Stockholm, 26 Maret 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

MIRZA ITU ACEH BUKAN INTEGRASI KEDALAM RIS & NKRI TETAPI DICAPLOK RIS-SOEKARNO DAN DITELAN NKRI
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.
 

MIRZA JANGAN MENIPU RAKYAT ACEH ITU NEGERI ACEH BUKAN INTEGRASI KEDALAM RIS & NKRI TETAPI DICAPLOK RIS-SOEKARNO DAN DITELAH NKRI

"Saya ingin mengibaratkan bahwa, Integrasi Aceh dan RI ibarat sebuah perkawinan ibarat Hasan Tiro mengawini perempuan yahudi, kan tidak bisa kemudian Anda mengatakan bahwa Hasan Tiro menjadikan istrinya yang perempuan yahudi itu sebagai jajahannya, dan sebaliknya istrinya hasan tiro yang perempuan yahudi itu menjajah Hasan Tiro walaupun kemudian mereka cerai tidak juga anda bisa mengatakan hasan tiro merdeka dari istrinya dan istrinya merdeka dari Hasan Tiro. Integrasi Aceh dan RI bisa juga diibaratkan sebagai sebuah perkawinan dan yang minta kawin dulu juga sesepuh dan tokoh Aceh Teungku Daud Beureueh, yang secara de facto adalah penguasa Aceh saat itu dan dalam perkawinan itu Aceh adalah pihak yang memodali bangsa ini, tak tak seorangpun membantah hal itu bukan." (Teuku Mirza , teuku_mirza2000@yahoo.com ,Fri, 26 Mar 2004 02:10:35 -0800 (PST))

Baiklah Teuku Mirza di Jakarta, Indonesia.

Rupanya Teuku Mirza mau menipu rakyat Aceh dengan mengatakan: "Integrasi Aceh dan RI ibarat sebuah perkawinan ibarat Hasan Tiro mengawini perempuan yahudi, kan tidak bisa kemudian Anda mengatakan bahwa Hasan Tiro menjadikan istrinya yang perempuan yahudi itu sebagai jajahannya"

Eh, Teuku Mirza kalau berbicara di mimbar bebas ini jangan seenak udel. Mana itu Negeri Aceh berintegrasi dengan RI, RIS & NKRI.

Jangan menipu seluruh rakyat Aceh dan seluruh rakyat di NKRI, Teuku Mirza.
Apakah tidak membaca bahwa itu kedaulatan RI diserahkan kepada RIS pada tanggal 27 Desember 1949, Teuku Mirza, otak kosong terkena racun pancasila.

Darimana Teuku Mirza mengetahui bahwa Negeri Aceh kawin dengan RI Soekarno. Tidak ada itu surat kawinnya, Teuku Mirza jangan hanya menipu dengan akal bulus mengikut ekor Soekano dan buntut Mbak Megawati saja.

Itu Teuku Mirza yang namanya Negara RI sudah hilang kedaulatannya pada tanggal 27 Desember 1949, ketika menjadi Negara bagian Republik Indonesia Serikat (RIS) bersamaan Belanda mengakui kedaulatan RIS pada tanggal 27 Desember 1949.

Jadi jangan disamakan, diserahkannya kedaulatan RI kepada RIS dan masuk menjadi anggota Negara Bagian RIS, dengan perkawinan Teungku Hasan Muhammad di Tiro dengan Dora.

Bagaimana otak Teuku Mirza ini ? Apakah dengan ilmu yang didapat dari Universitas Indonesia bisa dipakai menipu rakyat Aceh dan rakyat di NKRI mengenai pencaplokan dan penjajahan Negeri Aceh oleh Presiden RIS Soekarno?

Itu Teuku Mirza, ketika RI diserahkan kedaulatannya kepada RIS pada tanggal 27 Desember 1949, maka hilang lenyaplah kekuasaan RI secara de-facto dan de-jure yang bedaulat. Yang ada adalah kekuasaan didalam RIS, urusan keluar harus melalui Pemerintah Federal RIS.

Jadi, Teuku Mirza, kalau mau menipu itu harus berpikir dahulu. Itu kalau menipu dihadapan rakyat Aceh bahwa Negeri Aceh berintegrasi dengan RI, itu sama saja dengan membohongi diri sendiri dan menunjukkan kekosongan otak Teuku Mirza yang sudah terkena racun pancasila hasil kocekan Soekarno penipu ulung dalam RIS dan dalam NKRI.

Sudahlah otak kosong terkena penyakit pancasila yang terkena racun Soekarno, ditambah lagi mau mencoba memberikan sejarah dasar hukum integrasi Negeri Aceh dengan RI Soekarno penipu ulung, wah, betul-bnetul ini yang namanya Teuku Mirza, makin melantur dalam membicarakan fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah kalau bercerita tentang Negeri Aceh.

Itu, RIS dan Negara-Negara Bagiannya mana ada itu Negeri Aceh didalamnya. Oh, itu ada didalam tubuh RI yang sudah tidak berdaulat ?

Ah, Teuku Mirza jangan mimpi, itu ketika Negara RI menyerahkan kedaulatannya kepada RIS pada tanggal 27 Desember 1949 masih berlaku dasar hukum perjanjian Renville, dimana daerah kekuasaan wilayah de-facto dan de-jure Negara RI itu adalah di Yogyakarta dan sekitarnya.

Jadi, Teuku Mirza, jangan seenak perut mengatakan bahwa Negeri Aceh berintegrasi dengan RI. Kapan Negeri Aceh berintegrasi dengan Negara RI Soekarno atau Negara RI 17 Agustus 1945 atau Negara RI-Jawa-Yogya ?

Teuku Mirza yang otaknya kosong pengekor Soekarno dan pembeo buntut Mbak Megawati.

Itu setelah ditandatangani dasar hukum Perjanjian Renville 17 Januari 1948 oleh Perdana Mentri Mr. Amir Sjarifuddin dari Kabinet Amir Sjarifuddin, yang disaksikan oleh H.A. Salim, Dr.Leimena, Mr. Ali Sastroamidjojo pihak RI, yang sebagian isinya menyangkut gencatan senjata disepanjang garis Van Mook dan pembentukan daerah-daerah kosong militer. Dimana secara de jure dan de facto kekuasaan RI hanya sekitar daerah Yogyakarta saja. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara RI, 1986, hal.155,163)

Yang namanya Negara RI atau Negara RI Soekarno atau Negara RI 17 Agustus 1945 wilayah kekuasaannya secara de-facto dan de-jure di Yogyakarta dan sekitarnya saja.

Jadi, Teuku Mirza, pengekor Soekarno penipu ulung, itu Negeri Aceh berada diluar daerah wilayah kekuasaan de-facto dan de-jure Negara RI.

Nah sekarang, setelah Perjanjian Renville 17 Januari 1948 mau diklaim bahwa Negeri Aceh berintegrasi dengan Negara RI atau Negara RI Soekarno ?
Eh, Teuku Mirza, cuci muka dulu.

Oh, itu berdasarkan kepada cerita yang dibuat Teuku Mirza: "Integrasi Aceh dan RI bisa juga diibaratkan sebagai sebuah perkawinan dan yang minta kawin dulu juga sesepuh dan tokoh Aceh Teungku Daud Beureueh, yang secara de facto adalah penguasa Aceh saat itu dan dalam perkawinan itu Aceh adalah pihak yang memodali bangsa ini, tak tak seorangpun membantah hal itu bukan?"

Eh, Teuku Mirza otak kosong kena racun pancasila hasil utak-atik Soekarno.
Saya yang membantahnya. Itu tidak benar secara hukum bahwa Negeri Aceh menjadi bagian Negara RI.

Coba atas dasar hukum apa itu Negeri Aceh berintegrasi dengan Negara RI ?

Berdasarkan dasar hukum Perjanjian Linggajati 25 Maret 1947 yang ditandatangani di Istana Rijswijk, sekarang Istana Merdeka, Jakarta, oleh Sutan Sjahrir, Mr.Moh.Roem, Mr.Soesanto Tirtoprodjo, dan A.K.Gani, Prof.Schermerhorn, Dr.van Mook, dan van Poll, yang isinya secara de facto RI dengan wilayah kekuasaan yang meliputi Sumatra, Jawa, dan Madura. RI dan Belanda akan bekerja sama dalam membentuk Negara Indonesia Serikat, dengan nama RIS, yang salah satu negara bagiannya adalah RI. RIS dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia-Belanda dengan Ratu Belanda selaku ketuanya. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara RI, 1986, hal.119,138)

Jangan mimpi, Teuku Mirza, setelah Perjanjian Linggajati 25 Maret 1947 ditandatangani sampai dilaksanakannya Perjanjian Renville 17 Januari 1948, tidak ada itu perjanjian integrasi Negeri Aceh dengan pihak RI Soekarno.

Coba, tunjukkan kepada saya dasar hukum perjanjian integrasi antara Negeri Aceh dengan Negara RI Soekarno ?

Jawabnya, Teuku Mirza, perjanjian integrasi antara Negeri Aceh dan Negara RI tidak ada, Teuku Mirza, jangan menjadi seorang penipu mengikuti penipu ulung Soekarno dan Mbak Megawati dari PDI-P.

Kemudian setelah ditandatangani dasar hukum Perjanjian Renville 17 Januari 1948. Mana ada lagi wilayah kekuasaan secara de-facto dan de-jure Negara RI sampai keluar dari wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Tidak ada, Teuku Mirza, jangan sok pandai menipu rakyat Aceh dan rakyat di NKRI.

Nah, Teuku Mirza. Itu Negeri Aceh baru masuk kedalam perut RIS pada tanggal 14 Agustus 1950 setelah Presiden RIS Soekarno menelan dan mencaplok Negeri Aceh melalui mulut Propinsi Sumatera Utara dengan cara menetapkan dasar hukum Peraturan Pemerintah RIS Nomor 21 Tahun 1950 Tentang Pembentukan Daerah Propinsi oleh Presiden RIS Soekarno yang membagi NKRI menjadi 10 daerah propinsi yaitu, 1.Jawa - Barat, 2.Jawa - Tengah, 3.Jawa - Timur, 4.Sumatera - Utara, 5.Sumatera - Tengah, 6.Sumatera - Selatan, 7.Kalimantan, 8.Sulawesi, 9.Maluku, 10.Sunda - Kecil apabila RIS telah dilebur menjadi Negara RI-Jawa-Yogya. Dan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No.5 tahun 1950 tentang pembentukan Propinsi Sumatera-Utara, yang termasuk didalamnya wilayah daerah Aceh yang melingkungi Kabupaten-Kabupaten 1. Aceh Besar, 2. Pidie, 3. Aceh-Utara, 4. Aceh-Timur, 5. Aceh-Tengah, 6. Aceh-Barat, 7. Aceh-Selatan dan Kota Besar Kutaraja masuk kedalam lingkungan daerah otonom Propinsi Sumatera-Utara, tanpa kerelaan, keikhlasan, dan persetujuan seluruh rakyat Aceh dan pemimpin rakyat Aceh.

Hai, Teuku Mirza, apa reaksi Teungku Muhammad Daud Beureueh dengan pencaplokan Negeri Aceh oleh Presiden RIS Soekarno dan diteruskan oleh Presiden NKRI Soekarno yang ilegal ini ?

Jelas, itu lahirnya Proklamasi Negara Islam Indonesia pada tanggal 20 september 1953 yang menyatakan: "Dengan Lahirnja Peroklamasi Negara Islam Indonesia di Atjeh dan daerah sekitarnja, maka lenjaplah kekuasaan Pantja Sila di Atjeh dan daerah sekitarnja, digantikan oleh pemerintah dari Negara Islam."

Hai, Teuku Mirza, yang diproklamasikan oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh itu adalah dasar hukum yang menyatakan bahwa Negeri Aceh dengan NII-nya telah berdiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI Soekarno.

Jadi, model begitu yang dinamakan integrasi Negeri Aceh kedalam Negara RI seperti yang dikatakan olehTeuku Mirza: "Integrasi Aceh dan RI bisa juga diibaratkan sebagai sebuah perkawinan dan yang minta kawin dulu juga sesepuh dan tokoh Aceh Teungku Daud Beureueh, yang secara de facto adalah penguasa Aceh saat itu dan dalam perkawinan itu Aceh adalah pihak yang memodali bangsa ini".

Ah, jangan menipu terus menerus Teuku Mirza yang otaknya kosong terserang racun pancasila hasil utak-atik Soekarno.

Jadi, tidak benar itu Negeri Aceh berintegrasi dengan Negara RI. Yang benar adalah Negeri Aceh ditelan, dicaplopk, diduduki dan dijajah oleh Presiden Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1950 yang diteruskan sampai detik ini oleh Presiden NKRI Megawati.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Fri, 26 Mar 2004 02:10:35 -0800 (PST)
From: teuku mirza teuku_mirza2000@yahoo.com
Subject: Re: kemerdekaan acheh hanya ditakuti oleh pelaku/penganjur/pendukung penjajahan
To: shahen fasya <rimueng_acheh@yahoo.com>, melpone2002@yahoo.com
Cc: ahmad@dataphone.se, tang_ce@yahoo.com

Anda benar sekali fasya 100% benar buat Anda bahwa korban konflik adalah rakyat Aceh bukan Hasan Tiro, bukan Zaini Abdullah, bukan Zakaria Saman dan bukan Malek Mahmud.....tapi tukang tukang keude kopi lampouh jerat, petani kecil di ujung pacu, nelayan di Idi Rayeuk dan lain tempat di Aceh...mereka terjepit di antar dua kekuatan, TNI dan GAM....

Saya ingin mengibaratkan bahwa, Integrasi Aceh dan RI ibarat sebuah perkawinan ibarat Hasan Tiro mengawini perempuan yahudi, kan tidak bisa kemudian Anda mengatakan bahwa Hasan Tiro menjadikan istrinya yang perempuan yahudi itu sebagai jajahannya, dan sebaliknya istrinya hasan tiro yang perempuan yahudi itu menjajah Hasan Tiro walaupun kemudian mereka cerai tidak juga anda bisa mengatakan hasan tiro merdeka dari istrinya dan istrinya merdeka dari Hasan Tiro.

Perceraian itu sesuatu yang yang lumrah, kalo kelemahannya ada di Hasan Tiro bisa istrinya yang gugat cerai dan sebaliknya...kalo urusan perceraian mah gampang yach, aku menceraikan kamu, sudah jatuh talak

Integrasi Aceh dan RI bisa juga diibaratkan sebagai sebuah perkawinan dan yang minta kawin dulu juga sesepuh dan tokoh Aceh Teungku Daud Beureueh, yang secara de facto adalah penguasa Aceh saat itu dan dalam perkawinan itu Aceh adalah pihak yang memodali bangsa ini, tak tak seorangpun membantah hal itu bukan ?

Sekarang orang Aceh minta cerai (katakanlah begitu), karena kesalahan pemerintah RI mengelola rumah tangga, tapi proses perceraiannya itu tak semua bercerainya hasan tiro Ide pemisahan Aceh telah memakan ribuan korban tanpa kita tau apa maknanya setelah pisah ?

Apakah Aceh kemudian masih dalam peta sebagaimana propinsi NAD sekarang ini atau akan pecah lagi menjadi Gayo, Alas dan Tamiang ? atau malah pecah lagi sehingga muncul konflik antara Pidie dan Aceh Besar, antara Pidie dan Peusangan dan sebagainya yang tidak pernah terbayangkan oleh kita saat ini secara laten bahaya itu ada cing !

Sekali lagi, pemisahan Aceh dari Indonesia tidak semudah perceraian hasan tiro ! Apa yang Anda harapkan dari gerombolan hasan tiro hah, kekuatan militer ? Diplomasi ? atau apa ?

Kalo Anda meminta-minta referendum seperti Asemmmah tuntut, sampe musang bertanduk pun tak akan diberi. Kalo Anda mau menuntut pemisahan Aceh dari Indonesia Anda kudu punya kekuatan militer yang baik, punya mental tempur laksana baja, kalo sekarang mental-mental GAM itu masih mental penyamun. abis rampok lari, Anda juga harus punya kekuatan diplomasi yang kuat, kalo sekarang ini Diplomasi GAM adalah Diplomasi kerupuk jangek, kena angin melempen apalagi kena hujan.

Sadar dirilah, dulu DI /TII yang didukung penuh rakyat Aceh, sementara RI dan TNI belum sekuat sekarang ini dan peluang pengakuan internasional masih besar toh hasilnya tidak ada. gagal total!

Apa lagi sekarang ? Sadar nyuk !

Jangan habiskan waktu Anda untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, apalagi mengorbankan harta dan nyawa oarang lain untuk ambisi segentir orang-orang macam Anda, kasian orang-orang di empat-tempat yang Anda sebutkan tadi.

Seandainya konflik ini tidak ada, dimana salah satu daerah yang Anda sebutkan tadi adalah kampung halaman saya, tentu tidak perlu TNI/Polri ada disana Anda tidak perlu menyebut daerah itu satu per satu, karena tidak akan dikenal oleh sebagian besar member milist ini. Jadi logikanya tak perlu ada korban kalo tak ada konflik....dan sebagian orang Aceh juga tak pernah mengerti apa dasar ideologi dari konflik ini ? Moro, Palestina, Chechnya dan Khasmir itu jelas dan sangat jelas tidak ada kesia-siaan di dalamnya.kalo harus mati dalam konflik itu pahala sahid imbalannya. Tapi di Aceh. mati konyol ! kalo mati dalam perjuangan GAM oleh hasan tiro dia bilang sahid, saya ingin tanya juga ? Hasan Tiro belajar ngaji di mana ?

Kalo dia bisa menjelaskan logika sahid anggota GAM saya akan panggil hasan tiro ini sebagai syech hasan tiro atas kedalaman ilmu agama beliau he hee hee, tapi yang masuk akal jelasinnya ya

Kalo Anda merasa kurang berkembang di negeri sendiri, jangan cermin dibelah karena rupa Anda yang rusak, bekerjalah lebih keras, dan yakin insya Allah Anda akan diberi jalan oleh Allah.

Miskinnya orang Aceh di Aceh, ibarat ayam mati di lumbung padi padahal orang-orang Trans sebelum konflik dengan modal lahan 2 hektar dan dukungan sembako selama 6 bulan, 5 tahun kemudian mereka menjadi petani-petani kaya yang berhasil

Program PIR di julok, sebuah program yang sangat bagus yang melibatkan masyarakat lokal, kok banyak gagalnya, kasusnya, gitu dapat lahan oleh penduduk lokal kebanyakan lahannya dijual, karena malas bekerja. Jadi faktor mental yang membuat kebanyakan orang itu miskin, jadi kemiskinan di Aceh itu agak sulit untuk dijelaskan akhirnya kita mengatakan orang itu miskin karena dia miskin toh siapa yang harus di salahkan ?

Jadi. soal Aceh juga jangan semata-mata menyalahkan pemerintah pada beberapa sisi ada yang benar dan pada banyak sisi ada yang salah. Anda semua diberi kesempatan yang sama, Anda juga tidak tuntut membayar pajak lebih besar karena Anda orang Aceh, kan nggak demikian ? semua peluang sama kok ada orang Aceh yang jenderal penuh, ada yang letnan jenderal, ada yang mayor jenderal dan banyak yang kolenel, ada orang Aceh yang professor, ada juga yang pengusaha kaya, ada juga yang politisi benar dan ada juga politisi busuk

Jadi kalo Anda berjuang untuk pemisahaan diri itu hak Anda tapi jangan jadikan rakyat kecil jadi korban yaaaaa. banyak juga orang Aceh yang ingin hidup tenang kok, bukan hidup senang, bisa bekerja dan berusaha tanpa diganggu konflik yang tidak pernah mereka mengerti.

Wassalam

Teuku Mirza

teuku_mirza2000@yahoo.com
Universitas Indonesia
Jakarta, Indonesia
----------