Stockholm, 6 Maret 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

MEREKA YANG MUNDUR PEMBELA KEJAHATAN PENDUDUKAN PEMERINTAH NKRI TERHADAP ACEH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

MUHAMMAD DAHLAN MELIHAT MEREKA YANG MUNDUR ADALAH PEMBELA KEJAHATAN PENDUDUKAN PEMERINTAH NKRI TERHADAP ACEH

"Dapatlah kita lihat, kebanyakan peserta diskusi bebas lewat maillist ini, yang telah mundur diri, mengamukankan alasan yang sama, adalah mengatakan bahwa Ahmad Sudirman mengulang-ulang alsan yang ada. Atau karena Ahmad Sudirman membela Aceh. Maka boleh dikatakan bahwa kebanyakan mereka yang telah mundur adalah pembela kejahatan pendudukan pemerintah NKRI terhadap Aceh. Tidak karena mau membela kebenaran dan mendudukan persoalan pada tempatnya. Jadi siapa saja yang membela Aceh mereka adalah tidak benar, dan ketinggalan. Inilah penyakit bangsa NKRI yang katanya menuju kepada reformasi dan lebih baik. Kalau sudah kalah lalu tuduh orang lainnya macam-macam. Tapi anehnya, kok cara berfikir mereka seperti anak-anak kindigarten, pada hal ada diantara mereka adalah penajabat NKRI, atau calon-calon pejabat NKRI. Kasihan bangsa NKRI ini, kapankah mereka bisa dewasa dan dapat berfikir lebih maju. Tidak lagi tergantung pada TNI dan serdadu lainnya. Kalau T. Mirza, memang tak perlu Pak Ahmad layani lagi, sebab dia telah kehilangan akal sehatnya dalam melontarkan pertanyaan-pertanyaan atau dalam menuduh orang lain. Ini orang sudah sangat jelas siapa dia dan mau kemana dia. Kepribadian seperti dia tak perlu dilibatkan dalam diskusi seperti ini. Sebab akan mengganggu cara berfikir orang-orang yang masih mempunyai daya nalar yang tinggi dan baik. Jadi kalau tulisannya tidak dijawab, maka dia akan pergi atau ganti nama lain atau akan berobah cara berfikirnya." (Muhammad Dahlan , tang_ce@yahoo.com , Fri, 5 Mar 2004 21:34:33 -0800 (PST))

Terimakasih saudara Muhammad Dahlan di NSW, Australia.

Baiklah.

Memang benar dan masuk diakal seperti apa yang dikemukakan oleh saudara Muhammad Dahlan diatas, dimana mereka yang telah mundur dari gelanggang mimbar bebas ini adalah mereka yang pada mulanya begitu menggebu-gebu dengan semangat yang tinggi untuk mempertahankan pendudukan dan penjajahan Negeri Aceh yang telah dilakukan sejak Presiden RIS Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1950 menelan Negeri Aceh melalui mulut Propinsi Sumatera Utara satu hari sebelum RIS dilebur menjadi NKRI pada tanggal 15 Agustus 1950 dengan melalui cara penetapan dasar hukum Peraturan Pemerintah RIS No. 21 Tahun 1950 Tentang Pembentukan Daerah Propinsi dan PERPU No.5 tahun 1950 tentang pembentukan Propinsi Sumatera-Utara, tanpa mendapat persetujuan, kerelaan dan keikhlasan dari seluruh rakyat Aceh dan pemimpin rakyat Aceh. Tetapi, ternyata setelah berhadapan dengan benteng tangguh yang dibangun dari bahan bahan fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah yang ditulis oleh pihak Pemerintah NKRI sendiri, mereka pada berjatuhan dan tidak mampu lagi untuk mempertahankan Negeri Aceh yang telah ditelan Soekarno itu.

Kan, bertambah tidak masuk akal, masa fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah mengenai pembentukan RI, RIS, NKRI, RI-Jawa-Yogya berwajah baru yang dikumpulkan oleh pihak Pemerintah NKRI, ditolaknya mentah-mentah dan dianggap sebagai cerita yang sudah basi dan kadaluarsa, sebagaimana yang selalu diulang-ulang dan ditulis oleh saudara wartawan Jawa Pos Matius Dharminta dalam tanggapannya.

Seharusnya dari pihak mereka itu berusaha untuk mencari fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah yang isinya lebih kuat dan lebih valid dibanding dengan fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah yang telah saya kemukakan di mimbar bebas ini.

Tetapi, kenyataannya dari pihak NKRI yang diwakili oleh Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mayjen TNI Endang Suwarya dari Negeri Aceh ternyata mereka sedikitpun tidak ada kemampuan dan memiliki dasar yang kuat untuk menumbangkan dan menjatuhkan alasan dan argumentasi yang saya telah kemukakan di mimbar bebas ini.

Dan yang telah menjadi kebiasaan jelek dari pihak NKRI ini adalah apabila tidak mampu mengahadapi dan memecahklan suatu masalah, maka jalan keluarnya adalah dengan cara mediamkan atau dengan cara jalan terus sambil pura-pura tidak tahu persoalan atau dengan cara menggebuk dengan cara kekerasan.

Kan, sungguh kebiasaan dan kelakuan pihak Pemerintah NKRI dan TNI/POLRI-nya adalah kebiasaan dan kelakukan yang tidak terpuji, tidak jujur, tidak adil dan tidak bijaksana.

Jadi, sekarang, kita sudah mengetahui, dan bisa mempertanyakan, apakah memang mampu dan benar-benar jujur dan adil pihak Pemerintah NKRI mau menyelesaikan kemelut dan konflik Aceh yang sudah berlangsung lebih dari 50 tahun melalui cara damai, adil, jujur dan bijaksana ?

Jelas, kalau memang kebiasaan dan kelakuan pihak Pemerintah NKRI seperti sekarang ini, maka penyelesaian Aceh tidak akan selesai. Kalau hanya beralasan dengan penyelesaian sekarang melalui Keppres No 28 tahun 2003 dan Keppres No.43 Tahun 2003 ini, jelas itu hasilnyapun sudah kita lihat sekarang, amburadul, dimana setiap hari bermatian rakyat Aceh karena dibunuh oleh pihak TNI/POLRI/RAIDER yang ditugaskan oleh Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono Cs, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar.

Kemudian dalam diskusi ini selanjutnya bukan hanya membicarakan referendum dan penjajahan di Negeri Aceh oleh pihak NKRI saja melainkan kita akan juga membicarakan "kenyataan yang terjadi di Aceh dan di Nusantara lainnya" seperti yang diusulkan oleh Saudara Muhammad Dahlan.

Karena itu, mimbar bebas ini terbuka bagi siapa saja yang merasa sampai detik ini diduduki dan dijajah oleh pihak NKRI atau Negara RI atau Negara RI-Jawa-Yogya berwajah baru ini.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Fri, 5 Mar 2004 21:34:33 -0800 (PST)
From: muhammad dahlan tang_ce@yahoo.com
Subject: Re: TEUKU MIRZA ITU PEMBUNUH DAYAN DAWOD BERLINDUNG DIBALIK INPRES NO 4 TAHUN 2001
To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se
Cc: tang_ce@yahoo.com

Assalamu'alaikum wr.wb.

Dapatlah kita lihat, kebanyakan peserta diskusi bebas lewat maillist ini, yang telah mundur diri, mengamukankan alasan yang sama, adalah mengatakan bahwa Ahmad Sudirman menulang-ulang alsan yang ada. Atau karena Ahmad Sudirman membela Aceh.

Maka boleh dikatakan bahwa kebanyakan mereka yang telah mundur adalah pembela kejahatan pendudukan pemerintah NKRI terhadap Aceh. Tidak karena mau membela kebenaran dan mendudukan persoalan pada tempatnya. Jadi siapa saja yang membela Aceh mereka adalah tidak benar, dan ketinggalan. Inilah penyakit bangsa NKRI yang katanya menuju kepada reformasi dan lebih baik. Kalau sudah kalah lalu tuduh orang lainnya macam-macam.

Tapi anehnya, kok cara berfikir mereka seperti anak-anak kindigarten, pada hal ada diantara mereka adalah penajabat NKRI, atau calon-calon pejabat NKRI.

Kasihan bangsa NKRI ini, kapankah mereka bisa dewasa dan dapat berfikir lebih maju. Tidak lagi tergantung pada TNI dan serdadu lainnya.

Kalau T. Mirza, memang tak perlu Pak Ahmad layani lagi, sebab dia telah kehilangan akal sehatnya dalam melontarkan pertanyaan-pertanyaan atau dalam menuduh orang lain. Ini orang sudah sangat jelas siapa dia dan mau kemana dia. Kepribadian seperti dia tak perlu dilibatkan dalam diskusi seperti ini. Sebab akan mengganggu cara berfikir orang-orang yang masih mempunyai daya nalar yang tinggi dan baik. Jadi kalau tulisannya tidak dijawab, maka dia akan pergi atau ganti nama lain atau akan berobah cara berfikirnya.

Jadi ada baiknya, pak Ahmad memfokuskan tulisan-tulisannya pada kenyataan yang terjadi di Aceh dan di Nusantara lainnya, agar kebohongan kependudukan Sukarno CS atas berbagai negara di Nusantara semakin jelas dan menjadi daya dorong bagi pergerakan perjuangan kemerdekaan bagi nagara-negra tersebut, tentunya yang mau merdeka. Bagi yang tetap mau menjadi budak NKRI, itu terserah kepada mereka. Hanya orang berjiwa besar sajalah yang mau bebas dari penjajahan.

wassalam,

Muhammad Dahlan

NSW, Australia
----------