Stockholm, 31 Maret 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

NUGROHO JANGAN ALIHKAN PENENTUAN NASIB SENDIRI RAKYAT ACEH KEPADA ISU ETNIS
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

SAUDARA NUGROHO DWI PRIYOHADI JANGAN ALIHKAN PENENTUAN NASIB SENDIRI RAKYAT ACEH KEPADA ISU ETNIS

"Isu etnis itu sama sekali tidak menolong Aceh dari keterpurukan. Itu adalah hizbiyah, dan seakan menutup jalan panjang menuju masyarakat muslim madani sebagaimana yang pernah direalisasikan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Setiap muslim, baik Jawa, Sunda, Aceh dan lain-lain wajib bercita-cita tentang masyarakat Islam. Tuduhan terhadap kasus Aceh dalam konteks kesukuan adalah bukti bahwa memang sebagian orang pro GAM adalah hizbiyah dan menyedihkan. Ketika orang muslim yang kebetulan bersuku Jawa menangisi kematian Syeh Ahmad Yassin dari Palestine itu, bukan disebabkan karena Jawanya, tetapi karena persaudaraan muslimnya. Jadi ketika oknum muslim Aceh menganggap beda muslim Jawa hasilnya adalah muslim Pancasila seperti tafsiran Pak Harto tempo dulu. Jawa tidak terhina karena disebut Jawa, tetapi malu karena saudaranya ada yang berpandangan seperti zaman Jahiliyah, etnis etnis dan etnis melulu, bahwa Aceh harus diselesaikan dengan baik, itu memang harus, tetapi isu etnis, adalah tema yang menyimpang bukti perjuangan GAM tidak tulus." (Nugroho Dwi Priyohadi, s05029@wmu.se , Wed, 31 Mar 2004 18:21:56 +0200)

Terimakasih saudara Nugroho Dwi Priyohadi di Malmo, Swedia.

Baiklah saudara Nugroho Dwi Priyohadi.

Setelah saya membaca beberapa tanggapan dari saudara Nugroho Dwi Priyohadi dari Malmo, Swedia, ternyata saya mendapatkan satu gambaran bahwa saudara Nugroho berusaha menggiring rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI kepada arah dan isu etnis yang dangkal.

Saudara Nugroho telah dibentangkan panjang lebar di mimbar ini akar masalah sebenarnya mengenai konflik Aceh yang telah memakan lebih dari 50 tahun ini.

Seperti yang telah saya jelaskan puluhan kali di mimbar bebas ini bahwa akar utama timbulnya konflik Aceh ini karena memang secara fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah bahwa Negeri Aceh ditelan, dicaplok, diduduki, dan dijajah oleh Presiden RIS Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1950 dengan menetapkan Peraturan Pemerintah RIS No.21/1950 Tentang Pembentukan Daerah Propinsi dan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang Undang No.5/1950 tentang pembentukan Propinsi Sumatera-Utara, tanpa mendapat persetujuan, kerelaan dan keikhlasan dari seluruh rakyat Aceh dan pemimpin rakyat Aceh.

Nah, itulah akar utama penyebab timbulnya konflik Aceh yang berkepanjangan. Bukan karena masalah etnis, seperti yang ditulis oleh saudara Nugroho dari Malmo, Swedia.

Jadi, saudara Nugroho, itu penjajahan di Negeri Aceh oleh pihak Soekarno yang diteruskan sampai detik ini oleh pihak Presiden NKRI Megawati Cs yang didukung oleh TNI/POLRI dan disokong oleh Ketua DPR Akbar Tandjung dan oleh Ketua MPR Amien Rais adalah jelas sangat bertentangan dengan apa yang tertuang dalam Preambule UUD 1945 NKRI yaitu "Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan".

Itu soal etnis Jawa timbul karena akibat dari Pimpinan RI, RIS, NKRI yang tampil dari mulai Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, dan Megawati. Yang secara fakta dan kenyataan hampir mayoritas adalah memang orang Jawa kecuali BJ Habibie.

Jadi sangatlah wajar bila orang Aceh mengatakan itu orang-orang Jawa yang jadi pimpinan di NKRI. Hal itu harus diterima sebagai suatu kenyataan. Tidak bisa dipungkiri. Dan kalau rakyat Aceh mengatakan Negeri Aceh dijajah oleh NKRI yang dipimpin oleh Soekarno, Soeharto, Abdurrahman Wahid, dan Megawati orang-orang Jawa, memang itu suatu fakta dan bukti yang benar.

Tetapi, rakyat Aceh mengatakan demikian bukan berarti isu penjajahan menjadi isu etnis. Karena, kalau demikian sudah merobah dari akar masalah yang sebenarnya, sebagaimana yang saya kemukakan diatas.

Jadi, saudara Nugroho, itu masalah etnis adalah timbul akibat dari sebagian besar aktor-aktor utama yang menjadi pimpinan di NKRI yang telah melakukan penelanan, pencaplokan, pendudukan, dan penjajahan negeri Aceh sampai detik ini. Dimana sebagian besar aktor-aktor utama yang menjadi pimpinan di NKRI adalah orang-orang Jawa. Sehingga timbul gambaran dan menjadi melekat pada diri rakyat Aceh bahwa NKRI yang dipimpin oleh orang-orang Jawa telah menjajah Negeri Aceh sampai detik sekarang ini.

Nah, kenyataan tersebut harus diterima oleh pihak orang-orang Jawa. Dan memang secara nyata dan secara statistik bahwa benar orang-orang Jawa itu mencapai jumlah 45% dari seluruh penduduk di NKRI.

Walaupun orang-orang Jawa beragama Islam, orang-orang Aceh juga beragama Islam, kemudian berusaha untuk menyatukan Aceh masuk kedalam NKRI pakai isu Islam. Jelas itu dasar pemikiran demikian kurang tepat, mengapa ?

Karena sewaktu Soekarno menelan dan mencaplok Negeri Aceh tidak ada satu perjanjian antara pimpinan Negeri Aceh (plus rakyat Aceh) dengan pimpinan RIS termasuk pimpinan Negara bagian RI, yang menyatakan bahwa berdasarkan Islam dipersatukan Negeri Aceh dengan Negara bagian RI dalam RIS. Itu, saudara Nugroho, bunyi perjanjian yang demikian tidak ada.

Jadi, kalau mau menggiring juga dengan isu Islam jelas tidak kena, karena memang Soekarno tidak memakai isu Islam ketika menelan dan mencaplok Negeri Aceh, melainkan dengan cara ambil begitu saja, dengan menetapkan PP RIS No.21/1950 dan PERPU No.5/1950.

Selanjutnya, kesadaran rakyat Aceh untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI melalui penentuan pendapat atau referendum ini adalah merupakan satu jalan pemecahan yang jujur, adil, dan bijaksana, dibandingkan dengan jalan melalui kekerasan senjata secara militer seperti yang telah dijalankan dari sejak Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid sampai sekarang oleh Presiden NKRI megawati.

Kemudian, kalau memang Negara Aceh telah berdiri, itu penentuan selanjutnya diserahkan kepada seluruh rakyat Aceh. Bentuk Negara apakah yang menurut seluruh rakyat Aceh sesuai dengan ciri-ciri, pribadi, agama yang dianut oleh seluruh rakyat Aceh. Jadi masalah Bentuk Negara apa nantinya, itu akan dibicarakan oleh seluruh rakyat Aceh apabila Negara Aceh telah bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI.

Jadi, tugas pertama yang dihadapi sekarang adalah memperjuangkan kemerdekaan Aceh dari belenggu penjajahan yang dijalankan oleh pihak Penguasa NKRI.

Nah itulah saudara Nugroho, bahwa tidak benar itu isu etnis adalah isu yang dikobarkan oleh rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan negara Pancasila atau NKRI.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

From: "Nugroho Dwi PRIYOHADI" s05029@wmu.se
To: djuli@streamyx.com
Date: Wed, 31 Mar 2004 18:21:56 +0200
Subject: Re: DJULI: KALAU MALU ATAU MERASA HINA DISEBUT PENJAJAH HENTIKAN PENJAJAHAN DI ACEH
Cc: ahmad@dataphone.se

ISU ETNIS..

Isu etnis itu sama sekali tidak menolong Aceh dari keterpurukan.
Itu adalah hizbiyah, dan seakan menutup jalan panjang menuju masyarakat muslim madani sebagaimana yang pernah direalisasikan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Setiap muslim, baik Jawa, Sunda, Aceh dan lain-lain wajib bercita-cita tentang masyarakat Islam. Tuduhan terhadap kasus Aceh dalam konteks kesukuan adalah bukti bahwa memang sebagian orang pro GAM adalah hizbiyah dan menyedihkan.

Ketika orang muslim yang kebetulan bersuku Jawa menangisi kematian Syeh Ahmad Yassin dari Palestine itu, bukan disebabkan karena Jawanya, tetapi karena persaudaraan muslimnya.

Jadi ketika oknum muslim Aceh menganggap beda muslim Jawa hasilnya adalah muslim Pancasila seperti tafsiran Pak Harto tempo dulu.

Jawa tidak terhina karena disebut Jawa, tetapi malu karena saudaranya ada yang berpandangan seperti zaman Jahiliyah, etnis etnis dan etnis melulu, bahwa Aceh harus diselesaikan dengan baik, itu memang harus, tetapi isu etnis, adalah tema yang menyimpang bukti perjuangan GAM tidak tulus.

Wassalam.

Nugroho Dwi PRIYOHADI

s05029@wmu.se
Malmo, Swedia
----------