Stockholm, 22 April 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

DITYA & RUSMANTO ITU DARURAT MILITER MERUPAKAN RACUN BUATAN SOEKARNO TAHUN 1959
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

DITYA SOEDARSONO & RUSMANTO ISMAIL ITU DARURAT MILITER MERUPAKAN RACUN BUATAN SOEKARNO TAHUN 1959

"Maka itu saya disini mencoba menyarankan kembali kepada saudara Ahmad Sudirman agar segera menyebut istighfar (memohon ampun kepada allah SWT) dan bersujud kembali kejalan yang benar, dengan mengikuti Pancasila yang nyata-nyata adalah benar isinya (ingat pancasila itu bukan agama, bukan ajaran, melainkan dasar untuk mempersatukan bangsa Indonesia yang beraneka ragam). lagi-lagi ketahuan bahwa anda berbicara tidak berdasarkan fakta, dapatkah anda menghadirkan siapa-siapa saja yang tidak menyetujui diperpanjangnya DM? Paling-paling kalaupun anda bisa itu hanyalah orang-orang suruhan anda atau mungkin itu adalah tentara GAM yang memang ingin bertobat dan kembali kepangkuan NKRI karena terus-menerus berperang dengan TNI tetapi tidak ada hasilnya, maka itu banyak tentara GAM yang putus asa dan akhirnya menyerah begitu saja. Makanya bung, kalau ingin berbicara mengenai Aceh datanglah ke Aceh, lihat dan buktikan sendiri bagaimana itu rakyat yang setiap hari selalu ketakutan diteror oleh GAM." ( Rusmanto Ismail , toto_wrks@yahoo.com , Thu, 22 Apr 2004 04:15:37 -0700 (PDT))

Baiklah saudara Rusmanto Ismail.

Rupanya dibelakang ekor Kolonel Laut Ditya Soedarsono sudah ada seorang pengikut setia yang "bersujud kembali kejalan yang benar, dengan mengikuti Pancasila yang nyata-nyata adalah benar isinya", yaitu saudara Rusmanto Ismail yang ternyata kalau saya tidak salah sedang meluncur di California, AS, bukan di Jakarta, Indonesia.

Memang, saudara Rusmanto ini otaknya sudah habis dikuras oleh racun pancasila hasil godokan Soekarno penipu licik di NKRI atau RI. Sehingga tidak tanggung-tanggung mengatakan: "pengikut setia yang bersujud kembali kejalan yang benar, dengan mengikuti Pancasila yang nyata-nyata adalah benar isinya".

Bagaimana saudara Rumanto ini, itu racun pancasila hasil utak atik Soekarno dikatakan sebagai petunjuk kejalan yang benar.

Pantas saja, itu Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mang Endang Suwarya sekali saja digetuk oleh kang Ahmad dengan dasar hukum tentang penelanan, pencaplokan, pendudukan, dan penjajahan Negeri Aceh oleh Presiden RIS Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1950, langsung saja terhuyung-huyung sambil badan berpusing-pusing tujuh keliling, mulut komat kamit: "oh, pancasila-ku, oh pancasila-ku, jalan lurus-ku, tunjukkanlah aku kejalan-mu yang benar dan kucurkanlah isi tubuh-mu yang penuh racun tetapi menguatkan otak kepala-ku".

Memang, itu saudara Rusmanto Ismail, dengan cairan racun pancasila hasil tumbukan rujak ulek Soekarno yang disodorkan kehadapan Kolonel Laut Ditya dan Mang Endang yang sudah tidak ada jalan lain lagi untuk membantu Kolonel Laut Ditya Soedarsono dan Mang Endang Suwarya guna bisa membendung serangan yang dilancarkan oleh kang Ahmad yang berisikan pukulan mematikan bagi para penerus Soekarno yang sudah pontang panting dibelakang benteng NKRI yang dipakai menutupi Negeri Aceh yang dirampok oleh Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1950 yang lalu.

Saudara Rusmanto, seharusnya saudara itu bukan menggali dan mencampur adukkan racun pancasila untuk mempertahankan penjajahan di negeri Aceh itu, tetapi galilah dasar hukum, fakta dan bukti, dan sejarah mengenai Negeri Aceh mengapa itu Soekarno menelan dan mencaploknya.

Ini, yang disodorkan kehadapan para peserta diskusi di mimbar bebas dan kepada seluruh rakyat di Negeri Aceh dan di NKRI adalah cairan racun pancasila hasil godokan Soekarno penipu licik di NKRI, sambil mulutnya kunyam kunyem, matanya mendelik-delik: "bersujud kembali kejalan yang benar, dengan mengikuti Pancasila yang nyata-nyata adalah benar isinya".

Eh, saudara Rusmanto, itu cairan racun pancasila kalau dicampur dengan jamu kencur buatan Mbak Megawati dari PDI-P, dan dituangkan madu kedalamnya, kemudian disuguhkan kepada itu Kolonel Laut Ditya Soedarsono arek Suroboyo dan Mang Endang asal Sunda. Itu bisa-bisa, mereka berdua, setiap pagi, ketika keluar rumah untuk pergi ke markasnya di kantor PDMD di Banda Aceh, maka mulutnya bersiul-siul melagukan: "oh, pancasila-ku yang lurus, oh, pancasila-ku yang benar, sebagaimana yang dipesankan Rusmanto, karena engkaulah wahai pancasila, itu Negeri Aceh dapat dipertahankan dalam sangkar NKRI"

Coba perhatikan oleh seluruh rakyat di Negeri Aceh dan di NKRI.

Kalau memang benar itu pancasila hanyalah sebagai "dasar untuk mempersatukan bangsa Indonesia yang beraneka ragam", kemudian Ahmad Sudirman mengatakan bahwa itu pancasila sudah tidak bisa lagi dipakai sebagai alat untuk mempersatukan, maka perlu segera diganti dengan dasar lain yang lebih baik, yaitu dengan dasar Islam.

Maka, saya yakin, itu saudara Rusmanto, Kolonel Laut Ditya Soedarsono, Mang Endang Suwarya akan meloncat-loncat sambil mulutnya berteriak: "ah, kang Mamad, tidak boleh pancasila diganti dengan Islam, itu pancasila memang sudah dibuat oleh Soekarno, tidak boleh diganti lagi, Islam tidak bisa menggantikan pancasila, dulu Soekarno sudah membuang itu Islam sebagai dasar pesatuan pada tanggal 5 Juli 1959, ditukar kembali dengan pancasila".

Kan betul saja, padahal saudara Rusmanto mengatakan itu pancasila hanyalah sebagai "dasar untuk mempersatukan bangsa Indonesia yang beraneka ragam". Tetapi, ternyata rakyat di NKRI sudah tidak bisa dipersatukan, sehingga tidak perlu itu pancasila dipergunakan lagi sebagai dasar persatuan. Untuk apa lagi kalau memang pancasila tidak bisa lagi dipakai sebagai dasar persatuan, lebih baik buang saja, kan pancasila itu bukan agama dan bukan juga ajaran. Jadi tidak berdosa kalau itu pancasila yang memang racun Soekarno dibuang ke kali Ciliwung atau ke kali Berantas sana.

Rupanya ketika Ahmad Sudirman mengatakan pancasila sudah tidak bisa dipakai lagi sebagai dasar persatuan, harus diganti dengan Islam. Eh, malahan ditolak oleh Kolonel Laut Ditya dan Mang Endang, juga oleh saudara Rusmanto sendiri, sambil teriak-teriak: Pancasila Yes, Islam No. Meniru seperti ketika Soekarno mendeklarkan dekrit Presiden 5 Juli 1959, kembali kepada UUD 1945 yang memiliki butiran-butiran pancasila dalam pembukaannya.

Nah sekarang, kembali ke Negeri Aceh lagi.

Jelas, itu rakyat Aceh sudah tidak menginginkan darurat militer yang merupakan racun Soekarno yang pertama kali diterapkan racun darurat militer ini pada tahun 1959.

Jadi, rakyat Aceh sudah paham dan mengerti bahwa itu yang namanya darurat militer yang terkandung dalam Keppres No.28/2003 adalah alat mematikan rakyat Aceh.

Karena itu, Kolonel Laut Ditya, Mang Endang dan saudara Rusmanto jangan terus-menerus menipu rakyat Aceh dengan segala macam tipuan.

Sekarang ini, kalau memang ingin di Negeri Aceh damai, maka cabut itu Keppres No.28/2003, Keppres No.43/2003, dan tarik semua TNI/POLRI/RAIDER yang ditugaskan dari sejak 19 Mei 2003 dari Negeri Aceh. Termasuk juga Kolonel Laut Ditya dan Mang Endang harus segera keluar dari Negeri Aceh.

Biarkan rakyat Aceh hidup bebas dan tenang, tanpa diganggu oleh TNI/POLRI/RAIDER dan perintah-perintah dari Mang Endang dan Kolonel Laut Ditya.

Biarkan itu para mahasiswa dan kaum intelektual Aceh hidup bebas. Biar mereka bersuara bebas sebebas-nya. Mau menyuarakan apa. Mau menyuarakan referendum. Mau menyuarakan otonomi. Mau menyuarakan federasi. Mau menyuarakan negara Islam. Biarkan mereka bersuara.

Ini, malahan sebaliknya, ditumpasnya, rakyat Aceh bersuara referendum, dibungkamnya. Rakyat Aceh menyuarakan cabut itu Keppres No.28/2003 dan Keppres No.43/2003 dibungkamnya. Rakyat dan ulama mengatakan tidak perlu DM diperpanjang, dipanggilnya.

Nah itu, tandanya karena Mang Endang dan Kolonel Laut Ditya pakai racun pancasila dan racun darurat militer buatan Soekarno tahun 1959.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Thu, 22 Apr 2004 04:15:37 -0700 (PDT)
From: Rusmanto Ismail <toto_wrks@yahoo.com>
Subject: Re: DITYA, ENDANG & RYACUDU YANG SEBENARNYA INGIN DM DIPERPANJANG BUKAN RAKYAT & ULAMA ACEH
To: Hassan Wirajuda <hassan.wirajuda@ties.itu.int>, wpamungk@centrin.net.id, yahuwes@yahoo.com, yudhistira_apl@hotmail.com, Yuhendra <yuhe1st@yahoo.com>, yusrahabib21@hotmail.com, s05029wmuse@yahoo.com.sg, sadanas@equate.com, sadanas@shb.equate.com

Haloooo Ahmad Sudirman,

lagi-lagi ketahuan bahwa anda berbicara tidak berdasarkan fakta, dapatkah anda menghadirkan siapa-siapa saja yang tidak menyetujui diperpanjangnya DM? Paling-paling kalaupun anda bisa itu hanyalah orang-orang suruhan anda atau mungkin itu adalah tentara GAM yang memang ingin bertobat dan kembali kepangkuan NKRI karena terus-menerus berperang dengan TNI tetapi tidak ada hasilnya, maka itu banyak tentara GAM yang putus asa dan akhirnya menyerah begitu saja.

Makanya bung, kalau ingin berbicara mengenai Aceh datanglah ke Aceh, lihat dan buktikan sendiri bagaimana itu rakyat yang setiap hari selalu ketakutan diteror oleh GAM.

Bung sendiri bisa berbicara bahwa rakyat Aceh dan para ulama Aceh tidak menginginkan DM diperpanjang dapat fakta dari mana? Apakah bung dapat laporan dari anak buah bung yang ada di Aceh? Kalau begitu bung Ahmad telah termakan propaganda dari anak buah anda sndiri, kalau begitu seorang pemimpin yang termakan oleh propaganda anak buahnya sendiri adalah pemimpin yang sangat bodoh dan tidak memiliki wawasan yang luas, maka itu sudah berapakali saya menyarankan agar anda itu datang, lihat dan buktikan sendiri bagaimana itu aceh sekarang? Kalau anda mendapat laporan bahwa TNI POLRI membunuhi rakyat dan ulama, bahkan menteror pesantren di Aceh, itu adalah suara apatis dari anak buah anda yang memang sudah nyata-nyata frustasi dalam menghadapi TNI POLRI.

Ketika TNI POLRI mendatangi pesantren dan bersilaturahmi dengan pemimpin pesantren, GAM mengira mengintimidasi dan menteror pesantren dan ulamanya, hal ini menunjukkan sudah tertutup kemungkinan bagi GAM untuk menang, maka dari itu mereka selalu memiliki pikiran yang negatif setiap TNI POLRI melakukan suatu kagiatan yang bersifat kemanusiaan, dan pikiran negatif ini selalu dituangkan oleh para anggota GAM, khususnya Ahmad Sudirman inilah yang selalu bercuap-cuap dimilis dan mengatakan bahwa NKRI mencaplok Aceh.

Sadarlah wahai saudara ustadz Ahmad Sudirman yang katanya orang ahli sorga (kalo ahli sorga itu pantang memfitnah, pantang menghujat, dan pantang berbicara tidak benar kepada orang lain, yang disampaikan hanyalah kebenaran semata, dan tindakan terpuji, tidak dengki terhadap orang lain, menciptakan kedamaian seperti yang diajarkan oleh nabi Muhammad SAW, bukannya seperti si Ahmad Sudirman ini yang seperti burung beo, menciptakan perang disana-sini, menghasut orang-orang agar berperang untuknya serta mengompasi rakyat Aceh yang sekarang ini memang sedang berjuang untuk bangkit dan tidak memperdulikan GAM lagi serta menguhujat terhadap sesamanya yaitu manusia). Bukankah segala tindak tanduk diatas tadi adalah perbuatan dosa besar yang dapat dilaknat dan diazab dengan sangat pedih dihari pembalasan nantinya?.

Maka itu saya disini mencoba menyarankan kembali kepada saudara Ahmad Sudirman agar segera menyebut istighfar (memohon ampun kepada allah SWT) dan bersujud kembali kejalan yang benar, dengan mengikuti Pancasila yang nyata-nyata adalah benar isinya (ingat pancasila itu bukan agama, bukan ajaran, melainkan dasar untuk mempersatukan bangsa Indonesia yang beraneka ragam).

Rusmanto

4372386
Trisakti Sea Transport Management University
toto_wrks@yahoo.com
Jakarta, Indonesia
----------