Stockholm, 21 April 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

RAKYAT ACEH DIPAKSA UNTUK MENUNTUT PERPANJANGAN DM & DIINTIMIDASI AGAR MEMILIH
Tgk. Sofjan Dawood
Jurubicara Militer TNA.

 

RAKYAT ACEH DIPAKSA UNTUK MENUNTUT PERPANJANGAN DM & DIINTIMIDASI AGAR MEMILIH

18 April, ribuan warga Bireuen dipaksa untuk mengikuti aksi yang dibuat oleh kelompok milisi hasil bentukan TNI yang dipimpin oleh Sofyan Ali untuk menuntut perpanjangan Darurat Militer di Acheh. Sebelumnya pemaksaan seperti itu telah dilaksanakan dibeberapa wilayah Acheh yang lain.

Ini adalah ulangan praktek kotor TNI yang dilakukan menjelang berakhirnya tempo Darurat Militer yang pertama enam bulan yang lalu. DM 2 ini akan berakhir tepat sebulan lagi pada 19 Mei, yang berarti genap setahun TNI telah bersimaharajalela di Acheh tanpa batas hukum apapun. TNI adalah lembaga terrorisme terbesar di Asia. Ia telah membunuh sepertiga rakyat Timor Leste, mengadu domba rakyat Maluku, Sulawesi dan Kalimantan. Pembunuhan, pemerkosaan dan berbagai tindakan kejahatan kemanusiaan lainnya serta genocide sedang dipraktekkan di Acheh dan Papua.

Dalam laporan tahunan yang panjang yang dikeluarkan oleh Pemerintah Amerika Serikat tentang pelanggaran hak-hak asasi manusia di Indonesia, antara lain disebutkan: "...Pemerkosaan dan keganasan-keganasan lainnya terhadap wanita telah dijadikan alat perang oleh militer Indonesia di Acheh.

Di bawah undang-undang Indonesia pemerkosaan dianggap telah berlaku hanya jika kemaluan lelaki dimasukkan ke dalam kemaluan perempuan. Telah terjadi banyak kali dalam tahun 2002 di Acheh, serdadu-serdadu Indonesia tidak dianggap melakukan pemerkosaan karena mereka memasukkan botol atau benda-benda lainnya ke dalam kemaluan perempuan. Pemerkosaan terhadap perempuan-perempuan Acheh oleh anggota-anggota pasukan keamanan Indonesia di Acheh banyak kali terjadi. Aktivis-aktivis kemanusiaans telah menyatakan kekuatiran mereka bahwa banyak sekali insiden-insiden pemerkosaan di Acheh yang tidak dilaporkan, sebagiannya disebabkan karena kekangan ketat terhadap pers.

Konsortium NGO-NGO Sahabat Aceh melaporkan bahwa lebih 100 pemerkosaan oleh TNI/Polri telah berlaku di Aceh dari bulan Mei hingga September, tetapi hanya 21 kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual telah dilaporkan kepada pihak berwajib. TNI telah mebawa kepengadilan beberapa kasus.

Pada 19 Juli Pengadilan Militer di Acheh telah menjatuhkan hukuman penjara antara 2? dan 3? tahun atas tiga serdadu pangkat rendah karena memperkosa 4 orang perempuan Acheh di Kampung Alue Lhok antara 20 hingga 22 Jun. Dalam setiap kasus itu serdadu-serdadu bersangkutan mengancam akan membunuh para korban sekiranya mereka berani bicara".

Tentera dan Polisi Negara Kolonial Republik Indonesia (NKRI)juga telah melakukan tindakan intimidasi luar biasa untuk memaksakan bangsa Acheh menyertai pemilu yang lalu dengan cara-cara sangat pengecut. Mereka memakai milisi untuk menyiksa dan mengintimidasi rakyat agar memilih. TNI telah menculik dan menangkap keluarga GAM, termasuk istri Panglima GAM Muzakir Manaf dan dua anaknya yang masih kecil. Mereka juga menyebarkan selebaran-selebaran ancaman atas nama GAM, seolah olah GAM yang melakukan intimidasi untuk memotong jari-jari mereka yang ikut pemilu. Pemalsuan tersebut telah dilaporkan oleh para pemantau lapangan SIRA dalam Surat Terbuka Sira no 12/2004.

TNI juga melakukan operasi intellijen busuk untuk mendiskreditkan pergerakan perjuangan pembebasan di daerah-daerah jajahannya yang lain di seluruh Nusantara. West Papua News Online 22 Maret menyebutkan: "Athanasius Koknak, SE, Ketua Dewan Perwakilan Daerah Partai Sarikat Indonesia (DPD PSI) Provinsi Papua (Nomor HP. 08158169447) sedang membangun hubungan dengan seorang Intel Kopassus berpangkat perwira yang mengaku sebagai Intel GAM yang ditugaskan oleh Tengku Hasan Tiro di Stockholm-Swedia untuk wilayah Papua. Hubungan mereka sudah dibangun sejak tahun 2001 lalu". Tujuan TNI tidak lain adalah memecah-belah rakyat Papua, sebagaimana mereka memecah tanah Papua. Politik adu-domba TNI ini menunjukkan bahwa mereka sudah panik dan kehabisan cara berpikir yang sehat dalam menghadapi perjuangan kemerdekaan bangsa Acheh dan Papua.

Selama Darurat Militer di Acheh, korupsi meraja-lela. TNI dengan dibantu oleh pejabat sipil pemerintah Kolonial Indonesia di Acheh benar-benar menjadikan Acheh sebagai ladang bisnis. Sebuah badan pemantau korupsi dunia yang berpusat di Jerman, telah meningkatkan taraf pencapaian Indonesia dalam bidang korupsi ini ke tangga no. 1 di dunia untuk tahun 2003.

Dengan adanya kenyataan-kenyataan yang kami sebutkan di atas itu, kami menyeru kepada bangsa Acheh supaya selalu waspada akan tipudaya kotor NKRI. kepada bangsa-bangsa sahabat kami yang lain di Nusantara, terutama bangsa Papua dan Maluku yang sedang sama-sama berjuang dengan bangsa Acheh untuk mencapai kemerdekaan, kami serukan untuk melipatgandakan kewaspadaan mereka dan mendesak masyarakat internasional untuk mengutuk tingkah laku kotor Indonesia itu
 

Tgk. Sofjan Dawood

Jurubicara Militer TNA
----------