Stockholm, 4 juni 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

RYACUDU TUKAR TAKTIK KARENA TIDAK BERHASIL DALAM PERANG MODERN DI ACHEH
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

KASAD JENDERAL TNI RYAMIZARD RYACUDU MENUKAR TAKTIK KARENA HAMPIR KALAH DALAM PERANG MODERN DI ACHEH

"Saya menantang! Perang-perang yang begini, rakyat susah. Mari kita turun dengan pikiran dan hati yang jernih, kita kembalilah memikirkan rakyat. Berontak-berontak apa segala macam itu kan rakyatnya susah, takut, banyak korban, saya tantang itu kalau mau." (Kasad Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, pertemuan dengan tokoh ulama, masyarakat, pemuda, mahasiswa dan wanita, di Gedung Balai Teuku Umar Kodam Iskandar Muda, Rabu, 2 Juni 2004).

Terima kasih saudara Reyza Zain di Harrisburg, Pennsylvania, USA atas kiriman beritanya yang diambil dari Serambi Indonesia.

Setelah saya baca berita yang dibuat oleh wartawan Serambi Indonesia, saudara yang berinisial Nal dan J, hari ini, Jumat, 4 Juni 2004 yang berjudul "Kasad Tantang GAM Berdamai", ternyata memang kelihatan itu Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad), Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu sudah hampir kewalahan dan terpelanting menghadapi rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI.

Bagaimana tidak ? Baca apa yang dikatakan Kasad Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu ini: "Saya menantang! Perang-perang yang begini, rakyat susah. Mari kita turun dengan pikiran dan hati yang jernih, kita kembalilah memikirkan rakyat. Berontak-berontak apa segala macam itu kan rakyatnya susah, takut, banyak korban, saya tantang itu kalau mau."

Sekarang, coba perhatikan, yang mendeklarkan perang pertama kali adalah pihak NKRI dengan Keppres No. 28 Tahun 2003 tentang pernyataan keadaan bahaya dengan tingkatan keadaan darurat militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, setelah menggagalkan perundingan Joint Council Meeting (JCM) atau Pertemuan Dewan Bersama, antara pihak Pemerintah Republik Indonesia (PRI) dengan pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Tokyo pada tanggal 17-18 Mei 2003. ( http://www.dataphone.se/~ahmad/030608.htm ).

Pada tanggal 19 Mei 2003 Keppres No.28/2003 diberlakukan, langsung dikirimkan melalui laut dan udara pasukan TNI yang hampir 50 ribu pasukan menduduki Negeri Acheh untuk menggempur Tentara Negara Aceh (TNA) dan GAM. Ternyata setelah satu tahun berlalu, hasilnya, seperti yang diungkapkan oleh Kasad Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu ini: "Perang-perang yang begini, rakyat susah. Mari kita turun dengan pikiran dan hati yang jernih, kita kembalilah memikirkan rakyat. Berontak-berontak apa segala macam itu kan rakyatnya susah, takut, banyak korban, saya tantang itu kalau mau."

Nah, itu tandanya, apa yang telah dirancangkan, dilaksanakan, dan disimpulkan, ternyata, hasilnya tidak seperti yang diduga oleh pihak Presiden Megawati dan TNI khususnya oleh Kasad Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu.

Atau dengan kata lain, Kasad Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu telah mengetahui hasilnya, bahwa rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI memang tidak bisa dihancurkan, bahkan makin kuat dan solid, walaupun ratusan pejuang GAM telah divonis dituduh makar, pemberontak, teroris, dan telah dimasukkan kedalam LP-LP di Jawa.

Jelas, itu Kasad Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu sekarang sudah mengetahui bahwa dengan kekuatan senjata dan pasukan TNI/RAIDER-nya tidak mampu menghancurkan kekuatan rakyat Acheh yang telah sadar untuk menentukan nasib sendiri bebas dari pengaruh kekuasaan Negara Pancasila atau NKRI.

Bagaimana bisa kekuatan rakyat Acheh dihancurkan, selama Negeri Acheh yang telah ditelan, dicaplok, diduduki, dan dijajah oleh Soekarno dan diteruskan sampai detik ini oleh Megawati dan Ryacudu masih berada dalam genggaman NKRI.

Hanya jelas sampai detik ini, itu Kasad Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu tidak mau mengakui dan menerima bahwa Soekarno itulah yang telah menelan, mencaplok, menduduki dan menjajah Negeri Acheh yang menjadi akar masalahnya. Yang diakui dan diterima adalah perampokan Negeri Acheh oleh Soekarno itu adalah tindakan yang benar dan mulia yang perlu terus dipertahankan dan diperjuangkan.

Tetapi, karena fakta dan bukti, dasar hukum dan sejarah mengenai pengklaiman Negeri Acheh milik RIS, RI yang menjelma menjadi NKRI itu lemah dan tidak kuat, maka usaha untuk menutupi perampokan Negeri Acheh yang dilakukan Soekarno pada tanggal 14 Agustus 1950 dengan alat PP RIS No.21/1950 dan PERPPU No.5/1950 adalah tidak berhasil.

Buktinya, itu usaha penutupan kebrokbrokan dan hasil perampokan Negeri Acheh oleh Soekarno tidak bisa diselesaikan sampai detik ini, padahal telah berlangsung lebih dari 50 tahun atau lebih dari setengah abad.

Jadi jelas, sekarang terbukti, taktik dan strategi Megawati dan TNI-nya khususnya Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan Kasad Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu yang telah dijalankan di Negeri Acheh gagal.

Mana mampu pihak TNI menghadapi kekuatan ASNLF atau GAM dan TNA dimeja perundingan. Buktinya sudah beberapa kali perundingan digagalkan terus oleh pihak NKRI dan TNI-nya. Karena itu wajar kalau Kasad Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu mengatakan: "Jangan berunding-berunding. Berunding-berunding itu kadang-kadang dipolitisir, nggak usah berunding, ayo mari kita kembali dan membangun Aceh. Makai perundingan muter-muter keluar negeri, hasilnya nggak ada untuk apa".

Nah, itu kan terbukti, sejauh mana kemampuan TNI dibawah Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan Kasad Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu dalam usaha menyelsaikan konflik Acheh yang sudah memakan waktu lebih dari setengah abad ini.

Jelas, karena memang dua jenderal ini, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan Kasad Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu tidak memiliki kemampuan, pandainya hanya main gebrak meja saja, maka hasilnya juga minim.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

http://indomedia.com/serambi/2004/06/040604h1.htm
Kasad Tantang GAM Berdamai *Pangdam tidak akan Diganti

BANDA ACEH - Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad), Jenderal TNI Ryamizard Riyacudu menantang dan mengajak pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) untuk berdamai, untuk selanjutnya bersama-sama membangun Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang lebih baik di masa mendatang. Namun dia, menolak perdamaian melalui perundingan, karena akan dipolitisir sehingga tidak akan membawa hasil.

"Saya menantang! Perang-perang yang begini, rakyat susah. Mari kita turun dengan pikiran dan hati yang jernih, kita kembalilah memikirkan rakyat. Berontak-berontak apa segala macam itu kan rakyatnya susah, takut, banyak korban, saya tantang itu kalau mau. Tapi jernih ya," kata Riyamizard usai pertemuan dengan tokoh ulama, masyarakat, pemuda, mahasiswa dan wanita, di Gedung Balai Teuku Umar (BTU) Kodam Iskandar Muda, Rabu (2/6).

Pernyataan hampir senada juga diungkap Kasad di Lhokseumawe, Kamis (3/6). Usai mengadakan pertemuan dengan sejumlah Komandan Batalyon berbagai kesatuan yang sedang bertugas di Aceh di Makodim Aceh Utara, Kasad menyampaikan tawarannya kepada GAM yang belum menyerah untuk turun kembali ke pangkuan ibu pertiwi dan bersama-sama membangun Aceh. "TNI akan menerima setiap anggota GAM yang menyerah," ujar Ryamizard.

Jika tidak, kata Kasad, maka tugas TNI di Aceh adalah untuk mencari dan memburu pemberontak GAM. Ia mengatakan, TNI berkeinginan untuk mengamankan Provinsi Aceh secara keseluruhan. Oleh karena itu, TNI akan terus melakukan operasi pengamanan di daerah ini, sehingga kondisi Aceh benar-benar aman dan tenteram. "Operasi TNI di Aceh tidak tergantung dengan status keamanan suatu daerah, meskipun dalam status Darurat Sipil, operasi militer tetap dijalankan, sehingga aktivitas masyarakat Aceh kembali normal," katanya.

Tak perlu

Menurut Kasad, konflik di Aceh tidak perlu diperpanjang lagi, karena rakyat sudah sangat menderita, sehingga dibutuhkan ketulusan dan kerendahan hati dari pihak GAM untuk kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi dan bersama-sama membangun Aceh. Dikatakan, TNI sebenarnya tidak menginginkan lagi adanya pertumpahan darah, karena bagaimana pun anggota GAM merupakan rakyat Aceh yang juga warga negara Indonesia.

Namun demikian, jenderal berbintang empat itu menolak melakukan perundingan dengan kelompok GAM. "Jangan berunding-berunding. Berunding-berunding itu kadang-kadang dipolitisir, nggak usah berunding, ayo mari kita kembali dan membangun Aceh. Makai perundingan muter-muter keluar negeri, hasilnya nggak ada untuk apa," katanya. Pada bagian lain, Kasad mengemukakan, pelaksanaan darurat militer selama setahun telah memberikan kontribusi besar bagi rakyat Aceh dan telah menghasilkan kondisi keamanan yang jauh lebih baik. Tapi Kasad juga mengakui bahwa keamanan belum sepenuhnya pulih, karena sampai sekarang masih ada gangguan dari kelompok GAM yang kekuatannya masih tinggal separuh.

Karena itu pula, Kasad mengatakan, pola operasi TNI di Aceh selama pelaksanaan darurat sipil tidak akan berubah, karena keberadaan TNI masih dibutuhkan masyarakat. Ditanya apakah jabatan Panglima Komando Operasi dirangkap Pangdam tidak mempengaruhi operasi, Kasad Riyamizard menyatakan, tidak ada masalah, yang penting rakyat Aceh merasa aman. "Nggak ada perubahan operasi di Aceh, yang penting rakyat ini aman itu aja. Pimpinan dipegang oleh Pangdam, sekarang oleh Gubernur ya sama ajalah, jadi jangan sampai kayak yang bagaimana-bagaimana itu nggak bagus," katanya.

Kasad juga mengatakan keberadaan pasukan TNI di Aceh belum akan ditarik dalam waktu dekat ini. "Kita tidak akan tarik pasukan dari Aceh, kasihan rakyat. Kalaupun dikurangi sedikit demi sedikit sesuai kondisi keamanan. Mudah-mudahan dalam setahun dua tahun ini misalnya gangguan itu nggak berarti, cukup Kodam ini saja, kenapa ditambah-tambah lagi ya," ujarnya. Ryamizard mengatakan, kunjungannya ke Aceh merupakan kegiatan rutin dalam rangka melihat kegiatan dan bertemu langsung dengan prajurit di lapangan. "Saya kan rutin datang ke sini, tidak ada hubungan dengan Pemilihan Presiden, mau Pemilu siapa yang menang silahkan ajalah. Saya nggak ada dukung-dukung, walaupun tentara ya," katanya.

Pangdam Dipertahankan

Dalam pertemuan di aula BTU, Kasad yang didampingi oleh Pangdam Iskandar Muda, Mayjen TNI Endang Suwarya, Kapolda NAD, Irjen Pol Bahrumsyah Kasman, dan Wagub NAD, Azwar Abubakar, dicecar dengan sejumlah pertanyaan oleh tujuh penanya yang terdiri dari mahasiswa, pemuda, tokoh LSM dan purnawirawan TNI. Lima dari tujuh penanya, meminta Kasad agar juga perhatian terhadap dugaan kasus korupsi di Aceh.

Seorang pemuda dari organisasi Taman Iskandar Muda mengatakan, bahwa dugaan korupsi yang diduga melibatkan orang nomor satu di NAD, adalah salah satu hasil spektakuler yang berhasil dicapai PDMD dalam bidang penegakan hukum. Karenanya, dia meminta kepada Kasad agar tetap mempertahankan jabatan Pangdam kepada Mayjen Endang Suwarya.

Menurut pemuda itu, ada desakan dari salah seorang anggota DPR RI agar Endang Suwarya sebaiknya diganti, karena status Aceh sudah berubah menjadi darurat sipil dan Penguasa Darurat Sipil Daerah dijabat Gubernur. "Kami kira tugas Pangdam untuk mendukung mengungkap kasus-kasus korupsi sepertinya belum selesai. Jadi kami minta kepada Bapak Kasad agar Pak Endang jangan diganti, sebelum para koruptor dimasukkan dalam penjara," ujarnya.

Menangapi hal itu, Jenderal TNI Ryamizard Riyacudu menegaskan, dirinya tidak akan mengganti Endang Suwarya, meskipun ada desakan dari seorang anggota DPR RI, kecuali rakyat Aceh yang memintanya. "Sampai sekarang, Pangdam masih tidak macam-macam, apalagi tadi rakyat minta jangan diganti, ya tidak diganti. Tapi kalau macam- macam, dan rakyat Aceh minta dia diganti, maka hari ini juga dia akan saya bawa ke Jakarta, dan jabatannya digantikan orang lain," katanya.(nal/j)

Serambi Indonesia Redaksi Jln. Laksamana Malahayati, Km 6 Desa Baet, Aceh Besar/Banda Aceh Tel (0651) 51800 Fax (0651) 51756
----------