Stockholm, 5 Mei 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

SBY COBA HILANGKAN KONFLIK ACEH, MALUKU & PAPUA TANPA MEMBUKA AKAR MASALAH SEBENARNYA
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

SUSILO BAMBANG YUDHOYONO SEDANG BERMIMPI HILANGKAN KONFLIK ACEH, MALUKU & PAPUA TANPA MEMBUKA DAN MENYELESAIKAN AKAR MASALAH SEBENARNYA

"Kita harus melihat ke depan dan tidak ingin melanjutkan serta mewariskan konflik yang ada. Sudah bukan saatnya lagi kita hidup bernegara dengan membawa dendam dan permusuhan. Selama 4,5 tahun menjabat menteri bidang keamanan dan politik, saya melihat hal itu dengan mata kepala sendiri. Saya sudah berkeliling dari mulai Aceh, Ambon, sampai Papua. Dan saya melihat konflik hanya membuat luka dan penderitaan rakyat, juga membuat negara kita mengalami hambatan kemajuan yang luar biasa. Oleh sebab itu, sebaiknya dari mulai sekarang kita harus belajar menghilangkan konflik." (Susilo Bambang Yudhoyono, miol@mediaindonesia.co.id , media-indonesia.com , Rabu, 5 Mei 2004)

Ternyata dari apa yang dinyatakan oleh Susilo Bambang Yudhoyono calon Presiden dari Partai Demokrat pada acara diskusi Rekonsialiasi Anak Bangsa yang diadakan oleh organisasi Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB), yang dihadiri oleh Mashudi, Solichin GP, cucu Alm KH Agus Salim, Agustanzil Sjahroerzah, putra Alm Imam DI/TII Sekarmadji Maridjan Kartoseowirjo, Ir Sarjono Kartoseowirjo, putra Ketua CC PKI DN Aidit, Ilham Aidit, di kompleks Pondok Pesantren Daarut Tauhiid, Bandung, pimpinan KH Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym, kemarin, Selasa, 4 Mei 2004, menunjukkan bahwa, SBY berusaha untuk menghilangkan konflik Aceh, Maluku Selatan, dan Papua dengan cara yang sederhana yaitu dengan cara belajar untuk "tidak ingin melanjutkan serta mewariskan konflik yang ada".

Memang kelihatan sekali itu Susilo Bambang Yudhoyono sebagai penerus Soekarno penelan, pencaplok Negeri Aceh, Maluku Selatan, dan Papua.

Dimana itu SBY berusaha untuk terus menutupi akar masalah sebenarnya tentang konflik Aceh, Maluku Selatan, dan Papua yang diakibatkan oleh kebijaksanaan politik, pertahanan, dan keamanan yang dijalankan oleh Soekarno.

Sebagaimana yang telah berpuluh kali saya jelaskan di mimbar bebas ini mengenai akar sebenarnya konflik Aceh, Maluku Selatan, dan Papua ini. Dimana semua tulisan yang menyangkut akar masalah Aceh, Maluku Selatan, dan Papua ini bisa dibaca kembali di www.dataphone.se/~ahmad/opini.htm

Kalau SBY untuk menyelesaikan konflik Aceh, Maluku Selatan, dan Papua dengan hanya melalui cara belajar "menghilangkan konflik guna tidak melanjutkan serta mewariskan konflik yang ada" kepada generasi yang akan datang, itu jelas menggambarkan bagaimana sebenarnya SBY untuk tetap terus menutupi akar masalah sebenarnya konflik Aceh, Maluku Selatan dan Papua. Atau dengan kata lain itu SBY dalam menyelesaikan konflik Aceh, Maluku Selatan, dan Papua hanyalah melalui mimpi disiang hari bolong saja.

Dimana itu mimpi SBY untuk menyelesaikan konflik Aceh, Maluku Selatan, dan Papua ini berbeda sekali dengan akar masalah sebenarnya seperti yang saya telah jelaskan dalam tulisan "Teuku Mirza Aceh berdiri sendiri sampai pada 14-8-1950 ketika Presiden RIS Soekarno mencaplok Aceh"
http://www.dataphone.se/~ahmad/040302c.htm , juga dalam tulisan "Harus diakui dengan jujur sejarah Soekarno pakai RIS mencaplok Maluku Selatan" http://www.dataphone.se/~ahmad/040503.htm , dan dalam tulisan "Papua dan Aceh sama-sama dicaplok Soekarno Cs masuk kedalam RI-Jawa-Yogya" http://www.dataphone.se/~ahmad/040127c.htm

Jadi, bagaimana itu calon Presiden NKRI ke-6 SBY atau Susilo Bambang Yudhoyono ini bisa berhasil menyelesaikan konflik Aceh, Maluku Selatan, dan Papua, kalau cara penyelesaian konflik-konflik itu hanyalah melalui cara mimpi disiang hari bolong, yaitu dengan menampilkan cerita mimpi yang menyangkut "bagaimana cara belajar untuk menghilangkan konflik guna tidak melanjutkan serta mewariskan konflik yang ada kepada generasi yang akan datang.

Mengapa SBY menampilkan cara penyelesaian konflik Aceh, Maluku Selatan, dan Papua dengan cara yang sangat sederhana itu ? Karena memang itu SBY atau Susilo Bambang Yudhoyono tetap akan menjalankan kebijaksanaan politik, pertahanan, dan keamanan di Aceh, Maluku Selatan, dan Papua, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Presiden RIS Soekarno yang telah menelan, mencaplok, dan menduduki, Aceh, Maluku Selatan, dan Papua.

Karena itu, SBY sebagai penerus Soekarno akan terus menjalankan cara penyelesaian konflik Aceh, Maluku Selatan, dan Papua dengan cara penerapan darurat sipil, darurat militer dan tentu saja darurat perang.

Padahal cara yang terbaik dalam usaha menyelesaikan konflik Aceh, Maluku Selatan, dan Papua ini adalah gali, pelajari, pahami, hayati, dan simpulkan akar masalah sebenarnya dari konflik-konflik tersebut. Kemudian, serahkan penyelesaiannya kepada seluruh rakyat yang ada di Aceh, Maluku Selatan, dan Papua untuk menentukan sikap dan keinginannya, apakah memang ingin tetap bersama para penerus Soekarno seperti dengan SBY atau memang ingin berdiri diatas kaki sendiri untuk menentukan nasib mereka sendiri mengatur Negeri-nya masing-masing tanpa dipengaruhi oleh penguasa dari luar.

Itulah cara yang paling jujur, adil, dan bijaksana dalam penyelesaian konflik di Aceh, Maluku Selatan, dan Papua.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------
http://www.media-indonesia.com/cetak/berita.asp?id=2004050501595218
Rabu, 05 Mei 2004

POLITK DAN KEAMANAN
SBY Temui Keluarga Tokoh PKI dan DI-TII

SEJUMLAH tokoh berinisiatif melakukan upaya rekonsiliasi dengan keluarga para tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Darul Islam-Tentara Islam Indonesia (DI-TII), sebagai upaya menghentikan pewarisan konflik pada generasi muda. Hal itu berlangsung di Bandung kemarin.

Para tokoh yang hadir dalam acara itu, antara lain Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mantan Gubernur Jabar Solihin GP, Mashudi, dan KH Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym. Mereka bertemu dengan keluarga DN Aidit dan Kartosuwiryo di kompleks Pondok Pesantren Daarut Tauhiid, Bandung, kemarin.

Aa Gym kepada pers di Bandung, kemarin, mengungkapkan rekonsiliasi itu adalah upaya untuk merajut kebersamaan dan berhenti mewariskan konflik pada generasi muda, terutama dalam kehidupan bernegara. Rekonsiliasi bersahabat adalah hidup bernegara dalam semangat akur. "Konflik di Ambon telah membuat pembangunan yang dirintis sejak masa kemerdekaan sia-sia dan hancur seketika oleh kemarahan dan dendam. Karenanya, konflik-konflik seperti itu harus dihentikan, sehingga kita bisa membangun sesuatu yang berguna bagi kehidupan berbangsa," jelas Aa Gym.

Sementara itu, SBY mengungkapkan dirinya mau datang ke forum tersebut untuk menghilangkan pewarisan konflik pada generasi mendatang. "Kita harus melihat ke depan dan tidak ingin melanjutkan serta mewariskan konflik yang ada. Sudah bukan saatnya lagi kita hidup bernegara dengan membawa dendam dan permusuhan," katanya.

Akibat konflik, lanjut dia, sangat besar penderitaan yang harus dipikul rakyat. Karena itu, negeri ini harus belajar menghilangkan permusuhan dan dendam.

"Selama 4,5 tahun menjabat menteri bidang keamanan dan politik, saya melihat hal itu dengan mata kepala sendiri. Saya sudah berkeliling dari mulai Aceh, Ambon, sampai Papua. Dan saya melihat konflik hanya membuat luka dan penderitaan rakyat, juga membuat negara kita mengalami hambatan kemajuan yang luar biasa. Oleh sebab itu, sebaiknya dari mulai sekarang kita harus belajar menghilangkan konflik," ujarnya.

Pada kesempatan itu, SBY juga menyatakan, tidak benar ada oknum Polri, TNI, serta intelijen yang bermain di balik kerusuhan Ambon. Adanya dugaan oknum TNI maupun Polri yang mendalangi peristiwa kerusuhan itu adalah isu yang tidak benar.

"Yang mengangkat isu itu perlu menjelaskan kepada masyarakat. Jangan membuat pernyataan yang membingungkan rakyat dengan melemparkan tuduhan yang tidak berdasar," tandasnya. Ketika ditanya apakah maksud SBY datang dalam dialog tersebut sebagai salah satu upaya untuk merebut simpati masyarakat, SBY segera menyanggah dan menyatakan maksud kedatangannya murni sebagai gerakan sosial.

Mengenai gerakan antimiliter yang tengah memuncak di kalangan mahasiswa, SBY menyatakan hal itu merupakan kondisi yang wajar di alam demokratis. "Jika ada mahasiswa yang menolak capresnya karena dia mantan TNI, ya itu haknya. Tapi kalau ada mahasiswa yang mau memilih seorang mantan TNI untuk menjadi capres, itu juga jelas haknya. Saya tidak takut gerakan antimiliterisme menghalangi niat saya untuk menjadi presiden, karena itu merupakah gerakan yang wajar. Semuanya saya serahkan kepada masyarakat, dan silakan mereka memilih sesuai dengan hati nurani mereka," tambahnya. (SG/EM/P-5)
----------