Stockholm, 14 Maret 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

YUDHOYONO TUKANG PUKUL ACEH JALAN SENDIRI UNTUK TERUS MENJAJAH ACEH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JABATAN MENKO POLKAM TELAH LENYAP DARI SUSILO BAMBANG YUDHOYONO YANG TINGGAL MELEKAT HANYA JABATAN TUKANG PUKUL ACEH

"Presiden sangat memahami dan menghargai permohonan Yudhoyono mengundurkan diri. Presiden juga menyertakan ucapan terima kasih atas pengabdian dan jasa Pak Yudhoyono dalam surat pemberhentian tersebut. Ini istimewa karena presiden membuat surat resmi kepada seorang menteri." (Sekretaris Negara/Sekretaris Kabinet Bambang Kesowo, Jumpa Pers di Sekretariat Negara, Jakarta, 12 Maret 2004)

Ketika gong awal kampanye Pemilu 5 April 2004 dipukul pada tanggal 11 Maret 2004, melayanglah surat permohonan pengunduran diri Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono keatas meja Penguasa Darurat Militer Pusat Presiden Megawati Soekarnoputri.

Satu hari kemudian, melayang surat balasan dalam bentuk dasar hukum Keputusan Presiden Nomor 36 tahun 2004 yang berisikan diterimanya pengunduran diri Susilo Bambang Yudhoyono dari Jabatan Menko Polkam Kabinet Gotong Royong Megawati.

Nah sekarang, jelas terlihat oleh seluruh rakyat di NKRI dan rakyat di Negeri Aceh.

Dari saat ini saya tidak perlu lagi menuliskan jabatan Menteri Susilo Bambang Yudhoyono kalau saya akan menuliskan namanya, tetapi sekarang saya cukup menuliskan Susilo Bambang Yudhoyono dengan ditambah gelar "Tukang Pukul Aceh".

Wahai Tukang Pukul Aceh Susilo Bambang Yudhoyono, saudara telah keluar dan mengundurkan diri dari kelompok Kabinet Gotong Royong Megawati untuk berjalan diatas kaki sendiri dengan memakai kendaraan politik Partai Demokrat yang dikemudikan oleh S. Budhisantoso dengan dibantu oleh sekretaris Jenderalnya PD Max Sopacua guna menuju ke tempat Kursi Presiden NKRI di Istana Negara.

Wahai rakyat Aceh di Negeri Aceh.

Salah seorang dari arsitek yang menciptakan bangunan dasar hukum Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang dikeluarkan pada tanggal 18 Mei 2003 dan diberlakukan pada tanggal 19 Mei 2003, serta telah diperpanjang sampai 18 Mei 2004 sehabis Pemilihan Umum 5 April 2004 telah keluar dari kelompok Kabinet Gotong Rayong Megawati penerus Soekarno penjajah Negeri Aceh.

Sekarang itu Tukang Pukul Aceh Susilo Bambang Yudhoyono sambil berdiri diatas kendaraan politik milik Partai Demokrat mulai membuka mulut dari sejak 11 Maret 2004 untuk menipu dan membodohi rakyat NKRI dan rakyat di Negeri Aceh dengan segala macam program Partai Demokrat dan akal bulus untuk menipu rakyat Aceh dan untuk terus menjajah Negeri Aceh.

Tetapi yang jelas dan terang itu rakyat Aceh tidak akan lagi percaya kepada akal bulus Tukang Pukul Aceh Susilo Bambang Yudhoyono yang sekarang sudah mulai melakukan propaganda bohongnya untuk dijadikan umpan penipuan guna menarik suara rakyat di NKRI dan suara rakyat di Negeri Aceh agar bisa meraih Kursi Presiden NKRI yang sekarang masih diduduki oleh bekas Bosnya Presiden Megawati.

Sekarang rakyat Aceh sudah tidak bisa lagi ditipu oleh Tukang Pukul Aceh Susilo Bambang Yudhoyono.

Coba lihat itu Partai-Partai Politik yang sedang giat-giatnya melakukan kampanye Pemilu 5 April 2004 di Negeri Aceh.

Tidak ada itu sambutan meriah dari rakyat Aceh. Mengapa ?

Karena memang sekarang rakyat Aceh telah sadar dan mengerti bahwa para penerus Soekarno termasuk Tukang Pukul Aceh Susilo Bambang Yuhdoyono adalah hanya pandai menipu dan mengelabui rakyat Aceh.

Jadi, kalau itu Partai-Partai Politik yang sekarang sudah mulai berdendang melagukan berbagai alunan lagu yang sumbang dengan isi lagunya yang penuh tipu muslihat, ternyata tidak banyak menarik hati rakyat Aceh.

Tentu saja, itu Penguasa daerah Militer Daerah Aceh Mayjen TNI Endang Suwarya yang dibantu oleh Kolonel Laut Ditya Soedarsono makin tidak populer saja di Negeri Aceh.
 

Karena memang orang dua ini, yang satu asal Sunda Mang Endang Suwarya dan yang satu lagi arek Suroboyo orang Jawa tulen Mas Ditya Soedarsono, sudah tidak berkutik dan tidak mampu lagi mempertahankan pendudukan dan penjajahan Negeri Aceh yang telah dilakukan oleh Soekarno dan dipertahankan oleh Megawati sekarang ini.

Lihat saja, Mang Endang Suwarya dan Mas Ditya Soedarsono, mana mampu lagi berdiri berhadapan dengan Kang Ahmad Sudirman di mimbar bebas ini.

Tetapi jelas, sekarang masih bertahan itu Mas Matius Dharminta untuk menjaga gengsi Mang Endang Suwarya, Mas Ditya Soedarsono, dan Mbak Megawati, guna berhadapan dengan Kang Ahmad Sudirman di mimbar bebas ini dalam masalah penjajahan Negeri Aceh oleh pihak NKRI atau Negara Pancasila.

Silahkan terus maju Mas Matius Dharminta kalau masih ada peluru-peluru anti Negara RI-Jawa-Yogya, anti RIS, anti PP RIS No.21/1950 dan anti PERPU No.5/1950 yang bisa ditembakkan kearah Negeri Aceh dan kearah Stockholm.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------