Batavia, 1 Mei 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

MEMPERPANJANG DM MENDIDIK TNI/POLRI MENJADI KRIMINAL
Arna, Robert Liu
Batavia - INDONESIA.

 

JELAS ITU MEMPERPANJANG DM MENDIDIK TNI/POLRI MENJADI KRIMINAL

Kekerasan yang dilakukan TNI atau Polri merebak di seluruh Nusantara. Tidak jarang kita mendengar bahwa anggota TNI menembak orang, memerkosa, terlibat dalam penjualan narkotika dan sebagainya di seluruh Nusantara. Apakah itu memang oknum, atau memang sistem pendidikan kepolisian yang sangat militeristik, atau memang sebuah hasil dari pelanggaran yang panjang yang didiamkan alias impunity.

Pada tahun 2000 beberapa hari sebelum hari raya, sepasukan Brimob baru saja datang dari tugas operasi di Acheh. Mereka turun dari kapal laut di pelabuhan Tanjung Priok, Batavia (Jakarta). Saat itu, di bagian lain pelabuhan, ratusan penumpang sedang berebutan naik ke kapal yang akan membawa mereka mudik ke daerah. Saat itu terjadi perselisihan antar penumpang yang berebutan naik kapal. Pertengkaran biasa itu langsung terhenti ketika sekelompok Brimob melepaskan tembakan membabi buta ke atas. Penumpang semua sangat terkejut, tidak menyangka bahwa anggota petugas keamanan negara akan menembakkan senjata sedemikian rupa. Usut punya usut, ternyata mereka terbawa keadaan di Acheh. Di Acheh mereka dengan mudah saja menghambur-hamburkan peluru kapan saja mereka mau. Kebiasaan itu terbawa ke Batavia (Jakarta).

Tak kalah menarik, di Madiun juga pernah terjadi kekerasan yang menghancurkan beberapa fasilitas umum, karena bertarungnya dua kesatuan TNI. Yang satu baru saja pulang dari Acheh dan satu lagi hendak diberangkatkan ke Acheh.

Di Jakarta pada Agustus 2003 juga pernah terjadi penembakan sewenang-wenang oleh dua anggota pasukan katak, pasukan elit TNI AL. Sersan Satu Kuswoto dan Kelasi Satu Ragil Purwoto dilepas brevetnya karena dianggap melanggar disiplin dan terlibat kasus penembakan di sebuah kafe di kawasan Tanjungpriok, Jakarta Utara. Walau demikian, mereka tetap dihukum ringan, dengan alasan karena baru pulang dari Acheh.

Juga masyarakat pernah digegerkan oleh kisah penganiayaan yang dilakukan oleh TNI di pelabuhan Makassar sesaat mereka transit dalam perjalan pulang ke Semarang. Yang sangat memalukan, justru terjadi di Tangjung Perak Surabaya. Dimana sekumpulan Brimob menggoda perempuan, dan datang kakak korban untuk membawa pulang adiknya. Ternyata brimob yang tengah gila itu langsung memukuli dan menganiaya sang kakak sampai luka parah. Hal yang biasa mereka lakukan di Acheh.

Kelakuan dan kekejaman Brimob juga berbagai satuan TNI akan terus terjadi di seluruh Nusantara andai rakyat Indonesia terus tutup mata atas segala kekerasan di Acheh. Masyarakat Indonesia suatu saat akan meresakan apa yang dirasa oleh rakyat Acheh. Sebab, dengan memperpanjang DM, menutup mata atas kejahatan kemanusiaan yang dilakukan TNI/Polri di Acheh, hal itu akan mendidik mereka menjadi kriminal, berlaku sewenang-wenang, dan seluruh Indonesia akan merasakan akibatnya.

Kekerasan yang terbaru adalah peristiwa penangkapan Baasyir. Itu terjadi di Batavia (Jakarta), ibu kota negara dan di depan mata seluruh rakyat. Polisi bertindak sangat biadab, tidak terkontrol, dengan sangat kejamnya melakukan pemukulan dan penghancuran. Ratusan orang luka-luka akibat tindakan mereka yang sangat anarkis itu. Juga yang tidak kalah menarik, kebrutalan TNI/Polri terhadap masyarakat adalah pemicu utama konflik Ambon yang sekarang terus berlangsung.

Belum lagi kisah sedih pemukulan dan penembakan di kampus UMI (Universitas Muslim Indonesia) Makassar. Di mana polisi menyerang kampus, memukuli dan menembak mahasiswa. Puluhan korban luka berat. Tidak kebetulan, yang saat ini menjadi Kapolda Sulawesi Selatan adalah mantan Kapolda Indonesia untuk Acheh, Irjen Pol. Jusuf Manggabarani. Apa yang pernah dilakukan di Acheh, pasti akan dipraktekkan di mana mereka bertugas selanjutnya.

Untuk mendapatkan keamanan, kedamaian dan ketertiban serta menghentikan sikap represif militer dan polisi, rakyat Indonesia mesti menyatukan suara. Segera meminta agar TNI/Polri ditarik dari Acheh, dan mereka kembali ke barak masing-masing. Dan rakyat Indonesia agar segera menekan pemerintah mereka dengan segala cara, agar hak hak dasar rakyat Acheh segera dikembalikan. Patutnya, rakyat Indonesia mendesak pemerintahnya untuk memberikan hak self-determination kepada rakyat Acheh yang telah sangat lama dijajah dan ditindas.

Dengan bisa mengontrol gerak militer dan rakyat di negara-negara terjajah mendapatkan hak mereka, maka kedamaian abadi akan dicapai dengan segera di bumi Nusantara. (MY-4-05001004)

Robert Liu

Acheh Revolutionary News Agency
arnanews@lycos.com
Kutaradja, Acheh
California, USA
----------