Stockholm, 10 Maret 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

MENYEBUT SEKULARIS KEPADA MEGA DAN GUS DUR DAN KAITANNYA DENGAN SB YUDHOYONO & YUSRIL IHZA M
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

SAUDARA DADANG MINTA PENJELASAN MENGAPA SAYA TAHUN 2000 MENYEBUT SEKULARIS KEPADA MEGA DAN GUS DUR DAN KAITANNYA DENGAN MENKO POLKAM SUSILO BAMBANG YUDHOYONO & MENKEH DAN HAM YUSRIL IHZA MAHENDRA

"Saya masih belum paham maksud anda dengan menyebut sekularis Mega atau Gus Dur dan kaitannya dengan Susilo Bambang Y dan Yusril Ihza M" (Dadang , dadang.af@himalayatex.co.id , Wed, 10 Mar 2004 15:41:32 +0700)

Terimakasih saudara Dadang di Indonesia. Dan sekaligus saya mengucapkan selamat datang di mimbar bebas ini. Kita akan dan sedang membicarakan masalah referendum, penjajahan di Negeri Aceh oleh NKRI dan masalah kenyataan yang terjadi di Aceh dan di Nusantara lainnya.

Hanya pada kesempatan ini, saudara Dadang masih belum paham atas maksud saya "menyebut sekularis Mega atau Gus Dur dan kaitannya dengan Susilo Bambang Y dan Yusril Ihza M".

Tetapi, karena apa yang dipermasalahkan oleh saudara Dadan ini ada sangkut pautnya dengan masalah "kenyataan yang terjadi di Nusantara" ini, maka saya akan berusaha untuk menjelaskan dan menjawabanya.

Begini saudara Dadang.

Pada tanggal 4 Januari 2000, empat tahun yang lalu, pernah saya menulis "Gus Dur sekularis-nasionalis anti syariat"
( http://www.dataphone.se/~ahmad/000104.HTM )

Dimana saya akan kutifkan kembali sebagian besar dari isi tulisan tersebut agar supaya menjadi jelas, mengapa saya menyebut sekularis kepada Gus Dur dan kaitannya dengan Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono dan Menkeh dan HAM Yusril Ihza Mahendra.

Inilah yang telah saya tulis:

GUS DUR YANG TERBAYANG

Presiden ke-4 Negara Pancasila, bekas Ketua PBNU, juru lahir Partai Kebangkitan Bangsa yang sekular, yang meminggirkan syariat, yang tidak suka negara syariat, yang menganggap Islam tidak boleh memiliki hubungan dengan masalah negara, yang terlibat dalam pembentukan Institut Simon Peres, yang lebih dekat kepada Israel, yang mengagumi teknologi dan kemajuan Israel, yang menjadi kawan dekat dan sangat mengagumi orang-orang Yahudi, yang dibanggakan oleh Simon Peres bekas perdana menteri Israel, yang siap membuka hubungan dagang dengan Israel, yang mengharapkan investasi Israel dan yang dicalonkan menjadi Presiden Negara Pancasila oleh Amien ketua PAN yang tidak berani terang-terangan mendukung negara syariat.

KABINET GUS DUR YANG SEKULAR YANG MASIH BERISIKAN TNI

Selama Menteri Koordinator Polkam Jenderal Wiranto, Panglima TNI Laksamana TNI Widodo AS, Menteri Dalam Negeri Letjen TNI (Purn.) Surjadi Soedirdja, Menteri Pertambangan dan Energ Letjen. TNI Susilo Bambang Yudhoyono, Menteri Perhubungan Letjen. TNI Agum Gumelar, Menteri Negara Pendayagunaan Apartur Negara Laksda TNI Freddy Numberi masih bisa dipegang hidungnya oleh Gus Dur, selama itu Kabinet Gus Dur-Mega ada dalam ketenangan tanpa takut adanya usaha penggulingan kekuasaan dari pihak Militer.

GUS DUR MENERAPKAN SEKULARISME KEPADA KABINETNYA

Dari 35 anggota Kabinet Gus Dur-Mega, hanya satu dari Partai Keadilan yaitu Nur Mahmudi Ismail, Ketua PK yang menjadi Menteri Kehutanan dan Perkebunan yang suaranya sekarang sudah tenggelam dalam lautan sekularisme yang diciptakan Gus Dur.

Kemudian satu dari Partai Bulan Bintang yaitu Yusril Ihza Mahendra, Ketua PBB yang menjadi Menteri Hukum dan Perundang-undangan yang sekarang suaranya tidak keras lagi, yang tidak mampu lagi menyuarakan syariat Islam untuk diterapkan dalam Negara Pancasila.

Dua dari PDIP yang sekuler yang diwakili oleh Kwik Kian Gie yang menjabat Menteri Koordinator Ekuin dan Laksamana Sukardi yang menduduki kursi Menteri Negara Investasi.

Kemudian diperkuat oleh empat wakil dari PAN yang berasas pancasila-nasionalis-sekular yang diwakili oleh Bambang Sudibyo yang menduduki kursi Menteri Keuangan. Yahya Muhaimin mendapat jatah Menteri Pendidikan Nasional. Hasballah M Saad menjabat Menteri Negara HAM dan Al Hilal Hamdi menduduki Menteri Negara Kependudukan.

Tidak ketinggalan Golkar yang berpancasila-sekular dengan empat wakilnya yaitu Marzuki Darusman menduduki kursi Jaksa Agung, Mahadi Sinambela mendapat jatah kursi Menteri Negara Pemuda dan Olahraga, Yusuf Kalla menduduki jabatan Menteri Perindustrian dan Perdagangan, Bomer Pasaribu yang merupakan Ketua FSPSI (underbouw Golkar) menjadi Menteri Tenaga Kerja.
Tentu saja PKB yang pancasilais-nasionalis-kebangsaan ciptaan Gus Dur mendapat 5 jatah kursi yang diserahkan kepada Alwi Shihab sebagai Menteri Luar Negeri, Khofifah Indar Parawansa menduduki Menteri Negara UPW, Tolchah Hasan menjabat Menteri Agama, AS Hikam sebagai Menteri Negara Ristek dan Ahmad Suyudi Mph sebagai Menteri Kesehatan.

Adapun dari PPP yang sebelumnya di wakili oleh Ketua Umum-nya Hamzah Haz yang menjabat sebagai Menko Kesra/Taskin yang ternyata beberapa minggu yang lalu telah terpental dan keluar dari rangkulan Gus Dur, dan Zarkasih Nur sebagai Menteri Negara Koperasi dan PKM.

Dua dari bekas menteri kabinet Orba juga masih terpakai yaitu Sarwono Kusumaatmaja yang sekarang menduduki Menteri Eksplorasi Kelautan dan Juwono Sudarsono yang sekarang memperoleh kursi Menteri Pertahanan dan Keamanan.

KAUM MUSLIMIN JANGAN TERTIPU OLEH GUS DUR YANG SEKULAR

Mari bersama-sama, NU, Muhammadiyah, Al Washliyah, Persis, dan organisasi-organisasi Islam lainnya untuk memberikan input kepada para politisi dari partai-partai politik yang berasas Islam (PPP, PBB, PK) dan berasas pancasila (PAN, PKB, GOLKAR) bahwa dalam membina aqidah Islam dengan menghormati agama lain dan menerapkan ukhuwah Islamiah harus mencontoh kepada Rasulullah saw.

Jangan para politisi dibiarkan saja. Kalau Gus Dur kelihatan menyimpang dari apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, maka langsung NU harus menyampaikan peringatan. Jangan dibiarkan Gus Dur yang sekular membawa bahtera Indonesia ke jurang dan menghantam batu karang.
( http://www.dataphone.se/~ahmad/000104.HTM )

Kemudian satu tahun kemudian, pada tanggal 10 Oktober 2001 pernah saya menulis "Panggilan sekularis dan kafir bukan panggilan kasar dan keras"
( http://www.dataphone.se/~ahmad/011010.htm )

Dimana tulisan ini dibuat ketika Presiden George W. Bush sedang gencar-gencarnya menyapu bersih dengan bom diatas tanah dan Negara Islam Afghanistan.

Dimana saya kutifkan kembali sebagian besar isi dari tulisan tersebut.

"Sebenarnya kalau kita gali sedikit lebih dalam dari apa yang di Firmankan Allah SWT kepada umat Islam melalui Rasul-Nya Muhammad saw, maka sudah jelas bahwa siapa saja orang yang tidak percaya dan tidak menyembah Allah SWT dan tidak percaya kepada Rasul-Nya Muhammad saw, maka orang tersebut dipanggil kafir. "Katakanlah: Hai orang-orang kafir!. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku. (Al-Kafirun, 109: 1-6)

Ditambah sekarang Bush pemimpin negara sekular federasi Amerika telah mendeklarkan perang dan sekaligus menyerang Negara Islam Afghanistan. Ini menunjukkan suatu permusuhan dan penghancuran dari pihak Bush terhadap Pemerintah, negara Islam Afghanistan, kaum muslimin Afghanistan khususnya dan kaum muslimin diseluruh dunia pada umumnya.

Jadi panggilan yang dikenakan kepada Bush sebagai kafir adalah panggilan yang lunak yang tidak mempunyai makna apapun bagi diri Bush yang tidak percaya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya Muhammad saw.

Kemudian, saya panggil sekularis kepada Bush, karena memang panggilan itu sesuai dengan sikap, kebijaksanaa, politik, pandangan Bush terhadap agama dan negara. Dimana aturan-aturan, norma-norma, hukum-hukum yang ada dalam agama (misalnya Islam) tidak dimasukkan kedalam kehidupan masyarakat, pemerintahan dan negara federal Amerika. Atau dengan kata lain, Bush menjalankan dan melaksanakan hukum-hukum dan konstitusi negara federal Amerika yang tidak bersumberkan kepada hukum-hukum yang diturunkan Allah SWT.

Jadi karena George W. Bush yang telah disumpah untuk menjalankan dan mempertahakankan hukum dan konstitusi negara sekular federasi Amerika, maka George W. Bush disebut atau dipanggil sekularis.

Dan tentu saja, George W. Bush harus bangga dengan panggilan sekularis, sebagaimana saya bangga dipanggil muslim.

Begitu juga dengan Megawati Soekarno Putri. Mengapa saya panggil sekularis kepadanya? Karena, sebagaimana dengan Bush diatas, Mega sangat teguh untuk mempertahankan sumber hukum pancasila dan memperjuangkan mati-matian preambul konstitusi UUD 1945 yang sekular.

Nah sekarang, tidak ada alasan lain lagi untuk tidak memanggil Bush dengan panggilan kafir sekularis dan juga Mega dengan panggilan sekularis. Untuk merubah panggilan itu tergantung dari pada kepercayaan, sikap, pandangan, kebijaksanaan, politik dari mereka berdua yang dihubungkan dengan kehidupan masyarakat, pemerintahan dan negara.
( http://www.dataphone.se/~ahmad/011010.htm )

Nah, itulah jawaban dan penjelasan dari saya atas apa yang telah dipertanyakan oleh saudara Dadang.

Jadi, sekali lagi, "menyebut sekularis Mega atau Gus Dur dan kaitannya dengan Susilo Bambang Y dan Yusril Ihza M". Dimana kaitannya dengan Susilo Bambang Yudhoyono yang pada masa Kabinet Gus Dur diangkat sebagai Menteri Pertambangan dan Energi adalah merupakan bagian dari Kabinet Gus Dur yang sekular. Begitu juga dengan Yusril Ihza Mahendra yang pada masa Kabinet Gus Dur diangkat sebagai Menteri Hukum dan Perundang-undangan adalah merupakan bagian dari Kabinet Gus Dur yang sekular.

Nah terakhir, sekarang terserah kepada Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono yang telah dijadikan Capres oleh Partai Demokrat, apakah masih tetap memiliki sikap, kebijaksanaa, politik, pandangan terhadap agama dan negara, dimana aturan-aturan, norma-norma, hukum-hukum yang ada dalam agama (misalnya Islam) tidak dimasukkan kedalam kehidupan masyarakat, pemerintahan dan negara NKRI. Atau dengan kata lain, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono menjalankan dan melaksanakan hukum-hukum dan konstitusi NKRI yang tidak bersumberkan kepada hukum-hukum yang diturunkan Allah SWT, ataukah sudah berubah ?

Begitu Juga dengan Menkeh dan HAM Yusril Ihza Mahendra dari PBB, apakah masih tetap memiliki sikap, kebijaksanaa, politik, pandangan terhadap agama dan negara, dimana aturan-aturan, norma-norma, hukum-hukum yang ada dalam agama (misalnya Islam) tidak dimasukkan kedalam kehidupan masyarakat, pemerintahan dan negara NKRI. Atau dengan kata lain, Menkeh dan HAM Yusril Ihza Mahendra menjalankan dan melaksanakan hukum-hukum dan konstitusi NKRI yang tidak bersumberkan kepada hukum-hukum yang diturunkan Allah SWT, ataukah sudah berubah ?

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

From: "Dadang (Tracer)" dadang.af@himalayatex.co.id
To: ahmad@dataphone.se
Subject: Konfirm
Date: Wed, 10 Mar 2004 15:41:32 +0700

Saya masih belum paham maksud anda dengan menyebut sekularis Mega atau Gus Dur dan kaitannya dengan Susilo Bambang Y dan Yusril Ihza M.

Wassalam

Dadang

dadang.af@himalayatex.co.id
Indonesia
----------