Stockholm, 10 Maret 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

PEACE ITU SOEKARNO MENIPU PAKAI DWIKORA & NEGARA BONEKA MALAYSIA
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS PEACE ITU SOEKARNO MENIPU PAKAI DWIKORA & NEGARA BONEKA MALAYSIA

"Bapak ini kok jadi kayak ngomporin saya, padahal memang benar saya ingin tahu tentang operasi Dwikora itu selanjutnya, bagaimana ceritanya upaya pelaksanaan operasi itu? Maksud saya apakah memang pak Karno juga mengklaim wilayah itu sebagai bagian dari NKRI? Kalau melihat dari penjelasan bapak, sepertinya pak Karno tidak melakukan klaim itu, terbukti beliau mendukung terbentuknya Negara Kesatuan Kalimantan Utara, yg bebas dari NKRI. Jika demikian, atas dasar apa pak Karno melakukan operasi Dwikora? apa ada landasan perundang2annya, dan apakah terjadi pertempuran nyata antara TNI dan tentara Malaysia? dan mengapa pada akhirnya pak Karno kalah? atau sudah keburu dilengserkan oleh pak Harto." (Peace ORG, miranda_hnf@yahoo.co.uk , 10 Mar 2004 1:45 pm)

Terimakasih saudara Peace Org di UK.
Baiklah saudara Peace.

Begini itu cerita seterusnya mengenai ganyang Malaysia yang direalisasikan dengan nama Dwikora atau Dwi Komando Rakyat.

Dimana Komando itu berisikan: "Perhebat ketahanan revolusi dan bantu perjuangan revolusioner rakyat-rakyat Malaya, Singapura, Sabah, Serawak dan Brunai untuk menggagalkan Negara Boneka Malaysia". (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1950-1964, Sekretariat Negara RI, 1986, hal.247)

Nah kan, disini kelihatan bagaimana itu Soekarno penipu ulung ini, ketika akan mencaplok Negara-Negara dan Daerah-Daerah bagian Negara RIS disebutlah itu itu Negara Boneka Belanda. Begitu juga ketika akan menelan dan mencaplok Serawak dan Sabah di Kalimantan Utara disebutlah Negara Boneka Malaysia.

Jelas, Peace, Soekarno itu telah mengklaim itu Sabah dan Serawak. Mengapa ?

Karena, coba pikirkan sedikit lebih dalam, kalau memang Soekarno hanya mendukung A.M. Azhari, proklamator berdirinya Negara Kesatuan Kalimantan Utara yang meliputi Serawak dan Sabah. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1950-1964, Sekretariat Negara RI, 1986, hal.234), tidaklah Soekarno begitu geram dan begitu bernafsunya sampai harus berunding segala dengan pihak Teungku Abdul Rachman dari Persekutuan Tanah Melayu pada tanggal 31 Mei sampai 1 Juni 1963 di Tokyo, Jepang. Juga diteruskan pada tanggal 7 Juni sampai tanggal 11 Juni 1963 oleh para Menteri Luar Negeri dari NKRI dan dari Fipilina juga wakil dari pihak Teungku Abdul Rachman untuk bertemu di Manila, Filipina guna membicarakan masalah- masalah yang ditimbulkan dengan adanya rencana pembentukan Negara Federasi Malaysia.

Jadi jelas Peace, itu Soekarno bukan hanya mendukung Negara Kesatuan Kalimantan Utara, melainkan telah mengklaimnya, dimana taktik dan strategi Soekarno ini telah diketahui benar oleh pihak Teungku Abdul Rachman dari Persekutuan Tanah Melayu.
(Catatan: gelar Teungku di Tanah Melayu adalah gelar keturunan Raja atau bangsawan, jadi bukan seperti Teungku di Negeri Aceh. Panggilan Teungku di Negeri Aceh adalah panggilan penghormatan yang tinggi, sama seperti Ustad, Ulama, Kiai. Sedangkan gelar Teuku di Negeri Aceh itu adalah gelar keturunan Raja atau bangsawan)

Seperti yang telah saya jelaskan diatas, Soekarno melakukan operasi Dwikora dasarnya adalah "untuk menggagalkan Negara Boneka Malaysia dengan cara perhebat ketahanan revolusi dan bantu perjuangan revolusioner rakyat-rakyat Malaya, Singapura, Sabah, Serawak dan Brunai"

Nah kan, kelihatan jelas, istilah negara boneka ini memang permainan khas Soekarno untuk menipu rakyat NKRI.

Kemudian, Soekarno untuk merealisasikan komando Dwikora ini, pada tanggal 16 Mei 1964 dibentuk Komando Gabungan untuk wilayah Indonesia bagian barat yang diberi nama Komando Siaga. Sebagai Panglima Komando Siaga ditunjuk Men/Pangau Laksamana Madya Udara Omar Dhani, sebagai Wakil Panglima I Laksanaman Muda Laut Muljadi, dan Wakil Panglima II Brigadir Jenderal Achmad Wiranatakusumah. Dengan meningkatnya operasi-operasi militer, Komando Siaga kemudian disempurnakan menjadi Komando Mandala Siaga (Kolaga). Kolaga membawahi dua Komando Mandala, yaitu Komando Mandala I dan Komando Mandala II. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1950-1964, Sekretariat Negara RI, 1986, hal.247).

Disamping Soekarno menjalankan Komando militernya, juga dilakukan perundingan-perundingan. Pada bulan Juni 1964 diselenggarakan Konferensi Tingkat Tinggi ketiga negara bersengketa, yaitu Indonesia, Malaysia, dan Filipina di Tokyo, Jepang, tetapi tidak menghasilkan suatu penyelesaian.

Soekarno mengomandokan Gerakan Sukarelawan pada Konferensi Presidium Kabinet dengan Catur Tunggal seluruh Indonesia yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 11 sampai tanggal 16 Maret 1964.

Pada tanggal 28 April 1964 diadakan sidang Komando Operasi Tertinggi (KOTI) di Istana Merdeka. Dimana KOTI dibentuk pada tanggal 19 Juli 1963. Dengan tugas pokok: Operasi pengamanan terhadap pelaksanaan program Pemerintah pada umumnya, khususnya dibidang konfrontasi terhadap unsur-unsur kolonialisme/imperialisme dalam segala manifestasinya serta pengamanan terhadap pelaksanaan program ekonomi. KOTI dipimpin oleh Presiden/Pangti ABRI dengan seorang Kepala Staf yang membawahi Staf Gabungan (G) yang terdiri dari: G-I (Intelijen), G-II (Operasi), G-III (Pengerahan Tenaga), G-IV (Logistik), G-V (Politik, Ekonomi dan Sosial).

Pada tanggal 3 Mei 1964 Soekarno mengeluarkan Komando Pengganyangan Malaysia pada Apel Besar Sukarelawan yang diselenggarakan di depan Istana Merdeka. Guna pengerahan/penggunaan sukarelawan/sukarelawati untuk tugas-tugas di bidang militer dubentuk "Brigade Sukarelawan Bantuan Tempur Dwikora" dibawah pimpinan Kolonel Sabirin Mochtar. Sasaran gerakan Sukarelawan ini adalah sepanjang garis perbatasan Kalimantan Utara dan di Semennanjung Malaya/Riau. Operasi-operasi perembesan dilakukan ke daerah lawan sampai ke Singapura dan daratan Semenanjung Malaya. Pada tanggal 30 Mei 1964 diberangkatkan satu batalyon Sukarelawan Dwikora ke daerah perbatasan. . (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1950-1964, Sekretariat Negara RI, 1986, hal.248-249).

Pada tanggal 27 Agustus 1964 dibentuk Kabinet Dwikora menggantikan Kabinet Kerja IV. Pada bulan September 1965 Kabinet Dwikora diperbesar dan ditambah anggota menterinya menjadi 99 orang menteri, yang terbagi dalam 14 kompartemen, 47 departemen, dan 11 jabatan. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1950-1964, Sekretariat Negara RI, 1986, hal.252).

Coba perhatikan oleh seluruh rakyat di NKRI dan di Negeri Aceh.

Bagaimana itu Soekarno yang dengan sekuat tenaga mengerahkan seluruh pasukan ABRI ditambah Sukarelawan/Sukarelawati ditunjang oleh Kabinet yang begitu besar anggota menterinya untuk mencaplok daerah Sabah dan Serawak, yang dinamakan Negara Boneka Malaysia.

Tetapi, apa yang terjadi, taktik dan strategi pencaplokan Negara Kesatuan Kalimantan Utara yang terdiri dari daerah Serawak dan Sabah, ternyata gagal. Apalagi setelah Kabinet Dwikora yang telah kedodoran itu disempurnakan pada tanggal 24 Februari 1966 oleh Soekarno menjadi lebih kedodoran lagi dengan nama Kabinet Seratus Menteri (99 menteri + 1 menteri).

Disamping timbulnya Gerakan 30 September 1965, sehingga memperlemah kedudukan dan kekuatan Soekarno. Apalagi setelah Soekarno menandatangani Surat Perintah 11 Maret 1966, maka berakhirlah kekuasaan Soekarno, dan berakhirlah taktik dan strategi Soekarno untuk mencaplok daerah Serawak dan Sabah.

Pada tanggal 11 Agustus 1966 ditandatangani persetujuan untuk menormalisasi hubungan antara Malaysia dan Republik Indonesia di Ruang Pancasila, gedung Departemen Luar Negeri di Jalan Penjambon.

Dimana Persetujuan normalisasi hubungan tersebut merupakan hasil perundingan di bangkok pada tanggal 29 Mei-1 Juni 1966 antara Wakil Perdana Menteri/Menteri Luar Negeri Tun Abdul Razak dan Menteri Utama/Menteri Luar Negeri Adam Malik yang telah menghasilkan persetujuan yang dikenal dengan nama "Persetujuan Bangkok", yang mengandung tiga hal pokok:

1. Kepada rakyat Sabah dan Serawak akan diberi kesempatan menegaskan lagi keputusan yang telah mereka ambil mengenai kedudukan mereka dalam Malaysia.
2. Kedua Pemerintah menyetujui memulihkan hubungan diplomatik.
3. Menghentikan tindakan-tindakan permusuhan.
(30 Tahun Indonesia Merdeka, 1965-1973, Sekretariat Negara RI, 1986, hal.111).

Nah dengan telah ditandatanganinya Persetujuan Bangkok ini, maka berakhirlah taktik dan strategi Soekarno untuk menelan dan mencaplok daerah Serawak dan daerah Sabah. Dimana kedua daerah tersebut menjadi Negara bagian Negara Federasi Malaysia.

Selanjutnya saudara Peace menanyakan masalah: "Apakah orang Papua itu bisa dikatakan bangsa Indonesia? bukankah ras mereka berbeda dari kebanyakan suku di Indonesia?"

Peace, itu yang dinamakan bangsa adalah orang-orang yang adat-istiadat, bahasa, dan sejarahnya sama. Misalnya, bangsa Aceh. Dimana bangsa Aceh itu memiliki adat-istiadat, bahasa dan sejarahnya yang tersendiri. Begitu juga dengan bangsa Papua. Bangsa Papua adalah orang-orang yang memiliki adat-istiadat, bahasa, dan sejarahnya tersendiri. Begitu juga dengan bangsa Sunda. Orang-orang Sunda memiliki adat-istiadat, bahasa dan sejarahnya tersendiri.

Sedangkan yang dinamakan ras itu adalah penggolongan bangsa berdasarkan ciri-ciri fisik rumpun bangsa. Misalnya orang-orang Afrika itu terdiri dari berbagai ras. Adapun yang dinamakan Etnis atau etnik bertalian dengan kelompok sosial dalam sistem sosial atau kebudayaan yang mempunyai arti atau kedudukan tertentu karena keturunan, agama, adat, bahasa dsb.

Kembali kepada apa yang dinamakan bangsa Indonesia, itu kan bangsa gado-gado. Entah bangsa apa saja dimasukkan kedalamnya oleh Soekarno Cs.

Coba saja ingat itu apa yang dinamakan dengan Sumpah Pemuda yang dipelopori oleh Soekarno, Tjipto Mangoenkusumo, Ishaq Tjokrohadisoerjo, Sartono, Budiardjo, Sunarjo, Anwar yang berhaluan nasionalisme-radikal, percaya kepada diri sendiri, dan tidak mau kerjasama dengan pihak penjajah yang meluncurkan Partai Nasional Indonesia yang didirikan di Bandung pada tanggal 4 Juli 1927 yang setahun kemudian telah menjalar dan mempengaruhi Organisasi Pemuda yang dalam Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928 di Jakarta melahirkan ikrar sumpah pemuda yang isinya: 1. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. 2. Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertanah air satu, tanah air Indonesia. 3. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. (RH Saragih, J.Sirait, M.Simamora, Sejarah Nasional, Penerbit Monora Medan, Januari 1987, hal. 141-145)

Nah, itu kan sama saja dengan bangsa gado-gado atau bangsa rujak-ulek yang dicapur adukkan dan dikocak-kocek oleh Soekarno cs dari PNI. Dimana itu para Yong-Yong, seperti Yong Java, Yong Sumatera, Yong Selebes, Yong Minahasa, Yong Ambon, berkumpul pada tanggal 28 Oktober 1928 dalam Kongres Pemuda II yang berikrar seperti yang saya tuliskan diatas dengan disponsori oleh Soekarno Cs dari PNI.

Jadi mana bisa bangsa gado-gado atau bangsa rujak-ulek ini disamakan dengan bangsa Sunda, bangsa Aceh, bangsa Papua.

Karena itu, agar bangsa Indonesia atau bangsa gado-gado atau bangsa rujak-ulek ini memiliki adat-istiadat, bahasa dan sejarahnya yang tersendiri, biar bisa dikatakan atau disebut bangsa, maka dihapuskanlah itu bahasa-bahasa daerah dari mata pelajaran bahasa di sekolah-sekolah, yang diajarkan hanya bahasa hasil Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, yaitu bahasa Indonesia. Sedangkan untuk adat-istiadat-nya biar sama, diambil adat istiadat Soekarno cs, yaitu adat-istiadat bangsa Jawa.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Commented by: Peace ORG on 10 Mar 2004 1:45 pm
Ahmad.swaramuslim.net
miranda_hnf@yahoo.co.uk

wah, bapak ini kok jadi kayak ngomporin saya, padahal memang benar saya ingin tahu tentang operasi Dwikora itu selanjutnya, bagaimana ceritanya upaya pelaksanaan operasi itu?

Maksud saya apakah memang pak Karno juga mengklaim wilayah itu sebagai bagian dari NKRI? Kalau melihat dari penjelasan bapak, sepertinya pak Karno tidak melakukan klaim itu, terbukti beliau mendukung terbentuknya Negara Kesatuan Kalimantan Utara, yg bebas dari NKRI.

Jika demikian, atas dasar apa pak Karno melakukan operasi Dwikora? apa ada landasan perundang2annya, dan apakah terjadi pertempuran nyata antara TNI dan tentara Malaysia? dan mengapa pada akhirnya pak Karno kalah? atau sudah keburu dilengserkan oleh pak Harto

Lalu, Teungku Abdul Rahman, beliau itu orang aceh atau bagaimana kok pake teungku segala? atau teungku itu ungkapan umum seperti bapak dalam bahasa Melayu?

Kemudian saya ingin bertanya? Apakah orang Papua itu bisa dikatakan bangsa Indonesia? bukankah ras mereka berbeda dari kebanyakan suku di Indonesia? Apakah ras yg berbeda bisa dikategorikan sebagai bangsa yg sama? Apa sebenarnya perbedaan istilah suku, etnis, bangsa, suku-bangsa, ras, dll. Lalu apakah Jawa dan Sunda itu satu suku/satu bangsa/satu ras? Juga antara Jawa dan orang Melayu misalnya, apakah satu suku/satu bangsa/satu ras?

Bagaimana dgn ikrar Sumpah Pemuda, satu bangsa, bangsa Indonesia, siapa saja suku2 yg mengikrarkan diri sebagai bangsa Indonesia? Apakah satu bangsa harus selalu bergabung ke dalam satu negara? atau beda bangsa bisa membentuk satu negara?

Sekian dulu

Peace Org

miranda_hnf@yahoo.co.uk
Inggris
----------