Stockholm, 18 April 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

ENDANG SUWARYA & DITYA SOEDARSONO INTIMIDASI ULAMA & MAHASISWA ACEH YANG ANTI DM
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

SEBAGIAN ULAMA DAN PARA MAHISWA ACEH YANG TIDAK SETUJU DM DIPERPANJANG DIINTIMIDASI MANG ENDANG SUWARYA DAN DITYA SOEDARSONO

"Penangkapan dan intimidasi terhadap tokoh kritis terus dilakukan oleh Penguasa Darurat Militer (PDMD), setelah melakukan penangkapan terhadap Ulama Aceh yang meminta dicabutnya Darurat Militer, Kemarin Jumaat (16/04) pihak Aparat PDMD kembali mengintimidasi para akademisi kampus agar tidak melakukan dukungan terhadap pencabutan Darurat Militer. Intimidasi ini dilakukan dalam bentuk pemanggilan para akademisi kekantor PDMD di Banda Aceh, namun pihak akademisi yang dipanggil tidak mau namanya disebut dan juga tidak mau banyak memberi komentar seputar isi pembicaraan mereka dengan PDMD, tetapi mereka hanya mengatakan bahwa akademisi Aceh hanya diminta untuk tidak ikut-ikutan menolak DM." (Miswar, mod_fpdranews@yahoo.com, 17 April 2004)

Terimakasih saudara Nadryna di Kuala Lumpur, Malaysia.

Saudara Nadryna mengirimkan tulisan saudara Miswar yang dipublikasikan oleh Front Perlawanan Demokratik Rakyat Aceh (FPDRA) kemarin, 17 Aperil 2004, dimana setelah saya membacanya, ternyata memang benar itu Penguasa Darurat Militer Daerah Aceh Mayjen TNI Endang Suwarya dan Kolonel Laut Ditya Soedarsono telah melakukan tindakan intimidasi terhadap para ulama Aceh dan para mahasiswa Aceh yang secara terang-terangan menentang perpanjangan darurat militer di Negeri Aceh.

Seperti yang telah saya jelaskan berulang kali di mimbar bebas ini bahwa memang benar pihak TNI/POLRI/RAIDER khususnya yang disponsori oleh pihak Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, dan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar telah berusaha dengan sekuat tenaga untuk tetap menjalankan pendudukan dan penjajahan di Negeri Aceh dengan jalan memperpanjang darurat militer sebagaimana yang tertuang dalam Keppres No.28/2003.

Dimana Keppres No.28/2003 ini akan berakhir pada tanggal 18 Mei 2004. Tetapi pihak TNI/POLRI yang dimotori oleh Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, dan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar tidak senang dan tidak menghendaki darurat militer ini dicabut, sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Presiden Megawati ketika berkunjung ke Aceh pada tangal 7 Maret 2004, sebulan sebelum Pemilu 5 April 2004 dilaksanakan.

Dimana kelihatannya pihak TNI/POLRI yang dipelopori oleh Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, dan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar untuk menggagalkan pencabutan darurat militer pada tanggal 18 Mei 2004, dengan cara menekan para ulama dan mahasiswa Aceh untuk menyatakan persetujuan perpanjangan darurat militer di Aceh, dengan alasan darurat militer adalah sebagai obat konflik Aceh.

Jadi sebenarnya apa yang telah dilakukan oleh pihak Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, dan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar yang juga didukung oleh Mayjen TNI Endang Suwarya dan Kolonel Laut Ditya Soedarsono mengintimidasi para ulama dan mahasiswa Aceh yang tidak setuju darurat militer diperpanjang adalah agar supaya bisnis TNI/POLRI di Negeri Aceh tetap berjalan dengan dana yang sudah diatur dan dijamin dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Aceh dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Pusat, sebagaimana yang tertuang dalam isi Keppres No.28/2003.

Karena itu disni makin jelas bahwa pihak Penguasa Darurat Militer Pusat yang dikontrol oleh TNI/POLRI dan Penguasa darurat Militer Daerah Aceh yang dipimpin langsung oleh TNI dibawah Mayjen TNI Endang Suwarya dan Kolonel Laut Ditya Soedarsono dalam rangka terus menduduki dan menjajah Negeri Aceh adalah melalui perpanjangan dasar hukum Keppres No.28/2003.

Itulah cara-cara yang ditempuh dan dilaksanakan oleh pihak NKRI yang didukung penuh oleh Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, dan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar yang juga didukung oleh Mayjen TNI Endang Suwarya dan Kolonel Laut Ditya Soedarsono dalam bentuk intimidasi terhadap para ulama Aceh dan mahasiswa Aceh yang tidak menyetujui kebijaksanaan politik, agresi, pendudukan, dan penjajahan di Negeri Aceh melalui perpanjangan darurat militer di Negeri Aceh.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

From: "nadryna" nadryna@hotmail.com
To: azi09@hotmail.com
Cc: ahmad@dataphone.se
Subject: AKAL MULUS MAS ENDANG
Date: Sat, 17 Apr 2004 22:33:57 +0800

Akademisi Aceh di intimidasi PDMD
http://www.fpdra.com/b41.htm

Nadryna

nadryna@hotmail.com
Kuala Lumpur, Malaysia
----------

http://www.fpdra.com/b41.htm

Akademisi Aceh di intimidasi PDMD
Miswar
17 April 2004

Banda Aceh, fpdra.com. Penangkapan dan intimidasi terhadap tokoh kritis terus dilakukan oleh Penguasa Darurat Militer (PDMD), setelah melakukan penangkapan terhadap Ulama Aceh yang meminta dicabutnya Darurat Militer, Kemarin Jumaat (16/04) pihak Aparat PDMD kembali mengintimidasi para akademisi kampus agar tidak melakukan dukungan terhadap pencabutan Darurat Militer. Intimidasi ini dilakukan dalam bentuk pemanggilan para akademisi kekantor PDMD di Banda Aceh, namun pihak akademisi yang dipanggil tidak mau namanya disebut dan juga tidak mau banyak memberi komentar seputar isi pembicaraan mereka dengan PDMD, tetapi mereka hanya mengatakan bahwa akademisi Aceh hanya diminta untuk tidak ikut-ikutan menolak DM.

Isu penolakan DM di Aceh kembali menguat dalam konstelasi politik sekarang ini, banyaknya aktivis NGO dan Aktivis Mahasiswa yang menyuarakan penolakan terhadap DM, belum lagi mereka para aktivis yang berasal dari Aceh. Thamrin Ananda ketua KSO-FPDRA yang merupakan Organisasi massa yang berbasis di Aceh, mengatakan penolakan rakyat secara pasif terhadap DM, karena rasa takut yang begitu mendalam, sehingga mereka melakukan penolakan dengan cara merusak suara pada pemilu kemarin dan malah ada diantara mereka yang menuliskan Cabut Darurat Militer di kertas suara pada pemilu kemarin, seperti yang terjadi di Lamprit, Lingkee dan juga di Cot langkeuweh Banda Aceh, hal seperti ini juga terjadi di Bireun, Lhokseumawe dan juga di Pidie, kata Thamrin.

Menyikapi intimidasi terhadap akademisi yang dilakukan oleh PDMD, Thamrin mengatkan hal yang wajar dan telah diprediksikan jauh-jauh hari oleh FPDRA. Namun sekarang apakah para Akademisi tersebut berani melawan kedaliman atau malah ikut-ikutan takut sehingga mereka juga ikut memberi dukungan terhadap perpanjangan DM di Aceh

Front Perlawanan Demokratik Rakyat Aceh (FPDRA) 2 0 0 4
E-mail Moderator : mod_fpdranews@yahoo.com, admin@fpdra.com
Http://www.fpdra.com
----------