Stockholm, 7 Maret 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

M. IQBAL: TIDAK ADA JALAN PUTAR DIATAS TUJUAN KEMERDEKAAN
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS KATA MUHAMMAD IQBAL: TIDAK ADA JALAN PUTAR DIATAS TUJUAN KEMERDEKAAN

"Bagi penjajah Indonesia-Jawa makna merdeka itu = "aman", tanpa ada kematian lagi. Makna "aman" menurut penjajah adalah: Masyarakat tidak ada gangguan dan larangan untuk; pergi ke mesjid, pergi makan angin, pergi ke laut, pergi ke gunung, boleh bertani, berniaga, malah lebih digalakkan lagi membuat perlombaan MTQ, supaya masyarakat lalai dan hanyut dalam membaca lagu-lagu & irama ayat suci Al-Qur'an sekedar ceremonial saja, tetapi bukan untuk mengetahui dan mengamalkannya. Al-Qur'an digunakan oleh penjajah hanya pada 3 tempat: 1.Waktu membaca sumpah ta'at setia kepada NKRI. 2.Waktu musabaqah. 3.Waktu di tempat-tempat orang kematian." (Muhammad Iqbal, muhammad59iqbal@yahoo.com ,Sat, 6 Mar 2004 15:08:24 -0800 (PST))

Terimakasih saudara Muhammad Iqbal yang kalau saya tidak salah saudara berada di Norwegia atau di Jerman. Kalau saya salah mohon dibetulkan.

Jelas dan terang, apa yang dikatakan oleh saudara Muhammad Iqbal diatas itu, karena memang Negara Pancasila atau NKRI yang hukumnya bersumberkan kepada pancasila hasil pidato Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 didepan sidang BPUPK (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan) atau Dokuritzu Zunbi Cosakai yang terdiri dari 62 anggota dengan ketuanya Dr Rajiman Widiodiningrat yang dibentuk dan dilantik oleh Jenderal Hagachi Seisiroo seorang jenderal Angkatan Darat Jepang yang bersidang dari tanggal 28 Mei sampai dengan 1 juni 1945, yang berisikan konsepsi usul tentang dasar falsafah negara yang diberi nama dengan pancasila yang berisikan 1. Kebangsaan Indonesia atau Nasionalisme, 2. Perikemanusiaan atau Internasionalisme, 3. Mufakat atau Demokrasi, 4. Kesejahteraan Sosial, 5. Ketuhanan yang Maha Esa.

Dimana hasil sidang ini dirumuskan oleh panitia sembilan yaitu Soekarno, Hatta, Maramis, Abikusno Cokrosuyoso, Agus Salim, Kahar Muzakkir, Wahid Hasyim, Ahmad Subardjo, Mohammad Yamin. Pada tanggal 22 juni 1945 lahirlah dari hasil rumusan ini yang oleh Mohammad Yamin disebut dengan Piagam Jakarta yang berisikan rumusan lima dasar yang asalnya diambil dari usul pidato Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945. Dimana dalam Piagam Jakarta ini dinyatakan bahwa Ketuhanan,dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya.

Kemudian BPUPK ini mengadakan sidangnya lagi yang kedua dari tanggal 10 Juli sampai 16 Juli 1945 untuk membicarakan rancangan undang undang dasar. Dimana setelah mengalami perubahan-perubahan oleh PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang dibentuk pada tanggal 7 Agustus 1945, rancangan undang undang dasar inilah yang disahkan dan ditetapkan menjadi UUD 1945 dengan rumusan terakhir pancasila yang tercantum dalam preambule (pembukaan) UUD 1945 pada tanggal 18 Agustus 1945. Dimana bunyi dari pembukaan UUD 1945 adalah "Berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Ke Tuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia".

Ternyata sila pertama hasil pemikiran Panitia Sembilan ini yang menyatakan: "Ketuhanan dengan menjalankan Syar'at Islam bagi para pemeluknya" telah dirubah (atas usul sekelompok orang Kristen yang berasal dari Sulawesi Utara, tanah elahiran A.A. Maramis) melalui Muhammad Hatta yang memimpin rapat PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) itu, setelah berkonsultasi dengan Teuku Muhammad Hassan dan Kasman Singodimedjo (keduanya bukan anggota panitia sembilan), menghapus tujuh kata dari Piagam Jakarta yang menjadi keberatan dimaksud. Sebagai gantinya, atas usul Ki Bagus Hadikusumo (yang kemudian menjadi ketua gerakan pembaharu Islam Muhammadiyah), ditambahkan sebuah ungkapan baru dalam sila Ketuhanan itu, sehingga berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa dan di cantumkan dalam preambule (pembukaan) UUD'45 sampai sekarang dan tidak ada seorangpun yang berani merubahnya.

Dengan jelas dan gamblang, sejarah telah mencatat, bahwa dalam jangka waktu 24 hari, Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya, dirubah menjadi Ketuhanan Yang maha Esa, sampai sekarang, dan tidak ada seorangpun yang berani untuk merubahnya kembali. Fakta sejarah ini membabat habis alasan-alasan orang yang mengatakan bahwa pancasila adalah tidak mungkin dan tidak bisa dirubah.

Nah sekarang, memang wajar, kalau sumber hukum di NKRI adalah pancasila hasil perasan saripati pikiran Soekarno yang 5 tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 14 Agustus 1950 menelan, mencaplok, menduduki Negeri Aceh ketika Soekarno menjabat sebagai Presiden RIS melalui mulut Propinsi Sumatera Utara dengan melalui penetapan dasar hukum Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Serikat No. 21 tahun 1950 Tentang Pembentukan Daerah Propinsi dan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang No.5 tahun 1950 tentang pembentukan Propinsi Sumatera-Utara, tanpa mendapat persetujuan, kerelaan dan keikhlasan dari seluruh rakyat Aceh dan pemimpin rakyat Aceh.

Jadi, kalau dijelajahi makin dalam itu istilah dalam sila Mufakat atau Demokrasi atau yang telah diperas oleh PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang dibentuk pada tanggal 7 Agustus 1945 menjadi Persatuan Indonesia yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 dipergunakan sebagai dasar hukum oleh Soekarno untuk menelan dan mencaplok Negeri Aceh yang berada diluar wilayah daerah kekuasaan secara de-facto RIS pada tanggal 14 Agustus 1950 satu hari sebelum RIS dilebur menjadi NKRI pada 15 Agustus 1950.

Karena itu, sekarang memang wajar kalau di NKRI seperti yang ditulis oleh saudara Muhammad Iqbal yaitu: "Al-Qur'an digunakan oleh penjajah hanya pada 3 tempat: 1.Waktu membaca sumpah ta'at setia kepada NKRI. 2.Waktu musabaqah. 3.Waktu di tempat-tempat orang kematian."

Jadi memang benar apa yang ditulis oleh saudara Muhammad Iqbal diatas.

Coba saja saya akan tanyakan kepada Presiden Megawati, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, Menlu Noer Hassan Wirajuda, Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua MPR Amien Rais, dan Ketua Komisi I DPR Ibrahim Ambong, apakah betul itu yang dituliskan oleh saudara Muhammad Iqbal diatas itu ?

Jelas, yang paling duluan menjawab itu Ketua MPR Amien Rais, sambil senyum-senyum dan menganggukkan kepala, karena memang kesempatan terbaik sekarang bagai Ketua MPR Amien Rais yang keturunan Arab ini untuk kampanye agar terpilih menjadi orang nomor 1 di NKRI dan bisa menduduki Kursi Presiden NKRI bekas diduduki oleh Presiden Megawati.

Nah itulah saudara Muhammad Iqbal, sari pati berdasarkan alasan yang diambil dari dasar dan sumber hukum di NKRI, mengapa di NKRI itu Al Quran pada umumnya hanya dipakai di tiga waktu itu saja.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Sat, 6 Mar 2004 15:08:24 -0800 (PST)
From: Muhammad Iqbal <muhammad59iqbal@yahoo.com>
Subject: AMAN & MERDEKA: MENURUT KATAGORI PENJAJAH INDONESIA-JAWA (SERAMBI).
To: ahmad@dataphone.se

Jawaban kepada serambi (kamis, o4 Maret 2004)
"Acheh beu-aman ureuŰng bek matÚ"(Acheh supaya aman orang jangan mati)

TIDAK ADA JALAN PUTAR DIATAS TUJUAN KEMERDEKAAN (KALAU BUKAN DIA YANG MATI BIARLAH KITA!)

Bagi penjajah Indonesia-Jawa makna Merdeka itu = "AMAN", tanpa ada kematian lagi.

Makna "AMAN" menurut penjajah adalah:
Masyarakat tidak ada gangguan dan larangan untuk; pergi ke mesjid, pergi makan angin, pergi ke laut, pergi ke gunung, boleh bertani, berniaga, malah lebih digalakkan lagi membuat perlombaan MTQ, supaya masyarakat lalai dan hanyut dalam membaca lagu-lagu & irama ayat suci Al-Qur'an sekedar ceremonial saja, tetapi bukan untuk mengetahui dan mengamalkannya.

Al-Qur'an digunakan oleh penjajah hanya pada 3 tempat:
1.Waktu membaca sumpah ta'at setia kepada NKRI.
2.Waktu musabaqah.
3.Waktu di tempat-tempat orang kematian.

Jika Al-Qur'an diserukan oleh penjajah untuk memahami dan menta'ati isi kandungan Al-Qur'an, maka jihat pertama dari masyarakat adalah melawan kezaliman penjajah Indonesia-Jawa.

Bagi siapa saja yang memberi makna Al-Qur'an secara menyeluruh, yang bertentangan dengan kehendak penjajah, maka hukumannya adalah peluru atau penjara tanpa ada proses hukum.

Islam mengajarkan kita untuk tunduk patuh kepada perintah Allah, bukan kepada perintah penjajah, sebagaimana Gubernur, Bupati, Camat, DPR dan Kepala kampung. Mereka itu bertuhankan penjajah.

Mereka itu lebih takut kepada perintah Tuannya daripada perintah Allah, bermakna Tuhan mereka adalah Penjajah Indonesia-Jawa.

Bagi kita kemerdekaan dalam pengertian umum adalah:
1.Merdeka bermakna kita tidak takut lagi kepada susah, sukar, sakit atau mati, siapa yang sudah belajar bagaimana kita harus mati, tidak tahu lagi bagaimana menjadi budak pada orang lain atau dibawah penjajahan bangsa lain. ( Tgk. Hasan Muhammad di Tiro )

2.Merdeka bermakna tanggung jawab dan pengorbanan, sebab itulah banyak orang takut kepada merdeka. ( George.Bernard Shaw )

3.Kemerdekaan adalah kemewahan yang tidak semua orang mendapatkannya. ( Otto Von Bismarck )

4.Orang yang merdeka itulah orang-orang yang mau berperang melawan penjajahan.
( Tgk. Hasan Muhammad diTiro )

5.Orang harus menerima atas dirinya satu kemerdekaan yang tidak mungkin diberikan kepada orang lain.( Anonym )

Disini perlu kita lawan semua pemahaman penjajah dan pemahaman orang pengecut dalam perkara mati, sebab mereka salah paham, ada cara mati " Menurut alam " (naturat death) itupun penghabisannya "unnatural" yaitu bukan menurut alam juga, sebagaimana orang bunuh diri.

Disini akan terang kalau diselidiki dalam ilmu psysiology apa yang dinamakan "mati menurut alam " menurut mereka disini adalah jangan mati dalam perang.

Orang tidak mati sebab orang lain, tetapi sebab diri masing-masing. Tetapi yang biasa orang mati dalam keadaan yang memalukan dan merugikan dalam keadaan tidak merdeka, mati bukan pada masa yang betul (menurut kehendak Allah), mati orang pengecut. Sebab dia suka kepada kehidupannya yang begitu.

Dengan ini kita mengigatkan bangsa kita yang masih dibawah terror dan tekanan penjajah Indonesia-Jawa untuk memahami betul-betul apa yang telah ditulis oleh: "Benjamin Franklin"

"SO╦ NJANG SEURAH KEUMEURD╔HKAAN UNTUK MEUTUM╔ KEUAMANAN , KEUNEULHEU╦H MEUSAPEUPIH HANA MEUTEUM╔" (siapa yang menyerahkan kemerdekaan untuk mendapatkan keamanan, akhirnya apapun tidak didapatkannya).

Billahi fisabilillhaq,

M.Iqbal.

muhammad59iqbal@yahoo.com
Norwegia
----------