Stockholm, 23 Mei 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

STRATEGI JITU TGK HASAN DI TIRO MEMBENTUK PEMERINTAH NEGARA ACEH DALAM PENGASINGAN
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

AGUS HERMAWAN ITU STRATEGI JITU TGK HASAN DI TIRO MEMBENTUK PEMERINTAHAN NEGARA ACEH DALAM PENGASINGAN DI SWEDIA

"Begini kang. Kalau Hasan Leube Tanjong Bungong mengangkat dirinya sebagai wali negara, penjaga dan bertanggung jawab atas keselamatan rakyatnya/pengikutnya, tapi mengapa dia sendiri lari ke luar negeri? Bagaimana caranya dia bisa melindungi dan menjaga keselamatan pengikutnya? Kan pasti Hasan Tanjong Bungong juga tidak akan mau kalau dibilang wali negara pengecut, wali negara yg takut mati." (Agus Hermawan, sadanas@equate.com , Sun, 23 May 2004 07:54:29 +0300)

Baiklah saudara Agus Hermawan di Kuwait.

Begini saudara Agus Hermawan. Itu Teungku Hasan di Tiro dari sejak awal menginjakkan kakinya pertama kali di bumi Aceh setelah 25 tahun hidup di pengasingan di Amerika, pada tanggal 30 Oktober 1976 sampai keluar dari Negara Aceh pada tanggal 29 Maret 1979 untuk terus melanjutkan taktik dan strategi perjuangan pembebasan rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI dan meneruskan kelanjutan Negeri Aceh berdaulat.

Kalau dilihat dari sudut taktik dan strategi pertahanan pembelaan Negara Aceh secara politis, maka dengan keluarnya Teungku Hasan Muhammad di Tiro dari Negara Aceh dan membentuk pemerintahan Negara Aceh dalam pengasingan di Swedia, maka taktik dan strategi Teungku Hasan Muhammad di Tiro adalah satu taktik dan strategi yang jitu untuk mempertahankan de-facto dan de-jure Negara Aceh yang telah dideklarasikan ulang pada tanggal 4 Desember 1976 di daerah Tiro, Aceh.

Kalau dilihat dari sudut perjuangan Rasulullah saw, maka akan terbukti bahwa langkah Rasulullah saw ketika sudah sedemikian kuat dan besarnya tekanan dari pihak penguasa Quraisy, maka setelah Rasulullah saw berjuang selama 10 tahun menegakkan Islam di Mekkah, akhirnya pada tahun 1 Hijrah (622 M), Rasulullah saw melaksanakan hijrah ke daerah Yatsrib.

Disini ada satu hal yang telah dicontohkan Rasulullah saw dalam usaha mempertahankan dan memperjuangkan tegaknya Islam dan Pemerintah Negara Islam, yaitu ketika satu saat, dimana kekuatan penentang dan musuh ummat Islam dari pihak penguasa Quraisy tidak mampu lagi dihadapi dengan cara lain, selain dari pada menjalankan taktik dan strategi hijrah, maka taktik dan strategi hijrah inilah yang justru diperintahkan Allah Swt kepada Rasulullah saw dalam usaha mempertahankan kelangsungan dan tegaknya Islam di muka bumi.

Jadi, keluarnya Rasulullah saw dari daerah kekuasaan penguasa Quarisy adalah bukan satu tindakan yang pengecut atau lari dari medang juang daerah Mekkah, melainkan tindakan yang mengarah kepada usaha mempertahankan kelangsungan penegakkan Islam, ummat Islam di muka bumi ini.

Nah, paralel dengan apa yang telah dilakukan oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro keluar dari daerah Negeri Aceh yang telah sedemikian rupa dikurung dan dihancurkan oleh pihak Soeharto dengan TNI-nya, serta tidak ada lagi cara dan jalan untuk meneruskan dan mempertahankan existensi Negara Aceh, maka taktik dan strategi hijrah itulah yang diambil oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro.

Apa akibat dari tindakan yang dilakukan oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro dengan keluar dari Negeri Aceh ?. Jelas, dengan keluarnya Teungku Hasan Muhammad di Tiro dan diterima sebagai seorang pelarian politik di Swedia, ternyata telah membuka jalan untuk dipakai sebagai tapak penerus kelangsungan existensi Pemerintahan Negara Aceh yang berdaulat dalam pengasingan di Swedia.

Apa yang terjadi selanjutnya ?. Ternyata, dengan dibentuknya Pemerintahan Negara Aceh dalam pengasingan di Swedia ini telah mampu menghadapi kekuatan pihak Penguasa NKRI Soeharto, Abdurrahman Wahid, dan sekarang Megawati dengan TNI/POLRI-nya.

Dan tentu saja langkah perjuangan yang dilakukan oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro ini adalah langkah yang pernah dijalankan oleh para sahabat Rasulullah saw pada tahun kelima kenabian. Dimana beberapa para sahabat Rasulullah saw datang menemui Rasulullah saw memohon izin untuk pergi ke Abyssinia (Ethiopia sekarang), dan Rasulullah saw memberikan izin. Para sahabat Nabi yang berhijrah pertama ke Abyssinia dengan izin Nabi, mereka itu adalah Utsman bin Affan dan istrinya, Abu Hudzaifah bin 'Utbah dan istrinya, sahlah, Zubair bin 'Awwam sepupu Nabi, Mush'ab bin 'Umair, 'Abdurrahman bin 'Auf, Abu Salmah al Makhzum dan istrinya, 'Utsman bin Ma'zhun, 'Amir bin Rabi'ah dan istrinya, Abu Sabrah bin Abi Rahm, Hathib bin 'Amr dan Suhail bin Baidha. Disusul dengan rombongan muhajirin kedua. Ddalam rombongan muhajirin kedua ini termasuk didalamnya Ja'far bin Abu Thalib, sepupu Rasulullah saw. Dimana orang orang muhajirin tersebut diterima masuk di Abyssinia dan dianggap sebagai orang-orang yang mendapat perlindungan politik oleh Raja Negus yang beragama Kristen.

Inilah yang saya katakan satu taktik dan strategi jitu Teungku Hasan Muhammad di Tiro dalam mempertahankan kelangsungan Negara Aceh berdaulat dan penentuan nasib sendiri bagi rakyat Aceh bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk,
amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Sun, 23 May 2004 07:54:29 +0300
From: "Sadan AS (AgusHermawan) KUW" sadanas@equate.com
To: "Ahmad Sudirman" <ahmad@dataphone.se>, "Ditya Soedarsono" <dityaaceh_2003@yahoo.com>, "Yuhendra" <yuhe1st@yahoo.com>, "Matius Dharminta" <mr_dharminta@yahoo.com>, "Habe Arifin" <habearifin@yahoo.com>, "MT Dharminta" <editor@jawapos.co.id>, "Suparmo" <suparmo@tjp.toshiba.co.jp>, "Hidajat Sjarif" siliwangi27@hotmail.com
Subject: RE: TGK LAMKARUNA ITU TGK HASAN DI TIRO TIDAK MEMBENTUK KERAJAAN ACEH

Assalamu'alaikum Wr Wb.

Meskipun saya sudah mengirim 2 kali tanggapan ka akng mamad dan tidak ada respone,tapi saya tetap ingin bertanya terus,karena akang sendiri yg bilang,kalau ada yg minat memberi tanggapan....

Begini kang...
" Kemudian sekali lagi menyinggung masalah wali negara, sudah jelas ditulis oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro bahwa wali negara yang berarti penjaga yang bertanggung jawab keselamatan rakyat. (The Price of Freedom: the unfinished diary of Tengku Hasan di Tiro, National Liberation Front of Acheh Sumatra, 1984, hal 92). (Ahmad Sudirman)

"Dengan istilah dan definisi yang dibuat oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro tentang wali negara yang berarti penjaga yang bertanggung jawab keselamatan rakyat. Dan istilah wali negara tidak dipakai oleh teungku Hasan Muhammad di tiro sebagai alat untuk mengangkat dirinya sebagai penerus wali negara secara turun temurun, melainkan sebagai simbol bahwa seorang pemimpin perang merupakan penjaga yang bertanggung jawab keselamatan rakyat atau wali negara. Siapapun yang menjadi pemimpin perang berarti dirinya sebagai penjaga yang bertanggung jawab keselamatan rakyat atau wali negara." (Ahmad Sudirman)

KALAU HASAN LEUBE TANJONG BUNGONG MENGANGKAT DIRINYA SEBAGI WALI NEGARA,PENJAGA DAN BERTANGGUNG JAWAB ATAS KESELAMATAN RAKYATNYA/PENGIKUTNYA,TAPI MENGAPA DIA SENDIRI LARI KE LUAR NEGERI? BAGAIMANA CARANYA DIA BISA MELINDUNGI DAN MENJAGA KESELAMATAN PENGIKUTNYA??

KAN PASTI HASAN TAJONG BENGONG JUGA TIDAK AKAN MAU KALAU DI BILANG ALI NEGARA PENGECUT,WALI NEGARA YG TAKUT MATI,

SAYA TUNGGU TANGGAPAN AKANG..

WASSALAM

Agus Hermawan

sadanas@equate.com
EQUATE Petrochemical Company
Kuwait
----------