Stavanger, 10 Maret 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

POTRET WANITA ACHEH DARI "SECRET WAR" DI ACHEH
Omar Putťh
Stavanger - NORWEGIA.

 

ITULAH KOLONEL LAUT DITYA SOEDARSONO & MAYJEN TNI ENDANG SUWARYA YANG SEDANG MENDUDUKI NEGERI ACHEH DAN TERUS MELAKUKAN PEMBUNUHAN TERHADAP RAKYAT ACEH

Dua wanita Indonesia Jawa telah diberangkatkan dari Acheh pada tanggal 1 Maret, 2004 yang baru lalu, untuk menghadiri Koferensi Commission on the Status of Women ke-48, di Markas PBB New York. Mereka adalah H. Inayati Tarmizi, istri Bupati Acheh Utara, wanita Indonesia Jawa, etnis Acheh, atau lebih dikenal sebagai Tjoet Ubit III. Dan seorang lagi H. Marlinda Soemargono, istri Gubernur Prop. NAD, wanita Indonesia Jawa etnis Jawa, yang tidak dikenal oleh bangsa Acheh, apa dan siapa gerangan dia itu.

Kedua-dua mereka diutus oleh pemerintah Penjajah Indonesia Jawa cq Menteri Negara Perempuan RI/Kowani, dan telah disebut-sebut sebagai mewakili "Wanita Acheh". "Wanita Acheh" yang manakah, yang mereka berdua akan mewakilinya disana?

Diberitahukan kehadiran mereka kesana untuk memperlihatkan "potret" Wanita Acheh dari wilayah konflik. Maka jikalah kehadiran mereka berdua hanya untuk memperlihatkan "potret" Wanita Acheh itu semata-mata, sebagaimana yang ada tersimpan didalam PC mereka itu, maka berarti mereka akan menjadikan markas PBB itu sebagai tempat "mengecap"!

Kita dapat pastikan bahwa "potret" Wanita Acheh yang sepatutnya mewakili diantara "potret-potret" itu, tentu saja: "Potret Besar Cut Nur Asyikin" yang telah digrandkan sebagai "Potret Dua Ribu III".

Dan bukan potret-potret mereka yang terlibat, merangkai "bunga pijasan", yang dibuat sehingga menghabiskan uang jutaan rupiah itu, yang mana sepatutnya uang sejumlah itu, dapat diberikan kepada wanita-wanita dalam wilayah koflik, yang sekarang sedang sangat-sangat memerlukannya. Dan bukan hanya untuk maksud beria-ria agar bisa merebut gelar sebagai "bunga pijasan" yang terbesar di Indonesia Jawa, tetapi kiranya langsung menggunakan uang bangsa Acheh!

Uang bangsa Acheh seperti itu, sepatuttnya juga dapat disalurkan pada keperluan meningkatkan jumlah tabung dana pendidikan anak-anak perempuan dalam wilayah konflik di Acheh Utara.
Apakah pihak Kejaksaan di NAD tidak membuat tuntutan apa-apa, akan prilaku buruk, menggunakan uang bangsa Acheh, sesuka hati-perut mereka, semata-mata untuk mendapatkan pujian dan pujaan dari pemerintah Penjajah Indonensia Jawa di Jakarta cq Menteri Perempuan Negara RI/Kowani? Dasar lamiet!

Bukankah tingkah seperti ini, sedang menjadi-jadi dan merajalela di Acheh dan telah menjadi sebagai sebahagian dari "tugas" Panglima Darurat Militer Propinsi NAD Mayor Jenderal Endang Suwarya, walaupun di Pulau Jawa sana, bermilayar-miliyar rupiah dimanupulasikan setaip menit, tetapi tidakpun ditindak atau tidak sedikitpun digubris, malahan yang sudah ketangkapun seenaknya pula bisa dibebas-murnikan seperti Akbar Tanjung, Ketua DPR, Penjajah Indonesia Jawa itu?!

Dimana-mana Panglima Darurat Militer, Endang Suwarya mengibuli masyarakat Acheh bahwa dia seolah-olah, biar hanya dikenal sebagai penyembelih bangsa Acheh saja, tetapi bukan sebagai pencuri atau perampok harta bangsa Acheh! Jujur konon kampret sianak Sunda ini, yang berasal dari Cikampret itu!

Kembali kepada Cut Nur Asyikin, yang sekarang sedang dikerangkengkan oleh Panglima Darurat Militer Daerah Propinsi NAD, Mayor Jenderal Endang Suwarya, sebagaimana yang dikehendaki oleh Megawati Soekarnoputri atau sesuai dengan kehendak Keppres No 28/05/2003, dengan dilindungi publikasinya agar tidak sembarangan untuk disebarkan dengan Keppres No 43/16/06/2003!

Turut dikerangkengkan selevel dengan beliau adalah Juru Runding-Juru Runding dari Negara Acheh Sumatra/ASNLF/GAM: Tengku Muhammad Usman Lampoh Awe, yang juga selaku Mentri Keuangan Negara Acheh Sumatra, Tengku Sofyan IbrahimTiba SH, Tengku T. Kamaruzzaman SH dan Tengku Amni Marzuki.

Cut Nur Asyikin, yang digambarkan, sebagai sebuah replika dari wanita pejuang-pejuang Acheh terdahulu, sesungguhnya sedang ikut meperjuangkan pri kehidupan dan kependeritaan wanita Acheh dalam wilayah konflik khusunya dan bangsa Acheh keseluruhannya, seperti yang pernah beliau lengking-teriakan, didepan 2.000.000 (dua juta) orang rakyat/bangsa Acheh, ketika rapat raksasa Referendum Opsi Merdeka, 8 November, 1999 didepan Masjid Baiturrahman, Kutaraja.

Kalaulah Cut Nur Asyikin yang menjadi utusan ke Konferensi Commission on the Status of Women di Markas PBB, New York itu, maka kita akan kirimkan semua "potret" Wanita-Wanita Acheh yang diculik dan dikurung dalam pos-pos jaga dan kemudian berhari-hari diperkosa sampai mati oleh ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasioanal Indonesia Jawa dan kemudian jenazah-jenazah mereka dihapuskan tampa pusara, atau yang ditahan dalam penjara-penjara, karena suami mereka tidak tahu dimana; atau yang suami-suami mereka sebagai TNA, Tentara Negara Acheh, atau karena mereka dituduh ikut memberi bantuan kepada TNA/Tentara Negara Acheh; atau anak-anak mereka tidak diketahui sedang berada dimana atau diketahui sebagai TNA, Tentara Negara Acheh; atau saudara-saudara lelaki mereka sebagai TNA, Tentara Negara Acheh; atau mereka dituduh sebagai TNA (Wanita),Tentara Negara Acheh (Wanita); atau karena mereka dituduh sebagai pemberi maklumat; atau macam-macam tuduhan kepada mereka, wanita-wanita Acheh dari wilayah konflik di Acheh sekarang ini. Inilah kerja Jenderal Mayor Endang Suwirya dan Kolonel (Laut) Ditya soedarsono si Kecoa dari Jerman alias Gajah Iskandar, disebalik "War Secret" di Acheh!

Selain itu juga, semua potret, sebagaimana rupa "potret" korban kebiadaban dan ketidakprikemanusiaan ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Indonesia Jawa dan pemerintah Penjajah Indonesia Jawa yang telah memperlakukan wanita-wanita Acheh dari wilayah konflik, sebagaimana laporan-laporan medan prang yang telah dimuat dalam: asnlf.net
Selain itu juga, akan kami berikan pula, sebuah "potret" dari seorang wanita yang berasal dari Idi Cut, istri dari As-Syahid Tengku Abdullah Meuleu-euŽk.

As-Syahidah ( ma'af nama beliau kami terlupa, mungkin akan dapat diberikan oleh saudara Yusra Habib Abdul Gani) ditangkap, dan kemudian diperlakukan sebagai sandera, karena suaminya As-Syahid Tengku Abdullah Meuleue-euŽk, tidak mau kembali juga kerumahnya.

Setelah begitu lama, As-Syahidah disandera, tampaknya As-Syahid Tengku Abdullah Meuleue-euŽk tidak mau juga memperduli ancaman mereka itu.

Maka akhirnya, bertindaklah ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Indonesia Jawa yang brutal dan biadab, serta tidak berprikemanusian itu, lalu mengikatkan sebelah kakinya dengan tali besar dan ujung tali yang lain disangkutkan kekenderaan ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Indonesia Jawa itu.

Maka mulailah mereka menyeret As-Syahidah sepanjang belukar seputaran pos kawalan mereka. Dari sepanjang laluan kenderaan yang menarik badan As-Syahidah itu, sementara sebelah tangan kanan As-Syahidah terus menerkam mana-mana pokok belukar, yang mungkin dapat digapainya.
Masya Allah, saudara-saudari, silakanlah lihat kedalam"album potret" itu:

Tubuh-badan As-Syahidah terbelah menjadi dua! Dengan tangan beliau sebelah kanan masih lagi menggenggam pucuk daun pokok kenikir (sejenis pokok belukar, yang bunganya berwarna lembayung tua, yang manis dan enak rasanya dimakan dengan cecairan seperti warna dawat, jika kita coba meludah, selepas memamakannya).

Sedangkan badan sebelah lagi, terus terseret, diheret kenderaan ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Indonesia Jawa, yang tidak memperdulikan, ketika tangan sebelah kanan telah coba menggapai pokok belukar, untuk mengisyaratkan agar jangan diseretlah lagi, namun mereka tidak memperdulikan dan tidak mau juga memberhentikan tarikan kenderaannya.

Beliau menggapai pokok itu mungkin tidak sanggup lagi menahan rasa sakit, karena seretan badannya diatas belukar itu.

Inna lillahi wa inna illaihi raji'un. Ya Allah berilah hukuman yang setimpal kepada mereka yang biadab dan tidak berprikemanusiaan itu. Amin ya Rabbal 'Alamin!

As-Syahid Tengku Abdullah Meuleue-euŽk, kemudian dapat tertangkap juga akhirnya. Beliau kemudian dikerangkengkan di RancŰng, Lhok Seumawe, sebuah Constration Camp ABRI-TNI/POLRI,Tentara Teroris Nasional Indonesia Jawa. Setelah sekian lama mendekam dalam Constration Camp itu, beliau dikunjungi anggota Palang Merah International (ICCR) dari Geneva.

Kemudian karena beliau ingat, mungkin akan ditangkap kembali sebagaimana yang pernah dialami oleh rakan-rakan beliau, yang juga telah pernah dilindungi oleh kartu Palang Merah International seperti yang dimilikinya, tetapi diperlakukan juga demikian, maka beliau pergilah menyeberang ke Malaysia.

Di Malaysia beliau mendapatkan pula sebuah dokumen dari UNCHR yang memberi perlindungan kepada pemegangnya.

Tetapi kiranya beliau, menghadapi sebuah petaka lain, pihak berkuasa Malaysia, menangkap beliau pula, walaupun telah diperlihatkan dokumen dari UNCHR (yang beliau peroleh selepas mendaftarkan diri disana) dan kartu Palang Merah International yang beliau peroleh dari Acheh.

Dan kemudian beliau dikirim ke Acheh dengan kapal perang Angkatan Laut RI, yang dilabuhkan dilepas pantai Pelabuhan Lumut, Perak, Malaysia.

Pihak Penjajjah Indonesia Jawa telah berjanji, bahwa Gubernurnya, Ulama-Ulamanya dan Pemuka-Pemuka masyarakat akan menyambut dan kemudian memberi jaminan perlindungan kepada mereka dari segala macam bentuk ancaman yang akan datang dari ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Indonesia Jawa, sebaik kapang prang Angkatan Laut RI mendarat di Pelabuhan Lhok Seumawe, tetapi ternyata tidak!

Dalam kapal saja Tengku Usman Kuta KruŽng dan Adnan PMTOH tidak bisa berbuat apa-apa ketika Kopasus memperlakukan tahanan-tahan didepan mata mereka berdua yang sedang dirantai, secara brutal dan biadab.

Sebaik para tahanan-tahanan itu diturunkan dari kapal prang KRI Langsa itu, maka salah seorang dari tahanan itu: As-Syahid Tengku Abdullah Meueleu-euŽkpun, diseret kembali ke Constration Camp-RancŰng. Disana beliau mulai "dikerjakan" kembali dan kemudian disembelih oleh ABRI-TNI/POLRI, Tentara Teroris Nasional Indonesia Jawa.

Inna lillahi wa inna illahi. Ya Allah, berilah hukuman setimpal kepada mereka yang biadab dan tidak berprikemanusiaan itu. Amin ya Rabbal 'Alamin.

Wassalam

Omar Putťh

om_puteh@hotmail.com
Norway
----------