut perintah Atasan, dan memimpin kekuatan-kekuatan yang kemungkinan ada disetiap wilayah masing-masing.

Nah, sekarang secara jelas dan gamlang bahwa struktur organisasi Angkatan Bersenjata Swedia cukup sederhana, memiliki tugas dan fungsi yang sangat jelas, yaitu semuanya hanya yang menyangkut kegiatan militer dan memimpin aktifitas militer, tidak ada hubungannya dengan aktifitas dan masalah administrasi yang menyangkut rakyat sipil.

Dimana terlihat dari struktur Angkatan Bersenjata yaitu dimulai dari Parlemen turun ke Pemerintah kemudian diteruskan ke Markas besar Angkatan Bersenjata dilanjutkan kesetiap Angkatan dan diturunkan kepada Militer Distrik Grup di setiap distrik atau setingkat Kotamadia. Atau kalau di NKRI bisa disamakan dengan KODAM (Komando Daerah Militer).

Tidak ada itu yang namanya, misalnya Angkatan Darat dipecah lagi menjadi KODAM (Komando Daerah Militer), terus turun menjadi KOREM (Komando Resort Militer), turun lagi menjadi KODIM (Komando Distrik Militer), masih turun lagi menjadi KORAMIL (Komando Rayon Militer), tidak sampai disini saja tetapi terus turun menjadi Bintara Pembina Desa (Bintara Pembina Desa).

Karena itulah kalau saya melihat struktur organisasi Angkatan Darat dibawah pimpinan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu ini bagaikan orang yang pakai celana kedodoran. Apalagi sudah disusupi oleh itu yang bernama Kepala Badan Intelijen Negara AM Hendropriyono. Wah, sudahlah habis itu rakyat di desa-desa di mata-matai, kalau-kalau ada aktifis dan pengikut ASNLF atau GAM dan TNA, dan orang-orang yang dianggap teroris dan pembuat makar. Memang akhirnya, menjadilah itu NKRI atau Negara RI atau Negara RI-Jawa-Yogya menjadi Negara yang terus makin terpuruk.

Bagaimana tidak, lihat saja itu Presiden Megawati menyerah begitu saja kepada pihak TNI dalam soal Aceh. Ketika Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu , Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar, dan Kepala Badan Intelijen Negara AM Hendropriyono menyuarakan "bisnis dan pertahankan Aceh", maka dijawab oleh itu Presiden Megawati sambil senyum-senyum: "bisnis dan pertahankan Aceh" sambil tangannya pegang pena untuk membubuhkan tandatangannya diatas kertas yang bertuliskan dasar hukum Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang dikeluarkan pada tanggal 18 Mei 2003. Dan dasar hukum Keputusan Presiden Republik Indonesia selaku Penguasa Darurat Militer Pusat Nomor 43 Tahun 2003 Tentang Pengaturan kegiatan Warga Negara Asing, Lembaga Swadaya Masyarakat dan Jurnalis di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang ditetapkan dan diundangkan di Jakarta pada tanggal 16 Juni 2003.

Makanya, rusak itu NKRI atau Negara RI-Jawa-Yogya ini, karena terus digerogoti TNI dari mulai tingkat atas sampai tingkat Desa. Misalnya salah satunya habis dimasuki unsur-unsur racun penjajahan di Negeri Aceh buatan Soekarno.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Fri, 5 Mar 2004 03:14:19 -0800 (PST)
From: Bahtiar Rifai bahtiar_rifai@yahoo.com
Subject: Bapak Ahmad, saya mohon perbandingan informasi
To: ahmad@dataphone.se

Assalaamu'alaikum

Bapak Ahmad Sudirman yang terhormat.

Perkenalkan nama saya Bahtiar Rifai umur 29 tahun, tinggal di Jogjakarta.
Saya mengikuti forum Bapak di http://www.dataphone.se/~ahmad/opini.htm sejak saya aktif di NII - Al Zaytun - Abu Toto bikinan Ali Murtopho ORBA, melalui milis darul_islam@yahoogroups.com hingga milis tersebut tidak aktif.

Bapak telah lama tinggal di Eropa, tepatnya di Negara Swedia tentu Bapak cukup memiliki pengetahuan tentang kondisi negera-negara di kawasan tersebut.

Sejak masa SMA, pernah terbesit pertanyaan di pikiran saya tentang distribusi tentara / militer di Indonesia yang sangat merata sekali dari tingkat propinsi (KODAM) hingga ke kabupaten-kabupaten (KODIM) bahkan sampai dengan di kecamatan-kecamatan (KORAMIL), kalau saya salah menyebut istilahnya mohon dikoreksi.

Begitu meratanya distribusi tentara, sehingga kalau ada "riak-riak" di NKRI ini tidak pernah lepas dari campur tangan tentara, ini dapat dilihat sejak peristiwa Malari 1975, Geger Anti China di Solo-Semarang 1982, Peristiwa Tanjung Priok 1984, Geger Talang Sari Lampung, Pembebasan Tanah Waduk Nipah Madura, Kasus 27 Juli PDI-Megawati, Penembakan Mahasiswa Tri Sakti, Kerusuhan Medio Mei 1998, Kerusuhan Ambon Maluku, hingga Pergolakan di Negara Acheh dan Papua dan lain sebagainya: semua melibatkan militer dan mengesampingkan tugas Polisi Sipil.

Pertanyaan saya pada Bapak : apakah di negara-negara Eropa juga sedemikian model distribusi tentaranya hingga ke tingkat distrik (kecamatan) seperti di Indonesia?

Demikian pertanyaan saya, atas perhatian Bapak saya sampaikan terima kasih. Wassalaamu'alaikum.

Bahtiar Rifai

bahtiar_rifai@yahoo.com
Jogjakarta-Indonesia
----------