Edinburgh, 13 Mei 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

AMNESTY MELAPORKAN PDMP & PDMD ACEH HANCURKAN KEHIDUPAN RAKYAT ACHEH PAKAI DM
Arna, William James
Edinburgh - UK.

 

AMNESTY LONDON MELAPORKAN PENGUASA DARURAT MILITER PUSAT & PENGUASA DARURAT MILITER DAERAH ACEH HANCURKAN KEHIDUPAN RAKYAT ACHEH PAKAI DARURAT MILITER

Kejahatan terhadap Kemanusiaan (Crimes Against Humanity) yang dilakukan pemerintah Indonesia di Acheh kembali mendapat kutukan hebat dunia. Amnesty International (AI) London kembali mengeluarkan statement sangat keras mengutuk kelakuaan Indonesia di Acheh.

Dalam Press Release bertanggal 11 May 2004 yang berjudul, "Indonesia: Human Rights Sacrificed to Security in NAD (Aceh)", AI menyatakan bahwa Indonesia telah mengorbankan Hak Asasi Manusia (HAM) demi alasan keamanan di Acheh. Menurut AI, rakyat Acheh sekarang hidup dalam ketakutan yang berketerusan, takut dibunuh, disiksa dan ditahan dengan sewenang-wenang.

AI menambahkan, bahwa sejak setahun diberlakukan Darurat Militer (DM) di Acheh, kekerasan terjadi sangat meluas, sehingga mustahil bagi rakyat Acheh menikmati kehidupan normal. AI menuntut Indonesia untuk segera berhenti mengorbankan HAM demi alasan keamanan.

"hampir seluruh kehidupan rakyat Acheh telah dihancurkan oleh pemberlakuan DM, masyarakat dihantui oleh pembunuhan, penangkapan, penyiksaan dan perlakuan sewenang-wenang. Demikian pula kehidupan ekonomi dan sosial telah benar benar dihancurkan oleh meningkatnya Operasi Militer.

AI juga membeberkan pengakuan dari beberapa korban yang disiksa sangat berat oleh TNI maupun Polri baru baru ini. Metoda siksaan terhadap korban meliputi pemukulan, pembakaran (bagian tubuh) dengan puntung rokok, pembungkusan kepala korban dengan plastik (having plastic bags placed over their heads), demikian pula para korban mendapat perlakuan keji, dikontakkan ke arus listrik (electric shocks). AI juga mendapatkan pengakuan yang dapat dipercaya tentang pemerkosaan dan berbagai jenis pelecehan seksual lainnya.

Menurut AI, telah terjadi pemerkosaan oleh anggota militer Indonesia terhadap seorang anak kecil berumur 12 tahun, pada Agustus 2003 yang lalu. Kasus yang lain, tambah AI, di Acheh Timur, 3 perempuan yang salah satunya hamil, dipaksa untuk telanjang dan dilecehkan oleh tentara Indonesia. Indonesia sama sekali tidak melakukan langkah langkah penegakan hukum dalam kasus kasus ini.

AI juga menegaskan, telah terjadi peningkatan pelanggaran HAM yang luar biasa oleh aparat keamanan Indonesia selama pemberlakuan DM. Menurut pemerintah Indonesia sendiri, lebih dari 2000 rakyat dibunuh dalam satu tahun. AI menemukan bukti bukti yang sangat kuat, bahwa yang dibunuh tersebut kebanyakannya adalah penduduk sipil, demikian pula sangat banyak anggota GAM yang dibunuh tentara tanpa dasar hukum.

Penangkapan juga terjadi dalam skala yang sangat luas. Aparat keamanan mengklaim telah menangkap lebih dari 1200 orang. Ratusan telah dibawa ke pengadilan dengan tuduhan sebagai anggota dan simpatisan GAM. Walau demikian, AI juga menegaskan adanya bukti yang sangat kuat, bahwa pengakuan para korban didapat setelah mendapat siksaan yang sangat berat.

"Semua pengadilan itu benar benar dikontrol untuk kepentingan politik", demikian menurut AI. Usaha-usaha yang katanya untuk mereformasi peradilan dan memperkuat independensinya, sama sekali tidak berpengaruh pada pengadilan di Acheh. Minggu lalu, TNI mengakui adanya 429 kasus pelanggaran di Acheh yang dibawa mahkamah militer termasuk pelanggaran HAM, namun hukuman terberat hanya tiga setengah tahun untuk pelaku pemerkosaan. AI menyambut pengakuan adanya pelanggaran oleh TNI, namun tidak mempercayai bahwa militer akan mampu bersikap adil dalam menyidang anggotanya sendiri. AI yakin, bahwa kasus kasus ini hanyalah sebagian kecil dari pelanggaran yang sangat banyak yang telah dilakukan oleh TNI.

AI juga menyerukan kepada pemerintah Indonesia agar mengutuk pelanggaran HAM di Acheh, dan segera mengambil sikap untuk menghentikannya, termasuk mendirikan badan yang efektif, tidak berpihak, guna melakukan penyelidikan atas kasus kasus pelanggaran itu.

AI juga menekankan akan pentingnya segera diberikan akses kepada pemantau HAM, pekerja kemanusiaan dan jurnalis untuk masuk ke Acheh yang selama setahun ini ditutup rapat. Di ujung statementnya, AI juga menceritakan sedikit latar belakang pemberlakuan DM di Acheh. Press Release AI yang lengkap bisa didapatkan di: http://news.amnesty.org/mav/index/ENGASA210182004 (MY-6-05012004)

Arna & William James

Acheh Revolutionary News Agency
arnanews@lycos.com
California, USA
----------