Stockholm, 18 Maret 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

MAYJEN TNI ENDANG SUWARYA COBA TEKAN TIM JAKSA SWEDIA
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

KELIHATAN ITU PENGUASA DARURAT MILITER DAERAH ACEH MAYJEN TNI ENDANG SUWARYA COBA TEKAN TIM JAKSA SWEDIA

"RI used a defected and 'reducated' Said Ali Sawang to testify before the Swedish team who came to Acheh for investigation. He defected to RI before martial law and after fired from GAM. With interpreters from foreign affair office, GAM prisoners felt anxious in answering to the Swedish interrogators. Swedish team interrogated witnesses in the presence of big numbers of indonesian military and police. An intimidating environment. Witnesses are pooled at polda. Before each withness is taken to interrogation hall which full with men in uniform, they were told by intels to confess this and that, and generally the horrified withnesses who themselves prisoners have to agree with that." (Reyza Zain , warzain@yahoo.com ,Thu, 18 Mar 2004 05:06:41 -0800 (PST))

Terimakasih saudara Reyza Zain di USA atas kiriman berita tentang keadaan para saksi yang diminta untuk memberikan keterangan kepada pihak Tim Kejaksaan Swedia yang datang ke Indonesia pada tanggal 15 Maret 2004.

Dimana Tim Kejaksaan Swedia ini datang ke Jakarta, Medan dan Aceh adalah bertujuan untuk mengumpulkan bukti langsung menyangkut kasus peledakan bom di Bursa Efek Jakarta tanggal 13 September 2000, Mall Atrium tanggal 23 September 2001, Bina Graha Cijantung Mall tanggal 1 Juli 2002, Balai Kota Medan tanggal 31 Maret 2003, dan di Jalan Belawan Deli Medan tanggal 1 April 2003, 2 kasus pembunuhan, salah satunya kasus pembunuhan rektor Universitas Syiah Kuala, Prof.Dr.Dayan Dawod, 6 kasus pembakaran sekolah dan 243 kasus penculikan.

Pada hari Rabu, 17 Maret 2004 Tim Kejaksaan Swedia yang didampingi dari Kedutaan Besar Swedia yang terdiri dari Tomas Linstrand, Agnetha Hilding, Gunar Akesten, Ulf Samuelson, Bjorn Erlandson, dan Sven Ake Blombergson tiba di Banda Aceh dan bertemu dengan Penguasa Darurat Militer Daerah Aceh Mayjen TNI Endang Suwarya. Dimana Mayjen TNI Endang menyatakan bahwa separatis GAM melakukan aksi teror, membakar fasilitas umum, penembakan, penyanderaan, pengeboman di tempat-tempat keramaian yang semuanya dikontrol Hasan Tiro. Hubungan antara Aceh dan Swedia dilakukan melalui handphone satelit. Untuk menormalkan Aceh Hasan Tiro harus ditangkap, karena dia teroris. (asy, www.detik.com/peristiwa/2004/03/17/20040317-164115.shtml )

Disini kelihatan memang Mayjen TNI Endang Suwarya sudah sedemikian terpukul dan sudah tidak mampu melakukan tindakan secara militer guna menghabiskan rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI, sehingga tidak tanggung-tanggung langsung saja mengatakan: "Untuk menormalkan Aceh Hasan Tiro harus ditangkap, karena dia teroris".

Coba pikirkan oleh para peserta diskusi mimbar bebas dan seluruh rakyat di Negeri Aceh dan di NKRI.

Pemimpin dan rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI yang telah menjajah Negeri Aceh sejak 14 austus 1950 dianggap dan dituduh oleh Mayjen TNI Endang Suwarya sebagai teroris.

Padahal justru yang sebenarnya teroris adalah Mayjen TNI Endang Suwarya yang telah diperalat oleh Presiden Megawati Cs untuk menekan, menduduki dan menjajah Negeri Aceh dengan dilindungi oleh Keppres No.28/2003 dan Keppres No.43/2003.

Selanjutnya hari ini, Kamis, 18 Maret 2004 Tim Kejaksaan Swedia pergi ke Mapolda NAD dan telah memeriksa Said Ali Sawang, Sofyan Ibrahim Tiba, mantan juru runding GAM, Muhammad Usman bin Lampoh Awe, mantan juru runding GAM, dan Mahyudin, tersangka dalam kasus pembunuhan rektor Universitas Syiah Kuala, Prof.Dr.Dayan Dawod. Juga masih akan diteruskan dengan memeriksa Muhammad Nazar Ketua Presidium Sentral Informasi Referendum Aceh, dan Linggadinsyah. Begitu juga akan memeriksa Safrida yang pernah ditawan oleh TNA.

Dimana pemeriksaan itu dilaksanakan oleh Tim Jaksa dari Kejaksaan Swedia secara tertutup dengan disaksikan oleh sejumlah besar pihak militer dan polisi. Sebagaimana yang diceritakan oleh Said Ali Sawang yang menyerahkan diri kepihak NKRI sebelum Keppres No.28/2003 diberlakukan 19 Mei 2003, didepan Tim Jaksa Swedia bahwa pihak NKRI memakai terhukum yang telah menyerah dan dicuci otaknya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Tim Jaksa Swedia.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Thu, 18 Mar 2004 05:06:41 -0800 (PST)
From: Reyza Zain warzain@yahoo.com
Subject: Fwd: Urgent News from Achehnese Prisoners....
To: ahmad@dataphone.se

-RI used a defected and 'reducated' Said Ali to testify before the Swedish team who came to Acheh for investigation. He defected to RI before martial law and after fired from GAM
-30 Militiamen who were recruitted among those who underwent reeducation in Banda Acheh and after trained in Java are now operative.
-Swedish interview with GAM prisoners is conducted in a hall at the police headquarter in Banda Acheh, attended also by many TNI personnel.
-With interpreters from foreign affair office, GAM prisoners felt anxious in answering to the Swedish interrogators, FYI all GAM prisoners during their interrogation by Indonesian authority prior to their trials were tortured to agree to whatever the interrogators charged upon them. And this confession appear in dossier.
-Swedish team interrogated witnesses in the presence of big numbers of indonesian military and police. An intimidating environment. Witnesses are pooled at polda
-Before each withness is taken to interrogation hall which full with men in uniform, they were told by intels to confess this and that, and generally the horrified withnesses who themselves prisoners have to agree with that. One of the witnesses named Dhani was beaten by a military police after testified differently from what he has been told to. Generally, the witnessed said, upon their return to jail, the interrogation environment was so horrifying.

Reyza Zain

warzain@yahoo.com
USA
----------