Stockholm, 23 Maret 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

SAGIR ITU ACEH BUKAN AMAN TETAPI DIKURUNG TNI/POLRI/RAIDER, KEPPRES NO.28/2003 & KEPPRES NO.43/2003
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS SAGIR ALVA ITU ACEH BUKAN AMAN TETAPI DIKURUNG OLEH TNI/POLRI/RAIDER, KEPPRES NO.28/2003 & KEPPRES NO.43/2003

"Saudara Ahmad, baru-baru ini saya ada pulang ke Aceh, tepatnya pada tanggal 9 Maret 2004 hingga 11 Maret 2004. Sebelumnya saya sudah hampir tiga tahun tidak kembali ke Aceh. Dan apa yang saya lihat ketika saya pulang tersebut, adalah bahwa kondisi Aceh sekarang sudah lebih baik dari tahun 2001 ketika saya berada di Aceh untuk terakhir kalinya. Jika dulu lewat jam 9 malam, orang-orang sudah jarang yang keluar rumah karena mencekam, tapi sekarang hal itu tidak terjadi lagi, orang-orang masih berani pulang jam 12 malam kerumah dari kampus Darussalam ke kota. Hal yang tidak didapat pada tahun 2001. Kemudian juga pada tahun 2001, bus antar kota dan antar propinsi sering tidak dapat beroperasi karena situasi keamanan yang tidak baik, namun sekarang bus-bus tersebut dapat beroperasi baik pada siang atau malam hari." (Sagir Alva , melpone2002@yahoo.com , Mon, 22 Mar 2004 23:58:57 -0800 (PST))

Terimakasih saudara Sagir Alva di Universitas Kebangsaan Malaysia, Selangor, Malaysia.

Rupanya saudara Sagir Alva setelah menghilang dari sejak 20 Februari 2004 karena kesibukan belajar dan karena telah melihat dan mengunjungi Negeri Aceh setelah 3 tahun ditinggalkan, merasa tidak sabar untuk ikut kembali di mimbar bebas ini.

Nah, dari hasil kunjungan 3 hari di Negeri Aceh, disekitar kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar, ternyata telah membuat saudara Sagir Alva mengambil gambaran bahwa " kondisi Aceh sekarang sudah lebih baik dari tahun 2001 ketika saya berada di Aceh untuk terakhir kalinya. Jika dulu lewat jam 9 malam, orang-orang sudah jarang yang keluar rumah karena mencekam, tapi sekarang hal itu tidak terjadi lagi, orang-orang masih berani pulang jam 12 malam kerumah dari kampus Darussalam ke kota. Hal yang tidak didapat pada tahun 2001."

Dimana saudara Sagir Alva ini melihat Negeri Aceh hanya cukup melihat Kota Banda Aceh ditambah sedikit disekitar Kabupaten Aceh Besar. Setelah melihat disekitar Kampus Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Darussalam dan sekitarnya suasana aman-aman saja, orang-orang masih berani pulang jam 12 malam dari kampus, ternyata telah dijadikan bukti oleh saudara Sagir Alva bahwa Negeri Aceh itu "sudah lebih baik dari tahun 2001".

Hebat juga saudara Sagir Alva ini membuat cerita tentang situasi dan keadaan di Kota Banda Aceh sekitar kampus Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Darussalam yang kelihatan aman dengan simpang siurnya pelajar dan mahasiswa sampai pukul 12 malam, untuk dijadikan bukti bahwa sekarang Negeri Aceh adalah lebih baik dari waktu tahun 2001, ketika saudara Sagir Alva meninggalkan Negeri Aceh menuju Negara tetangga Kerajaan Malaysia.

Sebenarnya, saudara Sagir Alva, itu Negeri Aceh adalah luas, bukan hanya Kabupaten Aceh Besar dan Kota Banda Aceh saja, melainkan terdiri dari 17 Kabupaten dan 4 Kota.

Saudara Sagir Alva, itu di Negeri Aceh sekarang ini telah dihuni dan dijaga oleh lebih dari 50 000 serdadu TNI/POLRI/RAIDER siap dengan senjatanya atas perintah Presiden Megawati yang disampaikan kepada Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, yang seterusnya diperintahkan kepada KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, dan kepada Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar, yang selanjutnya disampaikan kepada Penguasa Darurat Militer Daerah Aceh Mayjen TNI Endang Suwarya. Dimana perintah pengerahan serdadu TNI/POLRI/RAIDER itu didasarkan kepada dasar hukum Keppres No.28/2003 dan Keppres No.43/2003.

Jadi sebenarnya, itu di Negeri Aceh bukan aman, tetapi Negeri Aceh itu telah dikurung oleh lebih dari 50 000 serdadu TNI/POLRI/RAIDER dengan ditunjang oleh dasar hukum Keppres No.28/2003 dan Keppres No.43/2003.

Saudara Sagir Alva, yang dinamakan Negeri Aceh itu aman dan rakyat merasa bebas kemana mau pergi apabila semua serdadu TNI/POLRI/RAIDER yang jumlahnya lebih dari 50 000 orang itu telah lenyap dari Negeri Aceh, dasar hukum Keppres No.28/2003 dan Keppres No.43/2003 telah dicabut dari bumi Aceh, dan rakyat Aceh diberi kebebasan penuh untuk menentukan keinginan dan sikapnya dalam menentukan masa depan dan nasib mereka sendiri apakah memang tetap ingin bersama pihak TNI/POLRI dan NKRI atau memang sudah tidak betah bersama TNI/POLRI dan NKRI.

Jadi, saudara Sagir Alva, jelas kalau saya melihat itu Negeri Aceh memang masih tetap tidak aman dan masih tetap ada dalam kurungan TNI/POLRI/RAIDER dengan tali pengikat dasar hukum Keppres No.28/2003 dan Keppres No.43/2003.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Mon, 22 Mar 2004 23:58:57 -0800 (PST)
From: sagir alva melpone2002@yahoo.com
Subject: Aceh
To: ahmad@dataphone.se
Cc: melpone2002@yahoo.com

Selamat petang saudara Ahmad:) bagaimana kabar anda sekarang ini? Semoga anda senantiasa mendapat perlindungan Allah SWT. Lama rasanya saya tidak ikut dalam mimbar bebas ini, yach....ini karena disebabkan karena kesibukan saya sebagai seorang pelajar.

Saudara Ahmad, baru-baru ini saya ada pulang ke Aceh, tepatnya pada tanggal 9 Maret 2004 hingga 11 Maret 2004.

Sebelumnya saya sudah hampir tiga tahun tidak kembali ke Aceh. Dan apa yang saya lihat ketika saya pulang tersebut, adalah bahwa kondisi Aceh sekarang sudah lebih baik dari tahun 2001 ketika saya berada di Aceh untuk terakhir kalinya. Jika dulu....lewat jam 9 malam, orang-orang sudah jarang yang keluar rumah karena mencekam, tapi sekarang hal itu tidak terjadi lagi, orang-orang masih berani pulang jam 12 malam kerumah dari kampus Darussalam ke kota. Hal yang tidak didapat pada tahun 2001. Kemudian juga pada tahun 2001, bus antar kota dan antar propinsi sering tidak dapat beroperasi karena situasi keamanan yang tidak baik, namun sekarang bus-bus tersebut dapat beroperasi baik pada siang atau malam hari. Saya kira ini dulu yang dapat saya sampaikan kepada saudara dan peserta mimbar bebas lainnya.

Wassalam

Sagir Alva

melpone2002@yahoo.com
Universitas Kebangsaan Malaysia
Selangor, Malaysia
----------