Stockholm, 21 April 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

RUSMANTO TERUS IKUT EKOR YUDHOYONO & WIRANTO PENERUS SOEKARNO PENJAJAH NEGERI ACEH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

JELAS KELIHATAN ITU RUSMANTO TERUS SAJA MENELAN PROPAGANDA DAN IKUT EKOR MEGAWATI, SUSILO BAMBANG YUDHOYONO & WIRANTO PARA PENERUS SOEKARNO PENCAPLOK DAN PENJAJAH NEGERI ACEH

"Ahmad Sudirman, coba dengarkan ini, sejauh ini anda hanya memberikan analisa berdasarkan UU, Keppres, Perppu dan lain sebagainya, tanpa anda melihat secara dekat ke Aceh, bagaimana perasaan rakyat Aceh setelah diterapkannya Darurat Militer, bahwasanya kita sering melihat laporan di televisi bahwa setelah diterapkan DM, keamanan semakin terjamin dan semakin kondusif." ( Rusmanto Ismail , toto_wrks@yahoo.com , Tue, 20 Apr 2004 21:16:42 -0700 (PDT))

Baiklah saudara Rusmanto Ismail di Universitas Trisakti, Jakarta, Indonesia.

Ternyata makin hari, makin lama, saudara Rusmanto Ismail dari Universitas Trisakti jurusan Manajemen Transportasi Laut dan Kepelabuhanan dalam diskusi dan berdebat di mimbar bebas ini, makin kelihatan bahwa pengetahuan tentang Negeri Aceh dan ketatanegaraan RI-Jawa-Yogya, RIS, NKRI, RI ternyata minim dan boleh dikatakan kosong.

Dimana saudara Rusmanto ini hanya mampu menelan semua propaganda sepihak dari Presiden NKRI Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono, Wiranto, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar, Penguasa Darurat Militer Daerah Aceh Mayjen TNI Endang Suwarya, dan Kolonel Laut Ditya Soedarsono.

Lihat saja, apa yang dikemukakan oleh saudara Rusmanto: "bahwasanya kita sering melihat laporan di televisi bahwa setelah diterapkan DM, keamanan semakin terjamin dan semakin kondusif."

Coba perhatikan oleh seluruh peserta mimbar bebas dan oleh seluruh rakyat di Negeri Aceh dan di NKRI, itu saudara Rusmanto menerima laporan di televisi yang melaporkan bahwa setelah diterapkan darurat militer keamanan semakin terjamin dan semakin kondusif.

Memang betul-betul saudara Rusmanto ini telah ditipu secara bulat-bulat oleh Penguasa Darurat Militer Pusat Presiden Megawati dari PDI-P, Penguasa Darurat Militer Daerah Aceh Mayjen TNI Endang Suwarya, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal (Pol) Da'i Bachtiar, dan Kolonel Laut Ditya Soedarsono.

Saudara Rusmanto, itu laporan tentang darurat militer di Aceh yang ditayangkan oleh TV yang selalu dilihat oleh saudara, isi beritanya telah disensor dengan alat sensor dasar hukum Keputusan Presiden Republik Indonesia selaku Penguasa Darurat Militer Pusat Nomor 43 Tahun 2003 Tentang Pengaturan kegiatan Warga Negara Asing, Lembaga Swadaya Masyarakat dan Jurnalis di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Itu berita-berita yang dimuat di media massa di NKRI semuanya telah dikontrol dan di sensor oleh Penguasa Darurat Militer Daerah Aceh Mayjen TNI Endang Suwarya yang dibantu oleh Kolonel Laut Ditya Soedarsono.

Kemudian Penguasa Darurat Militer Daerah Aceh Mayjen TNI Endang Suwarya disamping menggunakan alat sensor dasar hukum Keppres No.43/2003, juga menggunakan alat pemukul yang berbentuk dasar hukum Undang-Undang Nomor 23 Prp Tahun 1959 tentang Keadaan Bahaya yang ditetapkan oleh Soekarno penipu licik, penelan, pencaplok, dan penjajah Negeri Aceh.

Jadi, itu berita-berita tentang darurat militer di Negeri Aceh yang disiarkan melalui televisi di NKRI, isi beritanya merupakan hasil saringan Penguasa Darurat Militer Daerah Aceh Mayjen TNI Endang Suwarya.

Nah, kalau berita-berita tentang darurat militer di Negeri Aceh yang disiarkan melalui televisi di NKRI terus saja disantap tanpa terlebih dahulu dipikirkan, dipelajari, dianalisa, maka jelas hasilnyapun akan seperti yang diungkapkan oleh saudara Rusmanto Ismail diatas, "bahwa setelah diterapkan DM, keamanan semakin terjamin dan semakin kondusif."

Saudara Rusmanto, kalau saudara ingin berdebat tentang masalah penjajahan Negeri Aceh oleh NKRI, masalah penentuan pendapat oleh seluruh rakyat Aceh, dan masalah lain yang terjadi di Nusantara ini, maka terlebih dahulu saudara harus membaca, mempelajari, memikirkan, tentang bagaimana itu Negeri Aceh berada dalam kerangka NKRI atau RI atau RI-Jawa-Yogya.

Karena kalau saudara Rusmanto dalam berdebat mengenai Negeri Aceh dan NKRI di mibar bebas ini tanpa dibekali pengetahuan yang mendasar mengenai Negeri Aceh, hukum, dan tatanegaraa RI-Jawa-Yogya, RIS, NKRI, RI, maka jelas saudara dalam memberikan argumentasi tentang penjajahan Negeri Aceh ini hanya mengambil dari apa yang dipropagandakan oleh pihak Penguasa Darurat Militer Pusat Presiden Megawati dan Penguasa Darurat Militer Daerah Aceh Mayjen TNI Endang Suwarya saja.

Disamping saudara Rusmanto tidak memiliki kemampuan yang memadai tentang Negeri Aceh berada dalam kerangka NKRI, juga saudara Rusmanto tidak mengetahui secara jelas, pasti, dan benar mengenai akar masalah timbulnya konflik Aceh yang sudah berlangsung lebih dari 50 tahun ini.

Di mimbar bebas ini saya telah berpuluh kali menyatakan dan mengulas tentang akar penyebab dan akar masalah utama timbulnya konflik Aceh ini.

Tetapi tentu saja, saya memahami bahwa memang karena saudara Rusmanto ini telah sedemikian rupa dibombardir dengan segala macam propaganda, informasi, tulisan, pelajaran tentang Negeri Aceh, baik yang disampaikan melalui media massa, ataupun melalui bangku sekolah, maka akibat dari semua propaganda, informasi, dan pelajaran yang diterima oleh saudara Rusmanto itu, melahirkan pemikiran yang bisa dibaca dari tulisan dan tanggapan saudara Rusmanto di mimbar bebas ini.

Rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI, yang menuntut dan memperjuangkan Negeri Aceh yang ditelan, dicaplok, diduduki, dan dijajah oleh NKRI ini agar dikembalikan kepada seluruh rakyat Aceh yang berhak memilikinya, ternyata oleh pihak Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, dan Megawati dianggap sebagai pemberontak, separatis. Celakanya anggapan tentang pemberontak dan separatis itu ditelan mentah-mentah oleh saudara Rusmanto ini. Sehingga ketika saudara Rusmanto berdebat tentang Negeri Aceh, argumentasi yang dikemukakannya itu tidak lebih dan tidak kurang seperti anggapan yang telah dinyatakan oleh pihak Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, dan Megawati.

Sehingga tidak heran dalam tanggapan saudara Rusmanto ini timbul pernyataan: "bahwa dengan memberi kesempatan kepada GAM untuk hidup, sama saja dengan membiarkan harta mereka dirampok dan kebebasan mereka diobok-obok karena GAM selalu memungut pajak yang hasil dari pajak tersebut tidak diketahui digunakan untuk apa (paling-paling untuk beli senjata AK-47, M16, yang kemudian digunakan untuk membunuhi kepala desa, kepala sekolah, anak-anak sekolah, dan para ulama Aceh yang setia kepada NKRI). Sedangkan kalau membayar pajak ke NKRI hasilnya terbukti nyata, dengan dibangunnya Jalan-jalan, dan fasilitas umum lainnya, dapat kita saksikan bersama bahwa selama diterapkannya DM banyak sekolah yang dibakar dan dirusak oleh GAM.

Nah, dari tanggapan saudara Rusmanto ini saja sudah bisa dilihat, bahwa argumentasi yang dijadikan dasar utama mengenai adanya Negeri Aceh dalam NKRI dan timbulnya konflik Aceh tidak kelihatan, justru yang dimunculkan hanyalah hasil propaganda pihak PDMD Aceh seperti GAM memungut pajak, tuduhan membeli senjata dari uang pajak, tuduhan membunuh rakyat yang setia kepada NKRI. Padahal yang sebenarnya melakukan pembunuhan terhadap rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI adalah pihak penguasa NKRI bersama TNI/POLRI/RAIDER yang didukung oleh saudara Rusmanto.

Jelas, propaganda dari pihak PDMD Aceh dan PDMPusat tentang ASNLF atau GAM dengan maksud dan tujuan untuk menutupi akar masalah sebenarnya, yaitu Negeri Aceh yang ditelan, dicaplok, diduduki, dijajah oleh Presiden RIS Soekarno pada tangal 14 Agustus 1950 dengan menggunakan PP RIS No.21/1950 dan PERPU No.5/1950.

Dimana pihak Penguasa Darurat Militer Pusat dan Penguasa Darurat Militer Daerah Aceh sampai detik ini tidak ada yang mampu memberikan alasan berdasarkan fakta dan bukti, dasar hukum, dan sejarah untuk mempertahankan pendudukan dan penjajahan Negeri Aceh yang telah dilakukan oleh Presiden RIS Soekarno ketika menelan, mencaplok, menduduki, dan menjajah Negeri Aceh. Selain dengan menganggap dan menuduh pihak rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI sebagai pemberontak dan pembuat makar.

Misi rakyat Aceh adalah memperjuangkan penentuan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI dengan visi membangun kembali Negeri Aceh yang bebas merdeka sebagaimana telah berdiri sejak abad ke-15 yang berlandaskan keadilan, persamaan, kebebasan, dan perdamaian.

Kemudian, bagaimana rakyat Aceh bisa membangun negerinya, kalau pihak NKRI dengan TNI/POLRI/RAIDER-nya terus menduduki dan menjajah Negeri Aceh.

Jelas, suatu hal yang tidak mungkin terjadi pembangunan di Negeri Aceh oleh rakyat Aceh sendiri, apabila dalam kenyataannya sampai detik ini Negeri Aceh diduduki dan dijajah oleh pihak NKRI.

Karena yang terjadi sampai detik ini di negeri Aceh adalah berjalannya penekanan secara militer terhadap rakyat Aceh, seperti penerapan darurat militer, yang merupakan satu alat dan sarana kamuflase untuk menutupi taktik dan strategi pendudukan dan penjajahan di Negeri Aceh.

Akibatnya dengan penerapan taktik dan strategi pendudukan dan penjajahan di Negeri Aceh, rakyat Aceh dari sejak 50 tahun yang lalu sampai detik sekarang ini mengalami kemunduran, kemiskinan, dan kehancuran.

Karena itulah langkah awal rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI adalah memperjuangkan penentuan nasib sendiri melalui cara penentuan pendapat dan pembelaan diri dari serangan dan pembunuhan pihak NKRI dengan TNI/POLRI/RAIDER-nya.

Selanjutnya, saudara Rusmanto mencaplok hasil propaganda yang dilancarkan oleh pihak NKRI bahwa pihak GAM melakukan "penculikan warga Aceh dan wartawan dalam negeri sebagai tameng untuk menghindari dari kejaran TNI" dengan mencontohkan almarhum wartawan RCTI Ersa Siregar dan kameraman Fery Santoro.

Jelas, sebagian besar rakyat di NKRI dan di Negeri Aceh telah mengetahui bahwa almarhum wartawan RCTI Ersa Siregar ditembak oleh pihak TNI. Adapun soal kameraman Fery Santoro belum dibebaskan karena memang pihak Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu yang tidak bersedia menerima penghentian tembak menemabk yang terbatas selama waktu penyerahan kameraman Fery Santoro kepada pihak Palang Merah Internasional. Jadi, itu penyebab terlambatnya dibebaskan kameraman Fery Santoro kepada pihak Palang Merah Internasional adalah pihak Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu.

Seterusnya, alasan Ahmad Sudirman mendukung, menyokong, dan membela rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari penagaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI, karena memang Ahmad Sudirman setelah menggali, membaca, memikirkan, menganalisa, dan menyimpulkan bahwa memang benar Negeri Aceh ditelan, dicaplok, diduduki, dan dijajah oleh Presiden RIS Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1950 dengan memakai dasar hukum sepihak PP RIS No.21/1950 dan PERPU No.5/1950, tanpa persetujuan, kerelaan, dan keikhlasan dari seluruh rakyat Aceh dan pemimpin rakyat Aceh.

Jadi, Ahmad Sudirman mendukung, menyokong, dan membela rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari penagaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI bukan karena hidung Ahmad Sudirman "dicokok oleh Hasan Tiro", melainkan karena Ahmad Sudirman sendiri dengan kemampuan menggunakan pikiran, akal, daya nalar, dan ilmu yang dimiliki, sehingga terbongkar kejahatan, penipuan licik, pendudukan, dan penjajahan di Negeri Aceh yang dilakukan oleh Soekarno. Ahmad Sudirman mendukung, menyokong, dan membela rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI dengan dasar ilmu pengetahuan yang jelas, terang, dan benar, yang sumbernya dibuat oleh pihak NKRI sendiri.

Berbeda dengan saudara Rusmanto Ismail, yang hanya bisa mencaplok hasil propaganda kosong pihak penguasa NKRI dan pihak TNI/POLRI saja.

Jelas, kalau Ahmad Sudirman dibandingkan dengan "mantan Panglima Operasi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Tengku Amri bin Abdul Wahab yang telah sadar dan tanpa paksaan kembali kepangkuan NKRI" jauh berbeda.

Ahmad Sudirman telah mampu melihat dan membongkar kelicikan, kecurangan, penipuan, kejahatan, penelanan, dan pencaplokan Negeri Aceh oleh pihak Presiden RIS Soekarno. Sedangkan "mantan Panglima Operasi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Teungku Amri bin Abdul Wahab" kemungkinan besar ilmunya tidak sampai kesana. Tentu saja, kalau Teungku Amri bin Abdul Wahab masih ada, saya persilahkan untuk berdebat tentang pendudukan dan penjajahan Negeri Aceh oleh NKRI dengan Ahmad Sudirman di mimbar bebas ini.

Terakhir, itu soal keyakinan saudara Rusmanto apabila Aceh merdeka: "saya sangat yakin bahwa secara infrastruktur dan SDM anda belum tentu bisa mengelola Aceh, apalagi dipimpin oleh anda yang orang GAM dengan latar belakang GAM yang doyan perang, pasti yang akan terjadi adalah pengompasan terhadap rakyat oleh tentara GAM akan semakin menjadi-jadi dan pada akhirnya rakyat akan sadar bahwa ternyata mengikuti GAM adalah bukan tindakan yang benar."

Saudara Rusmanto itu rakyat Aceh bukan orang bodoh-bodoh. Soal mengelola Aceh apabila Aceh merdeka, tidak perlu saudara Rusmanto dari sekarang sudah menerka-nerka yang tidak menentu. Itu akan dibicarakan kemudian. Taktik dan strategi kebijaksanaan pembangun Negara Aceh yang merdeka itu akan dibicarakan oleh seluruh rakyat Aceh. Jangan khawatir. Langkah utama sekarang adalah melaksanakan penentuan pendapat bagi seluruh rakyat Aceh di Negeri Aceh.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Tue, 20 Apr 2004 21:16:42 -0700 (PDT)
From: Rusmanto Ismail toto_wrks@yahoo.com
Subject: PARA REKAN MILIS, ITU AHMAD SUDIRMAN SUDAH DICOKOK HIDUNGNYA OLEH HASAN TIRO
To: Ahmad Sudirman <ahmad@dataphone.se>, Aceh Kita <redaksi@acehkita.com>, ahmad jibril <ahmad_jibril1423@yahoo.com>, "Susilo.Sawaldi" <Susilo.Sawaldi@bhpsteel.com>, Hudoyo <hudoyo@cbn.net.id>, Padmanaba <Padmanaba@uboot.com>, SEA <sea@swipnet.se>, Hidajat Sjarif siliwangi27@hotmail.com

AHMAD SUDIRMAN, coba dengarkan ini,

sejauh ini anda hanya memberikan analisa berdasarkan UU, KEPPRESS, PERPPU dan lain sebagainya, tanpa anda melihat secara dekat keaceh, bagaimana perasaan rakyat Aceh setelah diterapkannya Darurat Militer, bahwasanya kita sering melihat laporan di televisi bahwa setelah diterapkan DM, keamanan semakin terjamin dan semakin kondusif.

Hal ini terbukti dengan berjalannya kembali sistem pemerintahan sipil dan juga roda ekonomi yang mulai bergerak. Indikasi ini dapat terlihat dari kegiatan Jual-beli yang makin meningkat dari hari kehari, dan rupanya rakyat Aceh semakin sadar bahwa dengan memberi kesempatan kepada GAM untuk hidup, sama saja dengan membiarkan harta mereka dirampok dan kebebasan mereka diobok-obok karena GAM selalu memungut pajak yang hasil dari pajak tersebut tidak diketahui digunakan untuk apa (paling-paling untuk beli senjata AK-47, M16, yang kemudian digunakan untuk membunuhi kepala desa, kepala sekolah, anak-anak sekolah, dan para ulama Aceh yang setia kepada NKRI). Sedangkan kalau membayar pajak ke NKRI hasilnya terbukti nyata, dengan dibangunnya Jalan-jalan, dan fasilitas umum lainnya, dapat kita saksikan bersama bahwa selama diterapkannya DM banyak sekolah yang dibakar dan dirusak oleh GAM.

Lantas apa misi dan visi GAM kedepan untuk membangun Aceh? ternyata tidak ada. Buktinya sekolah yang dalam kegiatannya adalah dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dirusak dan dibakar lantas apakah mau dikemanakan itu masa depan anak-anak Aceh kalau mereka tidak bersekolah?. Dan kalau kita mendengarkan pepatah orang bijak bahwa Suatu bangsa yang tidak memperhatikan sektor pendidikan bagi generasi penerusnya hanyalah akan menjerumuskan bangsa tersebut kejurang perselisihan dan jurang kemiskinan yang lebih dalam.

Juga untuk urusan penculikan yang dilakukan terhadap warga Aceh maupun wartawan dalam negeri (seperti yang dialami oleh wartawan RCTI Ersa Siregar yang akhirnya meninggal dalam kontak senjata antara TNI dan GAM dan ini adalah salah satu bukti bahwa GAM menggunakan tameng warga sipil untuk menghindari dari kejaran TNI dan kameraman Fery Santoro yang sampai sekarang ini tidak jelas keberadaannya ditangan GAM).

Maka itu Ahmad Sudirman yang sedang dicokok hidungnya oleh Hasan Tiro sipembual ulung, segeralah melepas tali yang melekat dihidung anda, dan jauhi itu Hasan Tiro. Apa karena anda dijanjikan akan segara diberikan jabatan penting oleh Hasan Tiro kalau Aceh bisa merdeka jadi anda terus mengekor si Hasan Tiro layaknya anjing dengan tuannya? Sadarlah dan bangunlah dari mimpimu seperti mantan Panglima Operasi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Tengku Amri bin Abdul Wahab yang telah sadar dan tanpa paksaan kembali kepangkuan NKRI karena beliau sadar bahwa perjuangan GAM itu hanya perjuangan sia-sia yang kalau diteruskan malahan akan membawa banyak kerugian, dan dia sadar bahwa melawan pemerintahan yang sah juga termasuk sia-sia karena dukungan internasional tidak akan ada. Ingat bahwa Tengku Amri bin Abdul Wahab adalah seorang tokoh kharismatik yang kalau masuk kampung bisa digotong masyarakat berkilo-kilometer, kalau anda siapa? Mungkin rakyat Aceh banyak yang tidak tahu sepak terjang saudara, dan pasti rakyat Aceh akan bilang kepada anda bahwa anda seorang pengecut yang hanya bersembunyi dinegeri orang, tidak berani pulang keaceh karena takut mati ditembak sama TNI (Kasian deh luh).

Yang terakhir, kalaupun pemerintah NKRI memberikan opsi merdeka kepada Aceh, saya sangat yakin bahwa secara infrastruktur dan SDM anda belum tentu bisa mengelola Aceh, apalagi dipimpin oleh anda yang orang GAM dengan latar belakang GAM yang doyan perang, pasti yang akan terjadi adalah pengompasan terhadap rakyat oleh tentara GAM akan semakin menjadi-jadi dan pada akhirnya rakyat akan sadar bahwa ternyata mengikuti GAM adalah bukan tindakan yang benar.

Wassalamualaikum Wr Wb

Rusmanto

4372386
Trisakti Sea Transport Management
toto_wrks@yahoo.com
Jakarta, Indonesia
----------