Stockholm, 25 Maret 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

AGUS HERMAWAN TIDAK PUNYA ALASAN LAGI SELAIN MENGEKOR BUNTUT SOEKARNO & MEGAWATI
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS KELIHATAN DENGAN NYATA ITU AGUS HERMAWAN DARI KUWAIT TIDAK PUNYA ALASAN LAGI SELAIN MENGEKOR BUNTUT SOEKARNO & MEGAWATI

"Kang Dirman, coba kita berdiskusi lagi.Rasa aman itu bukannya harus di perdebatkan, tapi harus dirasakan. Orang2 GAM itu jangankan di Aceh yg sekarang sedang diburu sama TNI/POLRI dan RAIDER, yg pada diluar negri aja sudah mulai merasa tidak aman karena siapa tahu team Jaksa Swedia sepulang dari Aceh akan menangkap mereka. Ini bisa kita perhatikan dari grasak grusuknya berbagai komentar selama team Jaksa dari Swedia berada di Aceh." (AgusHermawan, sadanas@equate.com ,Thu, 25 Mar 2004 05:42:16 +0300)

Terimakasih saudara Agus Hermawan di Kuwait.

Rupanya saudara Agus ini melihat saudara Sagir angkat bicara lagi setelah menghilang beberapa saat, timbul keberaniannya lagi untuk muncul di mimbar bebas sambil mengucapkan: "Kang Dirman, coba kita berdiskusi lagi".

Eh, rupanya materi atau bahan yang akan didiskusikan oleh saudara Agus dan disodorkan kepada saya ini bahannya yang sudah pernah didiskusikan di mimbar bebas ini.

Wah, bagaimana saudara Agus ini ?. Mungkin ia tidak pernah membaca kiriman diskusi yang selalu dikirimkan kesetiap peserta diskusi di mimbar bebas ini.

Tetapi, tidak apalah, saya akan mencoba melayani keinginan saudara Agus Hermawan asal Sunda yang malas membaca ini.

Sebelum saya langsung terjun kegelanggang mimbar bebas ini untuk menghadapi saudara Agus, perlu diberitahukan disini, bahwa bagi pihak ASNLF atau GAM di Swedia tidak ada yang ditakutkan. Yang jelas, justru pihak NKRI yang takut bahwa fakta dan bukti yang diserahkan kepada pihak Kejaksaan Swedia tidak mencukupi untuk menjerat tokoh utama ASNLF atau GAM di Swedia. Sehingga pihak NKRI khususnya Mbak Megawati dari PDIP akan menggigit jari.
Alasannya telah saya kupas dalam tulisan saya sebelum ini.

Eh, saudara Agus jangan malas, baca lagi itu tulisan saya mengenai "Kelemahan fakta dan bukti pihak NKRI yang akan disaring oleh UU tindak pidana terorisme Swedia." Cari di www.dataphone.se/~ahmad/opini.htm

Nah, kita mulai dengan saudara Agus mengatakan: "Semasa proklamasi, semua wilayah yg diklaim Soekarno, pada waktu itu tidak ada yg protes, termasuk Aceh, bahkan top leader bangsa Aceh-pun waktu itu menjadi pejabat RI ( Muhammad Hasan dan Teungku Daud Beureueh ). Berarti di Aceh itu setuju wilayahnya diklaim oleh Soekarno. Karena kalau tidak setuju dan di Aceh waktu itu telah ada pemerintahan, pasti mereka akan protes saat itu juga."

Eh, cerita ini diulang-ulang lagi oleh saudara Agus, padahal telah didiskusikan sebelumnya dengan saudara Agus. Tetapi karena ia malas, maka ia lupa apa yang telah didiskusikannya itu.

Itu ketika Soekarno membentuk Kabinet Negara RI Soekarno atau Negara RI 17 Agustus 1945 yang pertama pada awal bulan September 1945, dengan mengklaim "seluruh tumpah darah Indonesia" yang meliputi propinsi Sumatra, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sunda Kecil, Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan. Dan diangkat 8 orang Gubernur untuk kedelapan propinsi yang diklaim Soekarno itu, dimana salah satu Gubernur yang diangkat Soekarno itu adalah Mr.Teuku Mohammad Hassan untuk propinsi Sumatra. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara RI, 1986, hal.30)

Nah mulailah Soekarno menjalankan taktik dan strategi penguasaan wilayah daerah-daerah yang ada di Nusantara, tetapi hanya diatas kertas saja. Kemudian Mr.Teuku Mohammad Hassan yang diangkat jadi Gubernur untuk propinsi Sumatera-pun terus diperintahkan Soekarno untuk pergi ke Sumatera.

Jelas disini, mana mau itu Mr.Teuku Mohammad Hassan memprotes Soekarno atas pengangkatan dirinya menjadi Gubernur Sumatera. Lagi pula Mr.Teuku Mohammad Hassan bukan wakil dari negeri Aceh melainkan ia diangkat Soekarno karena beliau dari Pulau Sumatera kelahiran Negeri Aceh. Dalam periode ini belum ada hubungan antara Soekarno dengan Teungku Muhammad Daud Beureueh di negeri Aceh.

Kemudian apa yang terjadi pada bulan selanjutnya.

Nah dalam periode selanjutnya yang dikatakan oleh saudara Agus Hermawan dengan: "Periode saat penjajah Belanda datang lagi ke Indonesia, dan dengan politik adu domba, sipenjajah Belanda, membagi wilayah Indonesia menjadi beberapa negara bagian, dengan mengangkat para Inlander Busuk / pengkhianat bangsa sebagai presiden dari masing masing negara boneka bikinan Belanda itu. Secara logika, tidak mungkin Belanda mengangkat mereka sebagai presiden dari negara bonekanya, kalau mereka itu bukanlah anjing anjing penjilat pantat para penjajah Belanda."

Memang dalam periode ini yang dimulai pada bulan Oktober 1945 telah terjadi perang besar-besaran. Misalnya di Sumatera, di Medan, timbul pertempuran yang dinamakan pertempuran "Medan Area" antara pasukan Sekutu (Inggris - Gurkha) yang diboncengi oleh tentara Belanda dan NICA (Netherland Indies Civil Administration) dibawah pimpinan Brigadir Jenderal T.E.D. Kelly yang mendarat di Medan pada tanggal 9 Oktober 1945 dan mulai menggempur Medan pada tanggal 13 Oktober 1945. Begitu juga di pertempuran terjadi di Padang dan Bukittinggipun. Juga di Aceh terjadi perang Krueng Panjo/Bireuen, pada bulan November 1945, disusul dengan perang di sekitar Langsa/Kuala Simpang.Pasukan Aceh dipimpin oleh Teuku Nyak Arif. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara RI, 1986, hal.70-71). Di Jawa terjadi pertempuran di Semarang yang dimulai pada tanggal 14 Oktober 1945 selama lima hari, yaitu perang antara pasukan Veteran Angkatan Laut jepang Kidobutai melawan TKR. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara RI, 1986, hal.50). Di Ambarawa terjadi pertempuran melawan pasukan Sekutu dibawah pimpinan Brigadir Jenderal Bethel yang sebelumnya mendarat di Semarang pada tanggal 20 Oktober 1945. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara RI, 1986, hal.68). Di Surabaya terjadi pertempuran melawan pasukan Brigae 49/Divisi India ke-23 tentara Sekutu (AFNEI) dibawah komando Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby, 2 hari setelah mendarat di Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara RI, 1986, hal.57). Pada tanggal 10 November 1945 terjadi pertempuran di surabaya setelah Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby dibunuh. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara RI, 1986, hal.58)

Setelah terjadi pertempuran dimana-mana, maka antara pihak RI dan Belanda mengadakan perundingan di Linggajati, yang dilaksanakan pada tanggal 25 Maret 1947. Dalam perundingan Linggajati di Istana Rijswijk, sekarang Istana Merdeka, Jakarta. Dari pihak RI ditandatangani oleh Sutan Sjahrir, Mr.Moh.Roem, Mr.Soesanto Tirtoprodjo, dan A.K.Gani, dari pihak Belanda ditandatangani oleh Prof. Schermerhorn, Dr.van Mook, dan van Poll. Isi perjanjian Linggajati itu, secara de facto RI dengan wilayah kekuasaan yang meliputi Sumatra, Jawa, dan Madura. RI dan Belanda akan bekerja sama dalam membentuk Negara Indonesia Serikat, dengan nama RIS, yang salah satu negara bagiannya adalah RI. RIS dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia-Belanda dengan Ratu Belanda selaku ketuanya. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara RI, 1986, hal.119,138)

Nah, apa yang terjadi setelah perjanjian Linggajati ditandatangani ? Ternyata secara de facto daerah kekuasaan RI Soekarno ini bukan lagi seperti yang diklaim oleh Soekarno dari semula yaitu Sumatra, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sunda Kecil, Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan, melainkan hanya meliputi Sumatra, Jawa, dan Madura.

Jelas, disini kelihatan Soekarno dengan Negara RI atau Negara RI 17 Agustus 1945 atau Negara RI Soekarno yang telah mengklaim diatas kertas seluruh wilayah di Nusantara ternyata menggigit jari. Mengapa ? Karena daerah-daerah yang diklaim Soekarno itu bukan daerah wilayah kekuasaan de-facto Soekarno dengan Negara RI-nya.

Mulailah Soekarno Cs dari Negara RI meluncurkan propaganda memakai istilah "negara boneka" bikinan Belanda. Mengapa Soekarno meluncurkan propaganda dengan istilah "negara boneka" bikinan Belanda ? Karena rakyat-rakyat di daerah lain diluar daerah Jawa-Yogya tidak ingin berada dibawah Soekarno dengan Negara RI atau Negara RI-Jawa-Yogya-nya.

Coba saja perhatikan.

Pada tanggal 24 Desember 1946 telah berdiri Negara Indonesia Timur dengan kepala Negaranya Tjokorde Gde Rake Sukawati. Jelas ini orang-orang di Daerah Sulawesi selatan, Daerah Minahasa, Daerah Menado, Daerah Bali, Daerah Lombok, Daerah Sangihe-Talaud, Daerah Maluku Utara, dan Daerah Maluku Selatan tidak merasa bersatu dengan Soekarno dari Jawa-Yogya dengan Negara RI-nya.

Kemudian perhatikan juga di daerah Pasundan, tangal 4 Mei 1947 di Alun-alun Bandung, Ketua Partai Rakyat Pasundan Soeria Kartalegawa memproklamirkan Negara Pasundan dan pada tanggal 16 Februari 1948 Negara Pasundan dinyatakan resmi berdiri dengan R.A.A. Wiranatakusumah dipilih menjadi Wali Negara dan dilantik pada tanggal 26 April 1948. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara RI, 1986, hal. 140, 171). Jelas rakyat di Pasundan ini tidak merasa ada hubungan kenegaraan dengan Negara RI Soekarno atau Negara RI 17 Agustus 1945.

Begitu juga di Daerah Kalimantan Tenggara pada tanggal 9 Mei 1947 telah lahir dan berdiri Dewan Federal Borneo Tenggara yang dipimpin oleh Abdul Gaffar Noor. Disinipun rakyat Kalimantan Tenggara mana mau berada dibawah kekuasaan Soekarno dari Jawa-Yogya dengan Negara RI-nya.

Lalu di Daerah Borneo Barat pada tanggal 12 Mei 1947 telah lahir dan berdiri Daerah Istimewa Borneo Barat dengan Sultan Pontianak Hamid Algadrie II diangkat sebagai Kepala Daerahnya. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara RI, 1986, hal. 141). Tentu saja rakyat di Daerah Borneo Barat inipun mana mau berada dibawah kekuasaan Pemerintah Negara RI Soekarno.

Seterusnya lihat di Daerah Kalimantan Timur berdiri pada 12 April 1947 Daerah Siak besar dan pada 4 Februari 1948 diganti nama menjadi Federasi Kalimantan Timur yang dipimpin oleh Adji Muhammad Parikesit. Nah, rakyat di Daerah Kalimantan Timur inipun mana mau berada dibawah Negara yang berlambang burung garuda ini dibawah Presiden RI Soekarno.

Juga di Daerah Bangka, Daerah Belitung dan Negara Riau membentuk konfederasi pada 12 Juli 1947 yang Kepala Pemerintahannya dipegang oleh Masjarif gelar Lelo Bandaharo. Nah, di wilayah daerah inipun itu rakyat dan para pimpinannya tidak mau berada dibawah komando Soekarno dengan Negara RI-Jawa-Yogyanya.

Lihat di Madura-pun pada 23 Januari 1948 berdiri Negara Madura dengan R.A.A. Tjakraningrat diangkat sebagai Wali Negara dan diresmikan pada tanggal 20 Februari 1948. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara RI, 1986, hal. 164). Jelas, rakyat Madura ini merasa tidak punya hubungan dengan Negara RI Soekarno.

Coba perhatikan di Banjar berdiri Daerah Banjar pada 14 Januari 1948 yang dipimpin oleh M. Hanafiah. Tidak sampai di Banjar saja, melainkan di daerah Dayak besar berdiri Dayak Besar pada 7 Desember 1946 dan diakui 16 Januari 1948 yang dipimpin oleh J-van Dyk. Orang-orang Banjar inipun mana mau berada dibawah perintah Soekarno dari negara RI atau Negara RI 17 Agustus 1945.

Di Sumatra Timur, pada 24 Maret 1948 berdiri Negara Sumatra Timur yang ber Ibu Kota Medan dengan Dr. Teungku Mansyur diangkat sebagai Wali Negara. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara RI, 1986, hal. 176). Jelas, ini orang-orang dari Sumatera Timur seperti Medan dan sekitarnya mana mau berada dibawah instruksi Soekarno asal Jawa-Yogya dengan Negara RI-nya.

Begitu pula di Sumatera Selatan berdiri Negara Sumatera Selatan dengan Walinegara Abdul Malik pada tanggal 30 Agustus 1948. Mana mau itu orang-orang Palembang berada di bawah perintah orang Jawa yang dipimpin oleh Soekarno dengan negara RI-Jawa-Yogyanya.

Seterusnya juga di Jawa Timur berdiri Negara Jawa Timur pada 26 November 1948 dengan Wali Negara R.T. Achmad Kusumonegoro. Nah, rakyat di Jawa Timur-pun mana mau itu berada dalam naungan Negara RI Soekarno.

Di daerah Jawa Tengah berdiri Daerah Jawa Tengah pada 2 Maret 1949. Rupanya rakyat di Daerah Jawa tengah inipun tidak mau berada dibawah Soekarno dengan RI-Jawa-Yogya-nya.

Nah lihat pula di Tasikmalaya, Jawa Barat, Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo pada tanggal 7 Agustus 1949 telah memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia dengan S.M. Kartosuwirjo diangkat sebagai Imam Negara Islam Indonesia. Jelas, ini Imam NII mana mau berada dibawah perintah Soekarno dengan pancasila-nya.

Itulah saudara Agus Hermawan di Kuwait. Jangan mengatakan bahwa Negara-Negara dan Daerah-Daerah itu berdiri sebagai negara boneka Belanda. Itu istilah negara boneka Belanda hanya propaganda Soekarno saja yang bernafsu untuk menguasai Negara-Negara dan daerah-Daerah diluar wilayah kekuasaan de-facto Negara RI Soekarno atau Negara RI 17 Agustus 1945.

Dan jelas, para pimpinan Negara-Negara dan Daerah-Daerah yang berada diluar Negara RI-Jawa-Yogya made in Soekarno itu "bukanlah anjing anjing penjilat pantat para penjajah Belanda.". Jadi jangan seenak udel saudara Agus Hermawan kalau menulis di mimbar bebas ini.

Justru yang rakus dan serakah itu Soekarno dari Jawa-Yogya dengan Negara RI 17 Agustus 1945-nya.

Nah selanjutnya, saudara Agus Hermawan mengatakan: "Periode saat pembentukan RIS, dan ternyata setelah melalui berbagai permusyawarahan, akhirnya Soekarno jugalah yg diangkat menjadi Presiden RIS itu. Tanpa ada paksaan, tanpa ada ancaman atau todongan senjata, Soekarno juga yg mereka pilih sebagai Presiden RIS. Jadi secara kasarnya,mereka juga mengakui kepemimpinan soekarno itu lebih baik dari mereka ( para anjing penjilat Belanda )"

RIS berdiri dan Piagam Konstitusi RIS ditandatangani pada tanggal 14 Desember 1949 oleh para utusan dari 16 Negara/Daerah Bagian RIS di Pegangsaan Timur 56, Jakarta, yaitu Mr. Susanto Tirtoprodjo (Negara Republik Indonesia menurut perjanjian Renville), Sultan Hamid II (Daerah Istimewa Kalimantan Barat), Ide Anak Agoeng Gde Agoeng (Negara Indonesia Timur), R.A.A. Tjakraningrat (Negara Madura), Mohammad Hanafiah (Daerah Banjar), Mohammad Jusuf Rasidi (Bangka), K.A. Mohammad Jusuf (Belitung), Muhran bin Haji Ali (Dayak Besar), Dr. R.V. Sudjito (Jawa Tengah), Raden Soedarmo (Negara Jawa Timur), M. Jamani (Kalimantan Tenggara), A.P. Sosronegoro (Kalimantan Timur), Mr. Djumhana Wiriatmadja (Negara Pasundan), Radja Mohammad (Riau), Abdul Malik (Negara Sumatra Selatan), dan Radja Kaliamsyah Sinaga (Negara Sumatra Timur). (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara RI, 1986, hal.243-244).

Nah jelas, Negara-Negara dan Daerah-Daerah yang sudah menjadi Bagian RIS ini merasa puas berada dalam satu Naungan Negara Federasi RIS, dimana setiap Negara Bagian duduk sama rendah berdiri sama tinggi.

Soal dipilihnya Soekarno dalam sidang Dewan Pemilihan Presiden RIS sebagai Presiden RIS pada tanggal 15-16 Desember 1949, dan dilantik jadi Presiden RIS pada tanggal 17 Desember 1949 (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara RI, 1986, hal.244), itu bukan berarti bahwa para wakil dari Negara-Negara bagian RIS akan menjadikan Soekarno sebagai Presiden RIS selamanya apalagi akan melebur RIS masuk kedalam Negara RI Negara Bagian RIS.

Tetapi, justru dari pihak Soekarno Cs dengan Negara RI-nya yang punya taktik dan strategi akan melebur Negara-Negara dan Daerah-Daerah Negara Bagian RIS dilebur satu persatu kedalam tubuh Negara RI Negara Bagian RIS.

Dan ternyata taktik dan strategi peleburan RIS ini dijalankan setelah RIS diakui kedaulatannya oleh pihak Kerajaan Belanda pada tanggal 27 Desember 1949. Dan juga Kedaulatan RI diserahkan kepada RIS.

Sampai disini saya menunggu apa yang akan dikatakan oleh saudara Agus Hermawan.

Rupanya saudara Agus Hermawan mengatakan: "Jadi Soekarno itu tidak bisa dikatakan mencaplok, menjajah, menduduki bekas negara boneka bikinan si Iblis penjajah Belanda, tapi Soekarno itu mengambil kembali wilayah negara RI yg sudah dipecah belah oleh si Iblis Belanda. Kecuali kalau 16 negara bagian bikinan Belanda itu terbentuk sebelum proklamasi 17 agustus 45, nah, baru masuk akal kalau Soekarno itu mencaplok negara2 tersebut."

Nah rupanya, itu saudara Agus Hermawan mau mencoba membersihkan dan mencuci kelakukan busuk yang penuh tipu muslihat Soekarno. Tetapi jelas tidak mungkin ditutupi lagi. Apalagi sampai bisa dibersihkan, karena semuanya sudah terbongkar kelakukan jahat yang penuh tipu dan akal bulus Soekarno ini.

Coba perhatikan langkah Soekarno selanjutnya.

Nah langkah-langkah yang dibuat oleh Soekarno Cs untuk melebur RIS memang kelihatan jelas sekali. Bahkan bukan hanya Negara-Negara dan Daerah-Daerah Negara Bagian RIS saja yang akan ditelan Soekarno melainkan juga Negeri-Negeri yang berada diluar wilayah daerah kekuasaan de-facto RIS, seperti Negeri Aceh.

Dimana langkah Soekarno untuk melebur RIS ini diawali menetapkan dan mensahkan dasar hukum Undang-Undang Darurat No 11 tahun 1950 tentang Tata Cara Perubahan Susunan Kenegaraan RIS yang dikeluarkan pada tanggal 8 Maret 1950.

Kemudian diteruskan pada 14 Agustus 1950 melalui Parlemen dan Senat RIS mensahkan Rancangan Undang-Undang Dasar Sementara Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi Undang-Undang Dasar Sementara Negara Kesatuan Republik Indonesia. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1950-1964, Sekretariat Negara RI, 1986, hal. 42).

Coba saja perhatikan, itu Soekarno dengan kelihaian dan kelicikan mempengaruhi dan membujuk para wakil dari Negara-Negara Bagian RIS untuk melahirkan dasar hukum Undang-Undang Darurat No 11 tahun 1950 tentang Tata Cara Perubahan Susunan Kenegaraan RIS, ternyata merupakan satu modal besar bagi Soekarno dengan Negara RI-nya untuk menelan Negara-Negara Bagian RIS yang lain.

Disini Soekarno tidak perlu menggunakan peluru dan mengerahkan pasukan TNI-nya untuk menghancurkan wilayah daerah kekuasaan negara-Negara Bagian RIS, melainkan cukup dengan mengelabui, menipu, membujuk para wakil dari Negara-Negara Bagian RIS untuk menyetujui pengesahan dasar hukum Undang-Undang Darurat No 11 tahun 1950 tentang Tata Cara Perubahan Susunan Kenegaraan RIS.

Begitu juga Soekarno ketika menelan dan mencaplok Negeri Aceh yang berada diluar wilayah kekuasaan de-facto Negara RI dan RIS hanya dengan cara menetapkan dasar hukum Peraturan Pemerintah RIS Nomor 21 Tahun 1950 Tentang Pembentukan Daerah Propinsi pada tanggal 14 Agustus 1950, yang membagi NKRI menjadi 10 daerah propinsi yaitu, 1.Jawa - Barat, 2.Jawa - Tengah, 3.Jawa - Timur, 4.Sumatera - Utara, 5.Sumatera - Tengah, 6.Sumatera - Selatan, 7.Kalimantan, 8.Sulawesi, 9.Maluku, 10.Sunda - Kecil setelah RIS telah dilebur menjadi NKRI pada tanggal 15 Agustus 1950. Begitu juga Seokarno dengan menetapkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No.5 tahun 1950 tentang pembentukan Propinsi Sumatera-Utara, yang termasuk didalamnya wilayah daerah Aceh yang melingkungi Kabupaten-Kabupaten 1. Aceh Besar, 2. Pidie, 3. Aceh-Utara, 4. Aceh-Timur, 5. Aceh-Tengah, 6. Aceh-Barat, 7. Aceh-Selatan dan Kota Besar Kutaraja masuk kedalam lingkungan daerah otonom Propinsi Sumatera-Utara.

Coba perhatikan, dimana Soekarno dengan hanya menetapkan PP RIS No.21/1950 pada tanggal 14 Agustus 1950, dan PERPU No.5/1950, maka hilang lenyap itu Negeri Aceh masuk kedalam mulut Sumatera Utara dan terus diremas melalui usus NKRI sampai detik sekarang ini.

Nah itulah saudara Agus Hermawan taktik dan strategi Soekarno dengan Negara RI yang kedaulatannya telah diserahkan kepada RIS pada tanggal 27 Desember 1949 bersamaan dengan Pemerintah Kerajaan Belanda mengakui kedaulatan RIS.

Jadi, apa yang dikatakan oleh saudara Agus Hermawan: "Kecuali kalau 16 negara bagian bikinan Belanda itu terbentuk sebelum proklamasi 17 agustus 45, nah, baru masuk akal kalau Soekarno itu mencaplok negara2 tersebut."

Eh, mimpi apa saudara Agus Hermawan mengatakan alasan tersebut diatas. Memangnya dari sejak tanggal 17 Agustus 1945 itu secara de-facto dan de-jure wilayah kekuasaan Negara RI Soekarno mencakup seluruh wilayah di Nusantara. Soekarno saja tidak mengklaim demikian, bahkan melakukan taktik dan strategi masuk kedalam RIS. Itu berarti bahwa Negara RI Soekarno harus kehilangan kedaulatannya karena diserahkan kepada RIS, tetapi tentu saja dibalik taktik dan strategi penyerahan kedaulatan RI kepada RIS, ternyata akan melakukan mencaplokan Negara-Negara Bagian RIS masuk kembali kedalam perut Negara RI, atau negara RI-Jawa-Yogya.

Taktik dan strategi penipu ulung dari RIS dan NKRI, itulah Soekarno yang dicoba oleh saudara Agus Hermawan untuk dicuci kelakuan busuknya. Mana bisa saudara Hermawan. Kelakuan dan akal bulus Soekarno tetap mengikuti sejarah kehidupan NKRI dan Negara RI atau Negara RI-Jawa-Yogya berwajah baru.

Nah seterusnya saudara Agus Hermawan mencoba mempertahankan kelakuan busuk Soekarno dengan mengatakan: "Kalau memang ada yg merasa Soekarno itu pinter nipu, saya kira berlebihan, dan memang orang bilang politik itu kotor, penuh tipu dan muslihat, berbagai cara akan ditempuh.termasuk menghalalkan segala cara. Salah satu contohnya, kita semua tahu bahwa menikahi non muslim itu haram hukumnya, apalagi menikahi seorang Yahudi, yg nota bene nya adalah musuh umat Islam, tapi demi politik dan lain sebagainya, pasti tidak akan dipedulikannya, Benar engga, kang?. Coba saya minta hadist atau ayat qur'an yg membolehkan kita menikahi wanita Yahudi, kalau ada".

Jelas, saudara Agus, saya sudah jelaskan diatas, bagaimana itu tipu muslihat dan akal licik Soekarno sehingga Negara-negara Bagian RIS dan Negeri Aceh bisa ditelan dan dicaplok masuk kedalam mulut RIS dan selanjutnya masuk kedalam usus NKRI dan tetap berada dalam perut Negara RI atau Negara RI-Jawa-Yogya sampai sekarang.

Eh, apapula membawa-bawa masalah "menikahi seorang Yahudi" haram.
Jelas, saudara Agus Hermawan, apakah saudara Agus tidak membaca itu istri-istri Rasulullah saw?. Dalam hal perkawainan dengan wanita Yahudi itu pernah saya kupas di mimbar ini, yaitu ketika Kolonel Laut Ditya Soedarsono mempertanyakan masalah persamaan dan perbedaan antara perkawinan Rasulullah dengan perempuan Yahudi dan perkawinan Teungku Hasan Muhammad di Tiro dengan wanita Yahudi.

Nah disini saya kupas lagi sedikit cerita mengenai pernikahan Rasulullah saw dengan perempuan Yahudi.

Ketika Rasulullah saw menyeru kaum muslimin untuk berperang dengan kaum Bani Mustaliq dari kaum Yahudi yang sangat menentang kaum muslimin. Ketika terjadi perang antara pasukan kaum muslimin dan Bani Mustaliq, pasukan kaum muslimin dapat melumpuhkan pasukan Bani Mustaliq. Sebagian pasukan Bani Mustaliq ada yang tertawan, termasuk salah seorang putri pemuka Bani Mustaliq yaitu Barrah, yang nama lengkapnya adalah Barrah binti al-Harris bin Dirar bin Habib bin Aiz bin Malik bin Juzaimah Ibnu al-Mustaliq. (Akmal Haji Mhd.Zain, Mohd.Shafwan Amrullah, Istri-istri Rasulullah, Pustaka Al-Mizan, Kuala Lumpur, 1989, hal.103). Dimana Barrah ini telah jatuh menjadi bahagian tawanan perang milik Sabit bin Qais. Karena Barrah ini seorang perempuan yang cerdik, ia meminta tebusan untuk dirinya agar bisa dibebaskan dari Sabit bin Qais, setelah diadakan pembicaraan, Sabit bin Qais meminta tebusan yang mahal. Tetapi, Barrah waktu itu langsung menemui Rasulullah untuk membicarakan masalah tebusan bagi dirinya. Kemudian Rasulullah pada waktu itu menyetujui membebaskan Barah dan menebusnya dari Sabit bin Qais dan terus menikahi Barrah dan Rasulullah mengganti nama Barrah menjadi Juwairiyah.

Kemudian terakhir itu saudara Agus Hermawan menyatakan: "Nah, kita ambil contoh sekarang, kalau wilayah Aceh itu dijadikan 16 negara bagian, misalnya negara Pidie, negara Aceh tengah..dll...dan misalnya GAM menang melawan Indonesia, pasti GAM itu akan melebur kembali 16 negara bagian bikinan Indonesia itu kembali, kan? Soalnya 16 negara bagian itu akan dianggap oleh GAM tidak syah, karena dulunya termasuk wilayah Aceh. Nah sekarang apa bedanya dengan wilayah Indonesia yg dipecah oleh si terkutuk Belanda tadi, kemudian diambil kembali oleh Soekarno ? "

Saudara Hermawan, itu Propinsi Aceh yang sekarang berada dalam NKRI telah dibagi kedalam 17 Kabupaten dan 4 Kota.

Kalau sekarang Negeri Aceh merdeka, jelas, itu seluruh rakyat Aceh dengan para pimpinannya yang akan membuat konstitusi atau UUD Negara Aceh, apakah bentuknya Negara Kesatuan, Negara federasi, Negara Islam, Kerajaan, itu semuanya akan dibicarakan nanti setelah Negeri Aceh merdeka lepas dari NKRI.

Jadi, soal berapa Kabupaten dan berapa Kota, atau berapa buah negara bagian ketika berada dibawah NKRI tidak menjadi persoalan. Karena nanti akhirnya rakyat Aceh bersama para pimpinan rakyat Aceh yang akan memutuskannya mau dijadikan bentuk apa Negara Aceh itu.

Contoh diatas yang saudara Agus buat itu tidak bisa disamakan dengan contoh pembentukan RIS, saudara Hermawan, jangan membuat pusing diri sendiri.

Begini, caranya kalau mau disamakan dengan cara pembentukan RIS dan diakui oleh Belanda.

Itu wilayah Propinsi Negeri Aceh yang terdiri dari 17 Kabupaten dan 4 Kota dibebaskan menjadi Negara Federasi Aceh, kemudian NKRI mengakui kedaulatan Negara Federasi Aceh ini.

Nah, selanjutnya, tahu-tahu ada satu Negara Bagian Federasi Aceh, misalnya Negara Aceh Besar yang dipimpin oleh model Soekarno, berusaha menelan Negara-Negara Bagian lainnya kedalam perut Negara Bagian Aceh Besar. Jelas, itu akan disebut pencaplokan, apalagi kalau Negara Bagian Aceh besar mencaplok pula Negeri yang berada diluar wilayah kekuasaan de-facto Negara Federasi Aceh, misalnya Negeri Sunda (anggap Negeri Sunda bebas dari NKRI). Jelas, itu namanya pencaplokan Negeri Sunda oleh Negara Federasi Aceh yang disponsori oleh Pemimpin Negara Aceh Besar yang semodel Soekarno.

Nah, begitu kalau mau memberikan contoh, saudara Hermawan. Jangan membuat bingung sendiri.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Thu, 25 Mar 2004 05:42:16 +0300
From: "Sadan AS (AgusHermawan) KUW" sadanas@equate.com
To: "Bambang Hutomo W." <bambang_hw@re.rekayasa.co.id>, "Ahmad Sudirman"
<ahmad@dataphone.se>, "Serambi Indonesia" <serambi_indonesia@yahoo.com>,"Aceh Kita" redaksi@acehkita.com
Subject: diskusi.

Masalah aman dan engga aman itu tergantung pada siapa dan dari kelompok mana. Kalau dari pengikut GAM, pasti merasa aman tanpa TNI dan POLRI, tapi kalau masyarakat yg anti GAM, pasti akan merasa tidak aman kalau tidak ada TNI dan POLRI.

Rasa aman itu bukannya harus di perdebatkan, tapi harus dirasakan. Orang2 GAM itu jangankan di Aceh yg sekarang sedang diburu sama TNI/POLRI dan RAIDER, yg pada diluar negri aja sudah mulai merasa tidak aman karena siapa tahu team Jaksa Swedia sepulang dari Aceh akan menangkap mereka. Ini bisa kita perhatikan dari grasak grusuknya berbagai komentar selama team Jaksa dari Swedia berada di Aceh.

Kang Dirman, coba kita berdiskusi lagi.

NKRI itu terbentuk setelah melewati beberapa periode, kita bahas satu persatu periode itu.

Periode pertama.
Semasa proklamasi, semua wilayah yg diklaim Soekarno, pada waktu itu tidak ada yg protes, termasuk Aceh, bahkan top leader bangsa Acehpun waktu itu menjadi pejabat RI ( Muhammad Hasan dan Teungku Daud Beureueh ). Berarti di Aceh itu setuju wilayahnya diklaim oleh Soekarno.karena kalau tidak setuju dan di Aceh waktu itu telah ada pemerintahan, pasti mereka akan protes saat itu juga.

===> silahkan kang dirman kasih komentar......

Periode kedua.
Periode saat penjajah Belanda datang lagi ke Indonesia,dan dengan politik adu domba, sipenjajah Belanda, membagi wilayah Indonesia menjadi beberapa negara bagian, dengan mengangkat para Inlander Busuk / pengkhianat bangsa sebagai presiden dari masing masing negara boneka
bikinan Belanda itu. Secara logika, tidak mungkin Belanda mengangkat mereka sebagai presiden
dari negara bonekanya, kalau mereka itu bukanlah anjing anjing penjilat pantat para penjajah Belanda.

===> silahkan kang dirman kasih komentar....

Periode ketiga.
Periode saat pembentukan RIS, dan ternyata setelah melalui berbagai permusyawarahan, akhirnya Soekarno jugalah yg diangkat menjadi Presiden RIS itu. Tanpa ada paksaan, tanpa ada ancaman atau todongan senjata, Soekarno juga yg mereka pilih sebagai Presiden RIS. Jadi secara kasarnya,mereka juga mengakui kepemimpinan soekarno itu lebih baik dari mereka ( para anjing penjilat Belanda ).

===> silahkan kang dirman kasih komentar...

Jadi Soekarno itu tidak bisa dikatakan mencaplok, menjajah, menduduki bekas negara boneka bikinan si Iblis penjajah Belanda....tapi Soekarno itu mengambil kembali wilayah negara RI yg sudah dipecah belah oleh si Iblis Belanda. Kecuali kalau 16 negara bagian bikinan Belanda itu
terbentuk sebelum proklamasi 17 agustus 45, nah, baru masuk akal kalau Soekarno itu mencaplok negara2 tersebut.

===> silahkan kasih komentar, kang Ahmad...

Kalau memang ada yg merasa Soekarno itu pinter nipu, saya kira berlebihan, dan memang orang bilang politik itu kotor, penuh tipu dan muslihat, berbagai cara akan ditempuh.termasuk menghalalkan segala cara. Salah satu contohnya, kita semua tahu bahwa menikahi non muslim itu haram hukumnya, apalagi menikahi seorang Yahudi, yg nota bene nya adalah musuh umat Islam, tapi demi politik dan lain sebagainya, pasti tidak akan dipedulikannya, Benar engga, kang?.

Coba saya minta hadist atau ayat qur'an yg membolehkan kita menikahi wanita Yahudi, kalau ada....

Nah, kita ambil contoh sekarang, kalau wilayah Aceh itu dijadikan 16 negara bagian, misalnya negara Pidie, negara Aceh tengah..dll...dan misalnya GAM menang melan Indonesia, pasti GAM itu akan melebur kembali 16 negara bagian bikinan Indonesia itu kemabli, kan? Soalnya 16 negara bagian itu akan dianggap oleh GAM tidak syah, karena dulunya termasuk wilayah Aceh....

Nah sekarang apa bedanya dengan wilayah Indonesia yg dipecah oleh si terkutuk Belanda tadi, kemudian diambil kembali oleh Soekarno ?

===> silahkan kang kasih komentar.....

Agus Hermawan

sadanas@equate.com
Kuwait
----------