Kutaradja, 26 April 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

BISNIS KOTOR DM TNI/POLRI DI ACHEH
Arna
Kutaradja - ACHEH.

 

JELAS ITU KELIHATAN BISNIS KOTOR DARURAT MILITER TNI/POLRI DI ACHEH

Tidak sebagaimana digembar-gemborkan, kedatangan bala tentara Indonesia ke Acheh bukan untuk membela negara, melainkan untuk tugas-tugas kotor, diantaranya memenuhi pundi-pundi jenderal-jenderal yang sudah memang sangat kaya.

Selain terlibat dalam prostitusi, kutipan liar di jalanan, para jenderal juga terlibat dalam korupsi yang kabarnya berjumlah milyaran, juga TNI terlibat penyeludupan mobil mewah Sabang bekas dari Singapore.

Menurut saksi mata di Sabang, penyeludupan 'moto Sabang' -- demikian istilahnya-- , bukan hanya dilakukan dengan memasukkan secara gelap ke daratan Sumatra, lebih parah lagi, langsung diangkut dengan pesawat pengangkut Hercules ke Jakarta dan Jawa.

"Bukan hanya dengan kapal laut, kadang kadang dengan Hercules mereka angkut mobil-mobil mewah Sabang", demikian menurut seorang pengusaha Sabang yang menjadi sumber ARNA. Untuk membungkam suara-suara, mereka kadang kadang menjual mobil mewah dengan harga sangat murah kepada wartawan lokal, tambahnya.

Sumber ARNA lainnya yang bermukim di Depok yang berdekatan dengan Mako (Markas Komando) Brimob mengatakan, "di kawasan Kelapa Dua, tiap hari lalu lalang sepeda motor berplat BL (plat Acheh-red). Itu hasil rampasan brimob dari orang orang kampung di Acheh selama mereka bertugas disana".

Proyek DM bukan hanya melibatkan mobil dan motor, juga berdampak dalam menghancurkan eko-sistem di Acheh. Ribuan hektar tanah dibabat dengan alasan pembuatan jalan membelah konservasi alam Leuser. Hal yang sebenarnya adalah untuk memudahkan pihak militer dalam kerja gelap mereka membabat hutan. Illegal logging dan penebangan kayu secara liar oleh militer Indonesia bukan hanya menghancurkan alam Acheh, juga turut berpengaruh kepada iklim global.

Tidak hanya itu. Menurut sumber ARNA di Pangkal Pinang, pasukan elit TNI-AL yang lebih dikenal dengan Pasukan Katak juga terlibat dalam kerja penyeludupan minyak solar dan bawang putih. "Wah, kalau bukan karena kami kerja sama dengan pasukan katak, mana bisa lewat tongkang kami....", demikian pengakuan Kho-Akuy, seorang cukong minyak solar di Pangkal Pinang.

Selain itu, dalam operasi militer kali ini, juga mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam dunia bisnis di Acheh. "Kami lebih suka membayar Pajak Nanggroe yang ditetapkan GAM daripada mesti bayar upeti kepada berbagai satuan berbeda TNI. Masak pagi kami dipaksa bayar uang kepada Brimob, siang nya kami didatangi Kopassus, eh besok nya malah dipaksa Kodim untuk menyumbang kepada Forum Anti Separatisme yang diketuai oleh Sofyan Ali", demikian ungkap Tgk. Leumiek pedagang asal Lhok Seumawe kepada ARNA di Medan.

Menurut Tgk. Leumiek, banyak kontraktor asal Acheh yang terpaksa pindah ke Medan dan Jakarta karena usaha mereka dirongrong TNI dan Polri.(MY-1-0406004)

Arna,

Acheh Revolutionary News Agency
arnanews@lycos.com
Kutaradja, Acheh
California, USA