Stockholm, 20 April 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

M DAHLAN & RUSMANTO ITU PDMD ACEH MANA MAU MENGAKUI TNI KERJANYA NGOMPAS
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS MUHAMMAD DAHLAN & RUSMANTO ISMAIL ITU PDMD ACEH MANA MAU MENGAKUI TNI KERJANYA MENGOMPAS SUPIR-SUPIR ANGKUTAN

"Mana ada TNI/Brimob NKRI mau ngaku salah, meskipiun telah terbukti dan terpergok sedang menjalankan kesalahan. Kalau dulu, ketika syethan melakukan kesalahan tidak mau tunduk kepada adam, lalu syethan mengaku keslahannya dan rela menerima hukuman. Sekarang kita dapat buktikan bahwa anggota TNI/Brimob NKRI yang bertugas di Naggroe lebih jahat dari syethan. Mungkin inilah yang dimaksud dengan syethan naas, atau syethan yang berbentuk manusia, yang kelakuannya lebih parah dan lebih rusak." (Muhammad Dahlan , tang_ce@yahoo.com , Mon, 19 Apr 2004 04:18:38 -0700 (PDT))

"Saya jadi ingin ikutan menanggapi sanggahan saudara Ahmad Sudirman bahwa pesawat sukhoi dibeli untuk menggempur rakyat Aceh, sebenarnya pesawat sukhoi SU-27 dan SU-30 termasuk dalam jajaran pesawat interceptor, jadi ketika akan digunakan sebagai pesawat COIN (Counter Insurgency) hal ini akan sangat mubazir, karena kalau dilihat dari kecepatan tidaklah mungkin menggunakan pesawat jet dengan kecepatan 2.5 mach untuk menggempur gerilyawan. Jadi yang cocok untuk menggempur grilyawan adalah pesawat OV-10 Bronco yang kecepatannya tidaklah cepat, saya rasa anda telah salah dalam menilai pembelian alutsista TNI. Maksud dan tujuan TNI membeli alutsista dari rusia adalah untuk memperkuat jajaran operasional, ketika pesawat-pesawat buatan barat diembargo, serta menghilangkan ketergantungan dari dunia barat dalam hal pengadaan arsenal tempur dan meremajakan serta memodernisasi angkatan, khususnya angkatan udara yang memang selalu berkutat dengan tekhnologi tinggi. Saya rasa mohon dipahami hal ini oleh saudara ahmad sudirman agar dilain waktu tidak keliru kalau ingin menghujat dan memfitnah" ( Rusmanto Ismail , toto_wrks@yahoo.com , Sun, 18 Apr 2004 23:28:42 -0700 (PDT))

Terimakasih saudara Muhammad Dahlan di NSW, Australia dan saudara Rusmanto Ismail di Universitas Trisakti, Jakarta, Indonesia.

Itu laporan langsung dari lapangan tentang anggota TNI yang sedang menjaga pos-posnya di Kabupaten Bireuen melakukan pengompasan para supir penumpang angkutan umum dan truk-truk pengangkut barang, yang disampaikan oleh saudara Shahen Fasya kemaren, Senin, 19 April 2004, memang cukup telak memukul muka Penguasa Darurat Militer Daerah Aceh Mayjen TNI Endang Suwarya dan Kolonel Laut Ditya Soedarsono.

Tetapi, memang seperti yang diungkapkan oleh saudara Muhammad Dahlan: "Mana ada TNI/Brimob NKRI mau ngaku salah, meskipun telah terbukti dan terpergok sedang menjalankan kesalahan. Kalau dulu, ketika syethan melakukan kesalahan tidak mau tunduk kepada adam, lalu syethan mengaku keslahannya dan rela menerima hukuman. Sekarang kita dapat buktikan bahwa anggota TNI/Brimob NKRI yang bertugas di Naggroe lebih jahat dari syethan. Mungkin inilah yang dimaksud dengan syethan naas, atau syethan yang berbentuk manusia, yang kelakuannya lebih parah dan lebih rusak."

Jadi, jelas itu kelakuan serdadu TNI mengompas dan menarik upeti dari para supir penumpang umum dan pengangkut barang-barang di Negeri Aceh, tidak akan mendapat sangsi hukum apapun, kecuali, itu Mang Endang dan Mas Ditya, paling mengatakan seperti ini: "ya, kita akan selidiki, dan kita akan beri peringatan, kalau memang terbukti itu anggota TNI yang bertugas di pos-pos penjagaan di Kabupaten Bireuen melakukan pelanggaran hukum dengan cara mengompas untuk meminta upeti dari para supir angkutan umum dan pengangkut barang".

Dan memang sudah terbukti, dimana sebelum ini, di media massa di NKRI-pun telah diberitakan mengenai pengompasan terhadap para supir ini, tetapi, ya, itu, Kolonel Laut Ditya, hanya memberikan argumentasi bahwa anggota TNI yang melakukan pelanggaran hukum akan diselidiki dan ditindak. Tetapi, realitanya, kosong. Karena memang tidak ada tindak lanjutan dari Mang Endang dan Mas Ditya, maka itu anggota TNI makin berani melakukan pelanggaran hukum dengan cara mengompas para supir itu.

Selanjutnya, sedikit menyinggung masalah pesawat sukhoi SU-27, SU-30, Helikopter MI-35P, dan senjata khalasnikov yang dibeli dari Rusia hasil barter dengan Bulog.

Dimana saudara Rusmanto menanggapi: "saya jadi ingin ikutan menanggapi sanggahan saudara Ahmad Sudirman bahwa pesawat sukhoi dibeli untuk menggempur rakyat Aceh, sebenarnya pesawat sukhoi SU-27 dan SU-30 termasuk dalam jajaran pesawat interceptor, jadi ketika akan digunakan sebagai pesawat COIN (Counter Insurgency) hal ini akan sangat mubazir, karena kalau dilihat dari kecepatan tidaklah mungkin menggunakan pesawat jet dengan kecepatan 2.5 mach untuk menggempur gerilyawan.Jadi yang cocok untuk menggempur grilyawan adalah pesawat OV-10 Bronco yang kecepatannya tidaklah cepat"

Jelas, saudara Rusmanto, karena itu pesawat tempur F-5, F-16, OV-10 Bronco, helicopter Colibry, pesawat Twin PK, senjata-senjata made in USA dan negara Barat lainnya tidak dibenarkan dipakai untuk menggempur rakyat dan Negeri Aceh, maka pihak TNI/POLRI/RAIDER dalam menjalankan taktik dan strategi pendudukan dan penjajahan Negeri Aceh selanjutnya, akan mempergunakan pesawat tempur, helikopter dan senjata buatan Rusia, seperti pesawat tempur sukhoi SU-27, SU-30, helikopter MI-35P, dan senjata khalasnikov, ditambah senjata buatan perusahaan senjata Pindad di Bandung.

Karena memang antara pihak NKRI dan pihak Rusia telah disepakati bahwa dalam rangka kerjasama perang melawan terorisme internasional, maka disetujui untuk mempererat kerjasama dalam bidang perdagangan, termasuk jual beli senjata, walaupun dengan cara barter pakai salah satunya kacang kedelai Bulog.

Nah, karena pihak NKRI mengangggap dan menuduh ASNLF atau GAM sebagai organisasi teroris, maka itu pesawat tempur, helikopter, dan senjata made in Rusia bisa dipergunakan tanpa merasa takut diembargo oleh Rusia.

Dimana, soal kecepatan pesawat sukhoi 5 kali lebih cepat dari pesawat OV 10 Bronco, itu bukan satu persoalan besar, dan dijadikan sebagai pesawat Counter Insurgency juga bukan suatu hal yang mubazir. Karena memang NKRI dilarang mempergunakan pesawat tempur, helikopter perang, dan senjata-senjarta buatan AS dan negara Eropa lain untuk dipakai menggempur rakyat Aceh dan Negeri Aceh.

Jadi, mau tidak mau, itu TNI akan mempergunakan pesawat tempur sukhoi, helikopter perang MI-35 P dan senjata khalasnikov made in Rusia untuk dipakai menghancurkan rakyat Aceh dan Negeri Aceh.

Karena itu, apa yang saya kemukakan dalam hal pesawat tempur sukhoi, helikopter MI-35 P, dan senjata khalasnikov untuk menghancurkan rakyat Aceh dan Negeri Aceh bukanlah suatu hujatan dan firnah kepada pihak NKRI, melainkan satu fakta dan bukti yang jelas, benar dan terang.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Mon, 19 Apr 2004 04:18:38 -0700 (PDT)
From: muhammad dahlan tang_ce@yahoo.com
Subject: Re: SHAHEN FASYA: ANAK BUAH MANG ENDANG & DITYA KERJANYA MINTA UPETI DI BIREUEN
To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se

Mana ada TNI/Brimob NKRI mau ngaku salah, meskipun telah terbukti dan terpergok sedang menjalankan kesalahan. Kalau dulu, ketika syethan melakukan kesalahan tidak mau tunduk kepada adam, lalu syethan mengaku keslahannya dan rela menerima hukuman. Sekarang kita dapat buktikan bahwa anggota TNI/Brimob NKRI yang bertugas di Naggroe lebih jahat dari syethan. Mungkin inilah yang dimaksud dengan syethan naas, atau syethan yang berbentuk manusia, yang kelakuannya lebih parah dan lebih rusak.

Maka heran juga kita dibuatnya, masih ada juga orang-orang yang mengaku ulama Acheh, yang mau mendukung perbuatan syethan NKRI tersebut. Lalu apa artinya ibadah ulama-ulama semacam itu, kalau setelah menyembah Allah dan kemudian pergi menyembah TNI/Brimob NKRI?

Terkutuklah manusia-manusia yang menjajah dan yang mendukung mereka, walau pun mereka mengaku ulama. Insya Allah bangsa Acheh tidak akan terpengaruh dengan tingkah-tingkah munafik beberapa ulama Acheh yang telah menjual diri mereka dengan harga murah.

Muhammad Dahlan

tang_ce@yahoo.com
NSW, Australia
----------

Date: Sun, 18 Apr 2004 23:28:42 -0700 (PDT)
From: Rusmanto Ismail toto_wrks@yahoo.com
Subject: Re: HIDUNG HERMAWAN MEMANG SUDAH DITARIK MEGAWATI To: Ahmad Sudirman ahmad@dataphone.se

Saya jadi ingin ikutan menanggapi sanggahan saudara Ahmad Sudirman bahwa pesawat sukhoi dibeli untuk menggempur rakyat Aceh, sebenarnya pesawat sukhoi SU-27 dan SU-30 termasuk dalam jajaran pesawat interceptor, jadi ketika akan digunakan sebagai pesawat COIN (Counter Insurgency) hal ini akan sangat mubazir, karena kalau dilihat dari kecepatan tidaklah mungkin menggunakan pesawat jet dengan kecepatan 2.5 mach untuk menggempur gerilyawan.

Jadi yang cocok untuk menggempur grilyawan adalah pesawat OV-10 Bronco yang kecepatannya tidaklah cepat, saya rasa anda telah salah dalam menilai pembelian alutsista TNI. Maksud dan tujuan TNI membeli alutsista dari rusia adalah untuk memperkuat jajaran operasional, ketika pesawat-pesawat buatan barat diembargo, serta menghilangkan ketergantungan dari dunia barat dalam hal pengadaan arsenal tempur dan meremajakan serta memodernisasi angkatan, khususnya angkatan udara yang memang selalu berkutat dengan tekhnologi tinggi.

Saya rasa mohon dipahami hal ini oleh saudara ahmad sudirman agar dilain waktu tidak keliru kalau ingin menghujat dan memfitnah

Rusmanto

4372386
STMT Trisakti
Jurusan Manajemen Transportasi Laut dan Kepelabuhanan.
toto_wrks@yahoo.com
Jakarta, Indonesia
----------