Stockholm, 2 Juni 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

NETTY ITU PRESIDEN NKRI YANG TERPILIH TIDAK AKAN MAMPU MENUNTASKAN MASALAH ACHEH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

NETTY SUWARTO ITU PRESIDEN NKRI YANG TERPILIH TIDAK AKAN MAMPU MENUNTASKAN MASALAH ACHEH

"Terimakasih Pak Ahmad Sudirman atas informasinya - kalau begini kan saya jadi agak ngerti sedikit. Saya memang tidak tahu banyak ttg permasalahan Aceh mangkanya saya senang mendengarkan debat seperti ini. Dari semua yang Bapak uraikan itu , sekarang rencana Bapak ngapain ? Program kerja GAM selanjutnya bagaimana ? kenapa sih harus diwarnai dengan peristiwa culak menculik dan adanya korban2 yang berjatuhan (tu guru) ?. - pertikaian boleh ada - perselisihan ga papa tapi jangan sampai mencekam seperti itu. Guru yang dibunuh oleh sekelompok GAM karena tidak membayar upeti (?) maksudnya bagaimana ? Status DS untuk Aceh yang sekarang - memang masih banyak tentaranya kan buat jaga2 Pak, jadi tentaranya ditarik sedikit2 sambil liat keadaan. GAM itu kan kayak obat nyamuk bakar - operasinya, melingkar jadi kalau lingkaran yang di luar sudah ga ada belum tentu lingkaran yang didalam juga ga ada - begitu juga sebaliknya. Semoga setelah Pemilu nanti dengan adanya presiden dan wapres yang baru bisa segera menuntaskan masalah Aceh dengan baik" (Netty Suwarto, netty_suwarto@hotmail.com , 1 juni 2004 12:43:50)

Baiklah saudari Netty Suwarto di Jakarta, Indonesia.

Itu kalau saudari Netty mengharap kepada Presiden dan Wakil Presiden NKRI yang baru hasil pemilihan dalam Pemilu Presiden 5 Juli 2004 akan mampu menuntaskan masalah Negeri Acheh adalah sama seperti melihat fatamorgana dipadang pasir. Mengapa ?

Karena, coba perhatikan itu Capres Susilo Bambang Yudhoyono, Megawati, Amien Rais, Wiranto, dan Hamzah Haz adalah mereka telah menerapkan visi dan misinya dalam memecahkan masalah konflik Negeri Acheh.

Mereka itu bukan orang baru, melainkan orang orang lama yang sedang dan telah memegang kekuasaan di RI atau NKRI ini.

Sebagai contoh, perhatikan itu Capres Susilo Bambang Yudhoyono, salah seorang arsitek pembuat Keppres No.28/2003 dan Keppres No.43/2003 dalam Kabinet Gotong Royong Megawati, mana dia mampu menyelesaikan kemelut Negeri Acheh. Kemudian, kalau dia terpilih jadi Presiden baru NKRI, telah merancangkan tiga usaha, seperti yang dikemukakannya pada hari pertama kampanye Pemilu Presiden, 1 juni 2004, di Jakarta, yaitu pertama, mengakhiri gerakan separatis bersenjata di Aceh dan Papua serta meningkatkan pelaksanaan otonomi khusus secara konsisten. Kedua, mengakhiri konflik di Maluku, Poso dan di daerah lainnya. Ketiga, memerangi kejahatan terorisme dan kegiatan trans-nasional, seperti narkoba dan perdagangan anak.

Kemudian, kita dalami sedikit tentang rencana usaha Yudhoyono untuk menyelesaikan Acheh, Papua, dan Maluku Selatan apabila terpilih menjadi presiden baru NKRI, yaitu mengakhiri gerakan separatis bersenjata di Aceh dan Papua.

Nah, apa yang ada dibalik kata "mengakhiri gerakan separatis bersenjata di Aceh" ?

Jelas, jawabannya adalah terus memerangi ASNLF atau GAM dan TNA dengan cara mengirimkan sebanyak-banyaknya pasukan TNI/POLRI/RAIDER ke Negeri Acheh dan darurat sipil akan dicabut lagi dan digantikan kembali dengan darurat militer atau darurat perang di Negeri Acheh.

Dimana program penghancuran rakyat Aceh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI ini tidak secara terbuka disampaikan oleh Susilo Bambang Yudhoyono ini, melainkan cukup diungkapkan dalam untaian kata "mengakhiri gerakan separatis bersenjata di Aceh" dan dibelokkan ke jalur "meningkatkan pelaksanaan otonomi khusus secara konsisten".

Nah, model Susilo Bambang Yudhoyono yang diharapkan akan mampu menuntaskan masalah Acheh ?. Itu hanya mimpi disiang hari saja saudari Netty Suwarto di Jakarta.

Kemudian, kalau itu Presiden Megawati terpilih kembali, masih juga diharapkan untuk menyelesaikan masalah Acheh ?. Ah, ini juga sama mimpi disiang hari bolong. Itu katanya sudah menurunkan status darurat militer menjadi darurat sipil. Menang, usaha penurunan status tersebut adalah usaha politik Megawati dengan PDIP-nya, biar berhasil dalam Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden yang akan datang ini. Mengapa ? karena buktinya itu pasukan TNI/POLRI/RAIDER yang mencapai 50 000 pasukan itu tetap saja tidak ditarik dari Negeri Acheh. Jadi, DM atau DS sama saja. Namanya saja yang ditukar, kegiatannya sama. Kalau masa DM Pangdam Mayjen TNI Endang Suwarya yang berkuasa, sekarang pada masa DS itu Gubernur Abdullah Puteh yang pegang komando, walaupun masih tetap didampingi dan dibantu oleh Pangdam Mang Endang asal Sunda dengan pasukan TNI/RAIDER-nya itu.

Selanjutnya, itu Wiranto, wah, kalau soal orang satu ini, janganlah banyak diharapkan untuk menyelesaikan konflik Acheh. Paling yang mampu dilakukannya adalah dengan cara sapu habis ASNLF atau GAM dan TNA dengan cara apapun. Lihat saja ketika masa Soeharto. Apa yang dikerjakan oleh mantan Jenderal TNI Wiranto ini. Orang-orang Acheh masih ingat apa yang telah diperbuat oleh Wiranto mantan Panglima ABRI masa Jenderal Soeharto dengan DOM-nya ini.

Lalu, itu Hamzah Haz, yang sekarang menjabat sebagai Wakil Presiden NKRI, mana ada kemampuan orang satu ini untuk menyelesaikan kemelut Acheh, lihat saja apa buktinya sekarang ini ?. Buktinya kosong.

Seterusnya, itu Amien Rais, ah mana mampu orang satu ini, suaranya memang keras dan lantang. Tetapi mengenai soal penyelesaian Negeri Acheh sama seperti Capres lainnya. Mungkin ada satu yang sedikit berbeda yaitu mengenai masalah ide negara federasi. Kembali kejaman Republik Indonesia Serikat. Jadi, kalau menurut Amien Rais, biar itu rakyat Aceh berada dalam sangkar negara federasi Indonesia, tetapi memiliki kekuasaan kedalam yang penuh, tidak diatur oleh pusat seperti sekarang ini, walaupun ada yang namanya otonomi khusus yang diatur dalam UU RI Nomor 18 tahun 2001 tentang otonomi khusus bagi provinsi daerah istimewa Aceh sebagai provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Sebenarnya disini kelihatan Amien Rais inipun tidak mau mengakui dan tidak mau menerima bahwa sebenarnya Negeri Acheh ditelan, dicaplok, diduduki, dan dijajah oleh Presiden RIS (Republik Indonesia Serikat) Soekarno. Karena itu, agar supaya Negeri Acheh tidak lepas, maka ia memajukan ide negara federasi. Jadi, hakekatnya sama saja, Amien Rais tidak ingin Acheh lepas dari NKRI.

Selanjutnya, saudari Netty menanyakan: "Dari semua yang Bapak uraikan itu , sekarang rencana Bapak ngapain ? Program kerja GAM selanjutnya bagaimana ?"

Jelas, rencana dan program kerja GAM terus berjalan, yaitu memperjuangkan pembebasan Negeri Acheh yang telah ditelan, dicaplok, diduduki, dan dijajah oleh pihak RI yang menjelma menjadi NKRI.

Itu soal yang dituliskan oleh saudari Netty: "kenapa sih harus diwarnai dengan peristiwa culak menculik dan adanya korban2 yang berjatuhan (tu guru) ?. - pertikaian boleh ada - perselisihan ga papa tapi jangan sampai mencekam seperti itu. Guru yang dibunuh oleh sekelompok GAM karena tidak membayar upeti (?) maksudnya bagaimana ?".

Jelas, setelah DOM dicabut akibat Soeharto dijatuhkan, eh, tahu-tahu itu Abdurrahman Wahid muncul pula dengan pentungan dasar hukum Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2001 tentang Langkah-langkah komprehensif dalam rangka penyelesaian masalah Aceh yang dikeluarkan di Jakarta pada tanggal 11 April 2001. Dimana isi dari Inspres No.4/2001 ini 27 % dari 22 instruksi diarahkan dan difokuskan kepada bidang pertahanan, keamanan dan ketertiban masyarakat. 18 % diarahkan dan difokuskan kepada bidang hukum dan bidang ekonomi. Sedangkan yang difokuskan kepada bidang pendidikan, agama, sosial dan budaya, pembangunan infrastruktur, perluasan lapangan kerja dan kesempatan berusaha, percepatan rehabilitasi sosial, penanganan masalah pengungsi, memfasilitasi dialog dengan seluruh komponen masyarakat Aceh, mempercepat pemberdayaan instansi dan aparat pemerintah sampai desa, meningkatkan fungsi pelayanan umum masyarakat, dan mengintensifkan pembinaan opini masyarakat hanya mendapat perhatian masing-masing bidang 5 % saja.

Nah, dengan Abdurrahman Wahid menetapkan Inspres No.4 tahun 2001 pada tanggal 11 April 2001 berarti secara langsung telah melakukan tindakan penekanan, pengekangan, pembatasan, pembantaian dan pembunuhan kepada rakyat Acheh. Sehingga akibatnya seperti yang terjadi di Kecamatan Bandar, Kabupaten Aceh Tengah, Takengon, pada tanggal 5 Juni 2001, yang menelan 42 korban jiwa. Dimana di Kabupaten Aceh Tengah ini terdapat sekitar 15.000 kepala keluarga warga transmigran yang tersebar di Kecamatan Isaq, Lingge, Kecamatan Bandar.

Disini kelihatan Abdurrahman Wahid menjalankan dua taktik. Pertama, taktik akan melakukan dialog dengan pihak GAM, dan kedua, taktik mengirimkan ribuan tentara siap tempur ke Acheh. Selanjutnya pihak Abdurrahman Wahid melalui Wakil Panglima Komando Pelaksana Operasi TNI AD Kolonel (Inf) M Jali Yusuf telah memerintahkan untuk memburu sebanyak 724 personel GAM dengan tuduhan terlibat tindak kriminal. Akibat kebijaksanaan politik yang dijalankan Abdurrahman Wahid inilah yang menimbulkan gejolak di Kabupaten Aceh Tengah itu. Kemudian pihak Wakil Panglima Komando Pelaksana Operasi TNI AD Kolonel (Inf) M Jali Yusuf, menuduh bahwa korban rakyat transmigran itu adalah karena serangan yang dilakukan oleh gerakan bersenjata separatis Acheh.

Seterusnya soal korban yang menimpa para guru. Itu terjadi setelah pihak Presiden Megawati menetapkan Keppres No.28/2003 pada tanggal 18 Mei 2003 dan diberlakukan pada tanggal 19 Mei 2003 dan Keppres No.43/2003 yang ditetapkan dan diundangkan pada tanggal 16 Juni 2003.

Dengan diberlakukannya Keppres No.28 tahun 2003 ini adalah secara langsung merupakan deklarasi perang dari pihak NKRI terhadap ASNLF atau GAM dan TNA.

Jadi akibat deklarasi perang dari pihak NKRI inilah, maka pihak ASNLF atau GAM dan TNA menganggap semua yang menjadi bagian dari Pemerintah NKRI dianggap sebagai lawan dan musuh.

Siapa saja yang dicurigai dan dianggap bekerja sama dengan pihak Pemerintah NKRI, maka dianggap dan diperlakukan sebagai musuh oleh pihak ASNLF atau GAM dan TNA.

Kemudian kalau ada pihak guru atau siapa saja yang merupakan bagian dari Pemerintah NKRI berusaha untuk secara bersama-sama TNI/POLRI/RAIDER dan terang-terangan ingin menghancurkan ASNLF atau GAM dan TNI, jelas, mereka, para guru ini atau siapa saja dianggap sebagai pihak lawan atau musuh oleh ASNLF atau GAM dan TNA.

Terakhir saudari Netty Suwarto menyinggung: "Status DS untuk Aceh yang sekarang - memang masih banyak tentaranya kan buat jaga2 Pak, jadi tentaranya ditarik sedikit2 sambil liat keadaan. GAM itu kan kayak obat nyamuk bakar - operasinya, melingkar jadi kalau lingkaran yang di luar sudah ga ada belum tentu lingkaran yang didalam juga ga ada - begitu juga sebaliknya."

Saudari Netty, itu tidak ditariknya pasukan TNI/POLRI/RAIDER yang sebanyak 50 000 pasukan itu, bukan nantinya akan ditarik sedikit-sedikit, melainkan memang tidak ada dasar hukumnya untuk menarik itu pasukan TNI/RAIDER dari Negeri Acheh ini, walaupun statusnya telah menjadi darurat sipil.

Sampai kapanpun, itu pasukan TNI/RAIDER akan tetap di Negeri Acheh, sebagai alat Pemerintah NKRI untuk menduduki Negeri Acheh, sebelum adanya surat perintah untuk penarikan pasukan dari Acheh yang dikeluarkan oleh Presiden Megawati atau Presiden yang baru nanti.

Jadi, saudari Netty jangan sok tahu, bahwa pasukan TNI/RAIDER akan ditarik sedikit-sedikit. Itu hanya mimpi. Bahkan kalau itu Susilo Bambang Yuhdoyono atau Wiranto terpilih jadi Presiden baru di NKRI, maka pasukan TNI/RAIDER bukan ditarik dari Negeri Acheh melainkan akan ditambahnya, dengan asalan untuk mengakhiri dan menghabiskan GAM dan TNA.

Adapun ASNLF atau GAM dan TNA, jelas akan wujud selamanya di Negeri Acheh, karena memang itu Negeri Acheh adalah milik seluruh rakyat Acheh, bukan milik NKRI, atau milik SBY, Wiranto, Amien Rais, Megawati, atau milik Hamzah Haz.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

From: netty suwarto netty_suwarto@hotmail.com
Date: 1 juni 2004 12:43:50
To: ahmad_sudirman@hotmail.com, PPDI@yahoogroups.com, oposisi-list@yahoogroups.com, mimbarbebas@egroups.com, politikmahasiswa@yahoogroups.com, fundamentalis@eGroups.com, Lantak@yahoogroups.com, kuasa_rakyatmiskin@yahoogroups.com, mitro@kpei.co.id
Subject: RE: SUMITRO & NETTY,TIMTIM DICAPLOK KELIHATAN PBB,ACHEH DICAPLOK DULU BARU MASUK PBB

Ass.wr.wb

Hahahaha .... terimakasih Pak Ahmad Sudirman atas informasinya - kalau begini kan saya jadi agak ngerti sedikit .... saya memang tidak tahu banyak ttg permasalahan Aceh mangkanya saya senang mendengarkan debat seperti ini.

Dari semua yang Bapak uraikan itu , sekarang rencana Bapak ngapain ? Program kerja GAM selanjutnya bagaimana ? kenapa sih harus diwarnai dengan peristiwa culak menculik dan adanya korban2 yang berjatuhan (tu guru) ?. - pertikaian boleh ada - perselisihan ga papa tapi jangan sampai mencekam seperti itu. Guru yang dibunuh oleh sekelompok GAM karena tidak membayar upeti (?) maksudnya bagaimana ?

Status DS untuk Aceh yang sekarang - memang masih banyak tentaranya kan buat jaga2 Pak, jadi tentaranya ditarik sedikit2 sambil liat keadaan. GAM itu kan kayak obat nyamuk bakar - operasinya, melingkar jadi kalau lingkaran yang di luar sudah ga ada belum tentu lingkaran yang didalam juga ga ada - begitu juga sebaliknya .....

Semoga setelah PEMILU nanti dengan adanya presiden dan wapres yang baru bisa segera menuntaskan masalah Aceh dengan baik .... amin

Wass.wr.wb

Netty Suwarto

netty_suwarto@hotmail.com
suwarto nettysuwarto@yahoo.com
Jakarta, Indonesia
----------