Stockholm, 17 Mei 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

SAGIR HARUS TAHU ITU TAHANAN TNA DIBEBASKAN TETAPI TAHANAN RI DIPINDAHKAN KE JAWA
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

SAGIR ALVA HARUS TAHU ITU TAHANAN TNA DIBEBASKAN TETAPI TAHANAN RI DIPINDAHKAN KE JAWA

"Saudara Ahmad, saya melihat bahwa pelepasan sandera yang dilakukan oleh GAM bukanlah bukti kemenangan GAM terhadap TNI, tapi justru sikap GAM menyandera orang sipil dan wartawan adalah bukan sikap ksatria yang katanya ingin memperjuangkan hak-haknya. Justru sikap yang ditunjukkan GAM menyandera orang sipil dan wartawan dalam waktu yang lama ini adalah sikap pengecut, mereka memanfaatkan sandera sebagai tameng hidup, bahkan melepaskan tanggung jawabnya jika sanderanya terkorban. Dan memang DM akan berakhir, tapi ini juga bukanlah suatu kekalahan oleh pihak pemerintah RI, pemerintah hanya akan menurunkan status saja tanpa menarik pasukkan yang ada, karena jika TNI/POLRI ditarik semuanya dari aceh, jelas ini hanya menaikkan kembali kekuatan GAM yang sekarang ini sudah melemah, dan selama GAM masih ada maka selama itupula masih perlu diadakan tindakan pengawalan keadaan untuk mencegah menguatnya kembali kekuatan GAM. Dan selama DM justru yang mengalami kekalahan adalah GAM, buktinya kekuatan GAM dapat direduksi, sementara kekuatan TNI/POLRI masih tetap solid, sehingga justru orang GAM lari sembunyi-sembunyi menyelamatkan diri ke hutan, tanpa bisa keluar bebas dari hutan." (Sagir Alva , melpone2002@yahoo.com , Sun, 16 May 2004 22:18:27 -0700 (PDT))

Baiklah saudara Sagir Alva di Selangor, Malaysia.

Sebenarnya, yang dibebaskan oleh TNA bukan sandera TNA melainkan para tahanan TNA yang setelah diperiksa oleh TNA terbukti tidak bersalah, maka perlu dibebaskan.

Kemudian dalam hal pembebasan para tahanan TNA yang terbukti tidak bersalah ini pun perlu dilakukan dengan cara yang baik dan melalui pihak yang dianggap netral dalam hl ini adalah Palang Merah Internasional (ICRC).

Agar supaya ketika sedang dilakukan penyerahan para tahanan TNA kepada pihak Palang Merah Internasional (ICRC) tidak mendapat serbuan pihak TNI/RAIDER, maka perlu diadakan genjatan senjata terbatas antara TNA dengan TNI.

Nah, terbukti karena memang langkah yang dilakukan pihak TNA untuk menyerahkan para tahanan TNA kepada pihak Palang Merah Internasional (ICRC) perlu dilakukan dalam suasana yang aman, maka akhirnya Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal Ryamizard Ryacudu, setelah beberapa bulan lamanya tidak mau menerima gencatan senjata terbatas, ternyata menerima gencatan senjata terbatas terbatas.

Dan, terbukti bahwa pada hari Sabtu, 15 Mei 2004 dan hari Minggu, 16 Mei 2004 telah dibebaskan para tahanan TNA dan diserahkan kepada pihak Palang Merah Internasional (ICRC). Dimana termasuk didalamnya tahanan TNA kameramen Fery Santoro yang dibebaskan kemaren, hari Minggu, 16 Mei 2004.

Jadi, kelihatan bahwa pihak TNA adalah pihak yang ingin melihat dan menjaga keselamatan para tahanannya ketika diserahkan kepada pihak yang netral, dalam hal ini, pihak Palang Merah Internasional (ICRC).

Kemudian, penahanan yang dilakukan oleh pihak TNA ini bukan tindakan dan sikap pengecut, melainkan penahanan yang dilakukan oleh pihak TNA adalah merupakan tindakan yang wajar, karena memang di Negeri Aceh sedang berlangsung perang antara pihak RI dengan pihak GAM dengan TNA-nya.

Pihak RI dalam hal ini pihak PDMD Aceh telah menangkapi rakyat Aceh yang dituduh GAM. Begitu juga pihak TNA, akan menangkapi orang-orang yang dianggap bekerjasama dan membantu pihak RI dan TNI-nya.

Nah, apabila telah diperiksa ternyata mereka yang ditangkap oleh TNA itu tidak bersalah, maka akan dibebaskan. Untuk menjaga agar para tahanan TNA yang akan dilepaskan ini tidak dibunuh oleh pihak TNI, maka perlu diatur dan dilaksanakan dalam situasi yang aman dan diserahkan kepada pihak yang dianggap netral, dalam hal ini adalah pihak Palang Merah Internasional (ICRC).

Jelas, bagi pihak TNA tidak takut dikepung oleh pihak TNI, justru yang sangat dipertimbangkan oleh pihak TNA adalah keselamatan para tahanan TNA yang akan dilepas dengan baik itu kepada pihak Palang Merah Internasional (ICRC).

Jadi disini pihak TNA tidak bodoh, tidak bisa ditipu dan tidak dengan seenaknya mudah dibunuh oleh TNI. Karena TNA kalau bukan waktu pelepasan tahanan, mana pernah pihak TNA meminta genjatan sejata kepada pihak TNI. Tidak ada dalam sejarah TNA meminta gencatan senjata kepada TNI dalam perang modern Aceh sekarang ini. Pihak TNA tidak takut kepada TNI.

Soal tidak dilepaskannya seluruh tahanan TNA, jelas itu harus menunggu hasil pemeriksaaan yang dilakukan terhadap para tahanan. Kalau ternyata terbukti mereka itu tidak bersalah, TNA akan melepaskan mereka juga.

Kemudian soal darurat sipil yang akan menggantikan darurat militer pada tanggal 19 Mei 2004. Jelas, kalau pihak RI bersama TNI-nya ingin terus menduduki dan menjajah Negeri Aceh, dan tidak ingin menyelesaikan damai di Negeri Aceh, maka akan kelihatan, darurat sipil ditetapkan dan dijalankan, tetapi TNI/POLRI/RAIDER yang telah dikirimkan sejak tanggal 19 Mei 2003 yang lalu tidak ditarik dari Negeri Aceh, melainkan tetap ditempatkan di Aceh, dengan alasan GAM belum habis ditumpas.

Nah disini, jelas kelihatan kalau memang pihak TNI terus ngotot mempertahankan pasukannya di Negeri Aceh, walaupun situasi di Aceh telah dirobah menjadi darurat sipil, maka jelas, justru pihak TNI yang ingin terus menduduki dan menjajah Negeri Aceh.

Padahal, kalau pihak TNI ingin melihat di Negeri Aceh itu damai, maka semua permasalahan yang menyangkut konflik Aceh dikembalikan dan diserahkan kepada seluruh rakyat Aceh. Rakyat Acehlah yang sebenarnya perlu menyelesaikan konflik di Negerinya sendiri, bukan TNI. Kalau seluruh rakyat Aceh menghendaki TNI ditarik mundur dan mereka ingin menentukan nasib sendiri bebas dari NKRI atau RI, maka pihak RI bersama TNI-nya tidak punya hak untuk terus-terusan memegang dan menduduki Negeri Aceh.

Karena, selama Negeri Aceh ini diduduki dan dijajah oleh oleh NKRI atau RI, maka selama itu konflik Aceh tidak akan selesai.

Nah, memang kesempatan inilah yang terus dipertahankan oleh pihak TNI dibawah komando Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto, Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal Ryamizard Ryacudu, dan Menko Polkam ad interim Hari Sabarno untuk terus mengobarkan konflik Aceh.

Buktinya, itu darurat sipil, tetap saja dimanfaatkan oleh TNI untuk menjalankan pendudukan dan pengobaran konflik di Negeri Aceh, melalui cara, pasukan TNI tidak ditarik dari Aceh.

Seterusnya, alasan karena masih adanya GAM. Jelas itu alasan yang dangkal. Mengapa ?
Karena GAM atau ASNLF adalah wadah perjuangan rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI atau RI atau RI-Jawa-Yogya. ASNLF atau GAM adalah milik rakyat Aceh dan wadah perjuangan rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila. Dan sampai kapanpun, itu wadah perjuangan rakyat Aceh tidak bisa dilepaskan dari rakyat Aceh. Selama masih hidup rakyat Aceh, maka selama itu ASNLF atau GAM tetap wujud.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk,
amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Sun, 16 May 2004 22:18:27 -0700 (PDT)
From: sagir alva melpone2002@yahoo.com
Subject: Penyanderaan bukan sikap ksatria
To: ahmad@dataphone.se
Cc: melpone2002@yahoo.com, sumatra_merdeka@yahoo.com, teuku_mirza@yahoo.com, om_puteh@hotmail.com, ruseb@algonet.se, dityaaceh_2003@yahoo.com

Ass.Wr.Wb

Selamat siang saudara Ahmad:) bagaimana kabar anda sekarang ini di Swedia? Semoga kabar anda dan sekluarga sehat selalu serta anda sekeluarga selalu mendapat lindungan Allah SWT.

Saudara Ahmad, saya melihat bahwa pelepasan sandera yang dilakukan oleh GAM bukanlah bukti kemenangan GAM terhadap TNI, tapi justru sikap GAM menyandera orang sipil dan wartawan adalah bukan sikap ksatria yang katanya ingin memperjuangkan hak-haknya. Justru sikap yang ditunjukkan GAM menyandera orang sipil dan wartawan dalam waktu yang lama ini adalah sikap pengecut, mereka memanfaatkan sandera sebagai tameng hidup, bahkan melepaskan tanggung jawabnya jika sanderanya terkorban.

GAM memanfaatkan pelepasan sandera untuk mencari jeda perang, karena sudah tidak tahan dikepung oleh TNI/POLRI. Sehingga GAM melepaskan sandera hanya sedikit demi sedikit, tidak langsung dengan 250 sandera, ini menenjukkan bahwa dengan pelepasan yang bertahap, maka GAM ingin memperpanjang masa jeda perangnya, sehingga punya cukup masa untuk menambah kekuatan.

Tapi sayang, cara yang ditempuh GAM ini bukanlah langkah ksatria, tapi langkah pengecut. Jika ingin menambah kekuatan atau meminta masa jeda perang, lakukanlah dengan benar, jangan menyandera orang yang tak bersalah.

Dan memang DM akan berakhir, tapi ini juga bukanlah suatu kekalahan oleh pihak pemerintah RI, pemerintah hanya akan menurunkan status saja tanpa menarik pasukkan yang ada, karena jika TNI/POLRI ditarik semuanya dari aceh, jelas ini hanya menaikkan kembali kekuatan GAM yang sekarang ini sudah melemah, dan selama GAM masih ada maka selama itupula masih perlu diadakan tindakan pengawalan keadaan untuk mencegah menguatnya kembali kekuatan GAM. Dan selama DM justru yang mengalami kekalahan adalah GAM, buktinya kekuatan GAM dapat direduksi, sementara kekuatan TNI/POLRI masih tetap solid, sehingga justru orang GAM lari sembunyi-sembunyi menyelamatkan diri ke hutan, tanpa bisa keluar bebas dari hutan.

Saya kira itu saja yang dapat saya sampaikan pada kesempatan hari ini, sekali lagi saya mohon ma'af jika ada tulisan serta perkataan saya yang menyinggung perasaan peserta milis mimbar bebas ini, dan saya mengucapkan terima kasih atas kritik yang negetif atau positif yang ditujukan kepada saya.

Wassalam

Sagir Alva

melpone2002@yahoo.com
Universitas Kebangsaan Malaysia
Selangor, Malaysia
----------