Stockholm, 8 Maret 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

BAMBANG HUTOMO HARUS TAHU ITU RAKYAT SIPIL ACEH TAKUT KEPADA TNI/POLRI/RAIDER
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

BAMBANG HUTOMO HARUS TAHU ITU RAKYAT SIPIL ACEH TAKUT KEPADA TNI/POLRI/RAIDER

"TNA pembohong, Ferry tidak perlu diselamatkan, tapi perlu segera dibebaskan.TNA sok pahlawan. Rakyat sipil bukan takut sama TNI tapi justru takut samaTNA" (Bambang Hutomo W., bambang_hw@re.rekayasa.co.id , 8 mars 2004 04:22:11)

Saudara Bambang Hutomo W. di Jakarta, Indonesia.

Sebenarnya rakyat di Aceh itu takut kepada pihak TNI/POLRI/RAIDER yang ditugaskan oleh Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar, termasuk oleh Mayjen TNI Endang Suwarya dan Kolonel Laut Ditya Soedarsono dalam rangka pelaksanaan dasar hukum Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang dikeluarkan pada tanggal 18 Mei 2003 dan diberlakukan pada tanggal 19 Mei 2003 yang telah diperpanjang 19 November 2003 sampai 18 Mei 2004.

Jadi, kalau rakyat sipil Aceh itu diam dan mau diperintah oleh TNI/POLRI/RAIDER itu bukan berarti rakyat sipil Aceh suka dan senang dengan kedatangan pasukan TNI/POLRI/RAIDER ke Negeri Aceh untuk menjajah Negeri Aceh, melainkan rakyat sipil Aceh itu sudah sedemikian ketakutan kalau mendengar TNI/POLRI disebut-sebut.

Saudara Bambang Hutomo W, itu rakyat sipil Aceh sudah trauma melihat dan mendengar TNI/POLRI/RAIDER itu. Jadi jangan seenaknya mengatakan bahwa "rakyat sipil Aceh bukan takut sama TNI tapi justru takut sama TNA"

Rakyat sipil Aceh tidak takut kepada TNA, karena TNA itu adalah rakyat Aceh yang lahir di Negeri Aceh. Rakyat sipil Aceh takut kepada itu pasukan TNI/POLRI/RAIDER yang datang dari luar Aceh yang ditugaskan oleh pihak KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu dan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar untuk menduduki, menjajah Negeri Aceh, dan membunuh rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI.

Bambang Hutomo W, itu soal pembebasan kamerawan RCTI Fery Santoro yang menghambatnya adalah Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu.

Itu tiga Jenderal diatas itulah yang menghambat pembebasan saudara Fery Santoro. Mengapa ?
Karena Jenderal yang tiga orang itu, menolak untuk membuat perjanjian penghentian tembak menembak dalam waktu terbatas sewaktu penyerahan kamerawan RCTI Fery Santoro kepihak Palang Merah Internasional.

Dari pihak TNA dibawah pimpinan Panglima TNA Wilayah Peureulak Tgk Ishak Daud akan menyerahkan dengan secara baik kamerawan RCTI Fery Santoro kepada pihak Palang Merah Internasional di tempat yang telah disepakati bersama tanpa mendapat serangan dan serbuan dari pihak TNI/RAIDER.

Nah, perjanjian itulah yang tidak mau dibuat oleh Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu.

Jadi, saudara Bambang Hutomo W jangan menyalahkan pihak TNA Wilayah Peureulak Tgk Ishak Daud kalau ternyata kamerawan RCTI Fery Santoro sampai detik ini belum dibebaskan. Salahkan itu pihak Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

From: Bambang Hutomo W. bambang_hw@re.rekayasa.co.id
Date: 8 mars 2004 04:22:11
To: <politikmahasiswa@yahoogroups.com>, <padhang-mbulan@egroups.com>, <PPDI@yahoogroups.com>, <oposisi-list@yahoogroups.com>, <mimbarbebas@egroups.com>, <fundamentalis@eGroups.com>, <Lantak@yahoogroups.com>, <kuasa_rakyatmiskin@yahoogroups.com>, <pantau-komunitas@yahoogroups.com>, <acehkita@yahoogroups.com>, <rencongvinavira@yahoogroups.com>, bimo@yahoogroups.com
Subject: RE: [politikmahasiswa] Siaran Pers Panglima TNA Wil. Peureulak

TNA pembohong, Ferry tidak perlu diselamatkan, tapi perlu segera dibebaskan.
TNA sok pahlawan. Rakyat sipil bukan takut sama TNI tapi justru takut samaTNA

Bambang Hutomo W

bambang_hw@re.rekayasa.co.id
Jakarta, Indonesia
----------

From: Muzakkir Abdul Hamid [mailto:lampohawe@yahoo.com]
Sent: Sunday, February 29, 2004 10:31 PM
To: padhang-mbulan@egroups.com; PPDI@yahoogroups.com; oposisi-list@yahoogroups.com; mimbarbebas@egroups.com; politikmahasiswa@yahoogroups.com; fundamentalis@eGroups.com; Lantak@yahoogroups.com; kuasa_rakyatmiskin@yahoogroups.com; pantau-komunitas@yahoogroups.com; acehkita@yahoogroups.com; rencongvinavira@yahoogroups.com; bimo@yahoogroups.com Subject: [politikmahasiswa] Siaran Pers Panglima TNA Wil. Peureulak

PEMERINTAH NEGARA ACHEH ACHEH-SUMATRA NATIONAL LIBERATION FRONT (ASNLF) KOMANDO MILITER WILAYAH PEUREULAK
www.asnlf.net
Siaran Pers
Panglima TNA Wilayah Peureulak, Tgk Ishak Daud

MEDIA AGAR PANTAU UPACARA DI ALUE MEUNUWA
* FERY SANTORO SELAMAT DARI KONTAK SENJATA

Sejak tanggal 10 Februari sampai sekarang, 29 Februari 2004, terus menerus terjadi kontak senjata antara Teuntara Neugara Acheh (TNA) dengan TNI (dari pasukan Raider Yonif 700 dan Yonif 900) di beberapa tempat di kawasan Simpang Ulim, Wilayah Peureulak (Acheh Timur). Selama itu, hanya satu anggota TNA yang syahid, dan dua orang mengalami luka-luka. TNA masih tetap bertahan dan menguasai kawasan itu. Pihak TNI hanya berhasil menyita satu pucuk senjata laras panjang, dan 20 unit bom rakitan.

Sementara, Fery Santoro (kamerawan RCTI) yang masih berada bersama pasukan TNA, juga berhasil kami selamatkan. Ferry dan seluruh pasukan TNA dalam kondisi sehat wal-afiat.

Namun, yang lebih mengkhawatirkan kami adalah keselamatan ribuan masyarakat sipil lainnya di kawasan Simpang Ulim yang saat ini dalam kondisi sangat ketakutan. Sepanjang 20 hari ini, banyak warga sipil yang menjadi korban kekerasan oleh TNI. Hak-hak warga sipil dikekang.

Antara lain:
-2 orang warga sipil ditembak semena-mena
-Puluhan orang dianiaya, dan mengalami luka-luka
-15 rumah penduduk dibakar
-Pembelian beras dibatasi hanya 2 Kg per hari
-Pergi ke mesjid/meunasah dibatasi
-Kegiatan ekonomi masyarakat tak berjalan

Selain itu, hari Senin besok, tanggal 1 Maret 2004, pasukan Raider Yonif 700 dan 900 yang beroperasi di Simpang Ulim akan membuat acara peringatan Tahun Baru Hijriyah di Dayah Alue Meunuwa. Sejumlah ulama/teungku dayah setempat telah dikumpulkan, dipaksa menghadiri acara itu, bahkan diminta memobilisasi masyarakat untuk hadir pada acara tersebut.

Yang mengkhawatirkan masyarakat adalah kemungkinan terjadinya ledakan bom di tempat upacara sebagaimana yang pernah terjadi di Peureulak, juga dalam keramaian, beberapa waktu lalu.

Ketakutan masyarakat itu sangat beralasan, mengingat kebiasaan TNI merekayasa keganasan demikian, dengan menggunakan bom-bom rakitan untuk memudahkan mereka kemudian menyalahkan GAM.

Karena itulah, demi keselamatan ribuan masyarakat sipil yang dipaksa menghadiri upacara peringatan Tahun Baru Hijriyah itu, kami mengimbau kalangan pers/wartawan agar dapat memantau dan meliput acara itu secara langsung. Kami yakin, dengan kehadiran wartawan, TNI akan lebih hati-hati bertindak brutal.

Kami ingatkan kepada para petinggi TNI agar tidak lagi mengulangi KEBIADABAN mereka dengan meledakkan bom di tempat keramaian, dan kemudian membuat propaganda murah menyalahkan GAM/TNA, sebab masyarakat Acheh dan dunia luar sudah cukup faham akan taktik biadab demikian itu. Sekarang ini pemerintah kolonial Indonesia di Jakarta bahkan sangat marah atas laporan State Department AS yang mengutuk kebrutalan militer/polisi RI di Acheh, jadi tidak perlulah mereka berpura-pura lagi, tiada siapapun yang akan percaya akan tipu daya mereka selain mereka sendiri.

Peureulak, 29 Februari 2004

Ttd

TGK. ISHAK DAUD
(Panglima TNA Wilayah Peureulak)
----------