Kutaradja, 11 Mei 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

KEKEJAMAN MODEL DI PENJARA ABU GHARIEB TELAH TERJADI SEJAK DAHULU DI SELURUH ACHEH
Arna, Cut Keumalahayati
Kutaradja - ACHEH.

 

JELAS KELIHATAN ITU KEKEJAMAN MODEL DI PENJARA ABU GHARIEB DI IRAK TELAH TERJADI SEJAK DAHULU DI SELURUH ACHEH

Perang sangat kotor yang dilakukan pemerintah Indonesia di Acheh semakin tidak terkontrol. Sebagaimana telah dilaporkan ARNA sebelumnya tentang bisnis kotor TNI di Acheh, baru-baru ini Penguasa Darurat Militer Daerah (PDMD) tertangkap basah menyeludupkan 17 mobil mewah bekas Singapura ke daratan Acheh. Terbongkarnya penyeludupan kali ini, menurut sumber ARNA di Polda Acheh, dikarenakan 'pecah kongsi' antara TNI dan Polri. Pertengkaran dalam bagi hasil.

Nama korp kepolisian Indonesia sangat buruk pasca kejadian penangkapan Baashir dan penembakan dan penganiayaan UMI, sehingga diperlukan beberapa drama heroik untuk menaikkan nama Polri. Polisi yang selama ini menutup mata terhadap bisnis TNI, sudah mulai berpura-pura tegas, dalam rangka menaikkan citra. Selain itu, menurut sumber ARNA yang dekat dengan kantor Gubernur, Abdullah Puteh saat ini berusaha membalas kekurang-ajaran militer di PDMD yang menuduhnya sebagai koruptor. Puteh menjalankan missi pendekatan dengan polisi tidak bermodalkan tangan kosong, juga disertai dengan janji bahwa pimpinan Polri di Acheh akan mendapatkan 'permen' berjumlah puluhan milyar.

Bukan hanya bisnis kotor saja yang terjadi, namun penghancuran moral rakyat Acheh juga menjadi salah satu target utama operasi militer Indonesia. Mungkin saat ini dunia terkejut dengan kekejaman tentara USA di penjara Abu Gharieb yang melecehkan dan menyiksa tawanan. Namun ternyata di Acheh, kekejaman model itu bahkan lebih biadab telah terjadi sejak dahulu. Seluruh Acheh telah lama menjadi Abu Gharieb. Sebelum menggurui Amerika, hendaknya muslim di Nusantara mesti berbuat sesuatu menghentikan kebusukan di depan mata.

Banyak tawanan di seluruh Acheh, khususnya di rumah Geudong dahulu, disiksa dengan sangat biadab, lebih kejam dari perbuatan tentara USA. Banyak kasus, para tahanan dipaksa melakukan hubungan sexual dengan keluarga sedarah. Perbuatan 'iseng' Kopassus malah pernah sampai membelah perut seorang tahanan wanita yang sedang hamil, hanya untuk bertaruh, apa jenis kelamin anak di dalam kandungan korban. Kejahatan kemanusiaan semacam itu terus berlangsung.

Tadi pagi (11/5), ARNA mendapat konfirmasi dari masyarakat di Acheh Rajek, bahwa seorang istri Komandan TNA di Acheh Rajek yang selama ini mesti melapor ke pos kopassus di Indrapuri, mulai hari ini mesti melapor tanpa membawa anak. Perintah itu diberikan, setelah dua hari yang lalu dia dicoba diperkosa oleh kopassus pada pos tersebut, tetapi anaknya yang berumur 3 tahun menjerit jerit sangat keras sehingga pemerkosaan gagal dilakukan. Hari ini dan hari hari selanjutnya, dia mesti melapor seorang diri tanpa membawa anak.

Special Rapporteur on violence against women PBB, Ms. Radhika Coomaraswamy, dalam laporannya kepada Komisi HAM PBB setelah kunjungannya ke Timur Timur tahun 1998 (Pemerintah Indonesia saat itu menolak keras permintaan Ms. Coomaraswamy untuk berkunjung ke Acheh), melaporkan dalam laporannya (E/CN.4/1999/68/Add.3 21 January 1999), penemuan penemuan, antara lain:

Dalam item 43 disebutkan, "Before May 1998, rape was used as an instrument of torture and intimidation by certain elements of the Indonesian army in Aceh, Irian Jaya and East Timor", bahwa pemerkosaan sejak sebelum May 1998 telah dijadikan sebagai alat untuk menyiksa dan mengintimidasi oleh elemen-elemen tentara Indonesia di Acheh, Irian Jaya dan Timor Leste.

Selanjutnya, dalam item 44. juga disebutkan,"...torture of women detained by the Indonesian security forces was widespread, especially in Aceh, Irian Jaya and East Timor. Among the methods of torture that were employed were rape of the detainee, electric shock treatment to ears, nose, breasts and the vagina, submerging in water tanks, burning with cigarette butts, detention in a room full of water and sewage, severe beating, being stripped and paraded naked, being tied by the thumbs from the ceiling, forced intercourse with other detainees, and other means of torture".

Menurut Coomaraswamy, penyiksaan terhadap wanita yang ditahan oleh aparat keamanan Indonesia sangat umum terjadi, khususnya di Acheh, Irian Jaya dan Timor Leste. Diantara siksaan yang dilakukan, diantaranya adalah pemerkosaan terhadap para tahanan, dilakukan kontak arus listrik ke telinga, hidung, payudara dan kemaluan, ditenggelamkan ke dalam bak air, dibakar dengan puntung rokok, disekap dalam ruangan yang penuh air dan tinja, dipukul sangat berat, ditelanjangi dan dipertontonkan dalam keadaan telanjang, diikat dan digantung ke langit langit, dipaksa melakukan hubungan seksual dengan sesama tahanan, dan berbagai jenis siksaan lainnya.

Rakyat Amerika murka kepada pimpinan Pentagon dan para Jenderalnya karena kejadian Abu Gharieb dan proses pengadilan militer sedang berlangsung di sana. Di Indonesia? sedangkan di Indonesia, para jenderal itu mendapat bintang, dipilih menjadi pemimpin negara, bahkan Wiranto yang telah diputuskan hakim PBB sebagai penjahat perang, dengan bangga diusung sebagai calon presiden. Memang, Indonesia negara tidak bermoral, dan dipimpin para penjahat. (MY-5-05011004)

Cut Keumalahayati

Acheh Revolutionary News Agency
arnanews@lycos.com
Kutaradja, Acheh
California, USA