Stockholm, 26 Maret 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

RAKYAT ACEH MENYATAKAN NKRI BELUM FINAL TETAPI PIHAK NKRI MENYATAKAN TELAH FINAL
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS ADA PERBEDAAN DIMANA RAKYAT ACEH MENYATAKAN NKRI BELUM FINAL TETAPI PIHAK NKRI MENYATAKAN TELAH FINAL

"Bapak Ahmad Sudirman yang saya hormati. Menanggapi tulisan bapak saya menjadi bingung, karena maksud TNI membeli sukhoi adalah untuk mempertahankan negara ini dari gangguan negara-negara lain, bukan untuk menyerang rakyat aceh. Dan ternyata sampai sekarangpun tulisan bapak tersebut ternyata tidak terbukti bahwa pesawat tempur sukhoi digunakan untuk menyerang rakyat aceh. Tetapi malah di tempatkan di skadron udara di Makassar untuk menghalau kapal-kapal asing masuk wilayah NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia bukannya RI-Jawa -Jogjakarta seperti yang terdapat ditulisan bapak) tanpa ijin. Dan pula kalau memang bapak ingin membela rakyat aceh, mengapa bapak tidak berjuang bersama-sama rakyat Aceh, malah bapak berdiam diri di Swedia dan hanya mengompori rakyat Aceh agar melawan kepada pemerintah tanpa bapak sendiri turun tangan melawan TNI di Aceh." ( Rusmanto Ismail , toto_wrks@yahoo.com ,Fri, 26 Mar 2004 00:44:59 -0800 (PST))

Terimakasih untuk saudara Rusmanto Ismail di Universitas Trisakti, Jakarta, Indonesia.

Memang pada tanggal 11 Juli 2003 pernah saya menulis "Megawati gunakan sukhoi, helikopter MI-35, khalasnikov cengkeram Aceh dan Papua" ( http://www.dataphone.se/~ahmad/030711a.htm ).

Dimana saya mengatakan bahwa ketika Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto menjalankan senjata Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang dikeluarkan pada tanggal 18 Mei 2003 dan diberlakukan pada tanggal 19 Mei 2003 selama 6 bulan pada tanggal 19 Juni 2003 dengan mengerahkan TNI darat, dan udara menggunakan senjata-senjata buatan US, pesawat udara OV-10 Bronco dan Hercules C-130, maka akibatnya cukup fatal bagi Presiden Megawati dan Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto. Mengapa?

Karena pada tanggal 26 Juni 2003 Senat US mengirimkan surat kepada Presiden Geore Bush yang sebagiannya isi menyatakan: "We are writing to express deep concern about the offensive launched by the Indonesian military on May 19, 2003 against separatist rebels in the northern province of Aceh and reports of human rights abuses against civilians and non-governmental organizations. The offensive -- the largest military operation since the invasion of East Timor in 1975 - has already resulted in mass atrocities reportedly being committed against civilians by the Indonesian military, including extrajudicial execution, torture, arbitrary detention and rape. Journalists have been barred from most of these areas. Particularly troubling are reports that U.S.-supplied weapons have been used against Indonesian citizens. OV-10 Bronco counter-insurgency aircraft have reportedly been used in assaults on villages outside of Banda Aceh, and C-130 Hercules transport planes have been used to drop paratroopers on the first day of the operation." ." ( [030628] Politik luar negeri GAM berhasil terobos jeruji besi Senat dan Kongres Amerika , http://www.dataphone.se/~ahmad/030628.htm )

Kemudian untuk menghindari embargo pesawat dan senjata dari US, maka pihak NKRI mencari Negara lain yang bisa menjual pesawat tempur dan senjata tanpa embargo dikemudian hari.

Ternyata pihak NKRI telah menemukan Negara yang bisa menjual pesawat tempur dan senjata tanpa adanya ketakutan akan diembargo, yaitu Negara Rusia. Pada tanggal 20-24 April 2004 ketika Presiden Megawati mengunjungi Rusia telah telah diadakan perjanjian antara Rusia dan NKRI yang menyangkut "...the development of trade and economic relations, military cooperation and cooperation in struggle against international terrorism .." ( http://www.itar-tass.com/different/hotnews/english/279143.html )

Nah ketika pihak NKRI membeli pesawat tempur sukhoi SU-27 SK, SU-30 MK, dan helikopter NI-35 P dan kalau dipergunakan oleh pihak Presiden Megawati Cs untuk menumpas teroris, maka tidak akan mendapat kecaman dari pihak pemerintah Putin, karena memang pembelian pesawat tempur sukhoi tersebut dalam rangka "struggle against international terrorism".

Hanya saja yang dimaksud dengan "struggle against international terrorism" bagi pihak NKRI adalah menghadapi para pejuang gerilyawan Aceh dibawah komando Teungku Muhammad Hasan di Tiro, dan para gerilyawan dari Irian Barat atau Papua. Sedangkan bagi pihak Rusia adalah menghadapi para pejuang gerilyawan kemerdekaan dari wilayah yang sedang diduduki Rusia yaitu para pejuang gerilyawan Chechnya.

Kemudian, kalau itu pesawat tempur sukhoi belum dipergunakan di Negeri Aceh, atau di daerah Papua, jelas itu hanya menunggu waktu saja. Karena perang di Negeri Aceh adalah perang yang berkepanjangan dan tidak ada targetnya.

Kemudian menyingung apa yang dikatakan oleh saudara Rusmanto: "Dan pula kalau memang bapak ingin membela rakyat aceh, mengapa bapak tidak berjuang bersama-sama rakyat Aceh, malah bapak berdiam diri di Swedia dan hanya mengompori rakyat Aceh agar melawan kepada pemerintah tanpa bapak sendiri turun tangan melawan TNI di Aceh."

Nah disini, pihak rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasibnya sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan negara Pancasila atau NKRI telah menjalankan taktik dan strategi yang menyangkut perjuangan yang mengarah kedalam yang berupa bentuk pertahanan diri dan membangun benteng yang mengarah kepada penentuan pendapat bagi seluruh rakyat Aceh di negeri Aceh. Kemudian yang menyangkut perjuangan yang mengarah keluar yang berupa bentuk pembangunan benteng diplomasi dan menggalang opini di luar negeri untuk menekan pihak NKRI baik dalam bentuk pelangaran hak-hak asasi manusia maupun pelanggaran secara militer.

Selanjutnya di Negeri Aceh bukan lagi terjadi perang secara konventional, melainkan telah menjadi perang modern. Artinya perang yang menyangkut disemua jurusan. Dimana perang modern sekarang ini adalah pertamakalinya dilancarkan di Negeri Aceh. Dimana pihak NKRI telah menyadarinya dan telah menjalankannya.

Seterusnya dalam perang modern ini, saya akan datang ke Negeri Aceh apabila:

Pertama, telah dicabut dasar hukum Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang dikeluarkan pada tanggal 18 Mei 2003 dan diberlakukan pada tanggal 19 Mei 2003, serta telah diperpanjang pada 19 November 2003 dan dasar hukum Keputusan Presiden Republik Indonesia selaku Penguasa Darurat Militer Pusat Nomor 43 Tahun 2003 Tentang Pengaturan kegiatan Warga Negara Asing, Lembaga Swadaya Masyarakat dan Jurnalis di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang ditetapkan dan diundangkan di Jakarta pada tanggal 16 Juni 2003.

Kedua, seluruh rakyat Aceh di Negeri Aceh telah diberikan kebebasan untuk menentukan sikap dan suaranya dalam bentuk penentuan pendapat atau referendum guna memilih dua opsi, yaitu opsi YA bebas dari NKRI dan opsi TIDAK bebas dari NKRI.

Nah itulah dua persyaratan yang saya ajukan. Mengapa ?

Karena saya tidak mau ditipu oleh kelicikan dan akal bulus pihak Penguasa NKRI dibawah pimpinan Presiden Megawati dan pihak DPR dibawah pimpinan Ketua DPR Akbar Tandjung, serta oleh pihak MPR dibawah pimpinan Ketua MPR Amien Rais.

Rakyat Aceh telah menyadari bahwa Negeri-nya telah ditelan, dicaplok, diduduki dan dijajah oleh pihak NKRI dari sejak Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1950 dan dipertahankan sampai sekarang ini oleh pihak Presiden Megawati.

Masalahnya pihak NKRI menganggap bahwa Negeri Aceh yang dirampok dan dijajah oleh NKRI itu telah menjadi milik NKRI, dan menganggap bahwa NKRI sudah final. Padahal sebenarnya NKRI belum final.

Nah disinilah adanya perbedaan. Penyamun NKRI menganggap Negeri yang dirampoknya itu telah menjadi milik mereka. Sedangkan rakyat Aceh menganggap bahwa Negerinya masih tetap dalam genggaman dan kurungan NKRI.

Nah untuk penyelesaian jalan keluarnya, yang terbaik, jujur, adil dan bijaksana, adalah dengan menyerahkan seluruh penyelesaian konflik Aceh ini kepada seluruh rakyat Aceh di negeri Aceh untuk menentukan penentuan pendapat, agar bisa mengungkapkan pikiran dan suaranya dalam dua pilihan, YA bebas dari NKRI atau TIDAK bebas dari NKRI.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Fri, 26 Mar 2004 00:44:59 -0800 (PST)
From: Rusmanto Ismail toto_wrks@yahoo.com
Subject: Tanggapan
To: ahmad@dataphone.se

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Bapak Ahmad Sudirman yang saya hormati.

Menanggapi tulisan bapak saya menjadi bingung, karena maksud TNI membeli sukhoi adalah untuk mempertahankan negara ini dari gangguan negara-negara lain, bukan untuk menyerang rakyat aceh. Dan ternyata sampai sekarangpun tulisan bapak tersebut ternyata tidak terbukti bahwa pesawat tempur sukhoi digunakan untuk menyerang rakyat aceh. Tetapi malah di tempatkan di skadron udara di Makassar untuk menghalau kapal-kapal asing masuk wilayah NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia bukannya RI-Jawa -Jogjakarta seperti yang terdapat ditulisan bapak) tanpa ijin.

Dan pula kalau memang bapak ingin membela rakyat aceh, mengapa bapak tidak berjuang bersama-sama rakyat Aceh, malah bapak berdiam diri di Swedia dan hanya mengompori rakyat Aceh agar melawan kepada pemerintah tanpa bapak sendiri turun tangan melawan TNI di Aceh.

Kalau demikian tindakan bapak adalah tindakan seorang pengecut yang hanya menyuruh orang lain agar melawan pemerintahan yang sah tetapi bapak sendiri hanya duduk menonton dilayar TV mengenai perjuangan dan penderitaan rakyat Aceh. Bukankah hal ini sangat bertentangan dengan nilai kemanusiaan bahwa bapak ternyata bersenang-senang diatas penderitaan orang lain.

Lagi pula saat ini masyarakat Aceh sudah sadar bahwa mengikuti GAM (Gerakan Aceh Merdeka) adalah sangat tidak menguntungkan, terjadi kekerasan dan penculikan, pemerasan dan pembunuhan terjadi dimana-mana, dan rakyat merasa diteror setiap hari. Kalau untuk mendirikan negara Aceh merdeka saja harus melakukan pemerasan terhadap rakyat, bagaimana kalau GAM sudah merdeka, pasti GAM akan memeras semua hasil yang dimiliki oleh rakyat Aceh, dan kalau ini terjadi bukankah rakyat aceh semakin terpuruk?

Bapak ahmad Sudirman yang terhormat, saya hanya ingin menasehati anda kalau memang anda jantan dan berani, kalau memang anda mencintai Aceh, segeralah pulang ke Aceh dan berjuang bersama-sama rakyat Aceh, jangan pernah takut mati karena ditembak oleh TNI karena mati itu telah ditakdirkan oleh allah SWT seperti ayat berikut: Kuluu nafsin jaaikatul maut, yang artinya setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati

Demikian tangapan saya atas tulisan bapak.

Wassalamualaikum Wr. Wb

Rusmanto

Penulis adalah Mahasiswa Semester 8 STMT Trisakti
Jurusan Manajemen Transportasi Laut dan Kepelabuhanan.
toto_wrks@yahoo.com
Jakarta, Indonesia
----------