Stockholm, 29 Maret 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.

NUGROHO ITU AKAR MASALAH KRISIS ACEH BUKAN SALAH URUS DAN EFEK POLITIK
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

JELAS NUGROHO DWI PRIYOHADI ITU AKAR MASALAH KRISIS ACEH BUKAN SALAH URUS DAN EFEK POLITIK

"Pak, saya baca homepage/artikel Anda, dan saya menjadi sedih karenanya. Sama seperti yg terjadi ketika saudara tercinta saya, Syeh Ahmad Yassin gugur sebagai syuhada di Palestina. Saya ini muslim, Pak, (meskipun) saya ini bersuku Jawa. Saya kurang mengerti mengapa ada artikel Bapak yang "menyudutkan" orang Jawa. Apa Islam mengajarkan bahwa satu suku melebihi suku lain? Bukankah ini hizbiyah yg sangat ditentang Rasulullah? Pak, saya ini bukan politisi. Saya hanya ingin menyampaikan, bahwa kesedihan itu - kalau Bapak juga sedih -, saya juga merasakan. Saudara saya di Aceh sedang ditimpa musibah, atau cobaan, dan semuanya berpangkal pada salah urus dan efek politik. Saya cukup kenal Bapak Teuku Jacob yang mantan rektor UGM, beliau juga orang Aceh. Beliau dikenal sebagai ilmuwan yang handal. Beliau tinggal di Jogja, dan aman-aman saja meskipun di sana adalah salah satu pusat budaya Jawa." (Nugroho Dwi Priyohadi, s05029@wmu.se , Sun, 28 Mar 2004 20:15:48 +0200)

Terimakasih saudara Nugroho Dwi Priyohadi di Indonesia.

Baiklah saudara Nugroho Dwi Priyohadi.

Ketika saudara Nugroho mengatakan: "Saya kurang mengerti mengapa ada artikel Bapak yang "menyudutkan" orang Jawa. Apa Islam mengajarkan bahwa satu suku melebihi suku lain? Bukankah ini hizbiyah yg sangat ditentang Rasulullah?"

Saudara Nugroho, rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI menuntut Negeri Aceh yang telah ditelan, dicaplok, diduduki, dan dijajah oleh Presiden RIS Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1950 dan diteruskan oleh NKRI pada tangal 15 Agutsus 1950 yang dipertahankan sampai detik sekarang ini oleh Presiden NKRI Megawati agar segera dikembalikan lagikepada seluruh rakyat Aceh.

Saudara Nugroho, saya mengatakan: "itu penelanan, pencaplokan, pendudukan, dan penjajahan Negeri Aceh oleh pihak Soekarno cs, Soeharto cs, BJ Habibie cs, Abdurrahman Wahid cs, dan Megawati cs bersama TNI/POLRI/RAIDER-nya yang menimbulkan sikap dan gelora kesadaran untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI."

Juga Saudara Nugroho, saya mengatakan: "itu penelanan, pencaplokan, pendudukan, dan penjajahan Negeri Aceh oleh pihak Presiden RIS Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1950 dengan menggunakan PP RIS No.21/1950 dan PERPU No.5/1950 yang terus dipertahankan sampai detik ini oleh Presiden NKRI Megawati yang didukung penuh oleh sebagian besar penduduk NKRI yang mayoritas dihuni oleh orang Jawa yang hampir 45 % jumlahnya dari seluruh penduduk NKRI, orang Sunda hanya 14 %, Orang Madura sekitar 7,5 %, Orang melayu juga sekitar 7,5 %, dan sisanya kelompok Etnis lainnya termasuk Bugis yang berjumlah sekitar 26 % dari seluruh penduduk NKRI."

Begitu juga saya mengatakan: "Dimana para pelaku, penganjur, pendukung penjajahan di Negeri Aceh adalah mayoritas dilakukan oleh orang-orang Jawa yang mencapai jumlahnya 45% dari seluruh penduduk NKRI yang berjumlah 234.893.453 jiwa (Juli 2003). Orang Sunda mencapai 14 % dari seluruh penduduk NKRI. Orang Madura mencapai 7,5 % dari seluruh penduduk NKRI. Orang Melayu 7,5 % dari seluruh penduduk NKRI, dan orang dari etnis lainnya yang mencapai 26 % dari seluruh penduduk NKRI."

Itu semua menunjukkan suatu fakta dan bukti bahwa kebijaksanaan Presiden RIS Soekarno, Presiden NKRI Soekarno, Presiden RI Soekarno mengenai pencaplokan, pendudukan, dan pejajahan Negeri Aceh adalah telah dibenarkan oleh hampir seluruh etnis yang ada di NKRI dimana yang mayoritas adalah etnis Jawa yang hampir 45 % jumlahnya dari seluruh penduduk NKRI.

Ternyata kebijaksanaan Presiden Soekarno ini diteruskan leh para penerusnya dari mulai Jenderal Soeharto, BJ Habibie, Abdurahman Wahid dan sekarang Presiden NKRI Megawati.

Jelas, saudara Nugroho, Islam tidak mengajarkan "satu suku melebihi suku lain". Bahkan dengan diciptakan, bangsa-bangsa dan kabilah-kabilah atau suku-suku oleh Allah SWT adalah dengan tujuan untuk saling kenal mengenal satu sama lain.

Saudara Nugroho, apa yang dikatakan oleh saudara : "Saudara saya di Aceh sedang ditimpa musibah, atau cobaan, dan semuanya berpangkal pada salah urus dan efek politik"

Nah disini, perlu diketahui secara jelas dan benar, bahwa masalah yang utama atau akar masalah yang sebenanrya timbulnya konflik di negeri Aceh adalah bukan "salah urus dan efek politik", tetapi seperti yang telah saya katakan diatas, yaitu " Negeri Aceh yang telah ditelan, dicaplok, diduduki, dan dijajah oleh Presiden RIS Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1950 dengan menggunakan PP RIS No.21/1950 dan PERPU No.5/1950 yang diteruskan oleh NKRI dari tanggal 15 Agutsus 1950 dan dipertahankan sampai detik sekarang ini oleh Presiden NKRI Megawati"

Jadi, saudara Nugroho, akara masalah utama adalah pencaplokan, pendudukan dan penjajahan Negeri Aceh oleh Soekarno dengan RIS dan NKRI, serta RI-nya.

Karena itu tidak benar kalau saudara Nugroho mengatakan "di Aceh sedang ditimpa musibah, atau cobaan, dan semuanya berpangkal pada salah urus dan efek politik".

Rakyat Aceh itu, saudara Nugroho, tidak bisa dibodohi, ditipu, dibohongi oleh pihak Penguasa NKRI dan oleh pihak TNI/POLRI/RAIDER.

Sebagaimana yang telah saya berpuluh kali mengatakan bahwa peyelesaian di Aceh adalah diserahkan seluruhnya kepada rakyat Aceh di Negeri Aceh, melalui penentuan pendapat atau referendum. Dengan dua opsi, yaitu opsi YA bebas dari NKRI dan opsi TIDAK bebas dariNKRI.

Cara penyelesaian itulah, cara yang jujur, adil, dan bijaksana. Karena memang akar masalah yang sebenarnya adalah karena Negeri Aceh itu benar dicaplok, dirampok, diduduki, dan dijajah oleh pihak RIS dan diteruskan oleh pihak NKRI dan pihak RI.

Kemudian, saudara Nugroho mengatakan: "Bapak jangan mengkaitkan krisis di Aceh dengan kesukuan"

Jelas, saudara Nugroho, akar masalah krisis di Aceh memang tidak ada hubungannya dengan masalah kesukuan. Akar utama krisis di Aceh adalah seperti yang telah saya kupas diatas, yaitu Soekarno mencaplok, menduduki, dan menjajah Negeri Aceh pada tanggal 14 Agustus 1950 yang dipertahankan sampai detik ini oleh Presiden NKRI Megawat.

Kemudian terbukti bahwa para penerus Soekarno yang memegang pimpinan NKRI yang mayoritas adalah suku Jawa, Soeharto, Abdurahman Wahid, Megawati, telah meneruskan kebijaksanaan politik, pertahanan, keamanan Negeri Aceh yang ditanamkan oleh Soekarno asal Jawa.

Dan ternyata menurut kenyataan dan realita itu kebijaksanaan politik, pertahanan, keamanan Negeri Aceh yang ditanamkan oleh Soekarno tentang pendudukan, dan penjajahan negeri Aceh didukung oleh hampir seluruh etnis yang ada di NKRI, dari mulai etnis Jawa yang mencapai jumlahnya 45% dari seluruh penduduk NKRI yang berjumlah 234.893.453 jiwa (Juli 2003). Etnis Sunda mencapai 14 % dari seluruh penduduk NKRI. Etnis Madura mencapai 7,5 % dari seluruh penduduk NKRI. Etnis Melayu 7,5 % dari seluruh penduduk NKRI, dan etnis lainnya yang mencapai 26 % dari seluruh penduduk NKRI."

Jadi memang akhirnya tidak bisa dielakkan lagi bahwa pada kenyataannya pihak Etnis Jawa yang mayoritas di NKRI telah memegang pimpinan kendali di NKRI. Dan memang kenyataannya, pihak etnis Jawa yang pegang kendali pimpinan NKRI ini terus juga menerapkan kebijaksanaan politik, pertahanan, keamanan tentang pendudukan dan penjajahan di Negeri Aceh yang ditanamkan oleh Soekarno.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Sun, 28 Mar 2004 20:15:48 +0200
Subject: Sedih
From: "Nugroho Dwi PRIYOHADI" <s05029@wmu.se>
To: ahmad@dataphone.se

Assalamu'alaikum Wr.Wb.

Segala puji bagi Allah SWT, salam salawat bagi Rasulullah Muhammad SAW tercinta, yang sekian abad saya terpisah oleh waktu dan tempat dalam dimensi keduniawian...., karunia dan rahmat Allah SWT semoga juga sampai kepada para keluarga, sahabat, dan pengikut Rasul yang tetap setia, istiqomah sampai akhir zaman.

Pak..., saya baca homepage/artikel Anda, dan saya menjadi sedih karenanya. Sama seperti yg terjadi ketika saudara tercinta saya, Syeh Ahmad Yassin gugur sebagai syuhada di Palestina.

Saya ini muslim, Pak..., (meskipun) saya ini bersuku Jawa. Saya kurang mengerti mengapa ada artikel Bapak yang "menyudutkan" orang Jawa. Apa Islam mengajarkan bahwa satu suku melebihi suku lain? Bukankah ini hizbiyah yg sangat ditentang Rasulullah?

Pak..., saya ini bukan politisi. Saya hanya ingin menyampaikan, bahwa kesedihan itu - kalau Bapak juga sedih -, saya juga merasakan. Saudara saya di Aceh sedang ditimpa musibah, atau cobaan, dan semuanya berpangkal pada *salah urus* dan *efek politik*. Saya cukup kenal Bapak Teuku Jacob yang mantan rektor UGM, beliau juga orang Aceh. Beliau dikenal sebagai ilmuwan yang handal. Beliau tinggal di Jogja, dan aman-aman saja meskipun di sana adalah salah satu pusat budaya Jawa.

Pak..., maksud saya, Bapak jangan mengkaitkan krisis di Aceh dengan kesukuan. Seingat saya, tapi mungkin juga saya tidak ingat, wallahualam, saya tidak minta dilahirkan sebagai Jawa, atau Sunda, atau Batak. Alhamdulillah, keluarga saya dan saya juga muslim, dan alhamdulillah juga saya mengerti sedikit tentang gerakan-gerakan Islam, baik seperti Hizbut Tahrir, Jamaah Tablig, DI/TII, NII, Tarbiyah, dll. Mungkin hanya sebutir zarrah, namun saya yakin bahwa persaudaraan muslim adalah kunci untuk menuju kesatuan umat. Bukan membeda-bedakan atas nama kesukuan.

Pak..., saya bermimpi kelak akan ada khilafah Islam yang menyatukan seluruh muslim di bawah kepemimpinan dan Syariat Islam... bukan hanya di Aceh tapi untuk seluruh dunia. Bukan untuk menabur permusuhan dan sengketa kesukuan, tetapi untuk rahmat pada alam semesta. Bukan
sekedar fisik organisasi, tetapi juga kualitas keislaman dan keilmuan.

Pak...., email ini sebagai tanda persaudaraan saya kepada Anda karena Anda muslim..., bukan karena Anda simpatisan GAM. Kami di Indonesia sedang berjuang keras untuk secara bertahap kualitas keislaman semakin meningkat, dan saya mungkin terlalu lemah untuk berkomentar apakah GAM itu baik atau buruk, benar atau salah.

Pak..., saya ingat bahwa banyak pahlawan kita-Indonesia adalah muslim yang kebetulan bersuku Aceh, Jawa, atau lainnya.

Semoga Allah mendengar dan melindungi perjuangan muslim, ...." kalian adalah umat terbaik... yang disuruh untuk berbuat makruf... dan mencegah kemungkaran...".

Saya berlindung kepada Allah dari kesalahan karena kebodohan saya .....tangis sedih saya untuk saudara-saudara saya sesama muslim di mana pun berada............... apa pun sukunya...................

wassalamu'alaikum wr.wb.

Nugroho Dwi PRIYOHADI

s05029@wmu.se
Indonesia
----------