Stockholm, 3 April 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

JAYADI KAMRASYID ITU RAKYAT ACEH BUKAN PENDIRI RI MELAINKAN PDRI PENGGANTI RI YANG LENYAP
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JAYADI KAMRASYID YANG OTAKNYA DIMAKAN RACUN PANCASILA ITU RAKYAT ACEH BUKAN PENDIRI RI MELAINKAN PDRI PENGGANTI RI YANG LENYAP

"Tuan Ahmad nih gimana, makin pikun aja. Rakyat Aceh itu pendiri Republik Indonesia. Jadi tidak ada yang nyaplok. Wong pendiri Banda Aceh pernah menjadi pusat Pemerintah RI ketika Yogya dikuasai sekutu. Tolonglah otak anda yang busuk dan propokatif ini dibersihkan. Aceh tidak akan pernah lepas dari Republik Indonesia hanya karena dongeng usang Mbah pikun Ahmad Sudirman. Bertobatlah saudaraku sebelum ditobatkan" (Jayadi Kamrasyid, JKamrasyid@aol.com , 3 april 2004 07:45:19)

Baiklah saudara Jayadi Kamrasyid di USA.

Coba perhatikan oleh seluruh peserta mimbar bebas dan oleh seluruh rakyat di Negeri Aceh dan di NKRI.

Bagaimana itu saudara Jayadi Kamrasyid yang ilmunya tentang Negeri Aceh kosong, tentang tatanegara NKRI tipis, karena otak sudah dimakan racun pancasila Soekarno, masih terus mencoba untuk menjelaskan dengan keterangan yang tidak punya dasar fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah, yang berbunyi bahwa "rakyat Aceh itu pendiri Republik Indonesia. Jadi tidak ada yang nyaplok. Wong pendiri Banda Aceh pernah menjadi pusat Pemerintah RI ketika Yogya dikuasai sekutu."

Saudara Jayadi Kamrasyid, yang otaknya sudah keropos dimakan racun pancasila hasil ramuan dan utak atik Soekarno penipu ulung di RI dan NKRI.

Itu muncul cerita Pemerintah dalam Pengasingan di Aceh yang dinamakan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) bukan dibentuk oleh rakyat Aceh, saudara Jayadi Kamrasyid yang otaknya sudah kering dimakan racun pancasila hasil kocekan Soekarno.

Itu ceritanya, setelah wilayah Negara RI pimpinan Soekarno digempur oleh pasukan Beel pada tanggal 19 Desember 1948, ternyata TNI tidak mampu lagi melawan pasukan Beel yang akhirnya Yogyakarta dan daerah sekitarnya jatuh, Soekarno dan Mohammad Hatta ditawan dan diasingkan ke Bangka.

Dari sinilah diawali babak baru Negara RI atau Negara RI 17 Agustus 1945 atau Negara RI Soekarno atau Negara RI-Jawa-Yogya yang diproklamasikan Soekarno secare de-facto dan de-jure lenyap dari permukaan bumi, yang timbul adalah Pemerintah Darurat Republik Indonesia dalam pengasingan yang dibentuk oleh Mr. Sjafruddin Prawiranegara berdasarkan dasar hukum mandat yang dibuat dalam Sidang Kabinet RI yang masih sempat diajalankan sebelum Negara RI lenyap, dan sempat dikirimkan melalui radiogram kepada Mr. Sjafruddin Prawiranegara yang waktu itu berada di Sumatera.

Nah, itu awal cerita berdirinya Pemerintah dalam Pengasingan di Aceh yang dinamakan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI), saudara Jayadi Kamrasyid otak kosong yang telah tercemar racun pancasila.

Kemudian, disaat Soekarno, Mohammad Hatta dengan Negara RI-nya hilang dari permukaan bumi, lahirlah Resolusi PBB No.67(1949) tanggal 28 Januari 1949, yang sebagian isinya menyatakan:

The Security Council,
Noting with satisfaction that the parties continue to adhere the principles of the Renville Agreement and agree that free and democratic elections should be held throughout Indonesia for the purpose of establishing a constituent assembly at the earlist practicable date...

Noting also with satisfaction that the Goverenment of the Netherlands plans to transfer sovereignty to the United States of Indonesia by 1 January 1950 if possible, and in any caseduring the year 1950.

3. Recommends that, in the interest of carrying out the expressed objectives and desires of both parties to establish a federal, independent and sovereign United States of Indonesia at the earliest possible date, negotiations be undertaken as soon as possible by representatives of the Goverenment of the Netherlands and refresentatives of the Republic of Indonesia, with the assistance of the Commission referred to in paragraph 4 below, on the basis of the principles set forth in the Linggadjati and Renville Agreements. (PBB resolution No.67(1949), 28 January 1949, adopted at the 406th meeting)

Coba perhatikan, itu yang terkandung dalam Resolusi PBB no.67(1949) tanggal 28 Januari 1949 dimana dinyatakan bahwa hasil Perjanjian Linggajati 25 Maret 1947 dan Perjanjian Renville 17 Januari 1948 adalah merupakan dasar untuk membentuk Negara Indonesia Serikat yang berbentuk federasi yang akan diakui kedaulatannya oleh Belanda paling lambat tanggal 1 Januari 1950.

Coba terus perhatikan lagi oleh saudara Jayadi Kamrasyid yang otaknya sudah kosong termakan racun pancasila Soekarno ini.

Itu yang namanya Perjanjian Linggajati pada tanggal 25 Maret 1947 yang ditandatangani di Istana Rijswijk, sekarang Istana Merdeka, Jakarta. Dari pihak RI ditandatangani oleh Sutan Sjahrir, Mr.Moh.Roem, Mr.Soesanto Tirtoprodjo, dan A.K.Gani, sedangkan dari pihak Belanda ditandatangani oleh Prof.Schermerhorn, Dr.van Mook, dan van Poll. Dimana isi perjanjian Linggajati itu, secara de pacto RI dengan wilayah kekuasaan yang meliputi Sumatra, Jawa, dan Madura. RI dan Belanda akan bekerja sama dalam membentuk Negara Indonesia Serikat, dengan nama RIS, yang salah satu negara bagiannya adalah RI. RIS dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia-Belanda dengan Ratu Belanda selaku ketuanya. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara RI, 1986, hal.119,138)

Kemudian, coba lihat juga itu yang dinamakan Perjanjian Renville pada 17 Januari 1948 yang hasilnya ditandatangani oleh Perdana Mentri Mr. Amir Sjarifuddin dari Kabinet Amir Sjarifuddin, yang disaksikan oleh H.A. Salim, Dr.Leimena, Mr. Ali Sastroamidjojo pada tanggal 17 Januari 1948. Dimana sebagian isi perjanjian tersebut menyangkut gencatan senjata disepanjang garis Van Mook dan pembentukan daerah-daerah kosong militer. Sehingga terlihat secara de-jure dan de-facto kekuasaan RI hanya sekitar daerah Yogyakarta saja. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara RI, 1986, hal.155,163).

Nah, saudara Jayadi Kamrasyid, otak kosong dimakan racun pancasila, perhatikan baik-baik.

Berdasarkan Resolusi PBB No.67(1949) inilah, Pemerintah Darurat Republik Indonesia dalam Pengasingan di negeri Aceh dibawah Sjafruddin Prawiranegara mengadakan perundingan baru yang disebut perundingan Roem Royen. Pihak RI yang pemerintahnya digantikan oleh PDRI diwakili oleh delegasi yang dipimpin oleh Mr. Moh. Roem sedangkan pihak Belanda diketuai oleh Dr. Van Royen. Dimana perjanjian itu ditandatangani pada tanggal 7 Mei 1949 di Jakarta yang sebagian isinya adalah turut serta dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag, dengan maksud untuk mempercepat penyerahan kedaulatan yang sungguh dan lengkap kepada Negara Indonesia Serikat dengan tidak bersyarat. Dimana Belanda menyetujui adanya Republik Indonesia sebagai bagian dari Negara Indonesia Serikat. (30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949, Sekretariat Negara RI, 1986, hal.210).

Nah sekarang, berdasarkan hasil perundingan Roem Royen inilah, pada tanggal 6 Juli 1949 Soekarno dan Mohammad Hatta dibebaskan dan bisa kembali lagi ke Yogyakarta. Dan untuk menghidupkan kembali Negara RI yang telah hilang itu secara de-facto dan de-jure ini, pihak Pemerintah Darurat Republik Indonesia dalam pengasingan dibawah pimpinan Mr. Sjafruddin Prawiranegara mengembalikan lagi mandat kepada Wakil Presiden Mohammad Hatta pada tanggal 13 Juli 1949 di Jakarta.

Jadi kesimpulannya, saudara Jayadi Kamrasyid, otak kosong dimakan racun pancasila hasil utak atik Soekarno, bahwa memang benar bukan rakyat Aceh pendiri Republik Indonesia, melainkan Pemerintah Darurat Republik Indonesia dalam pengasingan yang dibentuk oleh Mr. Sjafruddin Prawiranegara berdasarkan dasar hukum mandat yang dibuat dalam Sidang Kabinet RI yang masih sempat diajalankan sebelum Negara RI lenyap, dan sempat dikirimkan melalui radiogram kepada Mr. Sjafruddin Prawiranegara yang waktu itu berada di Sumatera, ketika Soekarno, Mohammad Hatta dan diasingkan ke Bangka dan Negara RI-nya hilang dari permukaan bumi.

Terakhir, saudara Jayadi Kamrasyid jangan mimpi mau mencoba memalsukan sejarah RI dengan memasukkan unsur rakyat Aceh sebagai pendiri RI setelah RI dan TNI-nya digempur habis oleh pihak pasukan Beel di Yogyakarta pada tanggal 19 Desember 1948.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

From:JKamrasyid@aol.com
Date:3 april 2004 07:45:19
To:ahmad_sudirman@hotmail.com, padhang-mbulan@egroups.com, PPDI@yahoogroups.com, oposisi-list@yahoogroups.com, mimbarbebas@egroups.com, politikmahasiswa@yahoogroups.com, fundamentalis@eGroups.com, Lantak@yahoogroups.com, kuasa_rakyatmiskin@yahoogroups.com
Subject:MBAH PIKUN

Bagaimana saudara Jayadi Kamrasyid ini, kalau mau belajar menipu Ahmad Sudirman harus mendalami dahulu itu ilmu pencaplokan Negeri Aceh oleh Presiden RIS Soekarno (Ahmad Sudirman)

TUAN AHMAD NIH GIMANA, MAKIN PIKUN AJA. RAKYAT ACEH ITU PENDIRI REPUBLIK INDONESIA. JADI TIDAK ADA YANG NYAPLOK. WONG PENDIRI BANDA ACEH PERNAH MENJADI PUSAT PEMERINTAH RI KETIKA YOGYA DIKUASAI SEKUTU. TOLONGLAH OTAK ANDA YANG BUSUK DAN PROPOKATIF INI DIBERSIHKAN. ACEH TIDAK AKAN PERNAH LEPAS DARI REPUBLIK INDONESIA HANYA KARENA DONGENG USANG MBAH PIKUN AHMAD SUDIRMAN. BERTOBATLAH SAUDARAKU SEBELUM DITOBATKAN.

WASSALAM,

JAYADI KAMRASYID

JKamrasyid@aol.com
USA
----------