Stockholm, 20 Mei 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

TGK LAMKARUNA ITU TEUNGKU HASAN DI TIRO MENULIS SEJARAH ACEH ATAS REFERENSI YANG LUAS
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

TGK LAMKARUNA PUTRA ITU TEUNGKU HASAN DI TIRO MENULIS SEJARAH ACEH ATAS REFERENSI YANG LUAS

"Bapak Ahmad Sudirman yang saya hormati. Dari setiap argumentasi yang bapak sampaikan, bapak perlu kembali menelaah sejarah Aceh lebih mendalam, jangan hanya mengambil referensi dari buku yang telah dikarang oleh Hasan Tiro karena beliau telah banyak memutarbalikkan fakta sejarah. Bagi bangsa Aceh yang memahami sejarah menganggap hal ini sebagai pemalsuan sejarah. Hasan Tiro adalah keturunan tanjong bungong dimana ayahnya yang bernama Leube Muhammad kawin dengan Tgk. Fatimah anak daripada Tgk. Mahyiddin yang syahid pada tahun 1910. Jadi, Hasan Tiro yang kini menghabiskan masa hidupnya berada di swedia, telah mengaku sebagai keturunan ulama di Tiro (bersentuhan dengan Tiro karena ibunya keturunan tiro bukan ayahnya), bahkan berani mengklaim dirinya sebagai pewaris tunggal Tgk. Chik di Tiro. Padahal menurut catatan sejarah, ahli waris Tgk. Chik di Tiro yang sah adalah Al Mutsanna, anak Tgk. Abdul Wahab dan cucu dari Tgk. Umar di Tiro." (Tgk. Lamkaruna Putra, abupase@yahoo.com , Tue, 18 May 2004 05:11:46 -0700 (PDT))

Baiklah Teungku Lamkaruna Putra di Medan, Indonesia.

Kemarin, Selasa, 18 Mei 2004, Teungku Lamkaruna Putra mengirimkan lagi tulisan dengan topik Hasan Tiro bukan keturunan Raja dan Tiro, ke mimbar bebas ini yang sampai juga kepada saya.

Setelah saya membaca isi dari tulisan tersebut, dapat diambil gambaran bahwa Teungku Lamkaruna Putra ingin mencoba meluruskan sejarah yang ditulis oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro tentang perjuangan dan kedudukan dari Teungku Tjhik di Tiro dan penerusnya.

Dimana menurut Teungku Lamkaruna Teungku Hasan Muhammad di Tiro "telah banyak memutarbalikkan fakta sejarah. Bagi bangsa Aceh yang memahami sejarah menganggap hal ini sebagai pemalsuan sejarah".

Padahal sebagian besar referensi yang dipakai oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro dalam menulis sejarah Aceh ini diambil dari sumber-sumber hasil karya penulis dan sejarawan Belanda, dan Indonesia diantaranya Colonel H.J. Schmidt yang menulis buku hariannya, dan buku Marechaussee in Atjeh , 1943. H.C. Zentgraaff yang menulis buku Atjeh, dan buku Sumatraantjes. Paul Van't Voer yang menulis buku Maar Majesteit! De Arbeiderspers, 1968, dan buku De Atjeh-Oorlog, De Arbeiderspers, 1969. J. Kreemer yang menulis bukunya Atjeh, 1922-3. R.A. Hoesein Djajadiningrat yang menulis buku Atjehsch-Nederlandsch Woordenboek, 1934. Mohammad Said yang menulis buku Atjeh sepanjang abad, 1961.

Dimana dalam penulisan sejarah Aceh inipun terdapat bermacam versi. Misalnya kalau penulis sejarah Paul Van't Voer membagi perang di Aceh dalam 4 periode, yaitu Perang Aceh I (1873-1874, Perang Aceh II (1874-1880), Perang Aceh III (1881-1896), dan Perang Aceh IV (1897-1942). Perang Aceh I dan II adalah perang total dan frontal, di mana pemerintah masih berjalan mapan, meskipun ibu kota negara telah dipindahkan ke Keumala Dalam, Indra Puri dan tempat-tempat lain. Perang Aceh III adalah perang gerilya total dan teratur, di mana fungsi pemerintahan tidak berperan lagi karena sering-sering berpindah tempat.Dan Perang Aceh IV adalah perang gerilya kelompok dan perorangan dengan perlawanan, penyerbuan, penghadangan dan pembunuhan tanpa komando dari pusat. Jadi menurut Paul Van't Voer perang Aceh berakhir tahun 1942.

Sedangkan sejarawan R.H. Saragih, J. Sirait, dan M. Simamora membagi sejarah perang Aceh menjadi 3 periode, yaitu Perang Aceh I (1873-1893), Perang Aceh II (1893-1896), dan Perang Aceh III (1896-1904). Dimana Perang Aceh I adalah perang total kepada Belanda. Perang Aceh II Teuku Umar menjalankan siasat diplomasi dengan pura-pura menyerah dan menawarkan jasa baik untuk menumpas perang Aceh. Perang Aceh III Teuku Umar yang dilanjutkan oleh Tjut Njak Nya Dien melancarkan perang gerilya. Jadi menurut para sejarawan ini perang Aceh berakhir pada tahun 1904.

Jadi, dalam hal pengungkapan sejarah Aceh ini telah timbul beberapa versi, sehingga dalam menarik kesimpulanpun jangan terpokus hanya pada satu versi saja.

Karena itu dalam sejarah Aceh yang ditulis oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro ini pun, saya tidak melihat hanya memusatkan kepada perjuangan yang dilakukan oleh Teungku Tjhik di Tiro dan keturunannya saja, melainkan juga menyinggung perjuangan Teuku Panglima Polem, Sultan Alaeddin Mahmud Shah, Teuku Umar, Tjut Njak Dien.

Memang kalau melihat dari banyaknya keturunan yang terlibat dalam perang melawan Belanda adalah keturunan Teungku Tjhik di Tiro yang meninggal pada 25 Januari 1891 yang cukup mendominasi.

Diawali oleh Teungku Tjhik di Tiro yang mulai memimpin perang tahun 1874 sampai meninggal tahun 1891, sedangkan menurut versi lain mulai memimpin perang tahun 1881. Diteruskan oleh Teungku Mat Amin yang mulai mimpin perang tahun 1891 sampai meninggal dalam perang Aneuk Galong tahun 1896. Lalu diteruskan oleh Teungku di Toengkob alias Teungku Beb alias Teungku Ubaidullah yang meninggal dalam perang Lhok Panaih tahun 1899. Kemudian perang diteruskan oleh Teungku Lambada meninggal dalam perang Keune, Geupang tahun 1904. Seterusnya perang dipimpin oleh Teungku Mahidin alias Teungku Tjheh Majet meninggal dalam perang Putjok Alue Simi pada tanggal 5 September 1910. Selanjutnya perang dipimpin oleh Teungku Tjheh Maat yang meninggal dalam perang Alue Bhot, Tangse pada tanggal 3 Desember 1911.

Jadi kalau diperhatikan bahwa perang melawan Belanda yang dipimpin oleh keluarga Teungku Tjhik di Tiro ini telah dimulai dari sejak 1874 atau 1881 sampai tahun 1911.

Ada beberapa hal yang perlu dijelaskan disini menyangkut tradisional kepala negara di Aceh. Menurut Teungku Hasan Muhammad di Tiro kepala negara di Aceh bisa dinamakan Raja atau Sultan atau Mudabbir al-Malik atau Wali Negara. Dari nama-nama tersebut Teungku Hasan lebih senang mempergunakan nama Wali Negara yang berarti penjaga yang bertanggung jawab keselamatan rakyat. (The Price of Freedom: the unfinished diary of Tengku Hasan di Tiro, National Liberation Front of Acheh Sumatra, 1984, hal 92).

Kalau saya hubungkan antara pengertian Wali Negara menurut Teungku Hasan Muhammad di Tiro dengan para pimpinan perang dari keluarga Teungku Tjhik di Tiro ini, maka setiap pimpinan perang dinamakan penjaga yang bertanggung jawab keselamatan rakyat. Atau dengan kata lain setiap pimpinan perang dinamakan Wali Negara. Adapun yang mengangkat pimpinan perang atau Wali Negara ini adalah staf, para pendukung, pasukan atau tentaranya.

Karena itu wajar kalau setiap pimpinan perang melawan Belanda dinamakan Wali Negara yaitu seorang penjaga yang bertanggung jawab keselamatan rakyat Aceh, menurut istilah dan pendapat Teungku Hasan Muhammad di Tiro.

Jadi bisa dikatakan Teungku Tjhik di Tiro pemimpin perang dan wali negara dari tahun (1874/1881-1891). Teungku Mat Amin pemimpin perang dan wali negara (1891-1896). Teungku di Toengkob alias Teungku Beb alias Teungku Ubaidullah pemimpin perang dan wali negara (1896-1899). Teungku Lambada pemimpin perang dan wali negara (1899-1904).Teungku Mahidin alias Teungku Tjheh Majet pemimpin perang dan wali negara (1904 - 1910). Teungku Tjheh Maat pemimpin perang dan wali negara (1910-1911).

Soal tambahan nama di Tiro (Tiro nama kapung di Pidie) dibelakang nama Hasan Muhammad memang itu erat hubungannya dengan pihak ibu. Jadi menurut saya wajar saja Teungku Hasan Muhammad ditambah dibelakang namanya dengan di Tiro, maka jadilah nama Teungku Hasan Muhammad di Tiro. Dipakai atau tidak dipakai itu nama Tiro, semua orang mengetahui bahwa Teungku Hasan adalah cicit dari Teungku Tjhik di Tiro dari pihak Ibunya. Kemudian itu soal mengklaim sebagai pewaris tunggal Teungku Tjhik di Tiro itu harus dilihat dari jalur silsilahnya. Saya yakin itu Teungku Hasan Muhammad di Tiro tidak begitu ambisi untuk mengklaim sebagai pewaris tunggal Teungku Tjhik di Tiro. Karena bagaimanapun, pewaris tunggal atau bukan, yang jelas dan pasti memang benar Teungku Hasan Muhammad di Tiro punya turunan darah langsung dari Teungku Tjhik di Tiro melalui jalur ibunya.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk,
amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Tue, 18 May 2004 05:11:46 -0700 (PDT)
From: abu pase <abupase@yahoo.com>
Subject: HASAN TIRO BUKAN KETURUNAN TIRO DAN RAJA
To: Lucia <lwithers@amnesty.org>, lukman hakim <dr_lukmanulhakim@yahoo.com>, megawati <megawati@gmx.net>, mimbarbebas <mimbarbebas@egroups.com>, Norsk Achenisk Sumatra Forening <norskachenisk@yahoo.no>, om puteh <om_puteh@hotmail.com>, ahmad@dataphone.se

HASAN TIRO BUKAN KETURUNAN RAJA DAN TIRO

Bapak ahmad sudirman yang saya hormati, terlepas wajar atau tidaknya Hasan Muhammad mengunakan nama Tiro dalam namanya, yang ingin saya sampaikan disini adalah semata-mata meluruskan sejarah. Artinya dengan penambahan Tiro di dinama Teungku Muhammad Hasan, ia
mengklaim bahwa sebagai pelanjud kesultanan raja Aceh terakhir, ini yang perlu untuk kita luruskan bersama. Benarkah Teungku Hasan Muhammad keturunan Tiro dan Keturunan raja.

Konon menurut gejala-gejala dan gerak langkah dari Hasan Muhammad di Tiro, ia sangat menginginkan untuk menjadi raja Aceh yang kemudian pada tahun 1999 di Banda Aceh tersebar selebaran bahwa Hasan Tiro adalah Raja yang ke 41. gejala-gejala ini telah nampak sejak ia mengeluarkan buku ATJEH SIREUTOH THON (Aceh Seratus Tahun) yang merupakan karangan Hasan Tiro sendiri. Dalam buku tersebut Hasan Tiro sangat mengkultuskan Tgk. Shijk Di Tiro Muhammad Saman, seakan hanya keluarga Tiro lah yang berperang dengan Belanda.

Padahal fakta sejarah mengatakan bahwa setelah puluhan tahun perang Aceh dengan Belanda baru keluarga Tiro tampil dalam perjuangan untuk mengusir bangsa Belanda yang berakhir pada tahun 1914. akan tetapi perang Aceh berjalan terus hingga tahun 1942. Berarti perang Aceh tidak semata-mata berpegang kepada keluarga Tiro akan tetapi seluruh kaum muslimin termasuk keluarga Tiro sendiri. Sebagaimana ditulis oleh Hasan Tiro dalam bukunya Jum Meudehka eunurat njang gohlom lheueh nibak Tengku Hasan di Tiro, ia menulis :

"Sabab ulon lahe dalam famili di Tiro, famili njang mat pimpinan Bangsa dan Nanggroe Atjeh trok'an meukeuturonan dalam masa prang dan dalam masa dame, dalam seudjarah Atjeh njang panjang njan.Teutapi bat mat neuduek njan, uleh famili ulon, ka le that pajah geubri keureubeuen, darah dan hareuta. "Darah famili Teungku di Tiro ke le that rho bak peutheun Atjeh". Sabab njan pahlawan-pahlawan-pahlawan bangsa Atjeh njang raja-raja le teuka nibak darah ulon . Uleh sabab seudjarah njang panjang that njoe maka uleh bangsa Atjeh sabe geuharap keu peumimpin geuh di Tiro. Lagee meunan ngon ulon endatu ulon dimasa njang ka u likot, djameunkon, meunankeuh deungon ulon dan keuturonan Atjeh masa ulon uroe njoe, dan meunan ulon harap dimasa ukeue antara aneuk ulon deungon bangsa ulon turon-teumuron, lagee djameunkon".

Terjemahannya:

Karena saya lahir dalam keluarga di Tiro, keluarga yang memegang kepemimpinan bangsa Aceh dan Negara Aceh baik dalam masa perang dan maupun masa damai dalam perjalanan panjang sejarah Aceh. Tetapi dalam memegang kepemimpinan itu, keluarga saya sudah banyak mengorbankan darah dan harta. "Darah keluarga Teungku di Tiro sudah berlimpah ruah dalam mempertahankan Aceh". Oleh karenanya pahlawan-pahlawan bangsa Aceh yang berketurunan raja banyak berasal dari keturunan saya. Melihat sejarah Aceh yang sangat panjang ini maka oleh bangsa Aceh mengharapkan kepemimpinan berada di tangan Tiro. Begitulah sejak dahulu perjalanan sejarah nenek moyang saya. Begitu juga dengan saya dan keturunan Aceh pada sekarang ini. Dan ini saya harapkan di masa mendatang antara anak saya dengan bangsa saya dapat melanjudkan tradisi ini secara turun temurun seperti dahulu kala.

Di dalam buku-buku Hasan Tiro kecuali buku Demokrasi untuk Indonesia, hasan Tiro menyebutkan bahwa Tgk. Syeh Saman sebagai wali Negara, Tgk. Mat Amin wali Negara, Tgk. Mahyiddin Wali Negara, Tgk. Ma'at Wali negara dan Hasan Tiro Wali negara, yang kesemuanya menjadi wali negara. Yang menjadi pertanyaan kita, siapa yang mengangkat Tgk Sjihik Di Tiro dan
anak-anaknya sebagai wali negara? Hal ini sangat ganjil sekali, karena tidak ada satu bukti sejarahpun yang mengatakan bahwa Tgk. Thjik Muhammad Di Tiro dan anak-anaknya sebagai wali negara. Didalam silsilah yang dibuat Hasan Tiro yang telah banyak ditebarkan oleh beliau sendiri, mengangkat dirinya sebagai penerus wali negara secara turun menurun mulai dari Tgk. Shijk Muhammad saman Wali negara 1874-1881, Tgk Mat Amin meninggal wali negara 1881-1896, Tgk. Ubed (Ubaidillah) wali negara 1904-1910, Tgk. Ma'at Wali negara 1901-1911, dan Tgk. Muhammad Hasan wali negara 1976 sampai sekarang.

Bapak ahmad sudirman yang saya hormati,

Dari setiap argumentasi yang bapak sampaikan, bapak perlu kembali menelaah sejarah Aceh lebih mendalam, jangan hanya mengambil referensi dari buku yang telah dikarang oleh Hasan Tiro karena beliau telah banyak memutarbalikkan fakta sejarah. Bagi bangsa Aceh yang memahami sejarah menganggap hal ini sebagai pemalsuan sejarah. Hasan Tiro adalah keturunan tanjong bungong dimana ayahnya yang bernama Leube Muhammad kawin dengan Tgk. Fatimah anak daripada Tgk. Mahyiddin yang syahid pada tahun 1910.

Jadi, Hasan Tiro yang kini menghabiskan masa hidupnya berada di swedia, telah mengaku sebagai keturunan ulama di Tiro (bersentuhan dengan Tiro karena ibunya keturunan tiro bukan ayahnya), bahkan berani mengklaim dirinya sebagai pewaris tunggal Tgk. Chik di Tiro. Padahal menurut catatan sejarah, ahli waris Tgk. Chik di Tiro yang sah adalah Al Mutsanna, anak Tgk. Abdul Wahab dan cucu dari Tgk. Umar di Tiro.

Jika menurut garis keturunan, maka Tgk. Hasan Muhammad di Tiro ini mestinya harus menyebut nama lengkapnya yaitu Hasan Leubee Muhammad Tanjong Bungong, dan hal itu tidak dia buat karena mungkin dari garis keturunan ayahnya itu bukan dari kalangan ulama yang terkenal.

Saya fikir sangat ironis dan bukan suatu hal yang wajar jika ia mencantumkan nama tiro, karena pencantuman nama tiro semata-mata untuk mengklaim dirinya sebagai pelanjud tahta kerajaan atau keturunan raja.

Demikian Pak ahmad Sudirman yang dapat saya respon dari tulisan bapak, atas perhatian dan tukar
fikirannya, saya ucapkan terima kasih.

Wassalam.

Tgk. Lamkaruna Putra

abupase@yahoo.com
Medan, Indonesia
----------