Stockholm, 3 juni 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

TATI ITU PIHAK NKRI DIBAWAH MEGAWATI BERMUKA DUA
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

TATI PERLU TAHU ITU PIHAK NKRI DIBAWAH MEGAWATI BERMUKA DUA

"Sekarang saya tanya kepada anda berdua inikah yg anda inginkan? rasa ketakutan bayangkan ponaan saya yg berumur 4 tahun bisa mengajarkan saya tiarap ketika bunyi tembak-tembakan. Anda jangan memanipulasi data, selama ini saya juga menyangka pihak militer yg arogan. Sebenarnya GAM juga sama. 2 hari saya tinggal dikomplek perumahan tersebut pada pukul 4 sore ada 2 orang naik sepeda motor mendatangi 5 rumah dari rumah sepupu saya memberondong kan senjata kepada satu keluarga gara2 keluarga tsb punya saudara tentara dan bertemu dipasar sebelumnya. Apakah ini suatu kewajaran? makanya sepupu saya mewanti-wanti jangan senyum kalau ketemu TNI sebab banyak mata-mata GAM disangka kita pemberontak. Sebenarnya anda2 inilah pemberontak seharusnya anda yg mengalami tembakan tsb bukan orang yg tidak tahu apa2. Sementara anda dengan pengecut bersembunyi. Perlu anda sadari Aceh bukan satu negara yg independen krn kita sama dijajah Belanda. Kecuali Timtim. Jadi sangat berbeda. Daud Beureueh melawan krn ketidaksetaraan dalam pembagian pembangunan. Sekali lagi anda tidak usahlah menggunakan nama Islam saya sendiri merasa anda bukan orang Islam" (Tati , narastati@yahoo.com , Thu, 3 Jun 2004 05:24:49 -0700 (PDT))

Terimakasih saudara Tati di Jakarta, Indonesia.

Setelah saya membaca surat terbuka saudara Tati yang dikirimkan kepada saya hari ini, Kamis, 3 Juni 2004. Ternyata saudari Tati belum atau tidak mengerti tentang akar masalah konflik Acheh ini. Karena yang diketahui oleh saudari Tati hanyalah : "Perlu anda sadari Aceh bukan satu negara yg independen krn kita sama dijajah Belanda. Kecuali Timtim. Jadi sangat berbeda. Daud Beureueh melawan krn ketidaksetaraan dalam pembagian pembangunan".

Dari dasar pengetahuan saudari Tati tentang Negeri Acheh yang sedemikian kecil inilah, ditambah dengan berbagai cerita tambahan yang ditampilkan oleh media massa di NKRI tentang konflik Acheh yang sepihak, sehingga menimbulkan sikap saudari Tati yang negatif kepada pihak ASNLF atau GAM dan TNA.

Jelas, kalau saudari ingin tahu yang sebenarnya menelan, dan menjajah Negeri Acheh ini adalah NKRI yang diawali oleh Soekarno. Itu Negeri Acheh sudah berdiri berdaulat sebelum itu yang namanya RI atau NKRI berdiri di Nusantara ini.

Jadi karena pihak Soekarno dengan RIS-nya yang menelan dan menduduki Negeri Acheh yang diteruskan oleh pihak RI yang menjelma menjadi NKRI inilah yang merupakan akar masalah konflik di Acheh ini.

Saudari Tati memang tidak mengetahui akar masalah konflik Acheh, karena memang tidak diajarkan disekolah. Yang diajarkan di sekolah hanyalah Negeri Acheh bagian NKRI. Padahal yang sebenarnya bagaimana itu Negeri Acheh masuk kedalam tubuh RI atau NKRI, tidak diajarkan oleh guru-guru sejarah nasional di NKRI. Karena itulah, mengapa saudara Tati mengatakan dalam surat terbuka ini: "Perlu anda sadari Aceh bukan satu negara yg independen krn kita sama dijajah Belanda. Kecuali Timtim. Jadi sangat berbeda. Daud Beureueh melawan krn ketidaksetaraan dalam pembagian pembangunan".

Apalagi tentang perjuangan Teungku Muhammad Daud Beureueh, Teungku Hasan Muhammad di Tiro, itu semuanya asing bagi saudari Tati. Karena itu wajar saja kalau saudari Tati mengatakan: "Daud Beureueh melawan krn ketidaksetaraan dalam pembagian pembangunan". Mengapa wajar? Karena memang saudara Tati tidak tahu perjuangan Teungku Muhammad Daud Beureueh yang sebenarnya, dan perjuangan Teungku Hasan Muhammad di Tiro yang sebenarnya.

Karena itu kalau ingin memberikan tanggapan tentang konflik Aceh di mimbar bebas ini, terlebih dahulu harus mempelajari mengapa timbul konflik Acheh ini. Apa akar masalah yang sebenarnya. Bukan hanya menelan dari apa yang diceritakan oleh pihak penguasa NKRI dan TNI saja, seperti info dari pihak Presiden Megawati, Amien Rais, Akbar Tandjung, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal Ryamizard Ryacudu.

Karena info dari pihak Pemerintah NKRI dan TNI itu adalah hanya yang menguntungkan pihak mereka. Walapun rakyat di NKRI dan di Negeri Acheh dibohongi.

Coba tanya kepada akhli sejarah nasional di NKRI, bagaimana itu Negeri Acheh bisa berada dalam tubuh RIS, RI dan NKRI sekarang ini ?. Kalau sudah bertanya, boleh lemparkan di mimbar bebas ini untuk dibicarakan secara terbuka.

Sekarang kembali kepada masalah cerita yang disampaikan oleh saudari Tati dua tahun yang lalu, yaitu bulan Juli 2002.

Sebelum, saya memberikan tanggapan, perlu dijelaskan disini bahwa pada bulan juli 2002 itu masih berlaku dasar hukum Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Peningkatan langkah komprehensif dalam rangka percepatan penyelesaian masalah Aceh yang dikeluarkan di Jakarta pada tanggal 10 Februari 2002 oleh Presiden RI Megawati Soekarnoputri.

Dimana dalam dasar hukum Inspres No.1/2002 ini sebagian isinya memberikan kekuasaan kepada pihak Panglima TNI membantu Kepala Kepolisian Negara RI dalam upaya pemulihan keamanan di Acheh dengan mengerahkan unsur TNI melalui upaya mengatasi dan menanggulangi ASNLF atau GAM. Jadi unsur Kepolisian Negara RI dibantu unsur TNI secara bersama untuk menghadapi pihak ASNLF atau GAM dan TNA. Dengan alasan bahwa pihak ASNLF atau GAM merupakan ancaman terhadap kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI dan secara hukum merupakan kejahatan terhadap keamanan negara.

Padahal, yang sebenarnya adalah justru sebaliknya, pihak NKRI-lah yang menelan dan menduduki Negeri Acheh melalui tangan Presiden RIS Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1950 dengan menggunakan PP RIS No.21/1950 dan PERPPU No.5/1950.

Nah, karena pihak Pemerintah NKRI menganggap apa yang dilakukan oleh Soekarno itu benar, maka usaha penelanan, pencaplokan, pendudukan, dan penjajahan Negeri Acheh, dianggap usaha yang bisa diterima. Padahal itulah usaha pendudukan, perampokan dan penjajahan yang dilakukan Soekarno terhadap Negeri Acheh.

Nah sekarang, itu soal cerita keluarga sepupu saudari Tati di Acheh pada bulan Juli 2002 bahwa "pihak GAM meminta uang kepada keluarga sepupu saudari Tati sebesar Rp. 150.000.000 (seratus lima puluh juta rupiah) dengan ancaman kalau tidak anak-anaknya jadi korban, tetapi hanya disanggupi oleh suami sepupu saudari sebesar Rp. 75.000.000, kemudian pihak GAM akhirnya minta Rp. 100.000.000.".

Yang kelihatan oleh saya dari isi cerita saudari Tati itu adalah sepupu saudari Tati dari Jawa yang merantau ke Acheh kemudian menikah dengan orang asli Acheh dan mempunyai perusahaan di Acheh dan ada cabangnya di Medan. Lalu pada bulan Juli 2002 didatangi oleh pihak GAM meminta uang Rp. 150.000.000, tetapi hanya disanggupi Rp. 75.000.000, namun akhirnya disetuji Rp. 100.000.000.

Kemudian, siapa dan dari mana yang mengatasnamakan GAM itu, tidak diceritakan dalam tulisan saudari Tati ini. Seharusnya, suami atau sepupu saudari Tati menanyakan nama, indentitas, status, kedudukan orang GAM yang datang meminta uang itu. Karena, bisa saja siapapun mengatasnamakan GAM kemudian datang untuk meminta uang. Ini seperti orang yang minta-minta dijalanan saja. Karena kalau demikian, yang satu telah dikasih duit, kemudian datang yang lain meminta pula. Lagi pula uang yang diminta itu apakah uang pajak, uang sedekah, uang infak, uanghutang, uang pinjaman, atau uang apa. Ini pun tidak jelas diceritakan.

Kemudian, perlu juga dijelaskan disini bahwa pada bulan Juli 2002 itu adalah masih dalam masa pelaksanaan hasil perundingan Pernyataan Bersama Pemerintah Negara RI dan GAM pada tanggal 10 Mei 2002 di Switzerland yang ditandatangani oleh Duta Besar S. Wiryono dari pihak RI dan Zaini Abdullah dari pihak GAM.

Jadi, jelas dari pihak GAM atau ASNLF terikat oleh hasil perundingan Pernyataan Bersama Pemerintah Negara RI dan GAM. Karena itu perlu dipertanyakan kalau memang ada dari pihak GAM yang melakukan tindakan teror dalam masa pelaksanaan hasil perundingan Pernyataan Bersama Pemerintah Negara RI dan GAM. Bulan Mei 2002 ditandatangani Pernyataan Bersama Pemerintah Negara RI dan GAM, kemudian bulan Juli 2002 (dua bulan kemudian) pihak GAM melakukan teror dan pemerasan. Ini yang masih tandatanya dan masih perlu dipertanyakan. Apakah memang yang datang ke rumah sepupu saudari Tati adalah benar-benar wakil GAM atau yang menyamar dengan mengatasnamakan GAM ?.

Kemudian lagi soal cerita saudari Tati yang lain: "Anda jangan memanipulasi data, selama ini saya juga menyangka pihak militer yg arogan. Sebenarnya GAM juga sama. 2 hari saya tinggal dikomplek perumahan tersebut pada pukul 4 sore ada 2 orang naik sepeda motor mendatangi 5 rumah dari rumah sepupu saya memberondong kan senjata kepada satu keluarga gara2 keluarga tsb punya saudara tentara dan bertemu dipasar sebelumnya. Apakah ini suatu kewajaran? makanya sepupu saya mewanti-wanti jangan senyum kalau ketemu TNI sebab banyak mata-mata GAM disangka kita pemberontak".

Sebenarnya, memang Pemerintah NKRI ini bermuka dua , mengapa ?. Coba saja, pada tanggal 10 Februari 2002 Presiden Megawati mengeluarkan Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2002 Tentang Peningkatan langkah komprehensif dalam rangka percepatan penyelesaian masalah Aceh yang isinya memberikan kekuasaan penuh kepada pihak TNI dan POLRI untuk menghantam ASNLF atau GAM. Sedang diwaktu lain, pada bulan Mei 2002, menandatangani perundingan Pernyataan Bersama Pemerintah Negara RI dan GAM. Padahal itu Inspres No.1/2002 tidak dicabutnya.

Jadi, Inspres No.1/2002 jalan terus, kemudian berunding dan menandatangani Pernyataan Bersama Pemerintah Negara RI dan GAM dibuatnya juga. Itulah yang disebut bermuka dua.

Makanya, mana aman dan selesai konflik Acheh ini. Karena memang pihak NKRI sendiri yang melanggarnya.

Terakhir, saya berada dan tinggal di Swedia bukan "pengecut bersembunyi". Mana saya sembunyi, siapa saja boleh bertemu. Dengan saya menulis, berdiskusi, dan berdebar di mimbar bebas ini tandanya bukan bersembunyi.

Jelas, karena saya adalah seorang muslim yang mukmin, maka itu Islam tidak bisa saya lepaskan. Dimanapun saya hidup dan tinggal disanalah Islam yang jadi pegangan. Kalau saudari Tati "merasa bahwa saya bukan orang Islam" itu hak saudari. Iman itu bukan manusia lain yang bisa mengukur dan merasakan, melainkan Allah SWT. Kita serahkan semuanya kepada Allah SWT. Siapa yang benar, dan siapa yang salah.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Thu, 3 Jun 2004 05:24:49 -0700 (PDT)
From: tati - <narastati@yahoo.com>
Subject: surat terbuka
To: ahmad@dataphone.se
Cc: omar_puteh@yahoo.com, om_puteh@hotmail.com

Ass. pak ahmad sudirman dan pak omar puteh,
terus terang saya sangat muak dengan komentar2 anda di milis.dan yang sangat saya herankan kenapa begitu percanyanya nggota GAM/segelintir rakyat aceh kepada anda.

Dari cara anda menjawab pertanyaan memberi keterangan tidak ada sedikitpun menunjukkan jika anda itu seorang yang disegani, berpendidikan bagaimana mungkin anda bisa memajukan aceh. Cocoknya anda ketua Gangster sehingga dalam memberikan kata-kata bisa seenaknya. saya juga meragukan tentang ke-islaman anda berdua. islam adalah agama perdamaian sementara anda mengorbankan api permusuhan sedikitpun kata-kata anda tidak ada yg menyejukkan hati pantasan orang-orang GAM itu begitu sadis!

Sepupu saya yg sudah 20 tahun lebih disana dan bersuamikan orang aceh asli juga mengatakan kalau GAM itu sendiri tidak lagi di cintai masyarakat aceh. karena perjuangannya sendiri tidak murni lagi.

Anda berdua tidak bisa mengingkari kerakusan GAM tsb. dan ini dimata kepala saya sendiri saat saya berkunjung kerumah sepupu tersebut pada bulan juli 2002 ketika pihak GAM meminta uang kepada keluarga sepupu saya sebesar Rp. 150.000.000 (seratus lima puluh juta rupiah) dengan ancaman kalau tidak anak-anaknya jadi korban. suami sepupu saya diajak bernegosiasi di medan bertepatan anak cabang usahanya juga ada disana, dibawah tekanan suami sepupu saya menyanggupi hanya Rp. 75.000.000 pihak GAm tetap ngotot akhirnya minta Rp. 100.000.000 dan tetap menakut-nakuti. Saat dimintai pertimbangan kesepupu saya. sepupu saya langsung meradang dia tidak mau mengeluarkan cek seperakpun. Disitu ada saya juga mendampingi sepupu saya dan dia mengatakan langsung kepada pihak GAM via HP dalam bahasa aceh yg artinya : "seperak pun saya tidak akan beri karena saya mencari uang ini bukan mudah kalau untuk beramal lebih baik ketempat yg sudah dianjurkan agama. silahkan anda ambil nyawa saya, anak saya ataupun keluarga saya kalau itu yg akan menentramkan anda karena saya merantau ini sudah siap menempuh segala resikonya ketakutan antara mati dan hidupun saya tidak tahu membedakannya lagi dan sampai kapanpun saya akan tetap di aceh".

Memang setelah itu teror tetap berjalan termasuk pada usahanya karena suami sepupu saya orangnya tidak ingin keluarganya khusus anak-anaknya mendapat tekanan terus terakhir pindah dengan anak2 kemedan. sepupu saya tetap bertahan mengembangkan usahanya disana.

Alhamdulillah GAM sudah mulai lumpuh sekarang. padahal suaminya orang aceh malah ketakutan.

Sekarang saya tanya kepada anda berdua inikah yg anda inginkan? rasa ketakutan bayangkan ponaan saya yg berumur 4 tahun bisa mengajarkan saya tiarap ketika bunyi tembak-tembakan.

Anda jangan memanipulasi data, selama ini saya juga menyangka pihak militer yg arogan. Sebenarnya GAM juga sama. 2 hari saya tinggal dikomplek perumahan tersebut pada pukul 4 sore ada 2 orang naik sepeda motor mendatangi 5 rumah dari rumah sepupu saya memberondong kan senjata kepada satu keluarga gara2 keluarga tsb punya saudara tentara dan bertemu dipasar sebelumnya. Apakah ini suatu kewajaran? makanya sepupu saya mewanti-wanti jangan senyum kalau ketemu TNI sebab banyak mata-mata GAM disangka kita pemberontak. Sebenarnya anda2 inilah pemberontak seharusnya anda yg mengalami tembakan tsb. bukan orang yg tidak tahu apa2.

Sementara anda dengan pengecut bersembunyi. Perlu anda sadari Aceh bukan satu negara yg independen krn kita sama dijajah Belanda. Kecuali Timtim. Jadi sangat berbeda. Daud Beureueh melawan krn ketidaksetaraan dalam pembagian pembangunan.

Sekali lagi anda tidak usahlah menggunakan nama Islam saya sendiri merasa anda bukan orang Islam

Tati

narastati@yahoo.com
Jakarta, Indonesia
----------