Stockholm, 23 Mei 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

TGK LAMKARUNA ITU TGK HASAN DI TIRO TIDAK MEMBENTUK KERAJAAN ACEH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

TEUNGKU LAMKARUNA PUTRA ITU TEUNGKU HASAN DI TIRO TIDAK MEMBENTUK KERAJAAN ACEH

"Baiklah pak Ahmad Sudirman. Perlu saya jelaskan, pengangkatan wali negara yang dibuat oleh Hasan Tiro secara hirarki sampai kepada Hasan Tiro,adalah untuk mengklaim ia sebagai keturunan raja ke 41, hal ini coba dibaca pada selebaran-selebaran dari Hasan Tiro yang dulu pada tahun 1999 ditebarkan di banda Aceh. Bisa saja pengertian wali negara penjaga yang bertanggung jawab keselamatan rakyat, akan tetapi orientasi adalah sebagai raja Aceh. Kemudian siapa yang mengangkat Tgk. Shijk Saman dan kesemuanya itu sebagai wali negara (Raja). Karena hal ini ganjil sekali, karena tidak ada satupun bukti sejarah yang mengatakan Tgk. Tjhik Di Tiro dan anak-anaknya sebagai wali negara. Bahkan yang mulia Tgk. Thjik di tiro jauh dari keinginan ini menjadi raja karena beliau berjuang untuk islam begitu juga keturunan setelahnya yang banyak syahid dalam memperjuangkan agama Allah. Jangan kita kotori perjuangan mereka untuk kepentingan pribadi kita. Dan juga aneh selebaran yang ditebarkan oleh Hasan Tiro bahwa mengangkat dirinya sebagai penerus wali negara secara turun temurun. Inilah pak ahmad sudirman yang dimaksud wali negara oleh Hasan Tiro." (Tgk. Lamkaruna Putra, abupase@yahoo.com , 22 maj 2004 10:39:44)

Baiklah Teungku Lamkaruna Putra di Medan, Indonesia.

Dari apa yang ditulis oleh Teungku Lamkaruna yang berjudul "Betulkan Hasan Tiro murni berjuang?" saya menangkap bahwa pemikiran Teungku Lamkaruna yang dituangkan dalam tulisannya tentang perjuangan dan sejarah yang ditulis oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro lebih banyak mengarah kepada yang sifatnya pribadi.

Dan ini terbukti dengan apa yang diungkapkan oleh Teungku Lamkaruna: "Perbedaan sejarah Aceh ini menunjukkan begitu luasnya khazanah sejarah perjuangan Aceh. Dalam kajian ilmiah, perbedaan pendapat tersebut adalah hal yang wajar selama ia bisa dibuktikan secara ilmiah, dan kita haruslah mempelajari perbedaan-perbedaan tersebut sehingga memperluas cakrawala berfikir kita. Akan tetapi orientasi penulisan sejarah yang dibuat oleh hasan tiro semata-mata untuk kepentingan pribadinya, inilah yag harus kita luruskan."

Disini kelihatan jelas sekali Teungku Lamkaruna menekankan: "orientasi penulissan sejarah yang dibuat oleh hasan tiro semata-mata untuk kepentingan pribadinya".

Nah dengan didasari oleh sikap Teungku Lamkaruna yang mengarah kepada penekanan pribadi teungku Hasan Muhammad di Tiro, maka hasil penulisannya lebih banyak dicampuri dengan perasaan dan diada-adakan sendiri, ketimbang oleh jalur pikiran objektif. Terbukti dengan apa yang ditulisnya: "sebagaimana yang telah ditulis olehnya pada alinea terakhir dari proklamasi GAM, Hasan Tiro mencantumkan kalimat : "Siploh droe njang po tanda droe nibak surat peunjata njoe ka mugule mate syahid". Yang artinya: "Sepuluh orang tokoh yang menandatangani proklamasi ini sudah terguling mati syahid." Kalimat menunjukkan sentimen kekeluargaan (taassub). Yang tepat dalah : "Meu ribe-ribe droe endatu bangsa Atjeh ka mugule mate syahid nibak peutheun nanggroe njang mulia njoe". Artinya : "Beribu-ribu moyang bangsa Aceh telah mati syahid dalam mempertahankan negara yang mulia ini".

Setelah saya mencari dari kalimat terakhir deklarasi ulangan Negara Aceh Sumatera, apa yang dituliskan oleh Teungku Lamkaruna: "pada alinea terakhir dari proklamasi GAM, Hasan Tiro mencantumkan kalimat : "Siploh droe njang po tanda droe nibak surat peunjata njoe ka mugule mate syahid". Yang artinya: "Sepuluh orang tokoh yang menandatangani proklamasi ini sudah terguling mati syahid.". Ternyata alinie terakhir tersebut tidak tercantum, melainkan yang tercantum adalah: "Our cause is just! Our land is endowed by the Almighty with plenty and bounty. We covet no foreign territory. We intend to be a worthy contributor to human welfare the world over. We extend the hands of friendship to all peoples and to all governments from the four corners of the earth. (Perjuangan kemerdekaan kami penuh keadilan, kami tidak menghendaki tanah bangsa lain bukan sebagai bangsa Jawa datang merampas tanah kami, tanah kami telah dikaruniai Allah dengan kekayaan dan kemakmuran, kami berniat memberi bantuan untuk kesejahteraan manusia sedunia, kami mengharapkan pengakuan dari anggota masyarakat bangsa-bangsa yang baik, kami mengulurkan persahabatan kepada semua bangsa dan negara dari ke-empat penjuru bumi.)" (The Price of Freedom: the unfinished diary of Tengku Hasan di Tiro, National Liberation Front of Acheh Sumatra, 1984, hal 17).

Selanjutnya, Teungku Lamkaruna menulis: "Disamping itu, tentang bentuk negara Aceh, menurut Hasan Tiro bahwa nanti negara Aceh berbentuk kerajaan, karena negara yang paling bagus di dunia ini adalah negara yang berbentuk kerajaan. Ketika itu dr. Muchtar menjawab, "Jika Aceh akan didirikan negara yang bentuk kerajaan berarti kita harus memanggil Tuanku Ibrahim di Banda (Beliau adalah anak sulthan Alaiddin Muhammad Daud Syah, yang pada waktu itu masih hidup, pernah dinobatkan sebagai putra mahkota pada tahun 1903, selanjudnya ia wafat pada tahun 1982).Mendengar jawaban itu Hasan Tiro merah padam artinya manufer politiknya gagal diterima. Dan banyak lagi kejanggalan-kejanggalan Hasan Tiro yang sangat jauh berbeda dengan norma-norma the Achenized Islam."

Setelah saya teliti kembali dari apa yang ditulis oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro tentang bentuk Negara Aceh, ternyata tidak satu patahpun disebutkan bentuk Negara Aceh adalah bentuk kerajaan ketika deklarasi ulangan negara Aceh dideklarkan. Terbukti dari apa yang ditulis Teungku Hasan Muhammad di Tiro dalam buku hariannya pada tanggal 6 Februari 1977 : "The Government of the State of Acheh Sumatra has been organized and established throughout the country" (The Price of Freedom: the unfinished diary of Tengku Hasan di Tiro, National Liberation Front of Acheh Sumatra, 1984, hal 41)

Teungku Hasan Muhammad di Tiro ketika menuliskan bentuk Negara Aceh tidak menulis the Kingdom of Acheh Sumatra, melainkan the State of Acheh Sumatra yang dipimpin oleh Wali Negara dibantu oleh Perdana Menteri bersama kabinet-nya.

Jadi, disini Teungku Hasan melanjutkan Negara Aceh bukan dalam bentuk Kerajaan Aceh atau Kesultanan Aceh, melainkan Negara Aceh yang berbentuk kesatuan dengan dipimpin oleh Wali Negara dibantu oleh Perdana Menteri dengan Kabinet-nya.

Dan mengenai dibentuknya Negara Aceh dalam bentuk Negara Kesatuan ini sudah ada kesepakatan antara Teungku Hasan Muhammad di Tiro dengan Dr. Muchtar Hasbi yang sebelum Negara Aceh dideklarasikan ulang pada tanggal 4 Desember 1976, dipilih Dr. Muchtar Hasbi sebagai wakil ketua ASNLF (Acheh Sumatra National Liberation Front) ketika ASNLF didirikan pada tanggal 29 November 1976, dan setelah Negara Aceh berdaulat dinyatakan berdiri, Dr. Muchtar Hasbi menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri merangkap sebagai Wakil Menteri Luar negeri.

Selanjutnya mengenai masalah tahun kapan Teungku Tjhik di Tiro mulai memimpin perang, timbul dua versi, dimana menurut versi Teungku Hasan Muhammad di Tiro dimulai pada tahun 1874. Sedangkan menurut versi lain, dimulai pada tahun 1881. Dengan alasan pada tanggal 28 Januari 1874 Teungku Tjhik di Tiro masih menjadi santri dan baru pada tahun 1881 tampil dalam perang dengan restu gurunya Teungku Muhammad Amin Dayah Cut. Dengan timbulnya dua versi inipun perlu dihargai. Sebagaimana timbulnya berbagai versi akhir perang Aceh melawan Belanda.

Kemudian sekali lagi menyinggung masalah wali negara, sudah jelas ditulis oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro bahwa wali negara yang berarti penjaga yang bertanggung jawab keselamatan rakyat. (The Price of Freedom: the unfinished diary of Tengku Hasan di Tiro, National Liberation Front of Acheh Sumatra, 1984, hal 92).

Dengan istilah dan definisi yang dibuat oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro tentang wali negara yang berarti penjaga yang bertanggung jawab keselamatan rakyat. Dan istilah wali negara tidak dipakai oleh teungku Hasan Muhammad di tiro sebagai alat untuk mengangkat dirinya sebagai penerus wali negara secara turun temurun, melainkan sebagai simbol bahwa seorang pemimpin perang merupakan penjaga yang bertanggung jawab keselamatan rakyat atau wali negara. Siapapun yang menjadi pemimpin perang berarti dirinya sebagai penjaga yang bertanggung jawab keselamatan rakyat atau wali negara.

Dan tidak sepatah katapun dalam deklarasi ulangan negara Aceh disinggung dan disebutkan bahwa Teungku Hasan Muhammad di Tiro penerus wali negara secara turun menurun, melainkan yang dinyatakan dalam deklarasi 4 Desember 1976 itu adalah: "and protecting our historic right of eminent domain to our fatherland (dan melaksanakan tugas kami untuk melindungi hak suci kami atas tanah pusaka peninggalan nenek moyang)"

Jadi disini terlihat bahwa Teungku Hasan Muhammad di Tiro telah mengetahui dan menyadari bahwa dengan dideklarasikan ulang negara Aceh berdaulat ini adalah dalam rangka "melaksanakan tugas untuk melindungi hak suci atas tanah pusaka peninggalan nenek moyang"

Melaksanakan tugas untuk melindungi hak suci atas tanah pusaka peninggalan nenek moyang adalah tidak sama dengan menjadi "penerus wali negara secara turun temurun"

Karena itu, kalau dikembalikan kepada masalah pemberian nama wali negara kepada Teungku Tjhik di Tiro beserta keturunannya adalah disebabkan oleh status dan kedudukannya sebagai pemimpin perang , yang berarti sebagai penjaga yang bertanggung jawab keselamatan rakyat. Jadi bukan untuk dijadikan sebagai alat penghitung guna menentukan keturunan wali negara yang keberapa.

Terakhir mengenai masalah pewaris tunggal dari keluarga Tgk. Thjik di Tiro, kelihatannya Teungku Lamkaruna melihat dari pihak keturunan ayah, bukan dari pihak keturunan ibu. Terbukti dengan menyatakan bahwa "ahli waris Teungku Tjhik di Tiro yang sah adalah Al Mutsanna, anak Tgk. Abdul Wahab dan cucu dari Tgk. Umar di Tiro. Hasan Tiro bukankah hanya dari pihak ibu saja".

Nah disini kelihatan bahwa Teungku Lamkaruna dalam mengklaim siapa yang berhak untuk melanjutkan atau mendapatkan status, maka yang dilihat dari pihak ayah bukan dari pihak ibu.

Sedangkan Teungku Hasan Muhammad di Tiro, karena tujuan mendeklarasikan Negara Aceh yang berdaulat bukan didasarkan kepada usaha meneruskan sebagai "penerus wali negara secara turun temurun" yang sah dari Teungku Tjhik di Tiro, melainkan dengan tujuan untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan asing atau NKRI, dan melaksanakan tugas untuk melindungi hak suci atas tanah pusaka peninggalan nenek moyang, maka siapapun dari keturunan Teungku Tjhik di Tiro yang sadar guna melaksanakan tugas untuk melindungi hak suci atas tanah pusaka peninggalan nenek moyang, merekalah yang tampil dan berjuang sebagai pemimpin perang atau penjaga yang bertanggung jawab keselamatan rakyat.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk,
amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

From: abu pase abupase@yahoo.com
Date: 22 maj 2004 10:39:44
To: syahbuddin Abdurrauf <syahbuddin@swipnet.se>, teuku mirza <teuku_mirza@hotmail.com>, Tgk Barat <tgk_dibarat@yahoo.com>, Rusmanto Ismail <toto_wrks@yahoo.com>, unsyiah <unsyiah@lycos.com>, Reyza Zain <warzain@yahoo.com>, Yusra Habib Abd Gani Yusra Habib <yusrahabib21@hotmail.com>,ahmad@dataphone.se , ahmad_sudirman@hotmail.com
Subject: BETULKAN HASAN TIRO MURNI BERJUANG?

BETULKAN HASAN TIRO MURNI BERJUANG?
Oleh : Tgk. Lamkaruna Putra

Bapak Ahmad saya saya hormati!!! Memang Hasan Tiro orang yang cerdas, ketika ia kuliah di Universitas Islam Indonesia fakultas hukum atas rekomendasi Abu beureueh, sudah menunjukkan kecerdasannya. Karena ia agak menonjol, kembali dengan rekomendasi Abu Beureueh, dia memperoleh beasiswa dari pemerintah RI menyambung sekolah ke Amerika sehingga ia dapat bekerja di kantor perwakilan PBB, sebagai kerani (clerk). Dan semua memahami Hasan Tiro dapat memahmi sejarah Aceh dengan baik dan menggunakan referensi yang luas sehingga menulis beberapa buku tentang sejarah Aceh. Terlepas dari itu semua, sejarah yang dibuat olehnya semata-mata untuk membuat intrik-intrik politik.

Saya setuju yang Bapak Ahmad Sudirman sampaikan bahwa : "Padahal sebagian besar referensi yang dipakai oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro dalam menulis sejarah Aceh ini diambil dari
sumber-sumber hasil Karya penulis dan sejarawan Belanda, dan Indonesia diantaranya Colonel H.J. Schmidt yang menulis buku hariannya, dan buku Marechaussee in Atjeh , 1943. H.C. Zentgraaff yang menulis buku Atjeh, dan buku Sumatraantjes. Paul Van't Voer yang menulis buku Maar Majesteit! De Arbeiderspers, 1968, dan buku De Atjeh-Oorlog, De Arbeiderspers, 1969. J. Kreemer yang menulis bukunya Atjeh, 1922-3. R.A. Hoesein Djajadiningrat yang menulis buku
Atjehsch-Nederlandsch Woordenboek, 1934. Mohammad Said yang menulis buku Atjeh sepanjang abad,1961." (sebagimana yang ditulis Ahmad Sudirman), dan menurut saya masih banyak lagi referensi-referensi yang lain yang dijadikan referensi oleh Hasan Tiro, dan sayapun ketika menulis buku juga menggunakan referensi-referensi yang sama, artinya ketika kita ingin menjelaskan sejarah Aceh, haruslah memakai referensi yang cukup.

Dan saya sepakat dengan pendapat Ahmad Sudirman bahwa penulisan sejarah Aceh ini terdapat bermacam versi. Sebagiaman ditulis oleh Ahmad Sudirman : "penulisan Sejarah Aceh inipun terdapat beberapa versi. Misalnya kalau penulis sejarah Paul Van't Voer membagi perang di Aceh dalam 4 periode, yaitu Perang Aceh I (1873-1874, Perang Aceh II (1874-1880), Perang Aceh III (1881-1896), dan Perang Aceh IV (1897-1942). Perang Aceh I dan II adalah perang total dan frontal, di mana pemerintah masih berjalan mapan, meskipun ibu kota negara telah dipindahkan ke Keumala Dalam, Indra Puri dan tempat-tempat lain. Perang Aceh III adalah perang gerilya total dan teratur,di mana fungsi pemerintahan tidak berperan lagi karena sering-sering berpindah tempat.Dan Perang Aceh IV adalah perang gerilya kelompok dan perorangan dengan perlawanan, penyerbuan, penghadangan dan pembunuhan tanpa komando dari pusat. Jadi menurut Paul Van't Voer perang Aceh berakhir tahun 1942. Sedangkan sejarawan R.H. Saragih, J. Sirait, dan M. Simamora membagi sejarah perang Aceh menjadi 3 periode, yaitu Perang Aceh I (1873-1893), Perang Aceh II (1893-1896), dan Perang Aceh III (1896-1904). Dimana Perang Aceh I adalah perang total kepada Belanda. Perang Aceh II Teuku Umar menjalankan siasat diplomasi dengan pura-pura menyerah dan menawarkan jasa baik untuk menumpas perang Aceh. Perang Aceh III Teuku Umar yang dilanjutkan oleh Tjut Njak Nya Dien melancarkan perang gerilya. Jadi menurut para sejarawan ini perang Aceh berakhir pada tahun 1904. Jadi, dalam hal pengungkapan sejarah Aceh ini telah timbul beberapa versi, sehingga dalam menarik kesimpulanpun jangan terpokus hanya pada satu versi saja (Sebagimana ditulis Ahmad Sudirman).

Bapak Ahmad yang saya hormati! Perbedaan sejarah Aceh ini menunjukkan begitu luasnya khazanah sejarah perjuangan Aceh. Dalam kajian ilmiah, perbedaan pendapat tersebut adalah hal yang wajar selama ia bisa dibuktikan secara ilmiah, dan kita haruslah mempelajari perbedaan-perbedaan tersebut sehingga memperluas cakrawala berfikir kita. Aakan tetapi orientasi penulissan sejarah yang dibuat oleh hasan tiro semata-mata untuk kepentingan pribadinya, inilah yag harus kita luruskan.

Kalau pak Ahmad Sudirman mengatakan bahwa sejarah Aceh yang ditulis oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro ini tidak hanya memusatkan kepada perjuangan yang dilakukan oleh Teungku Tjhik di Tiro dan keturunannya saja, melainkan juga menyinggung perjuangan Teuku Panglima Polem, Sultan Alaeddin Mahmud Shah,Teuku Umar, Tjut Njak Dien, Satu sisi ada benarnya akan tetapi dalam penukilan sejarah ia semata-mata mengagungkan perjuangan keluarga tiro.

Hal ini sebagaimana yang telah ditulis olehnya pada alinea terakhir dari proklamasi GAM, Hasan Tiro mencantumkan kalimat : "Siploh droe njang po tanda droe nibak surat peunjata njoe ka mugule mate syahid". Yang artinya: "Sepuluh orang tokoh yang menandatangani proklamasi ini sudah terguling mati syahid." Kalimat menunjukkan sentimen kekeluargaan (taassub). Yang tepat dalah : "Meu ribe-ribe droe endatu bangsa Atjeh ka mugule mate syahid nibak peutheun nanggroe njang mulia njoe". Artinya : "Beribu-ribu moyang bangsa Aceh telah mati syahid dalam mempertahankan negara yang mulia ini".

Namun mentah-mentah ditolak oleh Hasan Tiro ketika itu tanpa satu alasan yang pasti. Disamping itu, tentang bentuk negara Aceh, menurut Hasan Tiro bahwa nanti negara Aceh berbentuk kerajaan, karena negara yang paling bagus di dunia ini adalah negara yang berbentuk kerajaan. Ketika itu dr. Muchtar menjawab, "Jika Aceh akan didirikan negara yang bentuk kerajaan berarti kita harus memanggil Tuanku Ibrahim di Banda (Beliau adalah anak sulthan Alaiddin Muhammad Daud Syah, yang pada waktu itu masih hidup, pernah dinobatkan sebagai putra mahkota pada tahun 1903, selanjudnya ia wafat pada tahun 1982).Mendengar jawaban itu Hasan Tiro merah padam artinya manufer politiknya gagal diterima. Dan banyak lagi kejanggalan-kejanggalan Hasan Tiro
yang sangat jauh berbeda dengan norma-norma the Achenized Islam.

Kalau pak Ahmad Sudirman mengatakan bahwa perjuangan keluarga Tiro diawali pada tahun 1974 oleh Teungku Tjhik di Tiro sampai meninggal tahun 1891, sedangkan menurut versi lain mulai Memimpin perang tahun 1881.

Ini adalah penipuan sejarah, pak ahmad sudirman mesti kembali membuka sejarah kembali. Menurut sejarah, padatahun 1874, Tgk. Tjhik di Tiro belum ikut perang, pada patun a974 Aceh masih dipimpin langsung oleh sulthan Alaiddin Mahmud Syah dan setelah beliau meninggal dunia, kerajaan dipimpin oleh Tuanku Hasyim Bangta Muda selaku pewaris dan Pemangku Sulthan. kemudian atas berdasarkan musyawarah diangkatlah Sulthan Muhammad daud Syah sebagai sulthan pengganti Sulthan Mahmud Syah. Kemudian pada 1898 baru diangkat oleh Teuku Panglima Polem Muda Perkasa di Seulimeun Rgk Sjhik Saman sebagai panglima barisam muslimin.

Jadi bapak ahmad yang saya hormati, Sebagaimana yang ditulis pada silsilah Hasan Tiro, dinyatakan bahwa Tgk. Sjhik Muhammad Saman Tiro menjadi wali negara tahun 1874-1891, padahal didalam sejarah dinyatakan bahwa Tgk. Thijk Di-Tiro pada tahun 1874 masih belajar pada Tgk. Tjhik Kuta Karang di Banda Aceh. Al Mukarram Tgk. Tjhik Muhammad Saman Tiro ikut berperang atas perintah Tgk. Tjhik Dayah Cut mertuanya pada tahun 1881. beliau diangkat sebagai panglima perang oleh Panglima polem Sri Muda Perkasa sebagai panglima Pidie. Sedangkan panglima perang wilayah Aceh Utara dan Aceh Timur diangkat oleh Sulthan Tgk. Syech Ibnu Hajar (Tgk. Tjhik di Paya Bakong Tua) berturut-turut, Tgk. Chatib (Tgk. Sjhik di paya Bakong), Tgk. Shjik di Paya Bakong Seipot mata.

Bagaimana Hasan tidak memutarkan fakta sejarah, Hasan Tiro mengklaim bahwa keluarga Hasan Tiro menjadi raja berdasarkan sepucuk surat yang dikrimkan oleh tuanku mahmud, tuanku raja Keumala, tgk. Panglima Polem Sri Muda Perkasa Muhammad daud kepada Habib Abdurrahaman
Teupin wan, Tgk. Mahyiddin, dan tengku Tgk. Di Buket dan , Tgk. Di Tiro dan seterusnya. . . ., (Lihat HC. Zentgraaff, Aceh) Ini adalah peniopuan sejarah, saya heran kenapa Hasan Tiro rela mengorbankan nama besar keluarga tiro yang agung lagi mulia disisi Allah. Tgk. Tjhik di tiro berjuang bukan semata-mata untuk ashabiyah. Yang dapat kita lihat hasan tiro dari pemaparan-pemaparan sejarhnya berjuang untuk mencari kedudukan raja, hal ini banyak kita dapatkan dalam
brosur-brosur Hasan Tiro.hal ini terlepas dari buku referensi yang luas, tetapi ujungnya ingin menjadi raja.

Kemudian atas pernytaan pak ahmad sudirman bahwa "Ada beberapa hal yang perlu dijelaskan disini menyangkut tradisional Kepala negara di Aceh. Menurut Teungku Hasan Muhammad di Tiro kepala negara di Aceh bisa dinamakan Raja atau Sultan atau Mudabbir al-Malik atau Wali Negara. Dari nama-nama tersebut Teungku Hasan lebih senang mempergunakan nama Wali Negara yang berarti penjaga yang bertanggung jawab keselamatan rakyat. (The Price of Freedom: the unfinished diary of Tengku Hasan di Tiro, National Liberation Front of Acheh Sumatra, 1984, hal
92). Kalau saya hubungkan antara pengertian Wali Negara menurut Teungku Hasan Muhammad di Tiro dengan para pimpinan perang dari keluarga Teungku Tjhik di Tiro ini, maka setiap pimpinan perang dinamakan penjaga yang bertanggung jawab keselamatan rakyat. Atau dengan kata lain setiap pimpinan perang dinamakan Wali Negara. Adapun yang mengangkat pimpinan perang atau Wali Negara ini adalah staf, para pendukung, pasukan atau tentaranya. (sebagaimana yang ditulis oleh Ahmad Sudirman)

Baiklah pak ahmad Sudirman Perlu saya jelaskan, pengangkatan wali negara yang dibuat oleh Hasan Tiro secara hirarki sampai kepada Hasan Tiro,adalah untuk mengklaim ia sebagai keturunan raja ke 41, hal ini coba dibaca pada selebaran-selebaran dari Hasan Tiro yang dulu pada
tahun 1999 ditebarkan di banda Aceh. Bisa saja pengertian wali negara penjaga yang bertanggung jawab keselamatan rakyat, akan tetapi orientasi adalah sebagai raja Aceh. Kemudian siapa yang mengangkat Tgk. Shijk Saman dan kesemuanya itu sebagai wali negara (Raja). Karena hal ini ganjil sekali, karena tidak ada satupun bukti sejarah yang mengatakan Tgk. Tjhik Di Tiro dan anak-anaknya sebagai wali negara. Bahkan yang mulia Tgk. Thjik di tiro jauh dari keinginan ini menjadi raja karena beliau berjuang untuk islam begitu juga keturunan setelahnya yang banyak syahid dalam memperjuangkan agama Allah. Jangan kita kotori perjuangan mereka untuk kepentingan pribadi kita. Dan juga aneh selebaran yang ditebarkan oleh Hasan Tiro bahwa mengangkat dirinya sebagai penerus wali negara secara turun temurun. Inilah pak ahmad sudirman yang dimaksud wali negara oleh Hasan Tiro.

Jadi begitu juga penmbalan nama tiro oleh hasan tiro karena untuk menghubung-hubungkan proses hirarki yang dibuat hasan tiro mulai dari Tgk. Thjik di Tiro sampai ke Hasan Tirom, sehingga ia sah menjadi wali negara melihat hirarki tersebut, jadi ini bukan masalah wajar atau tidak wajar akan tetapi untuk kepentingan intrik politik.

Tidak sebagaimana yang ditulis oleh Ahmad Sudirman : "Soal tambahan nama di Tiro (Tiro nama kapung di Pidie) dibelakang nama Hasan Muhammad memang itu erat hubungannya dengan pihak ibu. Jadi menurut saya wajar saja Teungku Hasan Muhammad ditambah dibelakang namanya dengan di Tiro, maka jadilah nama Teungku Hasan Muhammad di Tiro. Dipakai atau
Tidak dipakai itu nama Tiro, semua orang mengetahui bahwa Teungku Hasan Adalah cicit dari Teungku Tjhik di Tiro dari pihak Ibunya." (Tulis Ahmad Sudirman)

Bapak Ahmad sudirman selanjudnya menulis :"Kemudian itu soal mengklaim sebagai pewaris tunggal Teungku Tjhik di Tiro itu harus dilihat dari jalur silsilahnya. Saya yakin itu Teungku Hasan Muhammad di Tiro tidak begitu ambisi untuk mengklaim sebagai pewaris tunggal Teungku Tjhik di Tiro. Karena bagaimanapun, pewaris tunggal atau bukan, yang jelas dan pasti memang benar Teungku Hasan Muhammad di Tiro punya turunan darah langsung dari Teungku Tjhik di Tiro melalui jalur ibunya. Tulis Ahmad Sudirman)

Baiklah pak ahmad sudirman. Kita dalam hal politik jangan dijadikan keyakinan sebagai tolak ukur,karena politik dalam suasana yang selalu berubah. Bagaimana bapak ahmad sudirman tidak yakin bahwa Hasan Tiro begitu ambisi mengklaim sebagai pewaris tunggal Teungku Tjhik di Tiro dan sebagai raja, hal ini telah ditulis sendiri oleh hasan tiro dalam brosur-brosurnya. Dan siapa yang mengatakan bahwa Hasan Tiro sebagai pewaris tunggal dari keluarga Tgk. Thjik di Tiro? Catatan sejarah, ahli waris Teungku Tjhik di Tiro yang sah adalah Al Mutsanna, anak Tgk. Abdul Wahab dan cucu dari Tgk. Umar di Tiro. Hasan Tiro bukankah hanya dari pihak ibu saja!!!.

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk,
Wallalu a'lam bishawab

Wassalam.

Tgk. Lamkaruna Putra

abupase@yahoo.com
Medan, Indonesia
----------