Stockholm, 31 Maret 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

EMIS JANGAN TERLALU MELIBATKAN PERASAAN & EMOSI DALAM DEBAT REFERENDUM & PENJAJAHAN ACEH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

SAUDARA EMIS DI SINGAPURA JANGAN TERLALU MELIBATKAN PERASAAN & EMOSI DALAM DEBAT REFERENDUM & PENJAJAHAN DI ACEH INI

"Saya sering membaca artikel dari saudara banyak sekali manfaatnya yang saya terima dan jadi bahan kajian di tempat saya berada sekarang ini, tapi baru kali ini saya memberanikan diri untuk memberikan saran. Saran saya: saudara janganlah menghina mencaci orang atau kelompok suku tertentu, tapi yang harus di hina dicaci dan direndahkan itu perbuatan dari orang tesebut! Terima kasih atas perhatiannya dan mohon maaf apabila saya telah lancang kepada saudara." (Emis, wafi_amna@yahoo.com ,Mon, 29 Mar 2004 19:31:43 -0800 (PST))

Terimakasih untuk saudara Emis, kalau saya tidak salah saudara Emis sekarang sedang berada di Singapura, kalau informasi ini salah, mohon dibetulkan.

Saya mengucapkan syukur alhamdulillah, kalau memang apa yang telah saya tuliskan dan jelaskan di mimbar bebas ini bisa menambah manfaat bagi saudara Emis bersama teman-teman di Singapura.

Yah, sebenarnya bukan maksud saya "menghina mencaci orang atau kelompok suku tertentu" dalam tulisan-tulisan saya itu. Melainkan itu hanyalah merupakan bagian bunga-bunga dalam berdebat tentang referendum, penjajahan di negeri Aceh oleh NKRI, dan masalah kenyataan di negeri Aceh dan di Nusantara lainnya.

Jadi dalam kita berdiskusi dan berdebat di mimbar bebas ini, kita tidak perlu melibatkan perasaan dan emosional kedalam pandangan dan pikiran yang sebagian besar berdasarkan kepada pertimbangan politik dan negara ini.

Karena misalnya, kalau saya mengatakan itu Negeri Aceh dicaplok oleh Presiden RIS Soekarno orang Jawa dan didukung oleh sebagian besar etnis Jawa yang hampir 45 % dai seluruh penduduk NKRI.

Nah, kalau saya berbicara dan menjelaskan seperti itu, tidak berarti bahwa "menghina mencaci orang atau kelompok suku tertentu".

Atau kalau saya mengatakan itu Negeri Aceh terus saja diduduki oleh Kolonel Laut Ditya Soedarsono arek Suroboyo. Atau kalau saya menulis itu Negeri dan rakyat Aceh terus saja dicengkeram oleh Mayjen TNI Endang Suwarya orang Sunda.

Jelas, itu pernyataan saya bukan dimaksudkan untuk "menghina mencaci orang atau kelompok suku tertentu".

Jadi, itu yang saya tulis merupakan ramuan dan bunga-bunga dalam kita berdebat mengenai referendum, penjajahan di negeri Aceh oleh NKRI, dan masalah kenyataan di negeri Aceh dan di Nusantara lainnya.

Karena itu saudara Emis jangan terlalu dipikirkan dan jangan terus saja melibatkan perasaan dan emosi ketika membaca tulisan-tulisan saya itu.

Contohlah Ahmad Sudirman, misalnya ketika Kolonel Laut Ditya Soedarsono mengatakan kepada Ahmad Sudirman, kang Cepot, Dawala, Semar, orang Sunda, asal Jawa Barat.

Nah disini jelas, ketika saya membaca tanggapan Kolonel Laut Ditya Soedarsono itu, saya masukkan itu kata-kata "Cepot, Dawala, Semar, orang Sunda, asal Jawa Barat" kedalam telinga kanan, kemudian saya keluarkan lagi dari telinga kiri. Tidak sampai saya masukkan kedalam hati. Yang saya saring adalah kata-kata yang dijadikan argumentasi oleh Kolonel Laut Ditya Soedarsono saja. Kemudian mencoba untuk mematah balik itu argumen Kolonel. Akhirnya, kan itu Kolonel Laut Ditya Soedarsono terpental, tidak muncul-muncul lagi, sudah menggelupur ditanah Negeri Aceh. Entah apa kerjanya itu Kolonel Laut Ditya Soedarsono sekarang. Paling ngumpet terus dibawah meja dikamar kerjanya yang tergantung gambar Mbak Megawati dan Tuan Hamzah Haz.

Kan selesai persoalan. Tidak perlu saya mengeluarkan perasaan dan emosi, hanya karena saya dianggap Cepot, Dawala, Semar, orang Sunda asal Jawa Barat. Ah, itu soal kecil yang tidak ada artinya. Dan saya harap orang-orang Sunda jangan marah kalau Kang Dirman disebut Cepot, Dawala, dan Semar oleh Kolonel Laut Ditya Soedarsono arek Suroboyo itu.

Jadi saudara Emis di Singapura, kita harus membuka diri dan membuka hati, dalam perdebatan mengenai referendum penjajahan di negeri Aceh oleh NKRI, dan masalah kenyataan di negeri Aceh dan di Nusantara lainnya, tidak perlu kita melibatkan perasaan dan emosi. Dan tentu saja jangan kita menghina.

Nah, misalnya itu Teuku Mirza dan saudara Jayadi Kamrasyid yang senangnya mengatakan "goblok", saya anggap saja itu ucapan dari seorang cecunguk atau cacing NKRI saja. Tidak ada pengaruhnya kepada Ahmad Sudirman sedikitpun kata "goblok" itu. Makanya, Ahmad Sudirman, senang saja ketika menanggapi bantahan-bantahan dan tuduhan-tuduhan saudara Jayadi Kamrasyid dan Teuku Mirza itu. Akhirnya kan mereka berdua itu jungkir-jumpalik. Entah apa lagi yang akan dituduhkan dan diandalkannya untuk menghadapi perdebatan dengan Ahmad Sudirman di mimbar bebas tentang referendum dan penjajahan Negeri Aceh oleh NKRI ini.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Mon, 29 Mar 2004 19:31:43 -0800 (PST)
From: wafi amna wafi_amna@yahoo.com
Subject: test aja
To: ahmad@dataphone.se

Bismillahirrahmaanirrahiim
Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Saya sering membaca artikel dari saudara... banyak sekali manfaatnya yang saya terima dan jadi bahan kajian di tempat saya berada sekarang ini.....tapi baru kali ini saya memberanikan diri untuk memberikan saran.

Saran saya: saudara janganlah menghina mencaci orang atau kelompok suku tertentu, tapi yang harus di hina dicaci dan direndahkan itu perbuatan dari orang tesebut!

Terima kasih atas perhatiannya dan mohon maaf apabila saya telah lancang kepada saudara.

Wassalamu'alakum wr. Wb

Emis

wafi_amna@yahoo.com
Singapura
----------