Stockholm, 24 Maret 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

MIRZA & DOBING INGIN TERUS ACEH DIDUDUKI & DIJAJAH OLEH MEGAWATI & TNI/POLRI/RAIDER
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS KELIHATAN MIRZA & DOBING INGIN TERUS ACEH DIDUDUKI & DIJAJAH OLEH MEGAWATI & TNI/POLRI/RAIDER

"Mas Dirman, mas Dirman anda itu kok ya jadi orang mau menangnya sendiri. Memang opini anda aja yg udah pasti benar, sampai2 mas Sagir bilang Aceh aman aja masih disangkal2. Ya kalau mas Sagir bilang begitu karena dia baru pulang dari Aceh dan mendapatkan kondisi Aceh seperti ya biarkan itu. Namanya fakta, kok sampean itu ngga rela ada orang bilang Aceh aman. Kalau mau bukti ya sampean itu datang aja ke Aceh, kalau perlu kemarin bareng ama team Jaksa Swedia. Jadi biar tahu Aceh lebih aman, dan Jaksa Swedia ngga ditekan2. Jangan hanya lihat Aceh dari jauh dari berita2 internet mas Dirman, mas Dirman." (Dobing , dobing@telkom.net ,Wed, 24 Mar 2004 09:15:36 +0700)

"Manusia satu ini kelewat sok taunya padahal saat ini tak seharipun dia pernah menginjakkan kakinya dibumi Aceh, tapi orang yang menyatakan bahwa Aceh saat ini telah aman berdasarkan fakta yang ada, berdasarkan kunjungan ke Aceh dianggap mengada-ngada. Pada komentar saya yang lalu saya mengatakan bahwa ekonomi Aceh saat ini mulai berderak, itu bukan mengada-ngada, karena sebagian teman-teman saya berusaha di Aceh, dan setiap hari saya dapat kontak langsung dari Aceh, kalo Shahen Fasya mengatakan saya mengada-ngada, ternyata Saudara Sagir Alva menguatkan apa yang saya katakan. Muncul pertanyaan buat saya, mengapa Ahmad Sudirman ini begitu gusarnya mendengar Aceh sata ini sudah aman ? apakah berarti kalo Aceh Aman, itu berarti suatu kesia-siaan bagi Ahmad Sudirman dan kelompoknya atas upaya mereka mengacaukan Aceh selama ini ?" (Teuku Mirza , teuku_mirza@hotmail.com ,Wed, 24 Mar 2004 10:03:22 +0700)

Baiklah saudara Dobing di Jakarta dan Teuku Mirza di Jakarta Indonesia.

Coba perhatikan oleh seluruh peserta diskusi di mimbar bebas ini dan oleh seluruh rakyat di NKRI dan seluruh rakyat di Negeri Aceh.

Dimana kelihatan saudara Dobing dan Teuku Mirza ini memang benar-benar tidak mampu memberikan tanggapan dan jawaban terhadap saya yang memiliki alasan fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah penelanan, pencaplokan, pendudukan dan penjajahan Negeri Aceh oleh Presiden RIS Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1950 dan dipertahankan sampai detik ini oleh Presiden NKRI Megawati dari PDIP.

Coba perhatikan, ketika saudara Sagir Alva, yang sudah 3 tahun meninggalkan Aceh menuju Malaysia, kembali selama 3 hari di Banda Aceh dari tanggal 9 Maret sampai 11 Maret 2004 yang menceritakan daerah Kota Banda Aceh sekitar Kampus Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Darussalam. Kemudian saya mengatakan kepada saudara Sagir dalam tulisan sebelum ini: "Saudara Sagir Alva, yang dinamakan Negeri Aceh itu aman dan rakyat merasa bebas kemana mau pergi apabila semua serdadu TNI/POLRI/RAIDER yang jumlahnya lebih dari 50 000 orang itu telah lenyap dari Negeri Aceh, dasar hukum Keppres No.28/2003 dan Keppres No.43/2003 telah dicabut dari bumi Aceh, dan rakyat Aceh diberi kebebasan penuh untuk menentukan keinginan dan sikapnya dalam menentukan masa depan dan nasib mereka sendiri apakah memang tetap ingin bersama pihak TNI/POLRI dan NKRI atau memang sudah tidak betah bersama TNI/POLRI dan NKRI. Jadi, saudara Sagir Alva, jelas kalau saya melihat itu Negeri Aceh memang masih tetap tidak aman dan masih tetap ada dalam kurungan TNI/POLRI/RAIDER dengan tali pengikat dasar hukum Keppres No.28/2003 dan Keppres No.43/2003."

Eh, rupanya tanggapan saya kepada saudara Sagir Alva itu membuat Teuku Mirza dan saudara Dobing merasa alasan dasar mereka mengenai pendudukan dan penjajahan Negeri Aceh oleh NKRI digoyahkan.

Coba perhatikan itu saudara Dobing langsung angkat bicara: "Mas Dirman, mas Dirman anda itu kok ya jadi orang mau menangnya sendiri. Memang opini anda aja yg udah pasti benar, sampai2 mas Sagir bilang Aceh aman aja masih disangkal2. Ya kalau mas Sagir bilang begitu karena dia baru pulang dari Aceh dan mendapatkan kondisi Aceh seperti ya biarkan itu. Namanya fakta, kok sampean itu ngga rela ada orang bilang Aceh aman. Kalau mau bukti ya sampean itu datang aja ke Aceh".

Begitu juga coba perhatikan apa yang diucapkan Teuku Mirza, yang merasa ada semangat baru lagi setelah saudara Sagir muncul di mimbar bebas ini,: "Manusia satu ini kelewat sok taunya padahal saat ini tak seharipun dia pernah menginjakkan kakinya dibumi Aceh, tapi orang yang menyatakan bahwa Aceh saat ini telah aman berdasarkan fakta yang ada, berdasarkan kunjungan ke Aceh dianggap mengada-ngada".

Nah mereka berdua ini, saudara Dobing dan Teuku Mirza, karena memang kedua orang ini tidak mampu menjawab dan menyanggah terhadap saya yang memiliki alasan dasar fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah mengenai penelanan, pencaplokan, pendudukan, dan penjajahan Negeri Aceh oleh Presiden RIS Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1950 yang dipertahankan sampai detik ini oleh Presiden NKRI Megawati dari PDIP, maka ketika saudara Sagir dari Malaysia berkunjung ke Banda Aceh selama 3 hari dan sekembali ke Malaysia langsung bercerita bahwa di Aceh sekarang kondisinya telah berubah berbeda dari pada tahun 2001, langsung saja fakta yang berupa cerita saudara Sagir itu ditelan dan dijadikan alasan oleh saudara Dobing dan Teuku Mirza untuk mempertahankan pendudukan dan penjajahan negeri Aceh oleh Presiden Megawati dari PDIP.

Saudara Dobing dan Teuku Mirza, kalian berdua ini, memang pikiran dan hidung kalian telah ditarik oleh itu Megawati dari PDIP dan oleh Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar, Kepala Badan Intelijen Negara AM Hendropriyono, KASAL Laksamana TNI Bernard Kent Sondakh, dan KASAU Marsekal TNI Chappy Hakim.

Kalian berdua, saudara Dobing dan Teuku Mirza, merasa senang dan ingin sekali itu Negeri Aceh tetap diduduki dan dijajah oleh Megawati dari PDIP dan TNI/POLRI/RAIDER dibawah komando Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto.

Saudara Dobing asal Jawa dan Teuku Mirza yang melihat namanya asal Aceh ini, kalian berdua memang sudah menjadi cacing NKRI yang bisa dijadikan umpan untuk dipakai alat pukul oleh itu yang namanya Megawati dari PDIP dan oleh itu yang namnya para Jenderal dari mulai Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar, Kepala Badan Intelijen Negara AM Hendropriyono, KASAL Laksamana TNI Bernard Kent Sondakh, dan KASAU Marsekal TNI Chappy Hakim.

Kalian berdua, saudara Dobing dan Teuku Mirza, itu cerita saudara Sagir mengenai keadaan Banda Aceh tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan cerita yang disampaikan oleh saudara Shahen Fasya yang selama hidupnya yang sampai detik ini tinggal di Kutaraja atau Banda Aceh ini.

Eh, kalian berdua, saudara Dobing dan Teuku Mirza terus juga menipu seperti yang dicontohkan oleh mantan Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono pembunuh rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari Pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI.

Kalian berdua, saudara Dobing dan Teuku Mirza telah mencontoh kelakuan Siti Hardiyanti Rukmana alias Mbak Tutut anak perempuan Jenderal Soeharto, yang sedang menipu rakyat Aceh selama kampanye Pemilu 2004 ini. Juga kalian berdua, saudara Dobing dan Teuku Mirza yang terus-terusan berlindung dibalik kepalsuan tukang tipu Megawati dari PDIP ingin tetap Negeri Aceh berada dalam pendudukan dan penjajahan yang dijalankan oleh Presiden NKRI Megawati.

Hai, saudara Dobing dan Teuku Mirza, itu kalau saya melihat Negeri Aceh memang belum aman. Mengapa ?. Karena, seperti yang telah saya katakan sebelum ini, yaitu: "di Negeri Aceh sekarang ini telah dihuni dan dijaga oleh lebih dari 50 000 serdadu TNI/POLRI/RAIDER siap dengan senjatanya atas perintah Presiden Megawati yang disampaikan kepada Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, yang seterusnya diperintahkan kepada KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, dan kepada Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar, yang selanjutnya disampaikan kepada Penguasa Darurat Militer Daerah Aceh Mayjen TNI Endang Suwarya. Dimana perintah pengerahan serdadu TNI/POLRI/RAIDER itu didasarkan kepada dasar hukum Keppres No.28/2003 dan Keppres No.43/2003."

Jadi, saudara Dobing dan Teuku Mirza, kalian berdua, tidak bisa menipu rakyat Aceh dan rakyat di NKRI dengan mengatakan Negeri Aceh aman berdasarkan fakta dan bukti, dasar hukum Keppres No.28/2003 dan Keppres 43/2003 yang dijadikan alat legalisasi pengiriman lebih dari 50 000 serdadu TNI/POLRI/RAIDER ke Negri Aceh untuk membunuh rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI.

Hai, saudara Dobing dan teuku Mirza, kalau memang itu Negeri Aceh mau aman, maka saya katakan disini yaitu cabut itu Keppres No.28/2003 dan Keppres No.43/2003. Jangan buat lagi macam-macam Keppres untuk Aceh. Kemudian bebaskan seluruh rakyat Aceh di Negeri Aceh untuk menyatakan penentuan pendapat atau referendum dengan memilih dua opsi, opsi pertama YA bebas dari NKRI. Opsi kedua, TIDAK bebas dari NKRI.

Nah, kalau dua masalah yang saya lontarkan diatas dilaksanakan oleh Presiden NKRI cs maka di Negeri Aceh dan rakyat Aceh akan merasa berada dalam keadaan aman dan keadilan.

Kemudian terakhir, saya melihat itu Teuku Mirza masih juga terus membohongi rakyat di Aceh dan di NKRI dengan mengatakan: "Apakah jaminan sosial untuk "masyarakat duafa" dari pemerintah Swedia masih kurang untuk menyokong hidup Anda selama ini Sdr Ahmad Sudirman ? Kalo Anda mau hidup hemat, sekedar makan dan tidur dan jalan-jalan sekitar tempat tinggal Anda itu sudah dari cukup saya kira."

Hai, Teuku Mirza, sudah berapa kali saya menuliskan di mimbar bebas ini, bahwa Ahmad Sudirman justru yang membayar pajak pendapatannya sebanyak 30 persen ke kas Pemerintah Kerajaan Swedia. Mana ada orang yang membayar pajak 30 persen kalau uang pendapatannya itu hasil tunjangan sosial, Teuku Mirza, jangan sok tahu dan menipu rakyat di NKRI dan di Negeri Aceh. Justru sebaliknya, saya membantu Pemerintah Swedia dengan membayar pajak yang berjuta-juta rupiah perbulannya yang besar pajaknya lebih besar dari gajih Menteri di NKRI.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

From: "Teuku Mirza" teuku_mirza@hotmail.com
To: dobing@telkom.net, ahmad@dataphone.se, partai@keadilan.or.id,
siliwangi27@hotmail.com, JKamrasyid@aol.com, editor@jawapos.com
Subject: Re: SAGIR ITU ACEH BUKAN AMAN TETAPI DIKURUNG TNI/POLRI/RAIDER, KEPPRES NO.28/2003 & KEPPRES NO.43/2003
Date: Wed, 24 Mar 2004 10:03:22 +0700

Manusia satu ini kelewat sok taunya padahal saat ini tak seharipun dia pernah menginjakkan kakinya dibumi Aceh, tapi orang yang menyatakan bahwa Aceh saat ini telah aman berdasarkan fakta yang ada, berdasarkan kunjungan ke Aceh dianggap mengada-ngada.

Pada komentar saya yang lalu saya mengatakan bahwa ekonomi Aceh saat ini mulai berderak, itu bukan mengada-ngada, karena sebagian teman-teman saya berusaha di Aceh, dan setiap hari saya dapat kontak langsung dari Aceh, kalo Shahen Fasya mengatakan saya mengada-ngada, ternyata Saudara Sagir Alva menguatkan apa yang saya katakan.

Muncul pertanyaan buat saya, mengapa Ahmad Sudirman ini begitu gusarnya mendengar Aceh sata ini sudah aman ? apakah berarti kalo Aceh Aman, itu berarti suatu kesia-siaan bagi Ahmad Sudirman dan kelompoknya atas upaya mereka mengacaukan Aceh selama ini ?

Sekarang satu lagi bukti, kawan saya yang orang Jawa berangkat dari Medan ke Banda Aceh tanggal 19 Maret lalu dengan menggunakan jalan darat, mengatakan aman-aman saja, Jalur Medan Banda Aceh dapat dikatakan mewakili seluruh kawasan Aceh bagian Barat bukan hanya Kota Banda Aceh dan sekitarnya untuk jalur Timur, Tapaktuan, Meulaboh , Banda Aceh saat ini juga jauh lebih aman.

Juga teman saya seorang detailman Indofarma untuk wilayah kerja Kabupaten Bireun dan sekitarnya juga mengatakan hal yang sama bahwa Aceh saat ini jauh lebih aman. Memang kelihatannya Ahmad Sudirman ini adalah manusia yang tidak menghendaki Aceh ini aman dia sangat tidak rela untuk melihat Aceh ini aman, juga sangat tidak rela melihat masyarakat Aceh menjadi sejahtera, bebas dari rasa takut, teror dan kebodohan.

Ahmad Sudirman dan kelompoknya sangat tidak tidak rela melihat anak-anak Aceh bisa bersekolah, bisa menikmati penerangan listrik hingga dipelosok desa juga tidak rela melihat mesyarakat Aceh bisa mencari nafkahnya dengan aman.

Barang kali siapapun bisa menilai kualitas manusia macam apa Ahmad Sudirman dan kelompoknya ini ! Barangkali kalian ini hidup dari konflik Aceh, sepanjang konflik di Aceh ada maka, kalian dapat menikmati hidup lebih baik, bisa dapat sumbangan pajak nanggrou, dan sumbangan dari LSM internasional untuk cuap-cuap masalah HAM dan recehan lain - lain.

Apakah jaminan sosial untuk "masyarakat duafa" dari pemerintah Swedia masih kurang untuk menyokong hidup Anda selama ini Sdr Ahmad Sudirman ? Kalo Anda mau hidup hemat, sekedar makan dan tidur dan jalan-jalan sekitar tempat tinggal Anda itu sudah dari cukup saya kira.

Wassalam

Teuku Mirza

teuku_mirza@hotmail.com
Universitas Indonesia
Jakarta, Indonesia
----------

From: "dobing" dobing@telkom.net
To: "Ahmad Sudirman" <ahmad@dataphone.se>, "Serambi Indonesia" serambi_indonesia@yahoo.com
Subject: Re: SAGIR ITU ACEH BUKAN AMAN TETAPI DIKURUNG TNI/POLRI/RAIDER, KEPPRES NO.28/2003 & KEPPRES NO.43/2003
Date: Wed, 24 Mar 2004 09:15:36 +0700

Mas Dirman, mas Dirman anda itu kok ya jadi orang mau menangnya sendiri. Memang opini anda aja yg udah pasti benar, sampai2 mas Sagir bilang Aceh aman aja masih disangkal2. Ya kalau mas Sagir bilang begitu karena dia baru pulang dari Aceh dan mendapatkan kondisi Aceh seperti ya biarkan itu. Namanya fakta, kok sampean itu ngga rela ada orang bilang Aceh aman. Kalau mau bukti ya sampean itu datang aja ke Aceh, kalau perlu kemarin bareng ama team Jaksa Swedia. Jadi biar tahu Aceh lebih aman, dan Jaksa Swedia ngga ditekan2. Jangan hanya lihat Aceh dari jauh dari berita2 internet mas Dirman, mas Dirman.

Dobing

dobing@telkom.net
Jakarta, Indonesia
----------