Stockholm, 9 Maret 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

DOBING HARUS TAHU ITU PARA PEJABAT YANG SEMBUNYI MEMANG TIDAK MAMPU MENGHADAPI AHMAD SUDIRMAN
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS DOBING HARUS TAHU ITU PARA PEJABAT YANG SEMBUNYI MEMANG TIDAK MAMPU MENGHADAPI AHMAD SUDIRMAN

"Semua yang dilakukan oleh TNI di Aceh dimata mas Dirman udah pasti salah, yang salah kan Sukarno, SBY, Ditya, Endang Suwarya, Dai Bactiar dan semua pejabat di Republik ini. Jadi mau dibilang apapun ya kebenaran yang tampak dimata mas Dirman adalah kebenaran versi beliau. Jadi percuma saja sebetulnya ada mimbar bebas ini. Inikan bukan ajang untuk nyari solusi tapi cuma media untuk mengumbar nafsu untuk saling menjelekkan, mengolok2 antara yang satu dengan yang lain. Jadi ada benernya buat para2 pejabat itu "ngumpet" (ini bhs versi mas Dirman lho), karena itu lebih produktif dari pada ngikut diskusi di mimbar yang tak ada ujung dan pangkalnya ini." (Dobing , dobing@telkom.net , Tue, 9 Mar 2004 09:04:53 +0700)

Terimakasih saudara Dobing di Jakarta, Indonesia.
Begini saudara Dobing.

Itu apa yang dikatakan oleh saudara Dobing: "diskusi di mimbar yang tak ada ujung dan pangkalnya ini."

Eh, saudara Dobing katakan diskusi ini tidak ada ujung pangkalnya. Yang benar saja, saudara Dobing kalau bicara ini.

Coba perhatikan, dalam diskusi di mimbar bebas ini telah dibicarakan sejarah bagaimana Negara RI atau Negara NKRI atau Negara RI 17 Agustus 1945 atau Negara RI Soekarno atau Negara RI-Jawa-Yogya ini dibentuk dan dibangun. Sehingga lahirlah apa yang dinamakan kronologis dan penjelasan tentang penguasaan Negara-Negara, Daerah-Daerah, dan Negeri-Negeri di luar wilayah kekuasaan secara de-facto dan de-jure Negara RI-Jawa-Yogya.

Nah, kemudian setelah dijelaskan bagaimana itu Negara RI atau Negara RI 17 Agustus 1945 atau Negara RI Soekarno atau Negara RI-Jawa-Yogya atau NKRI ini tumbuh dan berkembang kepada kepada seluruh rakyat di NKRI dan di Negeri Aceh, maka diteruskan dengan membicarakan jajak pendapat atau referendum sekarang ini. Selama referendum ini belum dilaksanakan di Negeri Aceh oleh seluruh rakyat Aceh, ini mimbar bebas diskusi terus dibuka.

Disamping membicarakan masalah referendum ini, dibicarakan juga masalah penjajahan di Negeri Aceh oleh Negara Pancasila atau NKRI.

Kemudian, atas usul dari saudara Muhammad Dahlan dari NSW Australia, dimasukkan masalah kenyataan yang terjadi di Aceh dan di Nusantara lainnya.

Nah saudara Dobing, itulah 3 inti permasalahan yang sedang kita diskusikan sekarang ini. Saya ulangi lagi, pertama, referendum. Kedua, penjajahan di Negeri Aceh oleh Negara Pancasila atau NKRI. Ketiga, kenyataan yang terjadi di Aceh dan di Nusantara lainnya.

Jadi, kalau saudara Dobing mengatakan bahwa "diskusi di mimbar yang tak ada ujung dan pangkalnya ini", itu jelas, salah besar, saudara Dobing, jangan bermimpi.

Selanjutnya, kalau ada sebagian para peserta diskusi mimbar bebas ini yang mundur dan yang sembunyi seperti Kolonel Laut Ditya Soedarsono, Mayjen TNI Endang Suwarya, ditambah lagi Presiden Megawati, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar, itu semuanya hak mereka, dalam mimbar bebas ini tidak ada paksaan. Mau sembunyi, silahkan sembunyi. Mau berbicara silahkan berbicara. Mau nonton saja, silahkan nonton dipinggir arena.

Seterusnya, kalau saudara Dobing mengatakan mimbar bebas ini : "cuma media untuk mengumbar nafsu untuk saling menjelekkan, mengolok2 antara yang satu dengan yang lain.". Juga pernyataan saudara Dobing ini tidak kena sasaran. Mengapa ?

Karena, tidak dibenarkan di mimbar bebas dipakai sebagai sarana untuk "mengumbar nafsu untuk saling menjelekkan, mengolok2 antara yang satu dengan yang lain".

Nah kalau itu misalnya Kolonel Laut Ditya Soedarsono sering mengatakan: "kang Cepot, Dawala, Semar" terhadap saya, itu dianggap biasa saja, dan itu hal yang kecil, masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Kemudian kalau saudara Omar Puteh sering mengatakan : "Pangeran Dorna Kolonel (Laut) Ditya Soedarsono, Kecoa dari Jerman alias Gajah Iskandar". Yah, itu hal yang biasa, sama juga dengan Kolonel Laut Ditya Soedarsono mengatakan kepada saya "kang Cepot, Dawala, Semar".

Jadi, kata-kata yang dilontarkan dalam mimbar seperti itu, hanya sebagai garamnya saja dalam diskusi kita ini. Jangan masuk kedalam hati. Kita ini bicara politik, lalu tanggapi juga secara politis. Jangan campurkan perasaan kedalamnya. Karena kalau sudah dimasukkan "perasaan" kedalamnya, yang timbul bukan lagi pikiran yang jernih, melainkan, pikiran dendam, marah, geram.

Contohlah saya ini, mana saya ini marah-marah di mimbar bebas ini. Mana saya emosi. Ya, kalau sedikit-sedikit saya mengatakan kepada Kolonel Laut Ditya Soedarsono: "paham dan mengerti Kolonel. Eh, mengapa Kolonel sembunyi dibawah meja". Itu bukan marah. Itu, kan, hanya daun lalap paria-nya saja dalam diskusi ini.

Jadi, kita ini harus belajar dalam diskusi ini. Pukul memukul dalam mimbar diskusi, ketika keluar dari sidang diskusi anggap saja angin lalu, jumpa mereka , ucapkan salamu'alaikum dan apa kabar. Jangan masuk hati.

Betul tidak saudara Omar Puteh di Norwegia, dan Kolonel Laut Ditya Soedarsono di Negeri Aceh?.

Eh, itu Kolonel Laut Ditya Soedarsono sebenarnya terus mau bicara dimimbar bebas ini, karena kesempatan baik bisa bertemu dengan Ahmad Sudirman dan saudara Omar Puteh cs, kalau tidak kapan itu Kolonel Laut Ditya bisa bertemu dan berdialog dengan Ahmad Sudirman dan Omar Puteh cs, tetapi dilarang oleh atasannya Mayjen TNI Endang Suwarya. Karena itu si Mang Endang asal Sunda ini, yang tidak berani berdebat dengan Kang Dirman yang juga asal Sunda, sudah pusing tujuh keliling. Setelah diperhatikan puluhan kali, ternyata itu Kolonel Laut Ditya Soedarsono tidak mampu menjatuhkan kang Dirman asal Sunda ini. Akhirnya Mang Endang yang pandainya angkat senjata ini, menyuruh kepada bawahannya Kolonel Laut Ditya arek Suroboyo itu supaya jangan menulis dan bertemu dengan kang Dirman. Itu akal licik mang Endang bersama itu para Jenderalnya di atas sana di Jakarta. Seperti Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, dan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar.

Seterusnya itu saudara Dobing mengatakan: "Semua yang dilakukan oleh TNI di Aceh dimata mas Dirman udah pasti salah, yang salah kan Sukarno, SBY, Ditya, Endang Suwarya, Dai Bactiar dan semua pejabat di Republik ini. Jadi mau dibilang apapun ya kebenaran yang tampak dimata mas Dirman adalah kebenaran versi beliau. Jadi percuma sanja sebetulnya ada mimbar bebas ini."

Eh, saudara Dobing, kalau saya mengatakan bahwa penyelesaian di Negeri Aceh dengan menggunakan senjata bersama TNI/POLRI/RAIDER itu tidak akan selesai. Coba saja perhatikan konflik Aceh ini sudah hampir lima puluh tahun lebih. Sejak Presiden Soekarno, diteruskan oleh Jenderal Soeharto dengan DOM, dilanjutkan oleh BJ Habibie, dan tidak ketinggalan oleh Abdurrahman Wahid dengan Inpres No.4 Tahun 2001-nya, lalu dikobarkan oleh Presiden Megawati, dengan Inpres No.7 Tahun 2001 dan Inpres No.1 Tahun 2002 diperkuat dengan Keppres No.28 Tahun 2003 dan Keppres No.43 Tahun 2003.

Kemudian, saya mengajukan solusi melalui jalan damai, jujur, adil dan bijaksana yaitu diserahkan kepada seluruh rakyat Aceh di Negeri Aceh untuk melaksanakan jajak pendapat atau referendum guna memberikan kesempatan kepada seluruh rakyat Aceh untuk menentukan sikapnya apakah YA bebas dari NKRI atau TIDAK bebas dari NKRI.

Nah, inikan, solusi yang jujur, adil dan bijaksana, tidak perlu senjata apalagi mengerahkan TNI/POLRI/RAIDER seperti sekarang ini, yang hanya menghabiskan uang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara saja.

Jadi, semua yang saya katakan di mimbar ini, merupakan jalan keluar bagi penyelesaian konflik berdarah di Negeri Aceh yang sudah berlangsung lebih dari 50 tahun.

Jangan takut dengan referendum. Kalau memang pihak NKRI yang disponsori oleh Presiden Megawati, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar, Mayjen TNI Endang Suwarya, dan Kolonel Laut Ditya Soedarsono merasa benar dan berada dijalan yang lurus dalam penyelesaian Aceh ini, mengapa tidak dibuktikan dihadapan seluruh rakyat Aceh dengan meminta pendapat dan suara dari seluruh rakyat Aceh, YA bebas dari NKRI atau TIDAK bebas dari NKRI ?.

Dan terakhir saudara Dobing mengatakan: "Jadi percuma saja sebetulnya ada mimbar bebas ini. Inikan bukan ajang untuk nyari solusi"

Nah saudara Dobing, apa yang dikatakan oleh saudara Dobing itu tidak ada alasannya dan tidak benar. Di mimbar bebas ini telah berhasil menentukan 3 inti permasalahan , seperti yang saya kemukakan diatas. Kemudian telah membicarakan solusinya yaitu melalui referendum, karena melalui cara pembuatan Inpres No.4 Tahun 2001-nya buatan Abdurrahman Wahid, Inpres No.7 Tahun 2001, Inpres No.1 Tahun 2002, Keppres No.28 Tahun 2003, dan Keppres No.43 Tahun 2003 buatan Presiden Megawati yang ditunjang oleh TNI/POLRI/RAIDER ternyata tidak berhasil, hanya menghasilkan bermatiannya rakyat sipil Aceh.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

From: "dobing" dobing@telkom.net
To: "Ahmad Sudirman" <ahmad@dataphone.se> "Ditya Soedarsono" dityaaceh_2003@yahoo.com
Subject: Re: BAMBANG HUTOMO HARUS TAHU ITU RAKYAT SIPIL ACEH TAKUT KEPADA TNI/POLRI/RAIDER
Date: Tue, 9 Mar 2004 09:04:53 +0700

Semua yg dilakukan oleh TNI di Aceh dimata mas Dirman udah pasti salah, yg salah kan Sukarno, SBY, Ditya, Endang Suwarya, Dai Bactiar dan semua pejabat di Republik ini. Jadi mau dibilang apapun ya kebenaran yang tampak dimata mas Dirman adalah kebenaran versi beliau. Jadi percuma saja sebetulnya ada mimbar bebas ini. Inikan bukan ajang untuk nyari solusi tapi cuma media untuk mengumbar nafsu untuk saling menjelekkan, mengolok2 antara yang satu dengan yang lain.

Jadi ada benernya buat para2 pejabat itu "ngumpet" (ini bhs versi mas Dirman lho), karena itu lebih produktif dari pada ngikut diskusi di mimbar yang tak ada ujung dan pangkalnya ini.

Dobing

dobing@telkom.net
Jakarta, Indonesia
----------