Stockholm, 20 April 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

DITYA COBA PUTAR BALIK FAKTA BUKTI DAN SEJARAH PENJAJAHAN DI NEGERI ACEH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

DITYA SOEDARSONO MENCOBA PUTAR BALIK FAKTA BUKTI DAN SEJARAH PENJAJAHAN DI NEGERI ACEH

"Alhamdulillah saudara Warwick adalah ustadz saya, untuk itu marilah beri saya pelajaran mengaji pak ustadz; sayangnya kenapa pak ustadz yang mau memberikan pelajaran saya mengaji kok takut ama polisi kalau memang pak ustadz orang suci, yang hanya takut pada hukum Illahi Rabbi datang dong ke Aceh jangan pak ustadz sembunyi di rumahnya kaum non muslim dan bahkan berlindung dan diberi, dan menadah nafkah dari orang non muslim, kalau anda beranggapan hanya bangsa Aceh saja yang memiliki syariat Islam, kenapa anda sekarang hidup ditanah kafir itu, mencari dan mengkais-kais rezeki dibuminya orang kafir. Apa tidak bertentangan dengan tulisan yang pak ustadz miliskan? Pulang dulu dong Pak ustadz ke Aceh biar saya segera jadi mualaf Abu Warwick, kalau Abu orang suci, orang baik, orang budiman, orang bijak, orang alim dsbnya. Kenapa abu justru takut menghadapi kenyataan, abu takut hadapi keadaan, abu kan pernah memberikan pengajian kepada saya, jangan takut pada manusia ya abu, takutlah hanya kepada Allah SWT." (Ditya Soedarsono , dityaaceh_2003@yahoo.com , Tue, 20 Apr 2004 04:25:57 -0700 (PDT))

Baiklah Komandan Satuan Tugas Penerangan (Dansatgaspen) PDMD Kolonel Laut Ditya Soedarsono.

Kolonel Laut Ditya Soedarsono, itu tulisan Kolonel yang ditujukan kepada saudara Warwick di Malaysia isinya memang kosong, mengapa ?

Karena, Kolonel terus saja pertahankan Negeri Aceh hasil penelanan, pencaplokan, pendudukan, dan penjajahan Soekarno. Dimana sudah jelas, terang, benar, itu Negeri Aceh ditelan, dicaplok, diduduki, dan dijajah oleh NKRI, masih saja Kolonel Laut Ditya menganggap itu Negeri Aceh milik Kolonel, milik Mang Endang, milik Akbar Tandjung, milik SBY, milik Megawati, milik NKRI.

Sehingga ketika rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasibnya sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI, menuntut Negeri Aceh dikembalikan kepada seluruh rakyat Aceh, langsung saja disapu dan dilenyapkan sampai habis. Tetapi, kalau didepan orang, muka Kolonel Ditya berseringai-seringai sambil mulutnya komat kamit: "Bagaimana para mualaf lain mau percaya sedangkan ustadz yang bangsanya dijajah ternyata ada dinegeri antah berantah dan pergaulannya bersama orang-orang non muslim, dan tidak berani datang ke Aceh, kalau benar Aceh ini milik bangsa Aceh kenapa harus takut datang kenegaranya sendiri nah bagaimana pak ustadz."

Jelas, kelihatan itu Kolonel Ditya yang otaknya kosong disengat racun pancasila hasil olahan Soekarno, ketika berbicara sudah melantur. Dihadapan orang banyak mengatakan: "kalau benar Aceh ini milik bangsa Aceh kenapa harus takut datang kenegaranya sendiri". Tetapi ketika rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI, yang menuntut penentuan pendapat untuk memilih opsi YA bebas dari NKRI atau TIDAK bebas dari NKRI, langsung saja itu rakyat Aceh tersebut ditodong pakai senjata, ditangkapi, dan dihukumi, dengan alasan melakukan makar.

Nah, itu kan sudah tidak benar apa yang diucapkan oleh Kolonel Ditya Soedarsono arek Suroboyo dengan kenyataan yang sebenarnya.

Pikir Kolonel Laut Ditya, apa yang diucapkannya di mimbar bebas ini akan berlalu dan akan lancar begitu saja, tanpa melalui penyaringan otak Kang Dirman di mimbar bebas ini.

Eh, Kolonel, jangan seenak perut kalau menulis di mimbar bebas ini.

Sekarang begini, kalau memang itu yang dikatakan oleh Kolonel Ditya: "kalau benar Aceh ini milik bangsa Aceh kenapa harus takut datang kenegaranya sendiri" adalah betul-betul menurut fakta, bukti, dan hukum, maka saya akan bertanya, mengapa itu rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan ansib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI ditangkapi dan dijebloskan kedalam penjara dengan tuduhan membuat makar? Padahal itu, Negeri Aceh kan milik rakyat Aceh, bukan milik NKRI, bukan milik RI, bukan milik Kolonel Laut Ditya?.

Kolonel Laut Ditya, kalau berbicara di mimbar bebas ini, jangan berbohong dan coba menipu, seperti Soekarno yang selalu melakukan penipuan licik.

Jelas, itu saudara Warwick yang tinggal di Malaysia mengetahui benar bahwa Negeri Aceh dijajah oleh NKRI.

Sekarang, kalau memang Kolonel Laut Ditya telah menyadari dan telah mengetahui bahwa Negeri Aceh adalah milik rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasibnya sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI, maka sebaiknya Kolonel Laut Ditya dan semua pasukan TNI/POLRI/RAIDER yang ditugaskan ke Negeri Aceh harus segera ditarik dari Negeri Aceh secepat mungkin, dan biarkan rakyat Aceh yang akan mengatur Negerinya sendiri.

Kolonel Laut Ditya, jangan banyak melantur di mimbar bebas ini, karena apa yang dikatakan oleh Kolonel di mimbar bebas ini, ternyata penuh kebohongan dan penuh tipu muslihat.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Tue, 20 Apr 2004 04:25:57 -0700 (PDT)
From: Ditya Soedarsono <dityaaceh_2003@yahoo.com>
Subject: Fwd: SOLUSINYA MUDAH, TAPI ABU NGUMPET DIMANA...???
To: universityofwarwick@yahoo.co.uk
Cc: tang_ce@yahoo.com, asammameh@hotmail.com, om_puteh@hotmail.com,
achehnews@yahoogroups.com, ilyas.abdullah@wanadoo.nl

Assalamu'alaikum Wr Wb,

Alhamdulillah saudara Warwick adalah ustadz saya, untuk itu marilah beri saya pelajaran mengaji pak ustadz; sayangnya kenapa pak ustadz yang mau memberikan pelajaran saya mengaji kok takut ama polisi kalau memang pak ustadz orang suci, yang hanya takut pada hukum Illahi Rabbi datang dong ke Aceh jangan pak ustadz sembunyi di rumahnya kaum NON MUSLIM dan bahkan berlindung dan diberi DAN menadah nafkah dari orang non muslim, kalau anda beranggapan hanya bangsa Aceh saja yang memiliki syariat Islam, kenapa anda sekarang hidup ditanah kafir itu, mencari dan mengkais-kais rezeki dibuminya orang kafir. APA TIDAK BERTENTANGAN DENGAN TULISAN YANG PAK USTADZ MILISKAN...???

Pulang dulu dong Pak ustadz ke Aceh biar saya segera jadi mualaf Abu Warwick, kalau Abu orang suci, orang baik, orang budiman, orang bijak, orang alim dsbnya. kenapa abu justru takut menghadapi kenyataan, abu takut hadapi keadaan abu kan pernah memberikan pengajian kepada saya, jangan takut pada manusia ya abu, takutlah hanya kepada Allah SWT.

Pak ustadz jangan bohong ya. BANGSA ACEH ITU YANG MANA YA, dimana letak pemerintahannya, secaya de fakto di Aceh sini kok gak ada ya, secara de jure negara mana yang telah berikan suaranya, VANUATU nyatanya setelah di cek TIDAK gimana ya pak Ustadz tidak boleh bohong lho sama mualafnya kalau ustadznya berbohong bagaimana jadinya sang mualaf?!

Saudara-saudaraku sidang mimbar milis masa ada seorang ustadz mengusir mualafnya apakah demikian tingka laku dan perbuatan seseorang yang memiliki iman lebih baik dari bangsa kafir?

Bagaimana para mualaf lain mau percaya sedangkan ustadz yang bangsanya dijajah ternyata ada dinegeri antah berantah dan pergaulannya bersama orang-orang non muslim, dan tidak berani datang ke Aceh, kalau benar Aceh ini milik bangsa Aceh kenapa harus takut datang kenegaranya sendiri nah bagaimana pak ustadz.

Nach pak ustadz ngelantur lagi kemaksiatan itu adalah tugas anda sebagai ustadz untuk menghilangkannya bukan anda serahkan kepada mualafnya nach sekali lagi pak ustadz seorang muslim yang tidak mau bertanggung jawab tentang kerusakan di dunia ini yang anda pikirkan hanya merdeka dan merdeka kemerdekaan itu sebenarnya sudah anda miliki di dalam dada ustadz, hanya ustadz saja yang tidak mampu mengimplementasikannya, karena ustadz berpikiran sempit kalau anda bisa hidup dinegeri orang lain kenapa anda tidak bisa hidup dinegeri dan bangsa anda sendiri ya terpaksa batal deh gue menjadi mualaf anda ternyata anda seorang muslim yang tidak bisa mengajak orang lain kembali kejalan Illahi.

Wasalam

Ditya

dityaaceh_2003@yahoo.com
ACEH NAD
----------