Stockholm, 23 Mei 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

TGK HASAN DI TIRO BERJUANG DARI PENGASINGAN TGK FAUZI HASBI GEUDONG MASUK SANGKAR NKRI
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

TGK LAMKARUNA PUTRA JELAS ITU TGK HASAN DI TIRO TETAP BERJUANG DARI PENGASINGAN TGK FAUZI HASBI GEUDONG TAMAT MASUK SANGKAR NKRI

"Baiklah pak Ahmad Sudirman. Beberapa perbedaan pendapat Wali Negara Hasan Tiro dengan Tgk. Fauzi Hasbi Geudong Kepala Staf Angkatan GAM yang penulis dapatkan di buku harian beliau. Bagaimana bapak Ahmad Sudirman mengetahuinya, karena tidak terlibat langsung dalam deklarasi Aceh Merdeka dan hanya membaca buku-buku catatan Hasan Tiro. Mereka-mereka ini adalah deklarator Aceh Merdeka. Tentu saja, jika ditanyakan kepada saksi deklarator lainnya, seperti dr. Husaini, Tgk. Daud Paneuk dsb, mereka mengetahuniya dan pernah merasakannya karena mereka adalah saksi sejarah." (Tgk. Lamkaruna Putra, abupase@yahoo.com , Sat, 22 May 2004 01:31:49 PDT)

Baiklah Teungku Lamkaruna Putra di Medan, Indonesia.

Hari ini, Minggu, 23 Mei 2004, saya membaca satu uraian yang disuguhkan oleh Teungku Lamkaruna mengenai adanya beberapa perbedaan antara Teungku Hasan Muhammad di Tiro dengan Teungku Fauzi Hasbi Geudong tentang perjuangan melanjutkan kembali Negara Aceh yang berdaulat dari penjajahan Negara Pancasila atau Negara RI yang menjelma NKRI.

Uraian Teungku Lamkaruna ini muncul setelah saya menyatakan dalam tulisan sebelum ini bahwa: "Siapa saja tokoh-tokoh utama pendiri National Liberation Front of Acheh Sumatra itu semuanya tertulis dalam buku The Price of Freedom: the unfinished diary of Tengku Hasan di Tiro, National Liberation Front of Acheh Sumatra, 1984. Hanya ada satu hal yang saya tidak temukan dalam buku the unfinished diary of Tengku Hasan di Tiro, National Liberation Front of Acheh Sumatra, 1984 ini yaitu nama Fauzi Hasbi, Mantan Kepala Staf Angkatan Perang Aceh Merdeka yang dijadikan sumber kutipan oleh Teungku Lamkaruna dalam tulisannya."

Kelihatananya Teungku Lamkaruna dengan menampilkan beberapa perbedaan antara Teungku Hasan Muhammad di Tiro dengan Teungku Fauzi Hasbi Geudong adalah sebagai alasan mengapa Teungku Fauzi Hasbi Geudong tidak pernah disebutkan namanya dalam buku The Price of Freedom: the unfinished diary of Tengku Hasan di Tiro, National Liberation Front of Acheh Sumatra, 1984.

Hanya tentu saja, uraian tentang perbedaan yang dikutip dari buku harian Teungku Fauzi Hasbi oleh Teungku Lamkaruna tidak satupun dicantumkan bila kejadian tersebut terjadi. Padahal kalau saya melihat dan membaca dari buku harian Teungku Hasan Muhammad di Tiro dari sejak 4 September 1976 ketika meninggalkan New York menuju Aceh sampai tanggal 29 Maret 1979 ketika Teungku Hasan Muhammad di Tiro yang dikawal oleh Komandan Angkatan Perang Daud Husin meninggalkan Aceh menyebrang Selat Malaka memakai perahu bermesin yang dikemudikan oleh Abdullah Shaiman, begitu terperinci dan jelas, sehingga saya bisa menggambarkan apa yang terjadi pada setiap saat dan kejadian yang dituliskan oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro.

Sebenarnya wajar adanya perbedaan pendapat, idea, taktik, strategi dalam perjuangan dimanapun juga. Hanya kelihatan disini beberapa perbedaan pendapat antara Teungku Hasan Muhammad di Tiro dengan Teungku Fauzi Hasbi Geudong telah diperluas dan diperuncing sehingga menimbulkan perbedaan langkah perjuangan, yang akhirnya saya melihat bahwa Teungku Hasan Muhammad di Tiro dari sejak menginjakkan kakinya di bumi Aceh tanggal 30 Oktober 1976 sampai keluar dari Negeri Aceh pada tanggal 29 Maret 1979, sampai detik ini tetap berjuang mempertahankan kedaulatan negara Aceh yang telah dideklarasikan ulang pada tanggal 4 Desember 1976 di daerah Tiro, Aceh. Sebaliknya Teungku Fauzi Hasbi Geudong kembali masuk ke sangkar wilayah daerah kekuasaan de-facto dan de-jure RI dibawah Soeharto, Abdurrahman Wahid dan sekarang Megawati.

Fakta dan bukti yang berbicara, bahwa apapun yang terjadi, ternyata perjuangan dan semangat Teungku Hasan Muhammad di Tiro sampai detik ini tetap tegar dan terus berusaha untuk membawa rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara pancasila guna memperjuangkan Negara Aceh yang berdaulat dari pendudukan RI yang menjelma menjadi NKRI bersama TNI/POLRI-nya.

Kemudian kalau Teungku Lamkaruna mengatakan: "Bagaimana bapak Ahmad Sudirman mengetahuinya, karena tidak terlibat langsung dalam deklarasi Aceh Merdeka dan hanya membaca buku-buku catatan Hasan Tiro. Mereka-mereka ini adalah deklarator Aceh Merdeka".

Tentu saja, walaupun saya tidak terlibat langsung dalam pembentukan ASNLF, deklarasi Negara Aceh, tetapi saya disamping telah membaca, memikirkan, menganalisa, menyimpulkan tulisan-tulisan Teungku Hasan Muhammad di Tiro, juga telah bertemu dan bertukar pikiran dengan para tokoh pertama pendiri ASNLF dan deklarator Negara Aceh, yang sekarang masih terus berjuang dari pengasingan dan hidup di Swedia.

Selanjutnya setelah saya pelajari beberapa perbedaan antara Teungku Hasan Muhammad di Tiro dengan Teungku Fauzi Hasbi Geudong ini, ternyata ada beberapa perbedaan, yaitu bendera, isi deklarasi ASNLF, wilayah daerah kekuasaan, bahasa persatuan, dasar negara, penguasa Jawa, mempergunakan kata Insya Allah, menyerang perusahaan minyak Amerika, dasar perjuangan, tanggal deklarasi, dan rumusan UUD.

Dan kelihatan Teungku Fauzi Hasbi Geudong melihat dari sudut Republik Islam Aceh sedangkan Teungku Hasan Muhammad di Tiro melihat dari sudut penerusan kedaulatan Negara Aceh yang telah diduduki, dan telah dijajah oleh Belanda dan Jepang, dan sedang berlangsung oleh RI atau RI-Jawa-Yogya.

Masalah bendera, memang ada beberapa bendera hampir mirip bendera ASNLF, misalnya bendera Suriname, Korea Utara, Israel. Dimana kalau bendera Suriname, Korea utara dan Israel ditengahnya gambar bintang, sedangkan bendera ASNLF ditengahnya gambar bulan dan bintang.

Soal bait terakhir deklarasi ASNLF, ternyata tidak ditemukan dalam isi deklarasi 4 Desember 1976 bunyi bait "Siploh droe njang po tanda droe nibak surat peunjata njoe ka mugule mate syahid bak peutheun naggroe meutuah njoe" (Sepuluh orang tokoh yang menandatangani proklamasi ini sudah terguling mati syahid dalam mempertahankan negara yang mulia ini) model Teungku Hasan Muhammad di Tiro. Atau bunyi bait "Meu ribe-ribe droe endatu bangsa Atjeh ka mugule mate syahid nibak peutheun nanggroe njang mulia njoe" (Beribu-ribu moyang bangsa Aceh telah mati syahid dalam mempertahankan negara yang mulia ini") model Teungku Fauzi Hasbi Geudong.

Tentang masalah wilayah daerah kekuasaan. Itu yang namanya wilayah daerah kekuasaan bisa saja mengklaim daerah mana-mana saja. Tetapi, itu pengklaiman hanyalah secara teoritis. Karena de-factonya harus melalui perjuangan, bukan hanya melalui penggambaran peta diatas kertas saja. Karena itu masalah wilayah daerah kekuasaan de-facto hanya bisa diraih melalui perjuangan dan perundingan, bukan melalui penulisan diatas kertas.

Mengenai bahasa persatuan, bisa saja, bahasa Aceh sebagai bahasa persatuan, kemudian bahasa Melayu Pase sebagai bahasa kedua yang wajib dipelajari disekolah-sekolah.

Menyinggung dasar negara memang karena seluruh rakat Aceh adalah muslim maka jelas dasar negara harus berdasarkan kepada Islam. Dan Negara Aceh yang dideklarasikan ulang pada 4 Desember 1976 bukan bentuk kerajaan melainkan bentuk kesatuan. Soal ASNLF (Acheh Sumatra National Liberation Front) itu hanya merupakan wadah pergerakan perjuangan rakyat Aceh yang berdasarkan Islam untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI.

Mengenai penjajahan terhadap Negeri Aceh, memang seperti yang dinyatakan dalam deklarasi ulangan 4 Desember 176 yaitu "penjajahan itu, baik dilakukan oleh orang Belanda, Eropah yang berkulit putihm atau oleh orang Jawa, Asia yang berkulit sawo matang, tidaklah dapat diterima oleh bangsa Acheh, Sumatera."

Jadi disini, yang ditentang oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro sebagaimana yang tertuang dalam deklarasi ulangan Negara Aceh 4 Desember 1976 adalah penjajahan. Nah karena pihak RI yang pada awalnya dipegang dan dilakukan oleh Soekarno, diteruskan oleh Soeharto, kemudian dipegang oleh BJ Habibie, dan diteruskan oleh Abdurrahman Wahid, dan sekarang oleh Megawati, yang kesemuanya adalah orang Jawa, kecuali BJ Habibie, maka mereka itu yang sebagian besar orang Jawa dianggap sebagai penjajah yang menjajah Negeri Aceh.

Mempersoalkan pengucapan kata Insya Allah atau jika Allah berkehendak, memang itu harus diucapkan oleh setiap muslim. Hanya ada sebagian muslim yang mengatakan Insya Allah akan melakukan hal tersebut, tetapi ternyata dalam prakteknya tidak dilakukan. Misalnya Insya Allah akan saya datang besok, tahu-tahu tidak muncul besoknya, tanpa ada pemberitahuan pembatalan tidak datang.

Menyinggung masalah penyelamatan sumber gas alam yang dikuasai oleh perusahaan minyak Amerika yang bekerja sama dengan pihak penjajah RI, kalau saya baca dan pahami dari apa yang ditulis oleh teungku Hasan Muhammad di tiro, seperti yang ditulis dalam buku hariannya pada tanggal 16 Oktober 1977. Dimana disebutkan bahwa tentang keputusan untuk menyelamatkan sumber gas alam yang telah dirampok oleh kolonialis Jawa melalui Mobil dan Bechtel. Dimana pertama kali pada tanggal 16 Oktober 1977 telah diputuskan dalam rapat Kabinet Pemerintah Negara Aceh yang berdaulat, bahwa sumber gas alam Aceh harus diselamatkan. Dimana alasan dari penyelamatan sumber gas alam ini adalah National Liberation Front of Acheh Sumatra sebagai pelindung dan yang mempertahankan hak rakyat Aceh berkewajiban untuk menyetop perampokan sumber gas alam oleh kolonialis Jawa melalui Mobil dan Bechtel. Pihak Mobil dan Bechtel boleh tinggal di Negeri Aceh apabila tidak lagi melayani pihak kolonialis Jawa perampok negeri Aceh, tetapi melayani kepada pihak National Liberation Front of Acheh Sumatra dan Pemerintah Negara Aceh yang berdaulat. (The Price of Freedom: the unfinished diary of Tengku Hasan di Tiro, National Liberation Front of Acheh Sumatra, 1984, hal.105 - 106).

Jadi, apa yang ditulis oleh Teungku Lamkaruna yang diambil dari buku hariannya Teungku Fauzi Hasbi Gedong, yaitu Teungku Hasan Muhammad di tiro memerintahkan kepada Teungku Fauzi Hasbi Geudong: "bunuh orang Amerika sebanyak-banyaknya di Lhokseumawe (bekerja di proyek vital). Kemudian Teungku Fauzi Hasbi Geudong bertanya: "Apa gunanya menembak orang Amerika?" Dijawab Teungku Hasan di Tiro : "Jika kita menembak orang Amerika, maka PBB akan segera turun dan kita segera akan merdeka".

Ternyata, setelah saya baca apa yang ditulis oleh Teungku Lamkaruna diatas, tidak seperti apa yang ditulis oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro dalam buku hariannya. Dimana sangat berbeda sekali alasan yang dikemukakan oleh Teungku Hasan Muhammad di Tiro dengan alasan yang dikemukakan oleh Teungku Fauzi Hasbi Geudong yang dikutip oleh Teungku Lamkaruna diatas.

Perjuangan yang telah dijalankan oleh para Sultan, ulama , mujahid Aceh adalah semuanya berdasarkan siraman nur Islam. Jadi tidak ada perbedaan dasar perjuangan diantara para pejuang Aceh.

Tentang tanggal deklarasi Negara Aceh 4 Desember, merupakan simbol jatuhnya Negara Aceh dibawah pimpinan pemimpin perang Teungku Tjhik Maat yang satu hari sebelumnya, 3 Desember 1911 ditembak oleh pasukan Belanda dalam perang di Alue Bhot, Tangse. Jadi pada tanggal 4 Desember 1911 merupakan hilangnya kemerdekaan Negara Aceh. Berdasarkan tanggal inilah Teungku Hasan Muhammad di Tiro secara simbolis menghidupan dan meneruskan kembali kedaulatan Negara Aceh yang telah lenyap karena diduduki dan dijajah Belanda. Dan setelah Negara Aceh dinyatakan merdeka dan berdaulat kembali, tidak menjadikan Negara Aceh sebagai bentuk kerajaan, melainkan sebagai negara kesatuan.

Sedangkan pihak Teungku Fauzi Hasbi Geudong ingin meneruskan Proklamasi 15 Agustus 1961 Republik Islam Aceh, walaupun RIA telah hilang lenyap secara de-facto dan de-jure akibat bulan Desember 1962 Teungku Muhammad Daud Beureueh di Aceh kena jerat dan tipuan Soekarno yang menyodorkan umpan "Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh" yang dijalankan oleh Panglima Kodam I/Iskandar Muda, Kolonel M.Jasin.

Disini saya melihat memang alasan Teungku Fauzi Hasbi Geudong yang tidak perlu lagi mengadakan proklamasi baru, tetapi meneruskan Proklamasi 15 Agustus 1961 Republik Islam Aceh, adalah tidak kuat secara de-jure dan de-facto, karena memang pihak pimpinan RIA telah menyerah kepada RI Soekarno melalui "Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh" yang dijalankan oleh Panglima Kodam I/Iskandar Muda, Kolonel M.Jasin pada bulan Desember 1962.

Terakhir, menyinggung UUD. Sebenarnya yang membuat UUD dasar bukan hanya oleh segelintir orang saja. Melainkan oleh seluruh rakyat Aceh, atau melalui wakil-wakilnya.

Kalau UUD hanya dibuat oleh dua atau tiga orang, itu namanya bukan UUD melainkan, UUD
bohong-bohongan.

Jadi, sebenarnya, karena memang dari sejak Negara Aceh dideklarasikan ulang pada 4 Desember 1976, Negara Aceh berada dalam keadaan perang gerilya, maka jelas, tidak bisa itu UUD Negara Aceh dibuat. Hanya tentu saja sebagai pengganti UUD, Pemerintah Negara Aceh dalam pengasingan membuat dekret atau peraturan Pemerintah sebagai pengganti UUD, karena dalam keadaan masa perang. Seandainya, masa perang telah berakhir, dan Negara Aceh yang berdaulat telah lepas dan berdiri sendiri secara de-facto dan de-jure, maka saat itulah seluruh rakyat Aceh menentukan dan menetapkan UUD.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk,
amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Sat, 22 May 2004 01:31:49 PDT
Date: Sat, 22 May 2004 01:31:49 -0700 (PDT)
From: abu pase abupase@yahoo.com
Subject: PERBEDAAN PENDAPAT HASAN TIRO DENGAN TGK FAUZI HSBI GEUDONG To: syahbuddin Abdurrauf <syahbuddin@swipnet.se>, teuku mirza <teuku_mirza@hotmail.com>, Tgk Barat <tgk_dibarat@yahoo.com>, Rusmanto Ismail <toto_wrks@yahoo.com>, unsyiah <unsyiah@lycos.com>, Reyza Zain <warzain@yahoo.com>, Yusra Habib Abd Gani Yusra Habib <yusrahabib21@hotmail.com>, ahmad@dataphone.se , ahmad_sudirman@hotmail.com

PERBEDAAN PENDAPAT HASAN TIRO DENGAN TGK FAUZI HASBI GEUDONG

Dalam tulisan Ahmad Sudirman pada tanggal 12 Mei 2004 dengan judul Tgk. Lamkaruna membelokkan jalur perjuangan Tgk. Hasan Tiro menulis : "Siapa saja tokoh-tokoh utama pendiri National Liberation Front of Acheh Sumatra itu semuanya tertulis dalam buku The Price of Freedom: the unfinished diary of Tengku Hasan di Tiro, National Liberation Front of Acheh Sumatra, 1984. Hanya ada satu hal yang saya tidak temukan dalam buku the unfinished diary of Tengku Hasan di Tiro, National Liberation Front of Acheh Sumatra, 1984 ini yaitu nama Fauzi Hasbi, Mantan Kepala Staf Angkatan Perang Aceh Merdeka yang dijadikan sumber kutipan oleh Teungku Lamkaruna dalam tulisannya."

Baiklah Pak Ahmad Sudirman, saya akan menanggapi kenapa Tgk. Fauzi Habi tidak terdapat dalam bukunya Hasan "Tiro the unfinished diary of Tengku Hasan di Tiro, National Liberation Front of Acheh Sumatra". Ini tidak terlepas faktor historis ketika itu dimana sejak awal antara Hasan Tiro dan Tgk. Fauzi Hasbi Geudong telah terjadi perbedaan pendapat yang sangat tajam.
Sebelum penyusunan kabinet Aceh Merdeka terbentuk, gejala-gejala perpecahan telah nampak dalam tubuh GAM. Perpecahan tersebut merupakan suatu perpecahan yang sangat mendasar, baik mengenai bentuk negara bendera, wilayah dan lain sebagainya. Akan tetapi perpecahan tersebut dapat dihindari karena pihak dr. Muchtar dan Tgk. Fauzi Hasbi Geudong masih bernaung dibawah
pengawasan Abu Beureueh. Abu beruereueh selalu mengingatkan agar selalu menghindari benar-benar perpecahan yang katanya sebentar lagi si Nyak Hasan (Hasan Tiro) akan memasukan senjata dalam jumlah yang demikian banyaknya. Rupanya Hasan Tiro sangat licik dalam menghadapi lawan politiknya yaitu dengan menyebarkan fitnah kepada orang-orang yang berbeda pendapat dengannya, serta merobah taktik dan strateginya dari golongan intelektual ia ambil dari golongan buta huruf, sehingga apapun yang Hasan Tiro lakukan dan beliau ucapkan maka secara bulat mereka turuti dan patuhui. Adapun perbedaan-perbedaan tersebut antara lain :

1.Tgk. Fauzi Hasbi Geudong kepala Staff Angkatan Bersenjata Aceh Merdeka berpendapat bahwa bendera Aceh tetap pada dasarnya yaitu berbentuk alam peudeung (Bendera cap pedang) dan bulan bintang dan yang bewarna hijau (masa Syafiatuddin syah) yang dideklarasi sejak tanggal 21 Dzulkaidah 916 H pada masa Sulthan Ali Mughayatsyah, sedangkan Hasan Tiro (Wali Negara) menginginkan bendera bulan bintang yang berwarna merah, dimana apabila bendera ini dihilangkan bulan sabitnya kira-kira hampir sama dengan bendera bangsa Yahudi.

2 Mengenai bait proklamasi yang terakhir yang ditulis oleh Hasan Tiro yang berbunyi : "Siploh droe njang po tanda droe nibak surat peunjata njoe ka mugule mate syahid bak peutheun naggroe meutuah njoe". Artinya : "Sepuluh orang tokoh yang menandatangani proklamasi ini sudah terguling mati syahid dalam mempertahankan negara yang mulia ini." Akan tetapi menurut Tgk. Fauzi Hasbi Geudong berbunyi : "Meu ribe-ribe droe endatu bangsa Atjeh ka mugule mate syahid nibak peutheun nanggroe njang mulia njoe". Artinya : "Beribu-ribu moyang bangsa Aceh telah mati syahid dalam mempertahankan negara yang mulia ini". Akan tetapi pernyataan tidak disetujui oleh Hasan Tiro bahkan ditolak mentah-mentah.

3.Mengenai wilayah menurut Hasan Tiro mencakup Aceh dan Sumatera sedangkan menurut Tgk. Fauzi Hasbi geudong hanya mencakup wilayah Aceh mulai dari Sabang sampai Besitang. Jika kita mencakup Sumatera harus mendapat persetujuan dari daerah-daerah lain seperti Tapanuli, Padang, Melayu Deli, Melayu Siak, Bengkulu, Jambi, Palembang dan Lampung, jika tidak maka kita juga termasuk bangsa penjajah karena kita telah merampas hak orang lain.

4.Mengenai bahasa persatuan, menurut Hasan Tiro harus seluruhnya dalam bahasa Aceh, sedangkan menurut Tgk. Fauzi Hasbi mempunyai dua bahasa persatuan yaitu bahasa Aceh dan bahasa Melayu Pase, dengan alasan bahwa pada zaman kerajaaan Aceh Raya Darusssalam, seluruh dokumentasi, surat menyurat dan komunikasi menggunakan bahasa Melayu Pase. Bagaimana kita akan mengadakan komunikasi dengan rakyat Takengon, Gayo Alas, Aneuk Laot, Teuming dan lain jika tidakberbahasa Aceh.

5.Menurut Tgk Fauzi Hasbi dasar negara harus dipakai berdasarkan azas Islam atau RIA, berdasarkan deklarasi madinah yang pernah dibangun oleh Rasulullah dan sesuai dengan cita-cita rakyat Aceh sendiri, sedangkan Hasan Tiro menginginkan negara berbentuk kerajaan dan Hasan Tiro sendiri yangh akan menjadi raja yang ke-41, maka ia memberi nama dengan Front Liberation National Atjeh of Sumatetra.

6.Hasan Tiro terlalu mengecam orang Jawa, sedangkan menurut Tgk. Fauzi Hasbi Geudong orang Jawa tersebut wajib untuk diberikan perlindungan apabila telah tinggal lama di Aceh sesuai yang dituntun oleh Al-Qur'an dan Sunnah dimana kita diwajibkan untuk menciptakan ukhuwah Islamiyah.

7.Dalam sebuah dialoq antara Hasan Tiro dengan Tgk. Fauzi Hasbi Geudong, dimana Tgk. Fauzi Hasbi sedang mengkail ikan dengan dr. Zaini Abdullah. Sambil berbincang-bincang di sebuah sungai di gunung halimon, tiba-tiba datang Geusyik Syamaun untuk mendatangai Tgk. Fauzi Hasbi. "Tgk, sedang ditunggu oleh Wali Negara dan dr Muchtar", kata Geusyik Syamaun. Kemudian dr Zaini dan Tgk. Fauzi Hasbi segera menuju camp. Setelah sampai di camp Tgk. Hasan Tiro membuka pembicaraan sambi mengatakan " Ini ada perintah yang penting yang harus Tgk. Fauzi Hasbi laksanakan", "Insya Allah perintah Teungku tersebut saya laksanakan" kata Tgk. Fauzi. Kemudian langsung dipotong oleh Tgk. Hasan : "Jangan pakai kata-kata Insya Allah karena kata-kata itu tidak pasti". Dijawab oleh Tgk. Fauzi : "Memang semuanya tidak pasti kecuali yang pasti hanyalah kepada Allah semata. "Kemudian Hasan Tiro diam seribu bahasa. Kemudian lanjud Hasan Tiro "Teungku, ada tugas penting diantaranya : 1.Bunuh orang Amerika sebanyak-banyaknya di Lhokseumawe (bekerja di proyek vital). 2.Bajak kapal angkut kayu PT Sandi Wijaya, lalu bawa ketengah laut, kemudian tukar catnya, untuk kemudian kapal tersebut akan kita pergunakan untuk kepentingan perjuangan. Lalu Tgk. Fauzi Hasbi mengatakan sanggup dengan syarat berikan senjata sebantak 25 pucuk diantaranya, lima untuk menembak orang Amerika, dan 20 pucuk untuk membajak kapal. Lalu dijawab oleh Hasan Tiro: "Kita tidak mempunyai senjata 25 pucuk banyaknya seperti yang telah Teungku lihat sendiri". Lalu dijawab oleh Tgk. Fauzi : "Dulu pada waktu kita adakan pertemuan di Pasi Lhok di rumah Muhammad Usman telah saya katakan, bila senjata bila ada jangan Teungku pulang". Kemudian lanjud Tgk. Fauzi : "Apa gunanya menembak orang Amerika?" Dijawab Hasan Tiro : "Jika kita menembak orang Amerika, maka PBB akan segera turun dan kita segera akan merdeka". Dengan demikian Tgk. Fauzi Hasbi bersama dengan dr. Muchtar, dr Zubnir Mahmud, Tgk. Daud Janggot, Tgk. Yusuf Hasan, Uzair Jailani pulang ke wilayah Pase untuk melaksanakn perintah Hasan Tiro. Setelah sampai di Pase, Tgk. Fauzi Hasbi menyusun tim operasi diantaranya : 1.Tgk. Fauzi Hasbi. 2.dr. Muchtar. 3.Yusuf Hasan. 4.Mustafa. 5.Musa Pangcut, 6.Zulkifli,.7.Yusuf Said. Dengan berbekal 7 pucuk senjata yang telah disimpan sejak tahun 1962, operasi tetap dijalankan, maka korban jatuh dimana dua orang Amerika sebagai pegawai mobil oil di A-6 meninggal. Pada dasarnya operasi tersebut tidak disetujui oleh
Tgk. Hasbi Geudong dan Tgk. Ilyas Leubee. Menurut mereka, haram hukumnya untuk membunuh biarpun orang tersebut bukan beragama Islam karena tidak mengganggu kita. Setelah operasi selesai sebulan kemudian datanglah pasukan komando dari Jakarta yang diturunkan di landing Lhoksukon, akan tetapi PBB yang dikatakan oleh Hasan Tiro tidak kunjung tiba hingga hari ini
sudah 27 tahun lamanya.

8.Menurut Tgk. Fauzi Hasbi, pijakan perjuangan adalah RIA yang berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah serta dasar-dasar pejuang Aceh terdahulu seperti Sulthan Munghayatsyah, Sulthan Iskandar Muda, Syafiatuddin Syah, Syeckh Abdurrauf, Hamzah Al Fansuri, Nurruddin Ar-raniri, Syamsuddin AS, Sumatrani, Sulthan Mahmud, Sulthan Muhammad Daud Syah, Teuku Umar, Tgk. Syekh Saman, Tgk. Shijk Pante Kulu, Teuku Muhammad Daud Beureueh, Abu Krueng Kale dan ribuan lainnya. Sedangkan Hasan Tiro hanya berpijak pada Tgk. Syehk Saman, Tgk. Ma'at dan kerabat-kerabat lainnya.

9.Tanggal proklamasi Aceh Merdeka pun terjadinya perbedaan perdapat , menurut Tgk. Fauzi, dr. Muchtar, Abu Hasbi Geudong, Tgk. Muhammad Ali Daud dan lain-lain, proklamsi tidak diumumkan yang baru, akan tetapi hanyalah melanjudkan proklamasi 15 Agustus 1961, akan tetapi ini tidak disetujui oleh Hasan Tiro, jika disetujui maka ia tidak dapat mengangkat dirinya sebagai Sulthan Aceh. Akan tetapi menurut Hasan Tiro ia menetapkan tanggal 4 Desember 1976, karena menurutnya untuk mengenang dan melanjudkan pemerintahan ayahnya yaitu, Tgk. Ma'at pada atnggal 3 Desember 1911.

10.Menurut Tgk. Fauzi Hasbi mengenai rumusan UUD harus segera dilaksanakan, sedangkan menurut Hasan Tiro tidak perlu karena semakin tidak jelas semakin baik katanya. Maka sampai hari ini dimana sudah mencapai 27 tahun yang namanya UUD Aceh Merdeka belum ada. Akan tetapi UUD RIA telah tersusun sebanyak 8 pasal. Dan sebagai tim penyusun antara lain : Ketua :
Assyahid Tgk. H. Ilyas Leubee, wakil ketua : Tgk. Hasbi Geudong, sekretaris : Tgk. Fauzi Hasbi Geudong, anggota masing-masing Tgk. Muhammad Ali Daud dan Assyahid dr. Zubir Mahmud . Dan UUD tersebut telah disahkan oleh Wakil wali negara RIA Assyahid dr. Muchtar Yahya Hasbi Geudong dan disahkan oleh Mufti Republik Islam Aceh Teungku Muhammad Daud Beureueh

Inilah beberapa perbedaan pendapat Wali Negara Hasan Tiro dengan Tgk. Fauzi Hasbi Geudong Kepala Staf Angkatan GAM yang penulis dapatkan di buku harian beliau. Bagaimana bapak Ahmad Sudirman mengetahuinya, karena tidak terlibat langsung dalam deklarasi Aceh Merdeka dan hanya membaca buku-buku catatan Hasan Tiro. Mereka-mereka ini adalah deklarator Aceh Merdeka. Tentu saja, jika ditanyakan kepada saksi deklarator lainnya, seperti dr. Husaini, Tgk. Daud Paneuk dsb, mereka mengetahuniya dan pernah merasakannya karena mereka adalah saksi sejarah. Demikian pak Ahmad Sudirman, atas perhatian saya ucapkan terima ksih.

Wassalam
Tgk. Lamkaruna Putra

abupase@yahoo.com
Medan, Indonesia
----------