Stockholm, 5 juni 2004

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.
 

DANDIM PIDIE LETKOL INF A ROCHIM SIREGAR PUTAR BALIK FAKTA PEMBUNUHAN
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.

 

BAGAIMANA ITU DANDIM PIDIE LETKOL INF A ROCHIM SIREGAR PUTAR BALIK FAKTA PEMBUNUHAN

"Assalamualaikum. Di bawah ini, berita dari Serambi yang bersumber dari Dandim Pidie. Berita yang sebenarnya adalah sebagai berikut: Hari Kamis tanggal 3 Juni 2004 malam di desa Krueng Jangko, Glumpang Tiga, Pidie, TNI/Polri atau milisi bentukan TNI/Polri menembak mati Herlinawati, 25, istri seorang tervonis GAM yang sedang dipenjarakan (Effendi), melukai Ernita, anaknya yang berumur 2 bulan, Hamidah ibu mertuanya, dan Saiful adek iparnya. TNI secara tidak masuk akal menuduh GAM sebagai pelaku penembakan tersebut. Terror a la post referendum di Timor Leste telah dimulai di Acheh. Effendi, suami Alm. Herlinawati sekarang sedang ditahan di Lamlo." (Reyza Zain, xwarzainx@yahoo.com ,Sat, 5 Jun 2004 06:17:05 -0700 (PDT))

Terima kasih saudara Reyza Zain di Harrisburg, Pennsylvania, USA atas kiriman berita dan ralatnya atas berita yang dimuat oleh Serambi Indonesia pada hari ini, Sabtu, 5 Juni 2004, yang ditulis oleh saudara redaksi Serambi Indonesia yang berinisial Ran dan Da, dengan judul berita GAM Bantai Keluarga Kades.

Memang, jelas, kelihatan, itu pihak Penguasa Darurat Sipil Daerah Acheh memutar balikkan fakta dan bukti yang menyangkut pembunuhan.

Coba perhatikan menurut apa yang diungkapkan oleh Dandim Pidie, Letkol Inf A Rochim Siregar kepada wartawan, Jumat petang, 4 Juni 2004, di Makodim Pidie yang dimuat oleh Serambi Indonesia: "Kelompok separatis GAM kembali menoreh peristiwa berdarah yang sangat menyayat hati. Kali ini, terjadi atas keluarga Kepala Desa (Kades) Krueng Jangko Kecamatan Glumpang Tiga, Kabupaten Pidie. Sehingga, membuat Herlinawati (25) tewas (meninggal dunia), sedangkan bayinya, Ernita (2 bulan), serta adik dan ibunya mengalami luka cukup kritis. Dan, kini terpaksa diboyong ke RSU Zainoel Abidin Banda Aceh. Peristiwa yang cukup mengenaskan itu, terjadi Kamis (3/6) malam di Desa Jangko. Kelompok separatis GAM, dengan membabi buta, menembaki korban Herlinawati, Ernita (anaknya), Saiful (adiknya), dan Hamidah (isteri Kades Krueng Jangko yang juga ibu dari Herlinawati)".

Padahal kenyataannya, menurut informasi yang diperoleh oleh saudara Reyza Zain bahwa berita yang benar adalah: "Hari Kamis tanggal 3 Juni 2004 malam di desa Krueng Jangko, Glumpang Tiga, Pidie, TNI/Polri atau milisi bentukan TNI/Polri menembak mati Herlinawati, 25, istri seorang tervonis GAM yang sedang dipenjarakan (Effendi), melukai Ernita, anaknya yang berumur 2 bulan, Hamidah ibu mertuanya, dan Saiful adek iparnya. Effendi, suami Alm. Herlinawati sekarang sedang ditahan di Lamlo."

Coba, apakah masuk akal kalau anggota GAM menembak istri tervonis GAM saudara Effendi yang sedang ditahan di LP Lamlo ?.

Jelas, itu akal bulus dan licik dari pihak Penguasa Darurat Sipil Daerah Acheh saja, khsusunya dari pihak Dandim Pidie, Letkol Inf A Rochim Siregar.

Karena menurut info yang diperoleh oleh saudara Reyza Zain yang juga dikirimkan kepada redaksi Serambi Indonesia hari ini, Sabtu, 5 Juni 2004, menyebutkan bahwa menembak mati Herlinawati, 25, istri seorang tervonis GAM, melukai Ernita, anaknya yang berumur 2 bulan, Hamidah ibu mertuanya, dan Saiful adek iparnya adalah TNI/Polri atau milisi bentukan TNI/Polri.

Jadi, memang begitulah akal bulus dan licik pihak TNI menggunakan segala macam cara dan taktik untuk menjatuhkan GAM.

Kan, berbahaya kalau berita model Dandim ditelan begitu saja oleh rakyat di RI dan di Acheh, seolah-olah benar. Apalagi itu pihak redaksi Serambi Indonesia menerbitkan berita asal terbit saja, tidak diteliti terlebih dahulu. Pokoknya, kalau itu berbau-bau GAM langsung saja tanpa disensor dipublikasikan dan disebarkan ke seluruh dunia.

Taktik dan akal bulus Dandim mana laku. Sekarang sudah terbongkar.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada ahmad@dataphone.se agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad.swaramuslim.net
ahmad@dataphone.se
----------

Date: Sat, 5 Jun 2004 06:17:05 -0700 (PDT)
From: Reyza Zain <xwarzainx@yahoo.com>
Subject: TNI menembak istri tertuduh GAM.....
To: serambi_indonesia@yahoo.com

Assalamualaikum...

Di bawah ini, berita dari Serambi yang bersumber dari Dandim Pidie. Berita yang sebenarnya adalah sebagai berikut:

Hari Kamis tanggal 3 Juni 2004 malam di desa Krueng Jangko, Glumpang Tiga, Pidie, TNI/Polri atau milisi bentukan TNI/Polri menembak mati Herlinawati, 25, istri seorang tervonis GAM yang sedang dipenjarakan (Effendi), melukai Ernita, anaknya yang berumur 2 bulan, Hamidah ibu mertuanya, dan Saiful adek iparnya. TNI secara tidak masuk akal menuduh GAM sebagai pelaku penembakan tersebut. Terror a la post referendum di Timor Leste telah dimulai di Acheh.

Effendi, suami Alm. Herlinawati sekarang sedang ditahan di Lamlo.

Wasalam

Reyza Zain

xwarzainx@yahoo.com
Harrisburg, Pennsylvania, USA
----------

http://indomedia.com/serambi/2004/06/050604h2.htm
GAM Bantai Keluarga Kades
*Seorang Tewas, Tiga Kritis

SIGLI - Kelompok separatis GAM kembali menoreh peristiwa berdarah yang sangat menyayat hati. Kali ini, terjadi atas keluarga Kepala Desa (Kades) Krueng Jangko Kecamatan Glumpang Tiga, Kabupaten Pidie. Sehingga, membuat Herlinawati (25) tewas (meninggal dunia), sedangkan bayinya, Ernita (2 bulan), serta adik dan ibunya mengalami luka cukup kritis. Dan, kini terpaksa diboyong ke RSU Zainoel Abidin Banda Aceh.

Peristiwa yang cukup mengenaskan itu, terjadi Kamis (3/6) malam di Desa Jangko. Kelompok separatis GAM, dengan membabi buta, menembaki korban Herlinawati, Ernita (anaknya), Saiful (adiknya), dan Hamidah (isteri Kades Krueng Jangko yang juga ibu dari Herlinawati), papar Dandim Pidie, Letkol Inf A Rochim Siregar kepada wartawan, Jumat petang kemarin, di Makodim Pidie.

Korban yang menemui ajal dalam kejadian itu adalah Herlinawati (25). Korban tewas sesampai di Rumah Sakit Umum (RSU) Sigli. Sementara tiga korban lain masing-masing Hamidah, Saiful, dan Ernita mengalami luka tembak cukup kritis. Bahkan, Hamidah dan Saiful terpaksa diboyong ke RSU Zainoel Abidin Banda Aceh.

Kronologis dari peristiwa yang menyedihkan itu, menurut Dandim Rochim Siregar, bermula dari kedatangan dua anggota GAM yang mengenderai sepeda motor ke rumah korban. Ketika itu, kedua anggota GAM menanyakan keberadaan Abdullah Yusuf, suami Hamidah. Namun, Hamidah beserta dua anaknya memberitahukan kalau Abdullah tak ada di rumah.

Ternyata, lanjut Dandim, jawaban dari istri beserta dua anak Abdullah Yusuf tak diterima oleh kedua GAM itu. Bahkan, kedua anggota GAM tersebut memeriksa isi rumah korban untuk mencar iAbdullah Yusuf yang sehari-hari menjabat sebagai keuchik desa setempat.

Setelah itu, kata Rochim Siregar, kedua anggota GAM tersebut langsung menyatakan kepada keluarga Abdullah, bahwa mereka tak sabar lagi dengan janji-janji keuchik selama ini tak pernah ditepatinya. Selanjutnya, kedua anggota GAM terus menerus meminta apa yang mereka inginkan.

Permintaan tersebut tak dipenuhi oleh Hamidah sembari memarahi anggota GAM. Sambil menggendong cucunya, Hamidah mencoba melarikan diri, namun GAM yang sudah kalap mata langsung menembak korban dan cucunya, Ernita. Tidak hanya Hamidah dan cucunya, GAM juga memuntahkan peluru ke tubuh Herlinawti. Sehingga, ibu muda tersebut tewas ketika sampai di RSU Sigli.

Anggota GAM tersebut, juga menembak kaki Saiful (14) siswa SLTP. Karena, Saiful marah oleh tingkah GAM yang minta-minta pajak nanggroe. Setelah mengeksekusi keempat korban dengan AK 47 dan pistol, kedua anggota kelompok GAM kabur meninggalkan lokasi. Sementara korban dilarikan warga setempat ke RSU Sigli untuk mendapat perawatan medis.

Dalam perjalanan yang cukup jauh atau berkisar 30 km dari tempat korban ke RSU Sigli, akhirnya Herlinawati meninggal dunia sesampai di rumah sakit. Sedangkan bayinya, meski menderita luka tembak, namun masih selamat. Dan, kini bersama adiknya dan ibu kandungnya menjalani pengobatan secara intensif.

Dandim lebih lanjut menyebutkan, dari peristiwa tersebut yang menjadi target penembakan adalah Kades Abdullah Yusuf. Yang bersangkutan, tambah Dandim, sudah lama menjadi target penembakan kelompok GAM. Abdullah sempat lolos dari penembakan GAM pada November tahun lalu. Pada malam naas tersebut, Keuchik Krueng Jangkoeu itu tidak berada di rumah, melainkan di Kota Bakti, Kecamatan Sakti.

Sementara itu, Jumat (4/6) pagi, kedua korban masing-masing Hamidah dan anaknya Saiful yang mengalami luka parah terpaksa diboyong ke RSU Zainoel Abidin Banda Aceh guna memperoleh perawatan yang lebih instensif. Ernita, bocah berumur dua bulan yang mengalami luka tembak tembus di bagian pergelangan tangan, dirawat di RSU Sigli.

Keuchik tewas

Sebelumnya, kata Dandim Pidie, kelompok GAM yang dikomandoi Saifullah juga beraksi di kecamatan sama. Mereka menembak hingga tewas Ramli (45), Keuchik Desa Krueng Njong. Korban ditembak tak jauh dari lokasi rumahnya oleh ke dua anggota GAM yang mengenderai sepeda motor.

Penembakan ini, jelas Rochim, adalah merupakan suatu upaya dari kelompok GAM untuk memberikan ketakutan pada masyarakat. Hal itu, sebut Dandim, agar masyarakat tetap mendukung kelompok GAM dengan cara memaksa, menembak dan membunuh apabila tak mengikuti perintah mereka. "GAM sebaiknya menyadari dan sadar bahwa membunuh masyarakat merupakan perbuatan salah," tandas Dandim.

Terhadap kedua peristiwa tersebut, tegas Dandim, pihaknya sampai sekarang terus melakukan pengejaran dan pengepungan untuk mencari pelaku pembunuhan terhadap masyarakat tak berdosa dan lemah. Apalagi dilakukan kepada kaum wanita dan anak-anak yang tak tahu apa-apa.

Sejauh itu, Dandim menyebutkan, prajurit TNI masih berada di lokasi kejadian. Mudah-mudahan pelaku pembunuhan terhadap masyarakat lemah itu bisa tertangkap. "Kita berharap kelompok Saifullah tersebut menyerah secara baik-baik. Jika tidak, ia akan menerima hukuman setimpal," sebut Dandim.

Pada kesempatan itu, Dandim meminta masyarakat senantiasa membantu prajurit TNI yang sedang menjalankan tugas operasi, dengan saling bahu membahu. Apalagi kelompok GAM sekarang ini sudah berani masuk desa menakuti rakyat. "Kami sangat berharap keterbukaan dari masyarakat, karena jika tidak masyarakat sendiri yang kesulitan oleh tindakan GAM," kata Dandim Rochim Siregar yang dikenal ramah dan terbuka kepada siapa saja kalangan masyarakat. (ran/da)

Serambi Indonesia Redaksi Jln. Laksamana Malahayati, Km 6 Desa Baet, Aceh Besar/Banda Aceh Tel (0651) 51800 Fax (0651) 51756
----------