Stockholm, 10 April 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

RYACUDU TERUS MENIPU ULAMA DAN RAKYAT ACEH DENGAN KEPPRES NO.28/2003
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS KELIHATAN ITU KASAD JENDERAL TNI RYAMIZARD RYACUDU BERUSAHA TERUS MENUTUPI RACUN KEPPRES NO.28/2003 UNTUK MENDUDUKI NEGERI ACEH

Saudara Muhammad Iqbal dan saudara Sagir Alva mengirimkan berita yang dimuat oleh Kompas Cyber Media hari ini, Sabtu, 10 April 2004, yang berjudul "Ulama Aceh Utara Minta Darurat Militer Dilanjutkan"

Ternyata setelah saya membaca tulisan yang dilambungkan oleh tim Kompas Cyber Media yang diambil dari kantor berita Antara ternyata hanya berisikan penipuan yang dilancarkan oleh pihak TNI khususnya oleh KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu.

Coba saja perhatikan, masa itu dasar hukum Keputusan Presiden RI nomor 28 tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang didalamnya mengandung racun-racun yang ditebarkan oleh mantan Presiden Soekarno yang menjajah Negeri Aceh dalam bentuk Undang-Undang Nomor 23 Prp Tahun 1959 tentang Keadaan Bahaya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1959 Nomor 139, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1908) sebagaimana telah diubah dua kali, terakhir dengan Undang-undang nomor 52 Prp Tahun 1960 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 170, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2113), mau saja ditelan begitu saja oleh ulama dan rakyat Aceh.

Saya yakin itu ulama Tgk. H. Abu Panton, Tgk H. Ibrahim Bardan, Tgk H. Usman Kuta Krueng dan yang lainnya yang bertemu dan berdialog dengan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu yang didampingi Panglima Kodam Iskandar Muda Mayjen Endang Suwarya dan Pangkoops TNI Brigjen TNI George Toitsutta serta para pejabat dari Markas Besar TNI Angkatan Darat (Mabesad), tidak mengetahui dan tidak mengerti hakikat yang sebenarnya dibalik Keppres No.28/2003 itu.

Para Ulama tersebut hanya melihat dari sudut datangnya TNI/POLRI/RAIDER yang lebih dari 50 ribu itu ke Negeri Aceh, situasi di sebagian Kabupaten Negeri Aceh bisa dikontrol dan diawasi dengan moncong senjata. Tetapi yang tidak diketahui dan disadari oleh para ulama tersebut adalah racun yangterkandung dalam Keppres No.28/2003 tersebut, yang kemungkinan besar tidak pernah atau belum dibacanya apalagi dimengerti dan dipahaminya.

Jadi jelas, dengan adanya pernyataan dari pihak ulama seperti Tgk. H. Abu Panton dan Tgk H. Usman yang berisikan "dukungan" kepada pihak TNI/POLRI/RAIDER, KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, maka makin gembira saja itu Ryacudu, sehingga hidungnya hampir saja membelok keatas saking riangnya. Mengapa ? Karena racun yang terdapat dalam Keppres No.28/2003 telah termakan oleh para ulama tersebut diatas.

Hanya jelas, bagi rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasibnya sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan negara Pancasila atau NKRI itu umpan dan racun Keppres No.28/2003 yang terus didengungkan oleh pihak KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, tidak akan laku.

Memang itu pihak TNI/POLRI/RAIDER hanya bisa menipu kepada rakyat dan ulama Aceh yang tidak mengerti, tidak paham apa yang terkadung dalam Keppres No.28/2003.

Tetapi tentu saja penipuan yang terus dilancarkan oleh pihak KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu dengan umpan Keppres No.28/2003 terhadap rakyat Aceh lainnya tidak akan berhasil.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

http://www.kompas.com/utama/news/0404/10/095842.htm

Ulama Aceh Utara Minta Darurat Militer Dilanjutkan
Lhokseumawe, Sabtu

Para ulama di Aceh Utara minta kepada pemerintah agar operasi terpadu dalam status darurat militer terus dilanjutkan, karena kebijakan yang diterapkan selama ini di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) telah membawa kedamaian bagi rakyat. "Darurat militer selama ini sangat dirasakan manfaatnya dan kami telah berani keluar rumah," kata Tgk. H. Usman Kuta Krueng saat bersilaturrahmi dengan Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal (KSAD) TNI Ryamizard Ryacudu di Lhokseumawe, Jumat (9/4).

KSAD yang didampingi Panglima Kodam Iskandar Muda Mayjen Endang Suwarya dan Pangkoops TNI Brigjen TNI George Toitsutta serta para pejabat dari Markas Besar TNI Angkatan Darat (Mabesad) melakukan dialog dengan beberapa ulama seperti Tgk. H. Abu Panton, Tgk H. Ibrahim Bardan, Tgk H. Usman Kuta Krueng serta para ulama kharismatik dari Seluruh wilayah Aceh.

Tgk. H. Abu Panton menambahkan bahwa kehadiran TNI di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam ini, telah mengobati seluruh rakyat Aceh yang mendambakan rasa aman. "Mari kita teruskan obat ini pak, karena rakyat Aceh sedang sakit," kata ulama kharismatik tersebut.

Lebih lanjut dikatakan bahwa penyakit tersebut kini telah terobati sekitar 65 persen dengan kehadiran TNI melaksanakan operasi pemulihan keamanan. Menurut Usman Kuta Krueng, dengan diterapkannya Darurat Militer kini Aceh berada dalam situasi yang terus membaik keamanannya.

Ia juga menambahkan bahwa rakyat Aceh telah kembali melaksanakan aktivitasnya tanpa dihantui perasaan takut, bagi para ulama tidak perlu ragu lagi apabila ingin memberikan ceramah agamanya dan mengadakan pengajian-pengajian.

Dalam kesempatan tersebut, para ulama juga mengharapkan kepada TNI agar tetap yakin dalam melaksanakan tugas memberantas kezaliman kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM). "Kami berharap agar TNI terus maju, jangan mundur dalam menghadapi kezaliman ini," ujar Tgk. H. Usman.

Menurutnya, apabila TNI berjuang untuk kebenaran maka kebenaran itu akan nyata dan kebathilan itu akan hilang, seperti juga para pimpinan-pimpinan pesantren mengharapkan agar operasi pemulihan keamanan ini agar diteruskan, karena sampai saat ini hanya dengan cara itulah situasi di Aceh akan aman.(Ant/nik)
----------