Stavanger, 26 Mei 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

PLUS I + TENGKU LAMKARUNA DAN LARANTUKANYA
Omar Putéh
Stavanger - NORWEGIA.

 

TENGKU LAMKARUNA DAN LARANTUKANYA PERLU MENELITI SALASILAH RAJA-RAJA JAWA

I. Garôt-Acheh Pidie dengan Garut-Jawa Barat:

Wujudnya tulisan yang mengatakan bahwa turunan Tengku Tjhik di Tiro Mohmmad Saman bukan berasal dari Garôt-Acheh Pidië, tetapi berasal dari Garut-Jawa Barat, telah dilakukan oleh H.C.Zentgraff, kemudian tulisan itu telah dikutip oleh Mohammad Said, penulis buku "Acheh Sepanjang Abad", kemudian disalin oleh seorang pengkhianat bangsa Acheh: Zakaria Pasee (saudara dari Abu Pase ?) kemudian disalin lagi oleh seorang pengkhianat bangsa Acheh lainnya: Prof Dr Ismail Jakob MA SH, kemudian disalin pula lagi oleh tengku Lamkaruna bin Fauzi Hasbi bin tengku Hasbi.

Tidakkah tengku Lamkaruna tertarik hati untuk membuat penelitian bahwa: Garut-Jawa Barat mungkin terwujud oleh perpindahan orang-orang yang berasal dari Garôt-Acheh Pidië, orang-orang yang sekampung dengan Saudara Musana Tengku Abdul Wahab, yang datang dan bermukim terus disana, disebuah perkampungan yang kemudian, kampung itu, dinamakan sesuai dengan nama asal orang-orang Garôt-Acheh Pidië yang berpindah kesitu, ketika Jawa Barat sebagai bahagian dari Wilayah Status Quo Ante Bellum dari Kerajaan (Negara) Acheh, sebagaimana telah terlukis dalam peta bumi yang dibuat oleh Perancis.

Wilayah Status Quo Ante Bellum Kerajaan (Negara) Acheh, meliputi Sumatra, Semenanjung Malaya, Sebahagian Kalimantan Barat dan Jawa Barat.

Atau nama Garôt itu, kemudian agaknya telah berasimilasi menjadi Garut! Atau berkemungkinan pula ulah dari "patarana" dan "asam sunti", yang telah lama tidak mengasah lidah-lidah orang-orang Garut-Jawa Barat yang berasal dari Garôt-Acheh Pidië itu?

Tulisan H.C. Zentgraff yang dikutip oleh Mohmmad Said, telah diperbetulkan oleh Prof Ali Hasyimi dan Prof Abdullah Ujung Rimba bahwa: Semua keturunan-keturunan Tengku Tjhik di Tiro terjaga dan terpelihara dengan baik, sebagaimana telah dimuat dan diterbitkan oleh majalah Universitas Sjiah Kuala : Sinar Darussalam.

Tulisan Mohammad Said yang disalin kembali oleh Zakaria M. Pasee yang dimuat dalam majalah Tempo, telah dibantah oleh saudara Bakhtiar Abdullah, dan salinan yang sama yang dikutip oleh Prof Dr Ismail Jakob MA SH, yang dikirim oleh Datsatgaspen NAD, Kolonel (Laut) Ditya Soedarsono, The Black Dutchmen, si Belanda Hitam, telah dibantah oleh Omar Puteh dan telah diterbitkan oleh saudara Ahmad Sudirman: Friday, March 05,2004 3:54:10 PM, dengan subject: Omar Putéh: Teuku Mirza Maskernya Pangeran Dorna, Kolonel (Laut) Ditya Soedarsono, begitu juga terhadap salinan yang dibuat oleh tengku Lamkaruna.

Mengenai gelaran Tengku Tjhik di Tiro, yang merupakan gelaran kebesaran dan kehormatan yang dianugerahkan oleh pemegang amanah Rumôh (Istana) Tiro kepada sesiapa yang layak dari keluarga atau keturunan dari kalangan Rumôh Tiro. Hari ini, berarti Tengku Tjhik di Tiro M. Hasan Muhammad adalah sebagai seorang pribadi yang layak menyandang gelaran kebesaran dan kehormatan dari keluarga dan keturunan kalangan Rumôh Tiro.

Disini dapat saya berikan sebagai sebuah contoh Ustadz Tengku Abdur-Razak Idris Tiro, pengajar Ilmu Tafsir Al Qurän di Padang Rengas, Perak Darul Redzuan, Malaysia, siapa yang mempunyai hubungan keluarga dan keturunan vertikal dengan Tengku Abdussalam, dan juga selaku adik dari Tengku Hasan di Tiro, telah pernah mengatakan kepada saya, sehubungan dengan " di Tiro" dan "Tiro" bahwa beliau masih belum layak menempatkan dibelakang nama beliau predikat: "di Tiro", kecuali "Tiro", sebagaimana yang sekarang ini, yang semata-mata untuk menunjukkan bahwa beliau berasal dari kampung Tiro!

Walaupun ayah beliau Tengku Idris, pernah dititipkan oleh Drs Ayub Yusuf, mantan Bupati KDH, Kabupaten Acheh Timur, sebuah anugerah "Pahlawan Nasional" yang dialamatkan kepada Tengku Tjhik di Tiro, kiriman Suharto Kleptokracy, si algojo Jawa si Penjajah atau Penjajah Indonesia Jawa itu.

Jadi dapatlah disimpulkan disini bahwa, Tengku Hasan di Tiro, adalah sesungguhnya pribadi yang layak untuk menyandang gelaran kehormatan: Tengku Tjhik di Tiro dan beliau juga layak menempatkan di Tiro, dibelakang nama beliau dan sekaligus beliau boleh menempatkan "Tiro" dibelakang nama beliau, walaupun beliau dilahirkan di Gampong Tanjong Bungong (Kampung Tanjung Bunga), karena keluarga-keluarga beliau memang sesungguhnya berasal dari Kampung Tiro, dan sekarang ramai juga menetap di kampung Garôt-Acheh Pidië.

Biarlah kita mengambil sebuah contoh: Tuanku Imam Bonjol, seorang Ulama dan pejuang kemerdekaan Ranah Minang, yang diperangi oleh Belanda yang dibantu oleh tentara upahan penjajah Belanda, dibawah pimpinan Sentot Ali Basyah dan Kijai Modjo, ex panglima pasukan Pangeran Diponegoro (anak seorang gundik), yang menyerah kalah kepada Jenderal de Cock, ketika berperang melawan adik tirinya Pangeran Puger yang bergelar Raden Mas Menol (anak dari kalangan bangsawan) walaupun baru saja berperang selama 5 tahun.

Dalam perjanjian di penyerahan itu, setelah menyerah kalah, Pangeran Diponogoro, merestui kedua panglima sebagaimana tersebut diatas dan semua tentaranya berperang menentang Tuanku Imam Bonjol di Ranah Minang.

Tuanku Imam Bonjol, ulama Bonjol yang berasal dari Maroko, Afrika Utara itu, dilahirkan di Kampung Tanjung Bunga, tetapi beliau meletakkan predikat nama "Bonjol" dibelakang nama beliau.

Itulah penjelasan saya, kepada Abu Pase. Abu Pase? Bagaimanakah kalau huruf "P" dihilangkan dan huruf "A" diletakkan didepan "se", menggantikan huruf "a" didepan "se" itu? sehingga membentuk Abu Ase?

Siapa yang memberikan hak kepada kau meletakkan dirimu sebagai Abu Pase?
Dulu Abu Pase, sebuah nama yang diberikan kepada As-Syahid Tengku Yusuf AB dan Ayah Pase sebuah nama yang diberikan kepada As-Syahid Tengku Yusuf Ali.

Karena itulah nama yang layak untuk kau, siketurunan pengkhianat!

II. Wali Negara.

Jabatan Wali Negara, adalah jabatan mandataris dari Sultan Acheh, yang pernah diserahkan oleh Ahli Majelis Negara Acheh dibawah pimpinan Tuanku Hasjim Banta Muda, ketika Sultan Mahmud Shah mangkat, dimana ketika itu, di tahun 1874, sekitar setahun setelah penyerangan yang dilakukan oleh Belanda, menghendaki seorang pemimpin negara yang kuat dan berani memikul tanggung jawab sebagi kepala negara dan sekaligus sebagai Panglima Prang Tertinggi, Kerajaaan (Negara) Acheh.

Saya sebagaimana salah seorang bangsa Acheh lainnya, tidak pernah berkeberantan dan terlihat ketika itu, hanya yang layak adalah: Tengku Tjhik di Tiro Mohammad Saman, Endatu dari Tengku Hasan di Tiro.

Jabatan Wali Negara itu bukanlah suatu jabatan empuk, tetapi sebagaimana dimaksudkan diatas adalah suatu jabatan yang akan memikul tanggung jawab kepada kelangsungan kehidupan Kerajaan (Negara) Acheh dan kelangsungan kehidupan generasi bangsa Acheh, yang pusaranya kini bertaburan dimana-mana!. Dan mempunyai tugas utama menetang kuasa tentara agressor kuasa asing, kuasa Penjajah Belanda dengan tentara upahannya anak-anak Jawa si Penjajah, The Black Dutchmen, si Belanda Hitam!

Tengku Tjhik di Tiro Mohammad Saman, sebagai Wali Negara adalah juga sebagai Panglima Prang Tertinggi, yang langsung memimpin prang di medan prang, berperang dan memilih mati-syahid!

Rebah-syahidnya beliau, diteruskan oleh anak-famili beliau ganti berganti dan seterusnya sesiapa yang sanggup dan berani memikul tanggung jawab sebagai Wali Negara dan Panglima Tertinggi Prang Kerajaan (Negara) Acheh.

Hari ini, Tengku Hasan di Tiro, telah berdiri dibarisan terdepan yang menyanggupi dan yang berani memikul tanggung jawab sebagai Wali Negara, Kepala Negara Acheh dan sebagi Panglima Prang Tertinggi, Kerajaan (Negara) Acheh, yang telah pernah berada di medan prang selama tiga tahun dan telah pernah juga memilih mati-syahid!

Beliau balik dari Amerika untuk mendaulatkan kembali Kerajaan (Negara) Acheh, sebagai negara sinambung, successor state, Negara Acheh Sumatra dan memerdekakan bangsa Acheh dari cengkraman Jawa si Penjajah atau Penjajah Indonesia Jawa, ex-tentara upahannya, The Black Dutchmen, si Belanda Hitam, yang telah diserahkan kepada mereka oleh Belanda si Penjajah pada 27 Desember, 1949.

Apa yang menjadi salahnya kalau Tengku Hasan di Tiro, telah menulis kembali sejarah ketatanegaraan Kerajaan (Negara) Acheh, demikian rupa sebagaimana sekarang ini, telah menjadi tatapan seluruh bangsa Acheh didunia?

Sebagaimana telah kau katakan, bahwa kau telah menulis sebuah buku mengenai Tuanku Hasyim Banta Muda, maka disini perlu saya jelaskan bahwa Tuanku Hasyim yang melantik Tengku Tjhik di Tiro Mohammad Saman, sebagai Wali Negara, Negara Acheh itu, adalah juga sebagai keluarga kami, atau nektu ibu saya. Malahan nektu ibu sayalah, Panglima Prang Njak Hasan bin Tengku Ibnu, Tengku di Reudeup yang mengangkat nama abang iparnya Tuanku Hasyim Banta Muda yang kau tulis itu, yang belum pernah saya membacanya.

Sejarah Kerajaan (Negara) Acheh Sumatra adalah sejarah yang ditulis oleh bangsa Acheh Sumatra! Tetapi bukan sejarah yang ditulis oleh Jawa si Penjajah atau Penjajah Indonesia Jawa, The Black Dutchmen, si Belanda Hitam.

Kalaulah disana, dalam buku-buku tulisan Tengku Hasan di Tiro, menyifatkan beliau sebagai Raja Acheh, maka mengapa menjadi masalah bagi kau. Sedang semua orang menghormati keluarga Tengku Tjhik di Tiro dan famili-famili di Tiro akan pengorbanannya yang begitu besar.

Tuanku Hasyim Banta Muda dan Njak Hasan, walaupun Tengku tjhik di Tiro, sebagai Wali Negara dan sebagai Panglima Prang Tertinggi namun mereka berdua terus juga membatu mempertahankan negara Kerajaan (Negara) di Pangkalan Pertahanan Laut Manyak Paét dan Pulau Sampoë, membantu terus Tengku Tjhik di Tiro. Mengapakah tidak dipersoalkan dalam sejarah ketatanegaraan Acheh?

Kau telitilah kembali salasilah raja-raja Jawa Majapahit atau raja-raja Jawa Mataram, misalnya sejarah Amangkurat I, (yang salah satu keturunannya Hamengkubuwono X) mengangkat dirinya dari seorang centeng alias tukang kepruk menjadi raja Jawa Mataram, sehingga menimbulkan kemarahan Trunojoyo, anak Jawa Madura, yang masih mempecayakan dirinya turunan raja-raja Jawa Majapahit.

Begitu juga kau telitilah kembali juga salasilah raja-raja di Asia Tenggara yang lain atau di Afrika malahan di Eropah dan di Rusia!

Tidakkah kau mendengar Raja Bokassa di Afrika dan Raja Suharto Kleptokracy di Jawa?

Shah Reza Pahlevi anak sersan tentara British di Iran-Parsia, yang kemudian sangat berkuasa dan menjadi kepala negara dan kemudian dia mati digantikan oleh anaknya, yang kemudian menggelarkan dirinya dari si Shah Reza Pahlevi menjadi Raja Darius II, tetapi tidak seorangpun menggugatnya, kecuali Ayatollah Khomeni! Mengapakah sekarang ini kau tidak mempersoalkan Sultan Hamengkubuwono X dan Paku Buwono dengan salasilahnya dari seorang centeng-tukang kepruk?

(bersambung ke Plus II + Tengku Lamkaruna dan Larantukanya)

NB. Saya tahu ada empat macam bentuk negara didunia. Dapatkah kau menyebutkan bentuk- entuk negara itu, agar senang kita membicarakan prihal bentuk negara Acheh yang kau telah kirimkan itu? Kalau kau belum belajar empat bentuk negara itu, dapatlah kau tanyakan kepada kecoa yang telah memakai nama e_mail "om_puteh"@yahoo.com!

Wassalam

Omar Putéh

om_puteh@hotmail.com
Norway