Stockholm, 8 Mei 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

PENENTUAN NASIB SENDIRI RAKYAT ACEH BUKAN HASIL KONVERSI PEMIKIRAN TGK HASAN DI TIRO
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

TGK LAMKARUNA PERLU MENGETAHUI BAHWA PENENTUAN NASIB SENDIRI RAKYAT ACEH BUKAN HASIL KONVERSI PEMIKIRAN TGK HASAN DI TIRO

"Bapak Ahmad Sudirman yang terhormat, bahwa pada awalnya Hasan Tiro adalah sebagai nasionalisme tulen, akan tetapi pada akhirnya terjadilah konversi pemikiran dalam diri Hasan Tiro, sehingga timbullah sebuah konsep-konsep kedaerahan Aceh baik berdasarkan fakta, bukti, dasar hukum, proklamsi GAM dan lain sebagainya sebagaimana yang bapak Sudirman sebutkan. Saya tidak memungkiri fakta sejarah bahwa Aceh adalah sebuah negara yang berdaulat. Akan tetapi kita mestilah meluruskan sejarah, jangan tumpang tindih seakan-akan membenarkan yang salah dan mensalahkan yang benar." (Tgk. Lamkaruna Putra, abupase@yahoo.com , 6 maj 2004 11:35:22)

Terimakasih Teungku Lamkaruna Putra di Medan, Indonesia.

Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam tulisan sebelum ini yang menyangkut silsilah Teungku Hasan Muhammad di Tiro yang memiliki hubungan darah dengan Tgk Tjheh Saman alias Teungkoe di Tiro yang merupakan buyutnya Teungku Hasan Muhammad di Tiro. (The Price of Freedom: the unfinished diary of Tengku Hasan di Tiro, National Liberation Front of Acheh Sumatra, 1984, hal 139-140).

Dimana setelah Teungku Hasan Muhammad di Tiro mempelajari, mendalami, menghayati, menganalisa, menyimpulkan tentang sejarah Negeri Aceh yang panjang , ditambah dengan hasil pendidikannya yang luas, ternyata telah melahirkan suatu pandangan dan tanggung jawab bagi dirinya sebagai salah seorang dari keluarga di Tiro yang sangat erat hubungannya dengan perjuangan dan perlawanan terhadap kaum penjajah Belanda di Negeri Aceh.

Karena itu, bisa dipahami dan dimengerti, mengapa Teungku Hasan Muhammad di Tiro, ketika masih muda, sebelum usia mencapai 20 tahun, pikirannya, pertimbangannya, pengalamannya, tentang sejarah Aceh yang panjang yang berhubungan dengan gerakan perjuangan dan perlawanan dari keluarga di Tiro terhadap penjajah Belanda masih belum mampu mencapai kepada tingkat pemikiran dan pemahaman yang matang tentang keadaan sebenarnya status Negeri Aceh dalam hubungannya dengan RI atau RI-Jawa-Yogya.

Oleh sebab itu, sangat wajar, apabila Teungku Hasan Muhammad di Tiro, dalam usia masih dibawah 20 tahun, kurang pendidikan, tidak punya pengalaman, kurang pengetahuan tentang sejarah Aceh yang panjang yang ada kaitannya dengan sepak terjang perjuangan dan perlawanan dari keluarga di Tiro terhadap pihak penjajah Belanda yang dihubungkan dengan keadaan dan situasi Negara RI atau RI-Jawa-Yogya yang diproklamasikan oleh Soekarno dan Mohammad hatta, masih bisa diombang ambingkan oleh situasi, kondisi, dan gejolak semangat Soekarno dengan Negara RI atau RI-Jawa-Yogyanya.

Bagi pemuda Teungku Hasan Muhammad di Tiro yang masih belasan tahun usianya, dengan pengalaman yang kurang, pengetahuan yang minim tentang sejarah Aceh yang panjang, pendidikan yang masih rendah, ditambah bergaul dengan tokoh yang dekat kepada Soekarno, seperti Sjafruddin Prawiranegara, maka jelas, hasilnya akan terbukti, yaitu, ide-ide dan cita-cita Soekarno untuk merebut seluruh Daerah yang masih berada di luar daerah kekuasaan secara de-facto dan de-jure telah meresap dan merasuk kedalam pikiran pemuda belasan tahun Teungku Hasan Muhammad di Tiro ini. Apalagi sampai bergaul dengan para pemuda dan mahasiswa di UII (Universitas Islam Indonesia) di Yogyakarta, pusat kekuasaan Negara RI atau RI-Jawa-Yogya.

Jadi, wajar, kalau pemuda belasan tahun, Teungku Hasan Muhammad di Tiro, tinggal dan belajar di UII di Yogyakarta, tempat pusat kekuasaan Negara RI atau RI-Jawa-Yogya, yang setiap detiknya dibombardir dengan ide-ide dan pemikiran-pemikiran Soekarno yang sedang menjalankan taktik dan strategi penelanan, pencaplokan, pendudukan Negara-Negara dan daerah-Daerah yang berada diluar wilayah kekuasaan de-facto dan de-jure Negara RI atau Negara RI-Jawa-Yogya.

Oleh karena itu, sangatlah wajar, apabila pemuda belasan tahun, Teungku Hasan Muhammad di Tiro, ketika sedang kuliah di UII, telah banyak dipengaruhi oleh pemikiran dan kebijaksanaan politik Soekarno dengan RI-nya, menulis sesuatu tentang Negara RI dibawah Soekarno yang menyangkut Negeri Aceh yang telah ditelan, dicaplok, diduduki, dan dijajah oleh RIS pada tanggal 14 Agustus 1950 dan sejak tanggal 15 Agustus 1950 diteruskan oleh NKRI atau RI atau RI-Jawa-Yogya dibawah Soekarno.

Dan wajarlah bagi pemuda belasan tahun, Teungku Hasan Muhammad di Tiro, yang telah dibantu oleh Sjafruddin Prawiranegara, Presiden Pemerintah Darurat Republik Indonesia di pengasingan di Negeri Aceh, masuk kuliah di UII, menulis tentang sumpah pemuda dan Negeri Aceh bagian dari RI.

Tetapi, setelah pemuda belasan tahun, Teungku Hasan Muhammad di Tiro, pada tahun 1950 meninggalkan NKRI atau RI yang telah menelan, mencaplok, menduduki, dan menjajah Negeri Aceh, menuju ke luar Negeri untuk meneruskan belajar di Amerika, maka akibatnya sangat berbeda sekali.

Coba saja perhatikan, setelah 25 tahun belajar di luar Negeri, bekerja, berusaha, dan telah memiliki banyak pengalaman, baik tentang kehidupan di luar negeri, juga tentang sejarah Negeri Aceh yang panjang yang berkait dengan sepak terjang perjuangan dan perlawan keluarga di Tiro menghadapi penjajah Belanda, akhirnya, apa yang telah didapatkannya ketika masih di Yogyakarta, adalah merupakan racun-racun mematikan bagi perjuangan rakyat Aceh yang Negerinya telah ditelan, dicaplok, diduduki, dan dijajah oleh pihak RIS, NKRI atau RI atau RI-Jawa-Yogya.

Dan memang terbukti, disaat-saat akhir Teungku Hasan Muhammad di Tiro akan meninggalkan Amerika, tahun 1976, telah menggelora dalam dada dan pikirannya mengenai tanggung jawab dirinya sebagai rakyat Aceh yang memiliki hubungan darah dengan keluarga di Tiro yang gagah berani berjuang melawan penjajah Belanda. Dimana semangat dan gelora perjuangan penentuan nasib sendiri bagi rakyat Aceh bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI ini terlukis dalam untaian kata-kata: "my conviction about my duty in life came from my country's long history, from my education and breeding, and these being confirmed by the reaction of my people in my daily life in Acheh Sumatra. That is I have been made to feel what my family and my people expected from me.(Keyakinan saya mengenai tanggung jawab dalam hidup datang dari sejarah panjang negeriku, pendidikan, dan kehidupanku, dan ini telah dibenarkan oleh reaksi dari rakyatku dalam kehidupan sehari-hari di Acheh, Sumatra. Apa yang saya rasakan inilah yang diharapkan oleh keluargaku dan rakyatku.)" (The Price of Freedom: the unfinished diary of Tengku Hasan di Tiro, National Liberation Front of Acheh Sumatra, 1984, hal. 1)

Jadi dorongan dan semangat perjuangan yang timbul dari dalam pikiran Teungku Hasan Muhammad di Tiro bukan disebabkan karena "terjadi konversi pemikiran dalam diri Hasan Tiro" seperti yang dikemukakan oleh Teungku Lamkaruna Putra, melainkan karena keyakinannya, bahwa perjuangan untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Asing atau Negara Pancasila atau NKRI adalah sebagai satu kewajiban bagi dirinya penerus perjuangan para pejuang dan pembela negeri Aceh dari penjajah Belanda, yang telah diteruskan oleh pihak NKRI dibawah Soekarno dan para penerusnya.

Karena itu pemikiran Teungku Hasan Muhammad di Tiro ketika masih usia belasan tahun, yang begitu banyak dipengaruhi oleh jalan pikiran dan semangat Soekarno dari Negara RI atau RI-Jawa-Yogya yang telah menelan dan mencaplok Negeri Aceh, tidak bisa dijadikan sebagai alat penimbang timbulnya konversi pemikiran dalam diri Teungku Hasan Muhammad di Tiro.

Terakhir, dengan adanya penjelasan dan keterangan ini, jelas, bahwa sejarah Negeri Aceh yang sedang diduduki dan dijajah oleh NKRI, dan sedang diperjuangkan pembebasannya oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro dan rakyatnya adalah sambungan sejarah panjang perjuangan rakyat Aceh dan pimpinanya yang benar, berdasarkan fakta, bukti, dasar hukum, dan sejarah.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

From: abu pase abupase@yahoo.com
Date: 6 maj 2004 11:35:22
To: Ahmad Sudirman ahmad_sudirman@hotmail.com
Subject: Konversi pemikiran Hasan Tiro

Bapak Ahmad Sudirman yang terhormat!!!

Kenapa saya mengatakan bahwa pada awalnya Gerakan Aceh Merdeka sebagai upaya untuk memberikan kejelasan kepada masayarakat Indonesia tentang arti politik Orde Baru yang sudah jauh menyimpang dari rel kebenaran. Pemerintah Orde Baru telah menetapkan bahwa Aceh adalah suatu daerah yang mempunyai budaya berbeda namun tetap harus menjalankan program negara yang berlandaskan Pancasila. Yang bagi kalangan ulama Aceh falsafah Pancasila tidak lebih hanyalah ciptaan manusia, di mana tidak mempunyai kandungan hukum yang pasti dalam menghadapi kondisi sosial bangsa Indonesia. Maka terbersitlah pemikiran lain rakyat Aceh untuk mengadakan oposisi kembali dengan negara RI."

Kesimpulan bapak Ahmad Sudirman dari paparan saya di atas yang mengatakan bahwa seandainya, Soeharto dengan Orde Baru-nya berhasil menjalankan roda pemerintahannya dalam rel kebenaran, dan dasar negara NKRI pancasila tidak dipaksakan untuk dijalankan kepada rakyat Aceh, maka Proklamasi Negara Aceh yang diproklamasikan oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro pada tanggal 4 Desember 1976 tidak akan pernah terjadi.

Alasan ini sangatlah tepat karena

1. Bukankah Hasan Tiro dulunya sebagai orang nasionalis yang cinta terhadap NKRI, sampai-sampai ia disekolahkan oleh Sjafruddin Prawiranegara di universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

2. Pada tahun 1950, ia melanjudkan pendidikannya di Universitas Columbia Amerika. Semenjak di negara ini pula dia bekerja pada Dinas Penerangan Delegasi Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa.

3. Selama menjalani studinya di UII, ia menulis pula sebuah buku tentang hakekat kemerdekaan RI sebagai wujud semangat nasionalisme yang sudah tertanam dalam jiwanya. Akan saya kutip penrnyataan Hasan Tiro dalam bab pendahuluan ia menulis : "Sebagaimana halnya Daerah Aceh adalah satu bagian yang tidak terpisah dari Negara Republik Indonesia. Maka demikian pulalah sejarahnya pun merupakan satu bagian dari sejarah Indonesia, dan semboyan kita satu bangsa, satu bahasa dan satu tanah air. Untuk menjamin kelanjutan tekad ini sebaik-baiknya tidak saja harus kita perjuangkan dalam lapangan pengertian politik tetapi juga dalam segala lapangan kebudayaan bangsa.......(Lihat buku Hasan Tiro, Perang Aceh 1873-1927, 1948)

4. Pada awal kemerdekaan, Hasan Tiro pernah aktif dalam organisasi kepemudaan pada Barisan Pemuda Indonesia (BPI) Kecamatan Lamlo, Pidie. Di Lamlo pula, Hasan mengibarkan bendera merah putih dan mentabik (memberi penghormatan) dengan rasa khusyu dan khidmatnya. Hal ini telah tercatat dalam sejarah. (Lihat buku Al-Chaidar, Gerakan Aceh Merdeka Jihad Rakyat Aceh Mewujudkan Negara Islam, (Jakarta: Madani Press, 1999), hlm. 161, lihat juga Osman Raliby,
Sejarah dan Kebudayaannya, (Jakarta: Bhratara, 1954).

Bukankah dengan bukti-bukti di atas menunjukkan bahwa pada awalnya Hasan Tiro adalah sebagai nasionalisme tulen, akan tetapi pada akhirnya terjadilah konversi pemikiran dalam diri Hasan Tiro, sehingga timbullah sebuah konsep-konsep kedaerahan Aceh baik berdasarkan fakta, bukti, dasar hukum, proklamsi GAM dan lain sebagainya sebagaimana yang bapak Sudirman sebutkan. Saya tidak memungkiri fakta sejarah bahwa Aceh adalah sebuah negara yang berdaulat. Akan tetapi kita mestilah meluiruskan sejarah, jangan tumpang tindih seakan-akan membenarkan yang salah dan mensalahkan yang benar. Demikian dulu yang dapat saya respon dari analis bapak. Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.

Ttd
Tgk. Lamkaruna Putra. S.Fil.I

abupase@yahoo.com
Medan, Indonesia
----------