Stockholm, 16 Maret 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

HUTOMO & DOBING HARUS TAHU ITU SOEKARNO YANG MERAMPOK NEGERI ACEH YANG DIPERTAHANKAN MEGAWATI
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS BAMBANG HUTOMO & DOBING HARUS TAHU ITU SOEKARNO YANG MERAMPOK NEGERI ACEH YANG DIPERTAHANKAN MEGAWATI

"Mr. Dirman. Tidak ada itu tipu muslihat ataupun akal bulus untuk suatu penerapan peraturan didalam negeri sendiri, coba kalau misalkan dirumah mr. Dirman bersarang Tikus 'werok' dan beranak-pinak disana, bahkan sarang tersebut ada dikolong ranjang mr. Dirman sendiri, dan beliau si Tikus ini menghabiskan makanan utama atau sisa yang ada di meja makan dan lemari makan juga kadang menggerogoti koleksi buku-2 dan majalah atau Korannya. Saya yakin mr. Dirman akan 'kebakaran jenggot'. Lalu menerapkan langkah-2 represif dan aturan : pasang jebakan tikus, atau piara kucing garong dan mulai disiplin dalam menyimpan makanan dan buku-2, etc, tanpa mendapat teguran dari rumah tetangga atau bahkan mesti didukung anggota keluarga lain di rumah tsb, misalkan istri, anak, dll." (Bambang Hutomo W. , bambang_hw@re.rekayasa.co.id ,Tue, 16 Mar 2004 12:55:06 +0700)

"Sombongnya anda dengan sesumbar kata. Merendahkan yg lain meninggikan kepala tak ubahnya sebuah tong kosong yang hampa mau dibawa kemana hayat, kalau jiwa sudah takabur..seakan takkan menghadap kubur." (Dobing, dobing@telkom.net ,Tue, 16 Mar 2004 14:16:48 +0700)

Baiklah saudara Bambang Hutomo di Jakarta dan saudara Dobing di Jakarta, Indonesia.

Sebagaimana yang telah saya berpuluh kali menjelaskan dan menerangkan kepada seluruh rakyat di NKRI dan di Negeri Aceh melalui mimbar bebas ini, yaitu "penelanan, pencaplokan, pendudukan dan penjajahan Negeri Aceh oleh Presiden RIS Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1950 melalui Propinsi Sumatera Utara satu hari sebelum RIS dilebur menjadi NKRI pada tanggal 15 Agustus 1950 dengan cara menetapkan dasar hukum Peraturan Pemerintah RIS No. 21 Tahun 1950 Tentang Pembentukan Daerah Propinsi dan PERPU No.5 tahun 1950 tentang pembentukan Propinsi Sumatera-Utara, tanpa mendapat persetujuan, kerelaan dan keikhlasan dari seluruh rakyat Aceh dan pemimpin rakyat Aceh".

Nah inilah dasar hukum, fakta dan bukti, sejarah mengenai pendudukan dan penjajahan Negeri Aceh oleh pihak Soekarno dari RIS dan dari NKRI.

Coba, adakah yang sanggup membantah argumentasi saya ini ?

Nah sekarang, saudara Bambang Hutomo, berusaha memberikan jawaban atas tulisan saya yang menyangkut Pemilu 2004 di Negeri Aceh dan masalah pencabutan Keppres No.28/2003. Dimana saudara Bambang Hutomo mengatakan: "Mr. Dirman. Tidak ada itu tipu muslihat ataupun akal bulus untuk suatu penerapan peraturan didalam negeri sendiri, coba kalau misalkan dirumah mr. Dirman bersarang Tikus 'werok' dan beranak-pinak disana, bahkan sarang tersebut ada dikolong ranjang mr. Dirman sendiri, dan beliau si Tikus ini menghabiskan makanan utama atau sisa yang ada di meja makan dan lemari makan juga kadang menggerogoti koleksi buku-2 dan majalah atau Korannya. Saya yakin mr. Dirman akan 'kebakaran jenggot'. Lalu menerapkan langkah-2 represif dan aturan : pasang jebakan tikus, atau piara kucing garong dan mulai disiplin dalam menyimpan makanan dan buku-2, etc, tanpa mendapat teguran dari rumah tetangga atau bahkan mesti didukung anggota keluarga lain di rumah tsb, misalkan istri, anak, dll."

Jelas saudara Bambang Hutomo, kalau saya mengetahui bahwa dirumah saya itu ada barang makanan curian yang dicuri oleh Soekarno cs, kemudian bahan makanan curian itu dimakan tikus, maka saya berpikir, benar, memang itu bukan barang milik saya sendiri. Tidak apa-apa dimakan tikus, karena memang itu bukan rizki halal saya. Itu barang hasil curian Soekarno cs pada tahun 14 Agustus 1950 yang masih tersimpan dalam rumah saya.

Jelas, saya tidak akan kebakaran jenggot. Mengapa ? Karena saya menyadari bahwa makanan yang dihabiskan oleh tikus-tikus itu memang barang hasil curian Soekarno. Jadi, saya tidak perlu menerapkan "langkah-langkah represif dan aturan: pasang jebakan tikus" segala macam. Kasihan itu tikus-tikus yang lapar, biarkan saja makan barang makanan hasil curian Soekarno biar habis.

Jadi, saudara Bambang Hutomo. Itu Negeri Aceh adalah bukan milik Soekarno, bukan milik NKRI, bukan milik Presiden Megawati dengan PDIP-nya, bukan milik saudara Bambang Hutomo, melainkan milik rakyat Aceh yang telah turun temurun dari sejak abad 15, jauh sebelum itu NKRI dibentuk dari hasil leburan RIS pada tanggal 15 Agustus 1950.

Karena itu, lebih baik dan lebih jujur, adil dan bijaksana, biarkan rakyat Aceh untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI melalui cara jajak pendapat atau referendum guna menyatakan sikap dan memberikan suaranya YA bebas dari NKRI atau TIDAK bebas dari NKRI.

Mengapa harus susah-susah mengirimkan lebih dari 50 000 serdadu TNI/POLRI ke Negeri Aceh untuk menggebuk dan membunuh rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas darti pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI.

Kemudian saudara Bambang Hutomo mengatakan: "Coba apa pendapat mr. Dirman dengan Amerika yang membuat aturan dan melakukan tindakan represif kepada negara lain "Yang berdaulat" seperti Afganistan, Irak, dll ?"

Jelas, saya sangat menentang kepada kebijaksanaan politik, pertahanan, keamanan dan agresi George W. Bush terhadap Afghanistan dan Irak. Coba baca saja tulisan-tulisan saya mengenai agresi George W.Bush terhadap Afghanistan dan Irak dalam www.dataphone.se/~ahmad/opini.htm

Selanjutnya saya akan temui saudara Dobing di Jakarta.

Dimana saudara Dobing mengatakan: "Sombongnya anda dengan sesumbar kata. Merendahkan yg lain meninggikan kepala tak ubahnya sebuah tong kosong yang hampa mau dibawa kemana hayat, kalau jiwa sudah takabur..seakan takkan menghadap kubur"

Saudara Dobing, kalau saya mengatakan: "itu "Mr. BIG" Yudhoyono mana sanggup dan mampu menangkap Ahmad Sudirman, sedangkan diajak berdebat masalah Aceh saja sudah gemetaran langsung tidak keluar suaranya. Lihat saja itu bekas bawahannya Penguasa Darurat Militer Daerah Aceh Mayjen TNI Endang Suwarya dan Kolonel Laut Ditya Soedarsono, mereka berdua tidak muncul-mucul lagi, mulutnya sudah disumbat. "

Apa yang saya katakan itu bukan menunjukkan bahwa saya sombong, tetapi memang suatu kenyataan. Karena saya telah menyampaikan kepada pihak Penguasa Darurat Militer Daerah Aceh Mayjen TNI Endang Suwarya dan Kolonel Laut Ditya Soedarsono untuk mempersilahkan waktu itu Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono masih menjabat sebagai Menteri dari Kabinet Gotong Royong Megawati untuk tampil di mimbar bebas ini.

Apa hasilnya, ternyata itu pihak Penguasa Darurat Militer Daerah Aceh Mayjen TNI Endang Suwarya dan Kolonel Laut Ditya Soedarsono, bukannya terus mempertahankan argumentasinya untuk membela pendudukan dan penjajahan Negeri Aceh, ah, malahan hilang lenyap bersembunyi, tidak kedengaran lagi suaranya. Begitu juga itu "Mr-Big" SB Yudhoyono tidak muncul.

Nah itulah, saudara Dobing.

Sekarangpun saya masih siap untuk berdebat dengan "Mr. Big" Susilo Bambang Yudhoyono untuk membicarakan masalah Aceh. Dan sebebarnya kesempatan terbaik baik Capres Susilo bambang Yudhoyono dari Partai Demokrat untuk mengemukakan visi dan misinya terutama dalam masalah Aceh dengan cara berdebat dengan Ahmad Sudirman di mimbar bebas ini, agar seluruh rakyat di NKRI dan di Negeri Aceh mengetahui kemampuan dan rencana untuk penyelesaian konflik Aceh.

Silahkan oleh saudara Dobing tulisan ini forwardkan kepada Capres Susilo Bambang Yudhoyono dan kepada Ketua Partai Demokrat S. Budhisantoso.

Dan kalau ada yang mengetahui alamat email ketua Partai Demokrat S. Budhisantoso silahkan kirimkan kepada saya.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

From: "dobing" dobing@telkom.net
To: "Ahmad Sudirman" <ahmad@dataphone.se>,
"Serambi Indonesia" serambi_indonesia@yahoo.com
Subject: Re: JAYADI HARUS TAHU ITU "MR BIG" YUDHOYONO TIDAK MAMPU BERDEBAT LAWAN AHMAD SUDIRMAN SOAL ACEH
Date: Tue, 16 Mar 2004 14:16:48 +0700

Sombongnya anda dengan sesumbar kata. Merendahkan yg lain meninggikan kepala tak ubahnya sebuah tong kosong yang hampa mau dibawa kemana hayat, kalau jiwa sudah takabur..seakan takkan menghadap kubur.

Dobing

dobing@telkom.net
Jakarta, Indonesia
----------

From: "Bambang Hutomo W." bambang_hw@re.rekayasa.co.id
To: "'Ahmad Sudirman'" ahmad@dataphone.se
Subject: RE: MAYJEN ENDANG CABUT ITU KEPPRES NO.28/2003 BUKAN DITURUNKAN DARI DARURAT MILITER KE DARURAT SIPIL
Date: Tue, 16 Mar 2004 12:55:06 +0700

Mr. Dirman,

Tidak ada itu tipu muslihat ataupun akal bulus untuk suatu penerapan peraturan didalam negeri sendiri, coba kalau misalkan dirumah mr. Dirman bersarang Tikus 'werok' dan beranak-pinak disana, bahkan sarang tersebut ada dikolong ranjang mr. Dirman sendiri, dan beliau si Tikus ini
menghabiskan makanan utama atau sisa yang ada di meja makan dan lemari makan juga kadang menggerogoti koleksi buku-2 dan majalah atau Korannya. Saya yakin mr. Dirman akan 'kebakaran jenggot'. Lalu menerapkan langkah-2 represif dan aturan : pasang jebakan tikus, atau piara kucing garong dan mulai disiplin dalam menyimpan makanan dan buku-2, etc, tanpa mendapat teguran dari rumah tetangga atau bahkan mesti didukung anggota keluarga lain di rumah tsb, misalkan istri, anak, dll.

Nah itulah gambaran miniature dari pengelolaan "Negara yang berdaulat". Coba apa pendapat mr. Dirman dengan Amerika yang membuat aturan dan melakukan tindakan represif kepada negara lain
"Yang berdaulat" seperti Afganistan, Irak, dll ?

Bambang Hutomo

bambang_hw@re.rekayasa.co.id
Jakarta, Indonesia
----------