Stockholm, 12 Maret 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

MATIUS DHARMINTA TUTUPI TERUS KEJAHATAN SOEKARNO DAN MEGAWATI DI ACEH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

WAH, ITU WARTAWAN JAWA POS MATIUS DHARMINTA TUTUPI TERUS KEJAHATAN SOEKARNO DAN MEGAWATI DI ACEH

"Sesungguhnya yang berbohong itu siapa? Ditya & Endang, atau Hasan Tiro cs. Ditya & Endang berbaur setiap saat ama warga Aceh yang udah barang tentu tahu apa sebenarnya yang terjadi terhadap warga Aceh, atau keluh kesah warga Aceh, dan apa keinginan warga Aceh. Tapi tentu aja bukan wagra Aceh/mengaku warga Aceh yang diperalat oleh Hasan Tiro lho..!. Sedangkan Hasan Tiro cs selalu berkoar dari kejauhan mengatasnamakan warga Aceh yang sesungguhnya tidak tahu bagai mana sikon Aceh itu sendiri hingga sekarang. Hasan Tiro cs juga selalu mengatas namakan warga Aceh untuk mimpi dan hayalanya untuk memisahkan Aceh dari NKRI, tapi sayangnya mereka hanya bisa berkoar dari tempat persembunyian, hingga apakah hasutannya itu dapat respon dari warga Aceh atau tidak mereka (Hasan Tiro cs) tidak tahu, yang jelas Hasan Tiro dengan dibantu pengikutnya selalu berbohong / membodohi warga Aceh, dengan mengutip cuplikan sejarah, hukum, dan fakta, pada masa penjajahan yang udah habis masa berlakunya alias kadaluarsa bin lapuk, sehingga sering aku sebut sebagai "bahasa hapalan", seakan akan mampu memisahkan Aceh dari NKRI. Silakan semua pihak bebas menilai siapa yang berbohong dalam hal ini" (Matius Dharminta , mr_dharminta@yahoo.com ,Thu, 11 Mar 2004 23:25:18 -0800 (PST))

Baiklah saudara wartawan Matius Dharminta di Surabaya, Indonesia.

Makin kelihatan usaha saudara Matius ini untuk tutupi kejahatan di Aceh yang dilakukan oleh mantan Presiden RIS Soekarno, mantan Presiden NKRI Soekarno, mantan Presiden RI-Jawa-Yogya wajah baru Soekarno, mantan Presiden RI Soekarno, mantan Presiden Negara Pancasila Soekarno dan Presiden NKRI atau Negara RI atau Negara Pancasila Megawati.

Coba perhatikan oleh para peserta diskusi mimbar bebas dan seluruh rakyat di NKRI dan di Negeri Aceh.

Enam hari yang lalu, saya mempertanyakan kepada saudara Dharminta dalam tulisan "Matius Dharminta ikutan Soekarno menjadi penyamun dan merampok Negeri Aceh" ( http://www.dataphone.se/~ahmad/040306b.htm ), yaitu: "yang jelas dan pasti belum ada seorangpun yang mampu mematahkan alasan dan argumentasi saya itu yaitu saya ulangi lagi "penelanan, pencaplokan, pendudukan dan penjajahan Negeri Aceh oleh Presiden RIS Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1950 melalui Propinsi Sumatera Utara satu hari sebelum RIS dilebur menjadi NKRI pada tanggal 15 Agustus 1950 dengan cara menetapkan dasar hukum Peraturan Pemerintah RIS No. 21 Tahun 1950 Tentang Pembentukan Daerah Propinsi dan PERPU No.5 tahun 1950 tentang pembentukan Propinsi Sumatera-Utara, tanpa mendapat persetujuan, kerelaan dan keikhlasan dari seluruh rakyat Aceh dan pemimpin rakyat Aceh".
Coba, mampu atau tidak saudara Matius membantah alasan dan argumentasi saya itu ? "

Eh, rupanya baru hari ini sauadara Matius mendjawab sambil menanggapi tulisan saya yang berjudul "Ditya & Endang berbohong rakyat Aceh mau merdeka dikatakan hanya keinginan Hasan Tiro" dengan bunyi jawaban: "yang jelas Hasan Tiro dengan dibantu pengikutnya selalu berbohong / membodohi warga Aceh, dengan mengutip cuplikan sejarah, hukum, dan fakta, pada masa penjajahan yang udah habis masa berlakunya alias kadaluarsa bin lapuk, sehingga sering aku sebut sebagai "bahasa hapalan", seakan akan mampu memisahkan Aceh dari NKRI."

Coba perhatikan oleh seluruh rakyat di NKRI dan di Negeri Aceh itu jawaban saudara Dharminta dari Jawa Pos.

Dasar hukum yang dibuat oleh Presiden RIS Soekarno yang telah bebas dari penjajahan Belanda dianggap oleh saudara Matius sebagai: "cuplikan sejarah, hukum, dan fakta, pada masa penjajahan yang udah habis masa berlakunya alias kadaluarsa bin lapuk, sehingga sering aku sebut sebagai "bahasa hapalan".

Nah, sekarang makin jelas dan terbuka saja, itu wartawan Jawa Pos Matius Dharminta memang secara terang-terangan menutupi kejahatan Soekarno dan kejahatan Presiden Megawati di Negeri Aceh dalam menelan, mencaplok, menduduki dan menjajah Negeri Aceh.

Hei, saudara Matius Dharminta sampai kapanpun saudara Matius tidak bisa lepas dan lari dari kejaran Ahmad Sudirman.

Saudara Matius kejahatan Soekarno di negeri Aceh yang dipertahankan oleh Presiden Megawati sekarang ini telah terbongkar dan seluruh rakyat di NKRI dan di Negeri Aceh telah mengetahuinya.

Apalagi yang mau disembunyikan dan ditutup-tutupi saudara Matius. Tidak ada gunanya dengan hanya menjawab: "cuplikan sejarah, hukum, dan fakta, pada masa penjajahan yang udah habis masa berlakunya alias kadaluarsa bin lapuk" untuk mempertahakan pencaplokan, pendudukan dan penjajahan Negeri Aceh oleh Soekarno yang dipertahankan sampai detik ini oleh Megawati dengan TNI/POLRI-nya.

Jelas sekarang, rakyat Aceh dan rakyat NKRI tidak bisa ditipu lagi dengan jawaban saudara Matius ini yang berbunyi: "sering aku sebut sebagai "bahasa hapalan"".

Begitu juga ketika dibukakan fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah RIS tentang Negara RI (menurut perjanjian Renville 17 Januari 1948) masuk menjadi Negara Bagian RIS pada tanggal 14 Desember 1949 menyusul pencaplokan, pendudukan dan penjajahan Negeri Aceh oleh Presiden RIS Soekarno pada 14 Agustus 1950.

Eh, rupanya hari ini dalam tulisannya saudara Matius masih juga menjawab dengan jawaban: "mengutip cuplikan sejarah, hukum, dan fakta, pada masa penjajahan yang udah habis masa berlakunya alias kadaluarsa bin lapuk"

Coba perhatikan rakyat di seluruh NKRI dan di Tanah Negeri Aceh.

Model begini orang yang ditampilkan oleh Presiden NKRI Megawati untuk mempertahankan pendudukan, penjajahan Negeri Aceh, yang hanya bisa menjawab dengan kata-kata: "sejarah, hukum, dan fakta, pada masa penjajahan yang udah habis masa berlakunya alias kadaluarsa bin lapuk"

Hei, saudara Matius Dharminta, jangankan saudara berani menjawab dengan jawaban yang benar, lihat saja itu Mayjen TNI Endang Suwarya, Kolonel Laut Ditya Soedarsono, mereka berdua sudah kedodoran, menghilang, lenyap ditelah pancasila dengan UUD 1945-nya, tidak berani lagi berdiri tampil untuk menyuarakan "pertahankan pendudukan dan penjajahan di Negeri Aceh"

Jelas, saudara Matius, Mayjen TNI Endang dan Kolonel Laut Ditya, sudah lenyap, hilang sembunyi dibawah mejanya masing-masing dikamar kerjanya, bagaikan cacing NKRI yang takut kena injak, masuk kedalam lumpur tanah NKRI yang dibasasi air hujan Pemilu 2004 yang sudah mulai turun air kampanyenya sejak kemarin, 11 Maret 2004.

Jadi, saudara Matius, jangan sok mau pertahankan itu Mayjen TNI Endang dan Kolonel Laut Ditya. Mereka berdua itu sudah masuk kotak mimbar bebas ini, tidak mampu lagi keluar, sudah dikunci mulut mereka berdua.

Eh, saudara Matius, dunia NKRI itu sempit. Jangan dipikir saya tidak menerima laporan langsung dari negeri Aceh. Apa yang dikerjakan oleh Mayjen TNI Endang Suwarya di Negeri Aceh sampai laporannya kepada saya. Apa yang dibuat oleh Kolonel Laut Ditya Soedarsono di Negeri Aceh sampai laporannya kepada saya.

Jadi, walaupun saya ada diluar Aceh, tetapi gerak-gerik itu Mayjen TNI Endang dan Kolonel Laut Ditya di Negeri Aceh sampai kemeja kerja saya.

Karena itu apa yang dikatakan oleh saudara Matius Dharminta: "Hasan Tiro cs selalu berkoar dari kejauhan mengatasnamakan warga Aceh yang sesungguhnya tidak tahu bagai mana sikon Aceh itu sendiri hingga sekarang"

Eh, soal situasi dan kondisi di Negeri Aceh yang masih berada dalam tekanan darurat militer dengan dasar hukum Keppres No.28 Tahun 2003 dan Keppres No.43 tahun 2003, jangan khawatir saya terus memonitor apa yang terjadi dan sedang berlangsung di Negeri Aceh. Bukan hanya yang terjadi pada pihak NKRI saja melainkan apa yang terjadi pada pihak rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI.

Jelas, Teuku Hasan Muhammad di Tiro telah memproklamasikan Negara Aceh merdeka pada 4 Desember 1976. Karena telah mengetahui secara fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah bahwa Negeri Aceh telah ditelan, dicaplok, dijajak oleh pihak NKRI melalui tangan Presiden RIS Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1950 yang diteruskan oleh Presiden NKRI Soekarno dan tetap terus dipertahankan oleh Presiden NKRI atau Negara RI sekarang Presiden Megawati bersama TNI/POLRI/RAIDER-nya.

Jadi, jelas, Teungku Hasan Muhammad di Tiro bersama rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI tetap terus berjuang untuk menentukan nasib sendiri.

Karena itu, saudara Matius, saudara ini sudah tidak punya alasan lain lagi selain alasan: "aku sebut sebagai "bahasa hapalan"".

Mana alasan itu kuat untuk mempertahankan penjajahan di Negri Aceh. Jangan mimpi saudara wartawan Jawa Pos Matius Dharminta.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Thu, 11 Mar 2004 23:25:18 -0800 (PST)
From: matius dharminta mr_dharminta@yahoo.com
Subject: Re: DITYA & ENDANG BERBOHONG RAKYAT ACEH MAU MERDEKA DIKATAKAN HANYA KEINGINAN HASAN TIRO
To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se
Cc: PPDI@yahoogroups.com

Berbohong rakyat Aceh mau merdeka hanya keinginan Hasan Tiro.
Sesungguhnya yang berbohong itu siapa? Ditya & Endang, atau Hasan Tiro cs. Ditya & Endang berbaur setiap saat ama warga Aceh yang udah barang tentu tahu apa sebenarnya yang terjadi terhadap warga Aceh, atau keluh kesah warga Aceh, dan apa keinginan warga Aceh. Tapi tentu aja bukan wagra Aceh/mengaku warga Aceh yang diperalat oleh Hasan Tiro lho..!. Sedangkan Hasan Tiro cs selalu berkoar dari kejauhan mengatasnamakan warga Aceh yang sesungguhnya tidak tahu bagai mana sikon Aceh itu sendiri hingga sekarang.

Hasan Tiro cs juga selalu mengatas namakan warga Aceh untuk mimpi dan hayalanya untuk memisahkan Aceh dari NKRI, tapi sayangnya mereka hanya bisa berkoar dari tempat persembunyian, hingga apakah hasutannya itu dapat respon dari warga Aceh atau tidak mereka (Hasan Tiro cs) tidak tahu, yang jelas Hasan Tiro dengan dibantu pengikutnya selalu berbohong / membodohi warga Aceh, dengan mengutip cuplikan sejarah, hukum, dan fakta, pada masa penjajahan yang udah habis masa berlakunya alias kadaluarsa bin lapuk, sehingga sering aku sebut sebagai "bahasa hapalan", seakan akan mampu memisahkan Aceh dari NKRI.
Silakan semua pihak bebas menilai siapa yang berbohong dalam hal ini...!

Matius Dharminta

mr_dharminta@yahoo.com
Surabaya, Indonesia
----------